<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645</id><updated>2012-02-16T13:14:14.778-08:00</updated><title type='text'>AMAL MADINA</title><subtitle type='html'>Amal Madina calls for action, individually and collectively, from Mandailings and Natal-ian in Malaysia, Singapore, Indonesia and elsewhere in the world to address the environmental, social, cultural, economic, political and spiritual challenges facing the regency of Mandailing-Natal formed in 1999</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4828587835757868532</id><published>2007-09-30T02:05:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T02:08:45.486-07:00</updated><title type='text'>Pergulatan Desa-Desa di Taman Nasional Batang Gadis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Geliat Desa Kawasan Taman Batang Gadis &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05 Desember 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Media) - Udara dingin pegunungan langsung menyergap ketika memasuki Desa Sopotinjak, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara (Sumut), Kamis (1/12). Desa ini berada di lereng bukit terusan dari Tor Pangalot.&lt;br /&gt;Rumah-rumah penduduk di desa itu dari struktur bangunan terlihat sama bentuknya. Bangunan rumah mereka persegi dengan jendela dan pintu yang lebar. Selain itu, tidak memiliki ruangan yang bersekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa yang berpenduduk 55 keluarga ini merupakan salah satu dari 35 desa di 10 kecamatan di sekitar kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yang sudah membentuk organisasi konservasi rakyat untuk pelestarian lingkungan di kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini digagas oleh lembaga non-goverment Bitra Konsorsium. Konsorsium itu meliputi Bitra Indonesia, Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Sumut, Yayasan Pusaka Indonesia, dan Yayasan Samudera seta Conservation Internasional Indonesia (CII).&lt;br /&gt;Menurut Safarudin Siregar dari Konsorsium Bitra, dalam waktu dekat 10 desa lainnya akan diikutsertakan dalam kegiatan pengembangan usaha ekonomi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Butuh dukungan dari pemerintah kabupaten karena kelangsungan TNBG berbasis pada masyarakat sekitar. Harus ada program terencana yang bisa dipahami dan diterima sesuai harapan masyarakat," kata Safarudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, investasi konservasi lainnya dapat berupa pengembangan ekonomi alternatif pada 71 desa yang berada di kawasan TNBG dan pengembangannya harus sejalan dengan potensi ekonomi dan kelembagaan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal sangat berharap kepada organisasi non-goverment ini dalam pengembangan desa di kawasan TNBG. "Minimnya anggaran dari pusat membuat kami tidak bisa berbuat terlalu banyak. Kami akan membantu dalam pembuatan jalan menuju desa-desa itu. Sedangkan untuk pengembangannya kami berharap kepada LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang konsen dengan TNBG," ujar Bupati Mandailing Natal Amruy Daulay di Panyabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinggung mengenai kehidupan masyarakat di desa sekitar TNBG yang khawatir lahan mereka akan hilang karena belum adanya tapal batas TNBG, Amru menyatakan membutuhkan biaya yang besar untuk membuat tapal batas. "Tapal batas belum bisa dilakukan, tetapi titik koordinat sudah kita miliki. Tidak ada tawar-menawar lagi, 108 ribu hektare adalah lahan TNBG," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lain bagi warga Bukit Malintang yakni gagal panen ribuan hektare sawah dalam dua tahun belakangan. Hal itu diduga terjadi karena upaya perusahaan tambang emas milik PT Sorik Mas Mining (SMM) mulai eksplorasi di kawasan TNBG seluas 55 ribu ha dari 108 ribu ha kawasan hutan nasional pada 2003. "Produksi gabah kering kami tidak banyak jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,8 ton per ha," kata Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Humban I, Oslan Simangunsong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya produksi gabah kering yang berkurang, hasil kemiri mereka pun berkurang hingga 50%. Jika sebelumnya mampu menurunkan kemiri dari bukit hingga 100 ton, kini cuma memanen kemiri 50 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya di daerah itu terdapat irigasi Batang Gadis yang seharusnya bisa mengaliri areal persawahan mereka. Namun, sejak berdiri pada 1990, irigasi itu hanya berfungsi dalam dua tahun pertama. "Setelah itu rusak dan tidak lagi mengaliri sawah kami," ungkap Kepala Desa Tasumbing Ali Sadikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyiapi kondisi itu, Bupati Mandailing Natal Amruy Daulay menegaskan, tetap konsekuen tidak mengizinkan perusahaan itu melakukan kegiatan di dalam kawasan taman nasional. "Memang eksplorasi yang mereka lakukan tidak pernah berhenti. Masalah yang kami hadapi mereka mengantongi izin dari Departemen Sumber Daya Alam," tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yennizar Lubis/Kennorton Hutasoit/N-2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005120423522913&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4828587835757868532?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4828587835757868532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4828587835757868532' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4828587835757868532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4828587835757868532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/pergulatan-desa-desa-di-taman-nasional.html' title='Pergulatan Desa-Desa di Taman Nasional Batang Gadis'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-2809347073900543190</id><published>2007-09-30T01:52:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T02:05:10.365-07:00</updated><title type='text'>Lubuk Larangan, Modal Social Masyarakat Mandailing</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9mqRVqbHI/AAAAAAAAAX8/MgR-jAox61k/s1600-h/Lubuk+Larangan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9mqRVqbHI/AAAAAAAAAX8/MgR-jAox61k/s400/Lubuk+Larangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115920578110975090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lubuk Larangan, Modal Sosial Masyarakat Mandailing &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, sungai adalah berkah alam sebagai modal untuk kepentingan sosial. Hal itu pulalah yang mendorong warga berlomba-lomba membuat lubuk larangan, hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui kesepakatan bersama, sebagian aliran sungai yang melintasi di desa kemudian ditetapkan sebagai wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu. Biasanya 6-12 bulan. Setelah panen, panitia kemudian membuka lubuk larangan untuk umum dan hasil pengelolaannya digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa, menyantuni anak-anak yatim, dan mendanai berbagai kegiatan sosial yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengelolaan lubuk larangan ini bisa kita temui di desa-desa yang dilalui aliran Sungai Batang Gadis, mulai dari bagian hulu di kawasan Pakantan, ke arah hilir hingga ke daerah Panyabungan; dan juga di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai di Kecamatan Batang Natal. Bahkan, sistem ini kini telah berkembang luas di seluruh Mandailing Natal, dan sebagian Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUDDIN Hasibuan (43), Ketua Pengurus Lubuk Larangan Desa Aek Ngali, mengatakan, untuk membuat lubuk larangan harus dimulai dengan musyawarah desa untuk menentukan batas-batas lubuk larangan. Tanpa kesepakatan bersama, lubuk larangan tidak bisa dibuat. Kemudian warga iuran sebagai modal mendatangkan "orang pintar" (dukun) dan untuk membeli bibit ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sang dukun membaca doa-doa, kemudian diumumkan kepada masyarakat desa dan desa-desa tetangga bahwa sungai itu telah menjadi lubuk larangan. "Biasanya tak ada yang berani menangkap ikan di lubuk larangan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang melanggar akan didenda Rp 500.000 per orang. Sanksi lain yang lebih ditakuti warga yaitu hukuman moral dan kutukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat sini masih percaya, orang yang berani mengambil ikan di lubuk larangan akan sakit, dan bisa mati jika tidak diobati dukun yang telah menjaga lubuk larangan tersebut," kata Luddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tak langsung, pengelola lubuk larangan juga mengandung nilai-nilai konservasi, bisa menjaga kualitas air sungai karena warga desa akan menjaga sungai tidak tercemar agar panen ikan bisa melimpah. Sistem lubuk larangan adalah satu bukti sistem tradisional yang mampu menjaga alam secara lestari. (AHMAD ARIF)&lt;br /&gt;Lubuk Larangan, Modal Sosial Masyarakat Mandailing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, sungai adalah berkah alam sebagai modal untuk kepentingan sosial. Hal itu pulalah yang mendorong warga berlomba-lomba membuat lubuk larangan, hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui kesepakatan bersama, sebagian aliran sungai yang melintasi di desa kemudian ditetapkan sebagai wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu. Biasanya 6-12 bulan. Setelah panen, panitia kemudian membuka lubuk larangan untuk umum dan hasil pengelolaannya digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa, menyantuni anak-anak yatim, dan mendanai berbagai kegiatan sosial yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pengelolaan lubuk larangan ini bisa kita temui di desa-desa yang dilalui aliran Sungai Batang Gadis, mulai dari bagian hulu di kawasan Pakantan, ke arah hilir hingga ke daerah Panyabungan; dan juga di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai di Kecamatan Batang Natal. Bahkan, sistem ini kini telah berkembang luas di seluruh Mandailing Natal, dan sebagian Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUDDIN Hasibuan (43), Ketua Pengurus Lubuk Larangan Desa Aek Ngali, mengatakan, untuk membuat lubuk larangan harus dimulai dengan musyawarah desa untuk menentukan batas-batas lubuk larangan. Tanpa kesepakatan bersama, lubuk larangan tidak bisa dibuat. Kemudian warga iuran sebagai modal mendatangkan "orang pintar" (dukun) dan untuk membeli bibit ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sang dukun membaca doa-doa, kemudian diumumkan kepada masyarakat desa dan desa-desa tetangga bahwa sungai itu telah menjadi lubuk larangan. "Biasanya tak ada yang berani menangkap ikan di lubuk larangan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang melanggar akan didenda Rp 500.000 per orang. Sanksi lain yang lebih ditakuti warga yaitu hukuman moral dan kutukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat sini masih percaya, orang yang berani mengambil ikan di lubuk larangan akan sakit, dan bisa mati jika tidak diobati dukun yang telah menjaga lubuk larangan tersebut," kata Luddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tak langsung, pengelola lubuk larangan juga mengandung nilai-nilai konservasi, bisa menjaga kualitas air sungai karena warga desa akan menjaga sungai tidak tercemar agar panen ikan bisa melimpah. Sistem lubuk larangan adalah satu bukti sistem tradisional yang mampu menjaga alam secara lestari. (AHMAD ARIF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/30/sumbagut/1780777.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-2809347073900543190?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/2809347073900543190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=2809347073900543190' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/2809347073900543190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/2809347073900543190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/lubuk-larangan-modal-social-masyarakat.html' title='Lubuk Larangan, Modal Social Masyarakat Mandailing'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9mqRVqbHI/AAAAAAAAAX8/MgR-jAox61k/s72-c/Lubuk+Larangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6296259549106029550</id><published>2007-09-30T01:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:51:40.070-07:00</updated><title type='text'>Memberi Parang Pun Tak Cukup</title><content type='html'>Selasa, 17 Mei 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membeli Parang Pun Tak Cukup &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASMARA Lubis telah bersabar menunggu selama 12 tahun, sebelum siang itu dia memutuskan untuk menebang pohon kayu manis diladangnya. Karena merasa hasilnya masih kurang banyak, lelaki itu menebang satu lagi pohon kayu manis yang telah berumur delapan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmara lalu menguliti dan menjemur kulit kayu manis hingga kering. Butuh empat hari kerja keras sebelum kulit kayu manis itu siap dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat tiba hari pekan, minggu lalu, petani dari Desa Huta Godang, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, itu membawa kulit kayu manis kering miliknya ke pasar. Ia berharap hasil penjualannya bisa dibelikan parang, guna menggantikan parangnya yang rusak. Namun, alangkah kecewanya Asmara karena penjualan dari dua pohon kayu manis yang berumur 12 tahun dan delapan tahun itu hanya menghasilkan uang Rp 21.000. "Jangankan ada sisanya, untuk membeli parang saja tidak cukup. Harga parang Rp 31.000," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Asmara adalah potret nyata tentang petani-petani kita. Kerja keras mereka seakan memang tak berharga di dalam sistem perdagangan. Ini memang cerita lama. Tetapi, inilah realitas yang masih juga dialami petani hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harga jual tanaman kami selalu anjlok, sementara harga-barang-barang seperti pupuk dan obat serta peralatan untuk bertani terus naik," kata Asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kayu manis, berbagai produk pertanian seperti kentang dan kopi, petani di lereng Sorik Merapi kini kian terpuruk. Saat panen, harga kentang hanya Rp 1.700 per kilogram, padahal saat musim tanam petani harus membeli bibit kentang dengan harga selangit. "Saat menanam kentang beberapa bulan lalu, kami harus membeli bibit seharga Rp 12.000 per kilogram. Saat panen, harganya anjlok serendah-rendahnya," ucap Asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, komoditas yang harganya menjanjikan justru tak memberikan hasil produksi yang bagus karena terserang penyakit. "Bagaimana kami bisa menyekolahkan anak jika ekonomi kami terus dicekik seperti ini. Untuk makan saja sangat susah," kata Muhammad Nur Nasution (35), warga Desa Huta Baringin, Kecamatan Tambangan.&lt;br /&gt;Petani kini juga harus menjadi penyangga utama pelestarian kawasan hutan di sekitarnya. Februari lalu, kawasan hutan Batang Gadis telah ditetapkan sebagai taman nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucok Lubis, Ketua Organisasi Konservasi Rakyat (OKR) Desa Huta Godang, mengatakan, hancurnya berbagai komoditas pertanian akan mendorong warga desa di pinggiran hutan, di lereng Sorik Merapi, mencari penghasilan ke Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, jika mereka kembali tergantung ke hutan untuk memenuhi kebutuhan. Kalau kelaparan, masyarakat akan kembali memburu hewan, mencari rotan ataupun kayu. Susah mengajak orang berpikir untuk melindungi hutan kalau mereka lapar," katanya.(Ahmad Arif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/17/sumbagut/1757784.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6296259549106029550?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6296259549106029550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6296259549106029550' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6296259549106029550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6296259549106029550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/memberi-parang-pun-tak-cukup.html' title='Memberi Parang Pun Tak Cukup'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5809265105584883695</id><published>2007-09-30T01:47:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:49:57.485-07:00</updated><title type='text'>Mining in National Parks Against National Interests</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mining in National Parks against national interests &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Didy Wurjanto*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Environmentalists were likely stunned when Forestry Minister Malam Sabat Kaban confirmed recently he had given approval for a foreign owned gold mining company to operate inside Batang Gadis National Park in Mandailing Natal regency, North Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The approval was given by a minister who always preaches about the dangers of deforestation which could lead to national tragedies such as what recently happened in Sinjai, southern Sulawesi. Kaban has frequently vowed to promote ethical principles of sustainable development. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But now he is bargaining with the lives of more than 300,000 Madina people who depend on the surrounding forest. Some forestry experts believe the minister faced strong pressure to give the approval. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaban agreed to dispatch a team to review the exploration plan of PT Sorikmas, an Australian-based gold mining company. The plan states the government will allow the company to explore on 55,000 hectares within the 108,000 hectare Batang Gadis National Park. This plan has undoubtedly caused concern among the local government and nearby communities that the tailings from the operation will poison and destroy their agricultural lands and fisheries. Besides this there are concerns of natural disasters such as floods and landslides. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Bohorok tragedy in North Sumatra was a strong warning to people in the province when severe flooding killed more than 170 people in the Bukit Lawang area in November 2003. Bukit Lawang was originally a water catchment area that should have been protected. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the wake of the Bohorok tragedy, the governor of North Sumatra, the Madina regent, religious leaders and local community members initiated the establishment of Batang Gadis National Park. The park protects a giant watershed and is home to orangutans, Sumatran tigers, rhinos, hornbills, Malayan tapirs and other key species. The park is an important toehold for conserving the remaining large track of Sumatran rain forests. The establishment of the park was particularly important because it was done at the initiative of local people who feel a strong sense of ownership in the process rather than being something imposed by the government in Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang Gadis is very important as a life-support system for more than 300,000 people in the regency not only because of its rich biodiversity but also because it protects water catchment areas that maintain the water supply to 13 districts surrounding the park and provides environmental protection to agricultural activities carried out by 73 villages, only two of which are located inside the park. There are no logging concessions or large-scale plantations operating within the park. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is worthwhile to repeat that the process to obtain protected status for Batang Gadis National Park was a bottom-up effort initiated by the local government and communities, the first such effort under the new decentralized legal framework in Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This park is now under local management in collaboration with local and international NGOs and the private sector. This model creates less dependency on the central government as it is the local administration that provides the necessary financial and legislative support. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dispute between the mining company and the people of Madina began when the company under its working contract signed in 1999 claimed Batang Gadis National Park was part of its mining concession. However it is understandable that the people of Madina have been enthusiastic about protecting their rich natural resources, taking advantage of the presence of the 2004 Forestry Law. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This law protects national parks in Indonesia from mining and any other potentially destructive activities. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among other conservation methods in Indonesia the establishment of a national park is among the most democratic way of protecting forests because the process involves local aspirations and initiatives. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allowing open-pit mining in the wilderness zone of a national park is against the law. We cannot imagine how devastating it would be in Batang Gadis National Park, because Batang Gadis River, the main river and a source of life for the people of Madina, runs close to the mining exploration sites. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore the Madina government, residents, environmentalists, conservationists and others should work hand in hand to provide accurate information to the decision-makers on the impacts and consequences of a mining operation in a conservation area. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are arguments that the sanctity of a mining contract should be honored. Some ministries have expressed concern regarding the possible threat by the mining company to seek international arbitration, if not granted exemptions to carry on its work inside the national park. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But this time the Indonesian government should be better prepared. We could use this case to prove to the world how seriously we take the issue of sustainable development. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All Indonesian mining contracts state that the company must obey Indonesian laws and regulations including environmental protection laws. These regulations and laws may change from time to time to adjust to the needs of the environment and social conditions in the country. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The international community will support the Indonesian government in this matter because the global community also benefits from the biodiversity and climate-regulating role of our tropical forests. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)The writer works for Conservation International. He can be reached at dwurjanto@conservation.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.conservation.or.id/home.php?modul=news&amp;catid=28&amp;tcatid=340&amp;page=g_news.detail&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5809265105584883695?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5809265105584883695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5809265105584883695' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5809265105584883695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5809265105584883695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/mining-in-national-parks-against.html' title='Mining in National Parks Against National Interests'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-641117943502213723</id><published>2007-09-30T01:45:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:47:18.659-07:00</updated><title type='text'>Murid SD Tabuyung Tidak Cukup Tempat Duduk</title><content type='html'>Sabtu, 17 Februari 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Murid SD Desa Tabuyung Duduk Berdesakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas/syamin pardede &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, Kompas &lt;br /&gt;Sudah dua tahun murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 142707 Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batanggadis, Kabupaten Mandailing Natal, harus belajar berdesak-desakan di kelas karena terbatasnya jumlah bangku dan meja belajar. Akibatnya, proses belajar mengajar tidak terlaksana dengan baik hingga kualitas pengetahuan murid SD Negeri di pantai barat Sumatera Utara itu (sekitar 610 kilometer selatan Medan) di bawah standar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan Kompas ke Desa Tabuyung pekan lalu, murid kelas II, III dan VI terbata-bata menjawab pertanyaan tentang pengetahuan umum, matematika, maupun sejarah, termasuk ketika diminta membaca judul berita surat kabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga murid kelas II, tidak bisa segera menjawab tanggal dan tahun kemerdekaan Indonesia. Sedangkan murid kelas VI masih harus berpikir keras dan makan waktu hampir satu menit untuk menjawab hasil perkalian 25 kali 25. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala SD Negeri 142707 Masbe Siregar, dan wakilnya Sahlan Effendy Siregar mengakui terus terang, kualitas pengetahuan murid masih di bawah standar. Hal itu bukan karena mereka tidak mampu mengajar dengan baik, tetapi lebih disebabkan situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Apalagi sebagian murid sering absen dengan berbagai alasan, di antaranya terpaksa harus membantu orangtua bekerja di ladang, atau ikut ke laut menangkap ikan. Sebagian besar dari 655 kepala keluarga penduduk Desa Tabuyung masih tergolong miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam pelaksanaan evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas) kami terpaksa mengambil kebijakan dan memberi kelonggaran sehingga banyak juga murid yang lulus. Jika tidak, besar kemungkinan murid yang lain tak mau lagi sekolah," kata Sahlan Effendy Siregar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diresmikan menjadi SD Negeri tahun 1957 (sebelumnya SD swasta-Red), kondisi sekolah enam lokal tersebut sudah memprihatinkan. Dinding papan banyak berlubang, atap seng banyak yang bocor. Jumlah murid kelas I sampai kelas VI tercatat 442 orang, atau kalau seluruh murid hadir berarti tiap kelas rata-rata diisi 72 orang. Malah di kelas III beberapa murid terpaksa duduk di lantai. Sementara jumlah guru sudah memadai, 13 orang termasuk kepala sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bosan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Masbe Siregar, pihaknya sudah beberapa kali minta perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Mandailing Natal untuk segera membuat atau menambah meja dan bangku baru agar proses belajar dan mengajar di SD Desa Tabuyung terlaksana dengan baik. Juga soal perlunya beberapa lokal baru, mengingat jumlah murid dan anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah tiap tahun terus bertambah. Namun, permintaan itu sampai sekarang belum direalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai bosan kami membicarakan atau melayangkan surat permintaan itu ke atasan," keluh Masbe Siregar yang dibenarkan Kepala Desa Tabuyung Eka Irsyad Hasibuan. &lt;br /&gt;Baik Kepala Dinas P dan K Kabupaten Mandailing Natal Abdul Rajab Pasaribu maupun Kepala Dinas P dan K Sumatera Utara Makmur Pasaribu, tidak berhasil dihubungi untuk konfirmasi. (sp) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0102/17/daerah/muri21.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-641117943502213723?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/641117943502213723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=641117943502213723' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/641117943502213723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/641117943502213723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/murid-sd-tabuyung-tidak-cukup-tempat.html' title='Murid SD Tabuyung Tidak Cukup Tempat Duduk'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-3223827649071588356</id><published>2007-09-30T01:39:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:43:58.020-07:00</updated><title type='text'>Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942. Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek Wisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tropika, Hidup Harmonis Dengan Alam&lt;br /&gt;http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&amp;tcatid=333&amp;page=g_tropika.index&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-3223827649071588356?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/3223827649071588356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=3223827649071588356' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3223827649071588356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3223827649071588356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/pakantan-wisata-kebun-kopi-tua.html' title='Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8006402020294546151</id><published>2007-09-30T01:36:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:37:37.992-07:00</updated><title type='text'>Natal Dibayangi Cemas</title><content type='html'>Minggu, 24 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Korban Gempa&lt;br /&gt;Natal Dibayangi Harap-harap Cemas &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal tinggal dua hari lagi. Namun, tak ada persiapan khusus yang dilakukan umat Kristen di Pakantan, Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada jamuan Natal tahun ini. Masuk gereja saja kami takut keruntuhan bangunan jika gempa terjadi," kata Tiroma boru Tupang (74), warga Dusun Huta Padang, Desa Pakantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangku-bangku gereja berjajar dalam tenda terpal biru di depan Gereja Kristen Protestan Angkola, Pakantan. Sudah sepekan terakhir puluhan warga tidur dalam tenda itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Muara Sipongi, Mandailing Natal, Senin lalu, membuat warga trauma. Hingga kini, lebih dari 6.000 warga Muara Sipongi mengungsi. Sementara 2.000 warga lainnya menumpang di rumah sanak famili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari tak terhitung warga yang tinggal di tenda-tenda. Lebih dari 700 rumah rusak dan tak layak ditempati lagi. Meskipun frekuensinya menurun, gempa susulan masih terjadi, termasuk di Pakantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakantan terletak 12 kilometer dari pusat gempa. Baru hari Kamis lalu akses masuk ke Pakantan terbuka setelah jalan terkubur longsoran tebing. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Pakantan dikenal karena tradisi Kristen-nya yang sudah tua, sejak tahun 1834. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bermula dari kedatangan seorang misionaris Belanda bernama Verhuven di daerah itu untuk mendirikan gereja. Verhuven datang dari Padang setelah berlangsung Perang Paderi tahun 1822. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarawan Mandailing, Pangaduan Lubis, misionaris Belanda itu kemudian bekerja di Angkola, daerah Padang Sidempuan, lalu ke Sipirok dan Tarutung. Di tengah masyarakat Mandailing Natal yang sebagian beragama Islam, terselip sedikit pemeluk Kristen di Pakantan. Kehidupan gereja di Pakantan berlangsung baik dengan komunitas yang mencakup 15 keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 1940-an, jumlah jemaat mencapai 300-an orang. Tapi kini tinggal sedikit karena banyak yang pergi," kata Saut Nauli Nasution (43), warga Pakantan. Kerukunan dengan warga Muslim sangat guyub sebab mereka masih satu garis keturunan. "Kalau ada tetangga yang hajatan, semua membantu ramai-ramai," kata Saut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan penduduk hidup sebagai petani. Jika mereka membutuhkan uang, barulah beras simpanan dijual. Makan bersama adalah sesuatu yang lumrah. Jika satu orang punya beras, yang lain punya lauk, mereka makan bersama-sama. Namun, Natal kali ini makan bersama belum direncanakan. Semua masih waswas adanya gempa susulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu tak berubah saat diguncang gempa, warga masih takut masuk rumah, apalagi masuk gereja yang merupakan bangunan permanen. Kecemasan terutama menghantui para ibu dan anak- anak. Jika gempa datang saat acara kebaktian, kekhidmatan bisa buyar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum ada orang yang tengok kami," kata Tiroma. Menurut warga, baru Kepala Desa Pakantan yang memberi satu dus mi instan. Dalam sekejap, makanan itu habis meski sekitar 60 warga belum kebagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini mereka merayakan Natal di bawah ancaman bahaya. (WSI/MHD) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/24/Natal/3196496.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8006402020294546151?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8006402020294546151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8006402020294546151' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8006402020294546151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8006402020294546151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/natal-dibayangi-cemas.html' title='Natal Dibayangi Cemas'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8387411567802300296</id><published>2007-09-30T01:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:33:37.603-07:00</updated><title type='text'>Peranan Lembaga Adat di Madina</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Peranan Lembaga Adat dalam Mengurangi Konflik Horizontal dan Vertikal di Mandailing Natal (Sebuah Wacana) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Edi Nasution, STP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Hukum adat merukapan salah satu khasanah kekayaan hukum di Indonesia yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam masyarakat tradisional di Indonesia, meskipun belakangan ini seolah-olah terlupakan dan terabaikan ditelan oleh pemberlakuan hukum Positif. Pada masa sebelum lahirnya Negara Republik Indonesia yang berlaku ditengah-tengah masyarakat pada umumnya adalah hukum adat yang tunduk kepada norma-norma dan peraturan-peraturan yang tidak tertulis, tetapi sangat ketat penerapannya di dalam kehidupan masyarakat Tradisional pada waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Meskipun hukum adat terabaikan di era mederen ini, kita masih merasakan adanya sedikit nyawa dari hukum adat itu sendiri, terutama di daerah-daerah tradisional dan pedesaan di pelosok wilayah Indonesia. Sadar atau tidak sadar harus kita akui hukum adat masih sangat kuat pengaruhnya ditengah-tengah masyarakat kita, semakin maju suatu daerah maka hukum adat akan semakin terkikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Lembaga adat sebagai salah satu kekuatan tradisional yang masih ada kiranya perlu diterapkan di Mandailing Natal untuk mengurangi terjadinya konflik horizontal dan vertical terutama yang berkaitan dengan hak-hak adat (Ulayat) misalnya konflik antara Masyarakat dengan Pemda Madina dalam pengelolaan tanah adat, atau konflik pengelolaan Sarang Burung Walet antara Pemda, Masyarakat, dan Pengusaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pada era otonomi daerah seperti sekarang ini tidak tertutup kemungkinan dan sangat potensial terjadinya konflik horizontal maupun vertical di lingkungan Pemerintah Daerah Mandailing Natal sebagai akibat terjadinya tarik-menarik kepentingan dalam pengelolaan kekayaan daerah setempat.  Hal ini dimungkinkan karena Pemda dengan semangat otonomi yang menggebu-gebu akan berusaha sekuat mungkin untuk mencari pemasukan bagi kelangsungan hidup pemerintahannya, tentunya dalam kondisi yang masih dalam peralihan seperti sekarang ini masih ada oknum pejabat yang berusaha untuk mencari celah untuk melakukan korupsi untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya, sehingga akan menjelma menjadi raja-raja kecil di Mandailing Natal, gejala-gejala seperti ini sudah mulai muncul sejak awal berdirinya Kabupaten Mandailing Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Konflik horizontal dan vertikal di Mandailing Natal (Madina) tidak terlepas dari terabaikannya hukum adat dan hak-hak masyarakat adat atas tanah ulayat dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.   Sebagai contoh kasus adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Terjadi tarik menarik kepentingan antara Pemda-Masyarakat-Pengusaha dalam pengelolaan    sarang burung walet di Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penebangan liar terhadap Hutan Primer di wilayah Sorik Marapi sebelah Barat (Wilayah Natal dan Batang Natal) yang merupakan hutan lindung dan penyangga untuk wilayah Pantai Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penebangan Liar terhadap Hutan di Lembah Sorik Marapi sebelah Timur dan Selatan dengan mengatasnamakan masyarakat adat setempat, terutama disekitar desa Hutanamale, Hutatinggi, Hutabaringi, Angin Barat, dan Pastap di Kecamatan Kotanopan  yang merupakan resapan air dan salah satu hulu Aek Batang Gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dengan latar belakang diatas penulis mempunyai keyakinan bahwa lembaga adat perlu dibentuk untuk mencari solusi terbaik dalam memecahkan persoalan-persolan di Mandailing Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pertanyaan yang timbul sekarang adalah apakah bisa diterapkan? dan bagaimana implementasinya?. Jawabannya adalah tergantung kepada semua komponen Masyarakat  Madina terutama Ulama, Tokoh Masyarakat, Pemda, Pemuda dan LSM, kalau kita mempunyai kemauan kenapa tidak?. Bagaimana implementasinya di Masyarakat?, hal itu perlu dirumuskan bersama untuk membicarakannya dalam satu meja. Apakah hal itu dimulai dari lingkungat Rt, Rw, Kampung, Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Lembaga adat ini harus secara proaktif memberikan masukan-masukan kepada DPRD dan Pemda tentang permasalahan yang ada di lingkungan Masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tentang komponen lembaga adat itu sendiri terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tingkat Desa ; Dipilih oleh Masyakat desa bersangkutan untuk mewakili pada tingkat Kecamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tingkat Kecamatan ; Merupakan wakil-wakil yang dipilih dari anggota dari tingkat Desa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tingkat Kabupaten ; Merupakan wakil-wakil yang dipilih dari anggota dari tingkat Kecamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dewan kehormatan dan Pengawas Lembaga Adat; Anggotanya dipilih dari orang-orang yang mempunyai Integritas yang tinggi, jujur dan benar-benar mau memperhatikan kepentingan Masyarakat di Mandailing Natal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dengan adanya lembaga adat Independen ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran-saran dan sekaligus dapat mengawasi jalannya Pemerintahan di Mandailing Natal sehingga terbentuk Pemerintahan yang bersih dari segala unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang pada gilirannya akan bermuara pada tercapainya Madina Yang Madani dan meningkatnya kesejahteraan Masyarakat di Mandailing Natal. Bukankah sama-sama kita tahu bahwa di Madina terdapat sumber daya Manusia yang cukup handal dan Sumber daya Alam yang melimpah mulai dari hasil hutan, pertanian, potensi kelautan, perikanan  pariwisata, bahan tambang seperti Emas, Tembaga, Batubara, dan lain-lain.  Jadi sangat aneh kalau masih ada   rakyat di Madina yang hidup dibawah garis kemiskinan (hppmm'02).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8387411567802300296?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8387411567802300296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8387411567802300296' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8387411567802300296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8387411567802300296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/peranan-lembaga-adat-di-madina.html' title='Peranan Lembaga Adat di Madina'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-7221765888297183519</id><published>2007-09-30T01:28:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T02:12:17.455-07:00</updated><title type='text'>Pertambangan Biji Besi, Ancaman Lingkungan di Madina</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9oYxVqbII/AAAAAAAAAYE/x9nII1kp2rw/s1600-h/bijibesi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9oYxVqbII/AAAAAAAAAYE/x9nII1kp2rw/s320/bijibesi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115922476486519938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertambangan Biji Besi, Ancaman Lingkungan Berikutnya di Mandaling Natal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 26, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan - Menyusul pertambangan emas yang kini tengah berlangsung di kawasa Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), ancaman baru kini datang dari sebuah perusahaan pertambangan, PT Butir Mutiara Indah (BMI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya PT BMI akan melakukan penambangan biji besi. perusahaan ini sudah mendapat konsesi atau lahan eksplorasi seluas 19.899 hektar pada 22 desa di Kecamatan Batang Natal dan Linggabayu, Madina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eksplorasi ini dimaksudkan untuk melakukan penyelidikan dan memastikan keberadaan biji besi di bagian dalam (subsurface) dengan bantuan alat bor,” kata Kepala Cabang PT BMI Madina, R Ari Lumaksono di Panyabungan, ibukota Madina, Selasa (24/4/2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, PT BMI bergerak khsusus menangani proyek pertambangan berupa kegiatan eksplorasi serta pengembangan cadangan atau potensi mineral. Terutama di desa Tornaincat. Dengan demikian akan dapat dihitung cadangan secara benar, jika memang terdapat cadangan biji besinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, BMI merupakan perusahaan penanaman modal dalam negeri, dan murni dimiliki warga Indonesia. Pengunaan tenaga kerja asing hanya sebatas sebagai konsultan bidang pertambanga. Sedangkan tenaga ahli, kontraktor lokal, tenaga kerja lokal dan suplai logistik, nantinya akan berasal dari warga negara&lt;br /&gt;Indonesia, dan mempekerjakan tenaga kerja lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana penambangan ini, didasarkan kepada penelitian terdahulu pada tahun 1934 yang dilakukan Van Bemmelen. Hasil penelitian, di kawasan Muarasoma ditemukan indikasi adanya mineral biji besi. Kemudian data landsat atau data satelite tahun 2005 yang mengindikasikan perihal biji besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari Lumaksono mengatakan, rencana kegiatan eksplorasi berupa persiapan pembuatan camp drill, perbuatan titik benchmark, pekerjaan topografi, penelitian survey geology detail, penelitian geofisika, pembuatan test pit dan parit uji, serta pemboran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hasil eksplorasi menunjukkan kandungan besi seperti yang diharapkan, akan dibangun base camp permanen ,pengeboran selanjutnya 10 ribu meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, warga setempat harap siap-siap dengan masalah lingkungan baru di Madina. (Rashya Al Fansyuri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-7221765888297183519?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/7221765888297183519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=7221765888297183519' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7221765888297183519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7221765888297183519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/pertambangan-biji-besi-ancaman.html' title='Pertambangan Biji Besi, Ancaman Lingkungan di Madina'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9oYxVqbII/AAAAAAAAAYE/x9nII1kp2rw/s72-c/bijibesi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8842320410992892766</id><published>2007-09-30T01:25:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:27:34.880-07:00</updated><title type='text'>Petambang Liar di Bibir Taman Nasional Batang Gadis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Petambang Liar di Bibir Taman Nasional Batang Gadis &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panyabungan – ”Banyak dapat emasnya, dik?” tanya SH kepada lima bocah lelaki yang tengah asyik mencari emas di Sungai Batang Gadis, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina). ”Nggak, kok, Bang. Adapun cuma kecil sekali.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, mau diapakan emasnya?” ”Dijuallah, bang,” kata seorang dari lima anak tersebut sambil tersenyum. Kelima anak tersebut mengaku mencari emas hanya sampingan. Mereka melakukannya di saat libur sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari lokasi mereka, enam pria dewasa tengah menambang emas di sebuah lubang sedalam 4 meter dengan diameter sampai 5 meter. Mereka menggunakan peralatan yang lebih modern, misalnya saja sudah menggunakan mesin penyedot air dari sungai ke lubang galian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dari lubang galian, air dan batu-batuan kecil disedot dan dibuang ke atas sebuah penampang kayu yang dasarnya dialasi dengan karpet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di karpet itulah emasnya tersangkut. Dan pada sore hari, barulah emas itu diambil,” ujar Dapat Nasution (54), pemilik pertambangan liar atau pertambangan emas tanpa izin (peti) tersebut saat SH di areal penambangan beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tak seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Petambang liar yang banyak ditemukan di sungai Batang Gadis sama sekali tak menggunakan air raksa sebagai zat pemisah dan penyuci emas yang ditambang. Tak hanya itu, mereka juga menumpuk kembali batu-batu berukuran besar menjadi benteng-benteng penahan tanah di dalam lubang galian tersebut. Kemungkinan untuk runtuh kecil sekali terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penambang liar di Mandailing Natal, sesungguhnya hanya memanfaatkan sedikit kawasan di sepanjang bibir Sungai Batang Gadis yang masih termasuk daerah yang direncanakan sebagai kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sebuah penambangan, sekalipun dalam kapasitas yang sangat kecil, tetap memberikan dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan mereka ini. Di sepanjang Sungai Batang Gadis banyak warisan bekas galian yang tak ditutupi kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lubang yang sebelumnya misalnya, para pekerjanya menggali areal di bibir sungai hingga berdiameter 10 meter dengan kedalaman sampai 10 meter. Sekarang tetap masih menganga dengan ditutupi air sehingga menciptakan lubang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ismayadi Samsoedin - Northern Sumatra Corridor Project Manager Conservation International (CI) Indonesia, kawasan yang direncanakan sebagai taman nasional termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis. Luasnya sekitar 386.455 hektar atau 58,8% dari luas Kabupaten Madina. Sedang luas kawasan taman nasional 108.000 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, belum ada larangan terhadap warga untuk menghentikan pertambangan liar tersebut. Meski kawasan galian berada di sepanjang Sungai Batang Gadis yang masih termasuk daerah kawasan TNGB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dapat, mereka mendapatkan emas minimal sebanyak 8 gram setiap harinya. Tapi kadang-kadang bisa sampai 30 gram. ”Jadi kalau rezeki lagi baik, ya emas yang didapat cukup lumayan. Pernah sampai 30 gram.” Dengan begitu, jumlah uang yang diterima Dapat dan beberapa pekerjanya lumayan besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau lagi dapat banyak, kita bisa dapat Rp 100.000 per hari. Tapi kalau tidak, minimal Rp 30.000 seharinya,” timpal Lubis (25). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petambang liar di kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebenarnya telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Bahkan sejak zaman Belanda, di kawasan yang baru saja dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2000 lalu itu, sudah lama dikenal dengan emasnya. Tak heran pertambangan pun dilakukan. Baik dalam skala kecil maupun skala besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala kecil, masyarakat menjadi pelakunya. Dan mereka melakukannya tanpa izin sama sekali. Petambang liar bisa ditemui di dua sungai, yakni sungai Batang Gadis dan sungai Muara Sipongi. Sungai Batang Gadis terdapat di di Kecamatan Batang Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambangan liar serupa juga terjadi di Kecamatan Kota Nopan. Di kawasan ini saja setidaknya terdapat lahan seluas 100 hektare yang ditambang masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1995, Petambang liar mulai marak dan dilakukan secara masal di berbagai desa dan kecamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membuat Pemkab Madina kerepotan mengurus mereka. Pernah Pemkab Madina menyadarkan masyarakat agar mengurus izin penambangannya. Dan sial, sebagian besar pelaku Petambang liar yang terdapat sekitar 2 km dari rencana kawasan TNBG itu malah marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang terjadi malah kita ikut menyulut potensi konflik. Ada perlawanan dari masyarakat,” kata Bupati Madina Amru Daulay. Akhirnya upaya membuat Petambang liar memiliki izin batal. Tak hanya itu, sebenarnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petambang liar juga berpotensi memicu konflik horizontal. Di mana antara penduduk desa akan saling cemburu untuk berebut wilayah penambangan. Akhirnya Pemkab tak bisa berbuat apa-apa. Peluang untuk menata penambangan secara liar satu-satunya hanyalah melalui pembentukan Taman Nasional Batang Gadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak mengubah topografi sosial yang telah ada,tapi setidaknya aturan untuk pengelolaan kawasan hutan lindung, TNBG dan lain sebagainya akan lebih kuat secara hukum untuk melestarikan hutan di Madina. Kalau tidak, Pemkab Madina akan kesulitan menata kabupaten baru itu menjadi madani! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SH/darma lubis/bayu dwi mardana) - Sinar Harapan, 21 Januari 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8842320410992892766?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8842320410992892766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8842320410992892766' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8842320410992892766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8842320410992892766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/petambang-liar-di-bibir-taman-nasional.html' title='Petambang Liar di Bibir Taman Nasional Batang Gadis'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6855684640573574638</id><published>2007-09-30T01:16:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T01:21:33.668-07:00</updated><title type='text'>Potret Kehidupan Guru Transmigrasi di Singkuang</title><content type='html'>Wednesday, July 4, 2007&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Potret Kehidupan Guru di lokasi transmigrasi Singkuang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belum hilang rasa lelah Shoddiq setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari Singkuang ke Kecamatan Natal. Siang itu juga ia harus kembali ke rumahnya. Istrinya Sri Handayani bersama dua anaknya telah menanti sejak siang di depan rumah. Mereka menanti kepulangan Shoddiq dengan perasaan gembira. Suami dan ayah mereka bakal pulang membawa uang. Hari itu Shoddiq Nurjainuri terpaksa modar mandir Singkuang-Natal untuk mengambil honor guru bantu miliknya untuk tiga bulan terakhir di Bank BRI cabang Natal. Rutinitas ini biasa dilakukan Kepala Sekolah Dasar UPT Singkuang ini tiap tiga bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski honor guru bantu dibayarkan tiap bulan (jika tidak ada penundaan), namun ia baru mengambilnya tiga bulan sekali. Ini dilakukan untuk menghemat biaya perjalanan. Maklum, untuk sekali jalan dari Singkuang menuju Kecamatan Natal, Shoddiq harus merogoh kantong hingga Rp. 200.000. Tambahkan saja ongkos kembalinya. Sementara honor guru bantu hanya Rp.710.000 perbulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan dari tempat Shoddiq mengajar, Natal adalah kota kecamatan terdekat yang terdapat Bank untuk melayani pembayaran honor guru bantu. Mau tak mau Shoddiq harus merelakan sebagian honornya dibagi kepada tukang Ojek atau dikenal masyarakat dengan istilah RBT (katanya singkatan dari rakyat banting tulang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Shoddiq yang melakukan hal itu. Tiga rekannya sesama guru bantu khusus daerah transmigran yang mengajar di Sekolah Dasar Unit Pemukiman Transmigrasi Singkuang juga melakukan rutinitas yang sama setiap tiga bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Singkuang adalah nama sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal. Dulu , Singkuang sebenarnya masuk dalam wilayah kecamatan Natal, namun karena ada pemekaran, lantas Singkuang masuk dalam kecamatan Muara Batang Gadis. Di desa kecil ini, terdapat sebuah Unit Pemikiman Transmigrasi. Orang-orang di daerah itu menyebutnya UPT Singkuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa mencapai UPT Singkuang dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dari Natal. Meski masuk dalam wilayah kecamatan Muara Batang Gadis, namun Singkuang lebih dekat diakses dari Kecamatan Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa sampai di UPT Singkuang bukan perkara mudah. Dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dari Natal ke Singkuang. Itupun hanya bisa menggunakan sepeda motor. Karena kondisi jalan yang rusak parah, meski lebar jalan cukup untuk dilalui kendaraan roda empat, namun masyarakat di daerah itu berpikir dua kali untuk melintas menggunakan mobil, kalau tidak mau terperangkap lumpur atau tersangkut akar pohon yang merintangi jalan. Belum lagi hutan lebat yang memagari jalan sepanjang kurang lebih 150 KM. Praktis UPT Singkuang nyaris terisolasi. Beberapa kendaraan roda empat memang ada juga yang nekat melintas. Itupun mobil dengan gardang dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPT Singkuang didiami sekitar 170 KK. Mereka adalah transmigran asal pulau Jawa. Sebagian besar langsung datang dari Pulau Jawa lewat program transmigrasi tahun 2001-2003. Sebagian lagi ada juga transmigran asal pulau Jawa yang pindah dari lokasi transmigrasi di Nanggroe Aceh Darussalam. Mereka terpaksa keluar dari Aceh akibat konflik yang merebak setelah DOM berakhir. Pencaharian utama masyarakat UPT Singkuang adalah bertani. Dengan modal tanah yang diberikan pemerintah lewat program transmigrasi, masyarakat daerah ini umumnya menanam pohon keras seperti kelapa sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Meski tinggal di daerah terpencil, masyarakat transmigran UPT Singkuang tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Namun yang menjadi masalah adalah sarana pendidikan. Sekolah terdekat yang masih dalam wilayah Desa Singkuang, jaraknya lumayan jauh. Satu jam perjalanan lah. Karena itu, masyarakat UPT kemudian berinisiatif mendirikan sebuah Sekolah Dasar di tempat mereka tinggal. Namanya SD UPT Singkuang. Sekolah ini masih menginduk pada SD Negeri Singkuang Kecamatan Muara Batang Gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak didirikan tahun 2003, perkembangan sekolah ini lumayan pesat. Saat ini terdapat sekitar 77 murid yang menuntut ilmu di SD UPT Singkuang. Mereka duduk di kelas I hingga kelas VI. Rata-rata yang bersekolah adalah anak-anak keluarga transmigran. Sisanya warga sekitar yang dekat dengan lokasi sekolah. Untuk bersekolah di sekolah tersebut, murid-murid tidak dikenai biaya. Biaya operasional sekolah dibantu oleh masyarakat dan pengelola UPT Singkuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membayangkan SD UPT Singkuang memiliki gedung atau ruang belajar yang memadai. Anak-anak murid SD ini hanya menumpang pada gedung balai desa yang terbuat dari papan dan beratapkan seng. Ruangan kelasnya hanya ada dua. Moubilernya juga sangat terbatas. Lihat saja meja tempat belajar murid. Hanya terbuat dari selembar papan kasar yang dibuat berbanjar. Mirip seperti meja yang dibuat masyarakat di pedalaman untuk menjamu tamu dalam sebuah pesta perkawinan. Ditambah bangku panjang yang sudah mulai reot, jadilah ruang kelas SD UPT Singkuang menjadi saksi semangat murid-murid menimba ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD UPT Singkuang hanya memiliki empat orang guru. Mereka semua adalah warga transmigran. Latar belakang pendidikan mereka rata-rata lulusan SMA sederajat. Awalnya mereka menjadi guru sukarela yang dibayar oleh warga dengan jumlah honor yang tidak pasti. Namun belakangan mereka diangkat menjadi guru Bantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan tugas sebagai pendidik di daerah terpencil itu tidaklah mudah. Mereka terlihat sangat kesulitan dalam mengembangkan metode belajar dengan fasilitas yang sangat terbatas. Di samping itu minimnya buku-buku bacaan dan tidak adanya sarana perpustakaan membuat para guru disini selalu tertinggal pengetahuannya. Apalagi di daerah ini belum ada fasilitas listrik. Praktis guru, yang mendidik murid-murid sama sekali tidak memiliki informasi aktual yang sebenarnya sangat penting untuk membuka keterisoliran masyarakat. Mereka juga mengeluhkan tidak adanya informasi dan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti diklat peningkatan kompetensi guru. Pengakuan mereka, hanya sekali mereka pernah dipanggil mengikuti diklat, yaitu diklat guru Bantu yang dilaksanakan oleh LPMP Sumut. Bahkan mereka masih asing mendengar istilah KTSP (Kurikurlum Tingkat Satuan Pendidikan) yang sedang popular di sekolah-sekolah di perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomi, kehidupan guru-guru SD UPT Singkuang boleh dibilang sangat sederhana kalau tidak boleh dikatakan tertinggal. Meski selain mengajar mereka juga bercocok tanam, namun hasil tani mereka tidak cukup memadai. Hal ini karena sulitnya transportasi ke lokasi ini. Syukurlah sejak tahun 2005, pemerintah mengangkat mereka menjadi guru bantu khusus daerah transmigrasi Propinsi Sumatera Utara. Dengan honor Rp. 710.000 perbulan, saat ini guru-guru SD UPT Singkuang sedikit lebih terbantu kehidupannya. Begitupun mereka tetap berharap agar pemerintah terus memperhatikan nasib mereka. Membuka isolasi transportasi adalah salah satu impian yang paling mereka nantikan. Harapan lain, tentu saja dengan mengangkat mereka menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain itu, para pendidik ini memiliki impian untuk dapat meningkatkan kompetensi dan kualifikasi pendidikan mereka. Meski berada di daerah terpencil, mereka juga tetap guru. Pahlawan tanpa tanda jasa yang nasibnya harus terus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Hari mulai senja. Ojek yang ditumpangi Shoddiq perlahan memasuki pekarangan rumahnya. Di depan rumah, Sri dan dua anaknya sudah menanti. Perjalanan melelahkan selama 4 jam tak sedikitpun membekas di wajah Shoddiq begitu melihat istri dan dua anaknya menyambut. Yang dipikirkannya, entah sampai kapan rutinitas ini harus ia jalani….(Rudianto, Dedi Iskandar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://rudianto77.blogspot.com/2007/07/potret-kehidupan-guru-di-lokasi.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6855684640573574638?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6855684640573574638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6855684640573574638' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6855684640573574638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6855684640573574638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/09/potret-kehidupan-guru-transmigrasi-di.html' title='Potret Kehidupan Guru Transmigrasi di Singkuang'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-7252277314004479443</id><published>2007-07-25T10:35:00.000-07:00</published><updated>2007-07-25T10:52:46.816-07:00</updated><title type='text'>Can Forests Protect Us From Floods?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeNZBn9UyI/AAAAAAAAAXM/TOvlXe8bUac/s1600-h/Mandailings+Pictures+0414+jpeg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeNZBn9UyI/AAAAAAAAAXM/TOvlXe8bUac/s400/Mandailings+Pictures+0414+jpeg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091193364837913378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 9th, 2006 / Opinion / &lt;strong&gt;Can forests protect people from disaster? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Source: The Jakarta Post, Didy Wurjanto, Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foresters and environment groups have frequently blamed deforestation, especially that due to logging operations, as the root cause of the recent floods and landslides on Java that have claimed hundreds of lives and incurred huge infrastructure losses. There is a widespread belief that forests can prevent floods by acting as giant sponges, slowing down the surface runoff and soaking up water during heavy rainfall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, certain scientists have presented new findings that claim there is no scientific evidence linking large scale flooding and landslides to deforestation (The Jakarta Post, Jan. 6, 2006 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although the causes of the tragedies are still under investigation, pro and contra have been debating on whether the disappearing forests have led to the natural disasters in Jember, East Jawa , that killed at 119 people, and Banjarnegara, Central Jawa , that recently took the lives of at least 149 people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The proponents of the argument that deforestation leads to floods and landslides say that forests are necessary to regulate stream flows and reduce runoff. Reducing forests usually results in increased runoff. Further, they argue that degraded highland forested areas make a significant contribution to the creation of small natural dams as the soil has been compacted and loses its porosity to absorb water from rainfall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A recent study conducted by FAO and CIFOR (2005), Forests and Floods: Drowning in Fiction or Thriving on Facts?, argued that existing knowledge of deforestation leading to floods and landslide disasters is frequently based more on perceived wisdom than on science. In the rush to identify the causes of the disasters, the study revealed that the assumptions were made simply based on observations from other regions, which often have quite different environmental characteristics, or by extrapolating from small to large scale. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to this study, forests only have a limited influence on major downstream flooding, especially large-scale events. Forests indeed are capable of reducing runoff as the result of enhanced infiltration. But this is only true for small-scale rainfall events. During a heavy rainfall events, like those that resulted in massive flooding in Jember and Banjarnegara, especially after prolonged periods of preceding rainfall, the forest soil becomes saturated and water no longer infiltrates into the soil but instead runs off along the surface. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hydrology experts say that within watershed systems, flooding is the natural way to discharge water arising from heavy rainfall. There was no problem with flooding until people decided to use natural flood plains for their own use. This situation forces us to face the fact that people have chosen to live and work in these flood plains. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The key to minimizing potential future disasters is not by abruptly relocating people already living within the watersheds. However, it is vital that fragile areas be identified, classified and protected from inappropriate use, whether this be forestry, agriculture or mining. Nonetheless, even the best plans will not be effective if it is not implemented or facilitated by supportive policies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effective watershed management is an iterative process of assessing, planning, restoring and organizing land and resource use within a watershed to provide desired goods and services while maintaining and supporting livelihoods. This process provides an opportunity for stakeholders to balance different goals and resource uses and to consider how the development may affect long-term sustainability of natural resources. Mining and physical infrastructure such as roads can affect local hydrology far more than agricultural practices. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this autonomy era, several local governments have undertaken preventive measures to protect their people and their infrastructure from similar tragedies. They have launched the concept of Kabupaten Konservasi (conservation regency) by managing the nearby watersheds in the form of conservation area management. The idea is not only to care for the watersheds but also the forest cover. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amru Daulay, the regent of Mandailing Natal, North Sumatra , led his people to establish the 108,000-hectare Batang Gadis National Park in 2004, which accounts for 26 percent of the forest areas in the regency. The natural park became the center of the surrounding six sub watersheds contributing to the total economic value of more than Rp 160 billion (US$17 million) per year through domestic water, agriculture, fisheries and other environmental services (Conservation International 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The park is responsible for supplying clean water to 13 districts within the regency. Its dense forests are home to very important wildlife including Sumatran tigers, which are now very rare in other parts of North Sumatra . Embedded in the concept of national park management is the recognition of the harmonized interrelationship of many different activities, such as fisheries, urban development, agriculture, forestry, recreation, conservation and other human influences. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Working with other stakeholders the government is striving to find a break-through in creating incentives for those who have an interest in keeping the park functioning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer is an employee of Conservation International Indonesia . He can be reached at dwurjanto@conservation.org.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-7252277314004479443?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/7252277314004479443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=7252277314004479443' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7252277314004479443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7252277314004479443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/can-forests-protect-us-from-floods.html' title='Can Forests Protect Us From Floods?'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeNZBn9UyI/AAAAAAAAAXM/TOvlXe8bUac/s72-c/Mandailings+Pictures+0414+jpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-1162040196511650295</id><published>2007-07-25T10:20:00.000-07:00</published><updated>2007-07-25T10:34:16.006-07:00</updated><title type='text'>Banjir di Mandailing Natal</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeIOhn9UxI/AAAAAAAAAXE/9osJNxBOE8U/s1600-h/Arbain0031b+crop.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeIOhn9UxI/AAAAAAAAAXE/9osJNxBOE8U/s400/Arbain0031b+crop.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091187686891148050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Natal digenangi air&lt;br /&gt;Foto Arbain Rambey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24/07/2007 16:14 WIB&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banjir di Mandailing Natal, 4,300 Jiwa Mengungsi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan – Banjir yang bersumber dari luapan air sungai melanda lima kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Tidak ada korban jiw sejauh ini, namun tak kurang dari 4,300 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sungai yang meluap itu, masing-masing Aek Bangko, Aek Batang Natal, dan Aek Batahan. Akibatnya rumah penduduk yang berada di lima kecamatan yang dilintasi sungai tersebut ikut terendam air. Masing-masing di Kecamatan Muara Batang Gadis, Natal, Kecamatan Sinunukan, Batahan dan Ranto Baek. Pada beberapa titik, ketinggian air mencapai dua meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk yang mengungsi berjumlah sekitar 4,300 jiwa dari 888 keluarga. Saat ini mereka bertahan di Pasar Sinunukan, Bukit Godang, Kecamatan Batahan di kabupaten yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sudah mengistruksikan camat untuk segera melakukan penagangan. Agar masyarakat segera mendapatkan bantuan sembako maupun kesehatan,” kata Bupati Mandailing Natal Amru Helmy Daulay kepada wartawan, Selasa (24/7/2007) di Mandailing Natal, sekitar 480 kilometer dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luapan air sungai juga menyebabkan sejumlah jembatan penghubung di kabupaten itu rusak dan hanyut. Di Kecamatan Sinunukan dan Batahan masing-masing satu jembatan. Sementara jembatan Pasar Natal di Kecamatan Natal yang baru dibangun juga ikut hanyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa titik jalan lainnya juga terdapat longsoran tanah dari perbukitan. Akibatnya, jalur transportasi Kecamatan Natal menuju Panyabungan, ibukota Mandailing Natal, terputus total. Kendala transportasi ini juga menghambat efektivitas pendistribusian bantuan kepada warga. (rul/asy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/24/time/161412/idnews/808853/idkanal/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ribuan Warga Mandailing Natal Mengungsi Karena Banjir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 24 Juli 2007 | 19:35 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Medan: Ribuan masyarakat dari Kecamatan Batu Sondet, Bapahan,Patiluban Ilir, Luban Mudik, Natal, Muara Batang Gadis, dan Sinunukan di Kabupaten Mandailing Natal mengungsi karena banjir pada Selasa (24/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir yang menggenangi perumahan warga disebabkan meluapnya sungai Aek Batang Natal, Aek Bangko dan Aek Bantahan. Sebagian besar warga mengungsi ke Pasar Sinunukan, Bukit Godang dan Bantahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khairul, seorang warga Panyabungan mengatakan, banjir yang mengenai sejumlah wilayah ini karena hujan turun terus menerus selama dua hari. "Hujan turun selama dua hari terus menerus," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, banjir di kawasan Batu Sondet diduga karena penebangan hutan untuk perluasan perkebunan milik perusahaan perkebunan milik negara. Menurut Khairul, setiap hari kayu yang ditebang dari wilayah ini. Hambali Batubara &lt;br /&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/07/24/brk,20070724-104299,id.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerugian Bencana Mandailing Natal dan Langkat Rp 108 Miliar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 16 Januari 2007 | 11:37 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Medan:Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menghitung kerugian bencana gempa dan longsor di Kabupaten Mandailing Natal dan banjir di Kabupeten Langkat mencapai Rp 108 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian materi itu akibat rusaknya sejumlah nfrastruktur jalan sepanjang dua kilometer, jalan negara empat kilometer serta jembatan. Adapun rumah yang rusak berat sebanyak 554 unit dan rusak ringan 467 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bangunan sekolah rusak berat tujuh unit dan 11 lainnya rusak ringan. Korban tewas akibat gempa disusul longsor di Mandailing Natal 33 orang dan 2.988 jiwa hingga saat masih mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan banjir di Langkat kerugiannya mencapai Rp 70 miliar. Banjir bandang itu merusak lahan persawahan seluas 14.379 hektare, 5.149 unit rumah rusak parah, empat jembatan ambruk serta 1.110 hektare tanaman hortikultura rusak. Banjir yang melanda 15 kecamatan, akhir tahun lalu itu menelan korban jiwa 17 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah Sumatera Utara menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi kedua kebupaten itu selesai dalam tiga bulan," juru bicara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Maringan Lumban Tobing kepada Tempo hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahat Simatupang&lt;br /&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/01/16/brk,20070116-91346,id.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-1162040196511650295?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/1162040196511650295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=1162040196511650295' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1162040196511650295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1162040196511650295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/banjir-di-mandailing-natal.html' title='Banjir di Mandailing Natal'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqeIOhn9UxI/AAAAAAAAAXE/9osJNxBOE8U/s72-c/Arbain0031b+crop.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8426410777241751352</id><published>2007-07-21T08:08:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T21:35:06.467-07:00</updated><title type='text'>Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIk2Bn9UsI/AAAAAAAAAWc/vIra5FAQyk4/s1600-h/DSCN5637.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIk2Bn9UsI/AAAAAAAAAWc/vIra5FAQyk4/s400/DSCN5637.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089671039449649858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The old police station where Teluk Mak Intan was founded.&lt;br /&gt;Pic by Khoo Salma Nasution&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;By Abdur-Razzaq Lubis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk Intan is a moderate sized town in the state of Perak, Malaysia. With an estimated population of around 110,000, Teluk Itan is the largest town in the district of Lower Perak and third largest in the state of Perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The town was founded on the bank of the Perak River. The river forms an omega-shaped oxbow, and the town is built in the loop of the oxbow. During high-tide, some parts of the town tends to flood even though there are watergates and protective banks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Historically, it was known as Teluk Mak Intan (Mak Intan’s Bay) or Pekan Mak Intan (Mak Intan’s Town), taking its name from a noble and wealthy Mandailing woman, in which case, she would have been a family member of the &lt;em&gt;Namora-Natoras &lt;/em&gt;(The Noble [and] The Elders), the Mandailing elite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In view of her social and financial standing, it is plausible that she would have been the patron of the traders at Teluk Mak Intan. The existence of Teluk Mak Intan has been recorded since the late 19th century. Oral tradition has it that Teluk Mak Intan was established after Batak Rabit and Durian Sebatang. The original site of Teluk Mak Intan is the old police station (Balai Polis) and its vicinity.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As for the origin of the name Teluk Mak Intan, oral history narrates an incident in which Mak Intan was swimming and frolicking with her friends and attendants at a bay on the lower reaches of the Perak River, when her diamond studded hair pin, a gift from her parents, which held her bun together, fell into the river and was never recovered. Over time, when recalling the incident, people referred to the place where she dropped her hair pin as Teluk Mak Intan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Compared to Durian Sebatang or Batak Rabit on the banks of the Perak river, Teluk Mak Intan was then free of floods, its bank secure and the bay deep, making it a suitable river port and commercial centre. On top of that, its hinterland was fertile for tubers, corn, bananas and the likes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore it comes as no surprise that it was also known as Pekan Mak Intan as it was a staging point for sojourners and traders from the Indonesian archipelago and other parts of the globe, who wanted to trade with the interior of Perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Traders from Kampar brought black cloth, shrimp paste (&lt;em&gt;belacan&lt;/em&gt;), white silk, batik (&lt;em&gt;kain rawa&lt;/em&gt;), tobacco, palm thatch (&lt;em&gt;attap nipah&lt;/em&gt;) and salted or pickled fish (&lt;em&gt;ikan peda&lt;/em&gt;,&lt;em&gt;ikan pekasam&lt;/em&gt;) for sale. On their return journey they carried tin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumatran sojourners and traders from Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang ethnic groups as well as Bugis seamen from the island of Sulawesi (Celebes), would go upstream to Batu Gajah in the Kinta Valley, in the interior of Perak state, through the port of Teluk Mak Intan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju terus ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(They came in &lt;em&gt;sampan&lt;/em&gt; or &lt;em&gt;sekoci&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;perahu&lt;/em&gt; or &lt;em&gt;lading&lt;/em&gt; through the estuary of the Perak river, heading straight to the Kinta river carrying with them the provisions for miners and villagers. The journey from Teluk Intan to Batu Gajah usually takes between four to five days.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During British colonial rule, the third British Resident to Perak, Hugh Low, proposed,   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Customs house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore  as soon as I can…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The superior geographical location of Teluk Mak Intan compared to other locations in Lower Perak made it a suitable candidate for a new administrative centre in the district. Hugh Low's proposal was enthusiastically received by the acting Governor of the Straits Settlements (at the time the Federated Malay States has yet to be instituted), Col. Archibald Anson (1879-1880), the latter even drew the first plans for the town. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Accordingly, in a State Council meeting of 15 March 1882, Hugh Low recommended that,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The recommendation was unanimously accepted by the Council, which officially changed the name of Telok Mak Intan to Telok Anson (literally, Anson’s Bay), or in Chinese 安顺 (Pinyin: Ānshùn). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During its centenary celebrations in 1982, the Sultan of Perak partially reverted the name of the town to Teluk Intan, dropping the feminine Mak. Teluk Intan served as the major administrative and business settlement for smaller neighbouring towns such as Tapah, Bidor, Bagan Datoh and Hutan Melintang. The town has a number of colonial buildings and Chinese shophouses together with modern buildings and a few shopping complexes and educational institutions. Being the major town in Hilir Perak and nearby smaller townships, Teluk Intan attracts shoppers from the surrounding area. Shopping and food brings many people to Teluk Intan during the weekends.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The main economic activities in Lower Perak around Teluk Intan today are oil palm cultivation and palm oil production. Some of the big corporations owning plantations around Teluk Intan, are United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby and Kumpulan Guthrie Berhad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8426410777241751352?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8426410777241751352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8426410777241751352' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8426410777241751352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8426410777241751352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/mandailing-woman-founded-teluk-intan.html' title='Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIk2Bn9UsI/AAAAAAAAAWc/vIra5FAQyk4/s72-c/DSCN5637.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8885738577893664786</id><published>2007-07-21T06:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T22:30:59.774-07:00</updated><title type='text'>Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIRRxn9UrI/AAAAAAAAAWU/heE0CWo-n-4/s1600-h/telukintan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIRRxn9UrI/AAAAAAAAAWU/heE0CWo-n-4/s400/telukintan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089649525958464178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menara Condong atau Jam Tinggi yang dibina pada tahun 1885 merupakan mercu tanda dan simbol Teluk Intan. Pembangunan menara itu diilhamkan oleh bangunan pagoda dari negeri Cina, telah didirikan oleh seorang pemborong bernama Choong Cheong @ Ah Cheong. Asalnya ia adalah sebuah tangki air sebagai persiapan untuk menghadapi musim kemarau dan buat bomba/setoker memadam api kebakaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Abdur-Razzaq Lubis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk Intan adalah sebuah kota/bandar sederhana yang terletak di negeri Perak, Malaysia. Dengan penduduk yang dianggarkan kira-kira 110,000 orang, ia merupakan kota yang terbesar di daerah Hilir Perak, dan yang ketiga besarnya di negeri Perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Teluk Intan dibangunkan di tebing Sungai Perak. Sungai itu membentuk semacam galang kuk (&lt;em&gt;oxbow&lt;/em&gt;) atau tasik ladam, dan kota itu didirikan pada gelung atau cecincin galang itu. Apabila air pasang, sebahagian kota itu banjir meskipun ada pintu air dan pembetongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi sejarah, Teluk Intan dikenali dengan nama Teluk Mak Intan atau Pekan Mak Intan, mengambil namanya dari seorang wanita bangsawan dan hartawan Mandailing. Ini bererti Mak Intan adalah anggota keluarga (&lt;em&gt;Namora-Natoras&lt;/em&gt;, Yang Dimuliakan [dan] Yang Dituakan). Oleh yang demikian, boleh diterima akal bahawa Mak Intan menjadi penaung kelompok pedagang di Teluk Intan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Teluk Mak Intan telah tercatat pada penghujung abad ke-19. Cerita lisan menuturkan bahawa Teluk Mak Intan menyusuli keberadaan Batak Rabit dan Durian Sebatang. Lokasi Teluk Mak Intan adalah di mana bangunan Balai Polis lama sekarang dan kawasan di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai asal-usul nama Teluk Mak Intan, cerita lisan mengungkapkan bahawa pada suatu hari Mak Intan dengan beberapa kawan-kawannya sedang mandi-manda dan bersukaria di teluk Sungai Perak, dengan tidak semena-mena pacak intan pemberian orang tuanya, yang dipakai disanggulnya, terjatuh dan hilang di dalam sungai itu. Oleh kerana peristiwa itu disebut-sebut orang belakangan hari bahagian teluk di mana Mak Intan kehilangan pacak intanya sebagai Teluk Mak Intan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbanding dengan Durian Sebatang atau Batak Rabit di tebing Sungai Perak, kedudukan Teluk Mak Intan, yang bebas dari ancaman banjir sementara tebing sungainya yang kuat dan air teluknya dalam, menjadikan Teluk Mak Intan sesuai dijadikan pengkalan sungai dan pusat perdagangan. Tambahan pula kawasan pendalamannya subur untuk tanaman ubi, jagung, pisang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya tidak hairanlah mengapa ia juga dikenali sebagai Pekan Mak Intan kerana di sinilah tertumpunya perantau dan pedagang baik dari Nusantara mahupun dari tempat-tempat lain di dunia, yang mahu masuk ke pedalaman negeri Perak untuk memperolehi bijih timah khasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perantau dan pedagang Sumatra dari etnik Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang serta Bugis dari pulau Sulawesi, masuk ke mudik ke Batu Gajah di Lembah Kinta, di pendalaman Perak, melalui Teluk Mak Intan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju teras ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman pemerintahan kerajaan negeri Perak di bawah tajaan British, Residen British yang ketiga di negeri itu, Hugh Low, telah mengarahkan supaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Cusoms house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore [di mana pejabat/kantor Gabenur British] as soon as I can…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah kelebihan geografi Teluk Mak Intan berbanding dengan lokasi lain di Hilir Perak untuk didirikan sebuah pusat pentadbiran/administratif baru di jajahan itu. Saranan Hugh Low itu bukan sahaja diterima baik oleh pemangku Gabenor Negeri-Negeri Selat (pada masa itu belum diwujudkan lagi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu), Col. Archibald Anson (1879-1880), malah Gabenor itu telah melukis pelan untuk pusat pentadbiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada mesyuarat/rapat Majlis Negeri pada 15 Mac/Maret 1882, Hugh Low mengusulkan supaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penerimaan usul itu oleh Majlis Mesyuarat Negeri Perak, nama Telok Mak Intan bertukar menjadi Telok Anson (Cina: 安顺; Pinyin: Ānshùn).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus tahun kemudian pada perayaan ulang tahun keseratus kota Telok Intan pada 1982, Sultan Perak telah menukar kembali nama Telok Anson menjadi Telok Intan. Hari ini, Teluk Intan merupakan pusat administratif dan bisnes yang utama untuk pekan-pekan [pokan] kecil seperti Tapah, Bidor, Bagan Datoh dan Hutan Melintang. Pusat pentadbiran daerah Hilir Perak itu mempunyai beberapa buah bangunan kolonial dan rumah kedai/ruko Cina dengan bangunan modern and kompleks membeli-belah/daerah pertokoan/pusat berbelanja and institusi pendidikan. Kerana ia merupakan kota tersohor di Hilir Perak, Teluk Intan menarik pengunjung dan pembeli-belah dari kawasan seputarnya. Berbelanja dan menjamu selera mendatangkan banyak orang ke Teluk Intan pada hujung minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktiviti ekonomi utama sekeliling Teluk Intan di Hilir Perak hari ini ialah perkebunan kelapa sawit dan pengeluaran minyak kelapa sawit. Perbadanan yang memiliki perkebunan-perkebunan besar di kawasan sekitar Teluk Intan termasuklah United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby dan Kumpulan Guthrie Berhad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8885738577893664786?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8885738577893664786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8885738577893664786' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8885738577893664786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8885738577893664786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/wanita-mandailing-pendiri-teluk-intan.html' title='Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqIRRxn9UrI/AAAAAAAAAWU/heE0CWo-n-4/s72-c/telukintan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6719109261197558197</id><published>2007-07-15T04:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T17:12:24.777-07:00</updated><title type='text'>Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rps7PR1yWJI/AAAAAAAAAWE/n-lXSUAStOA/s1600-h/Mandailing+Picture+0934.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rps7PR1yWJI/AAAAAAAAAWE/n-lXSUAStOA/s400/Mandailing+Picture+0934.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087725337718184082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkebunan Rakyat&lt;br /&gt;Foto Abdur-Razzaq Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mei 4th, 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANYABUNGAN ( Berita ) : Sebanyak 50 orang perwakilan warga 13 Desa Kecamatan Hutabargot Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (03/05) sekitar pukul 10.00 Wib mendatangi Gedung DPRD untuk mengadukan nasib mereka yang kehidupannya mulai terancam dan nyaris tidak mempunyai mata pencaharian disebabkan pihak pengelola Taman Nasional Batang Gadis ( TNBG ) mengadukan masyarakat ke Polisi agar tidak mengolah dan memanfaatkan tanah perkebunan daerah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, akibat terjadinya Kebakaran Hutan di wilayah itu sekitar 23 Maret 2007 lalu telah membuat masyarakat 13 Desa yang selama ini mengolah lahan perkebunan Trauma dan bahkan ada yang telah meninggalkan rumah dan keluarganya disebabkan sudah di panggilnya 20 orang warga yang di duga telah terlibat dalam pembakaran hutan di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delegasi warga yang jumlah 50 orang masing-masing di Pimpin Kepala Desa dan didampingi Camat Hutabargot Adek Damanik .AP diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH, Ketua Komisi A Binsar Nasution.A.Md, Ketua Komisi B H.Saripada Hasan Lubis, dan beberapa anggota Dewan lainnya serta turut hadir dalam pertemuan/dialog itu Asisten I M.Gozali Pulungan.SH.MM, Kabag Bina Mitra AKP.Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru bicara warga Desa Bangun Sejati M.Yusri dalam penjelasannya mengaku masalah keberadaan TNBG sangat di dukung oleh masyarakat, tetapi hendaknya pihak TNBG membuat penjelasan yang jelas apakah wilayah yang telah di kelola oleh masyarakat termasuk wilayah TNBG, sebab sejak zaman dulu wilayah perkebunan yang di kelola oleh warga merupakan hak turun temurun dari keluarga masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ujar M.Yusri dihadapan anggota DPRD, dari Balai TNBG, Dishut serta Polres Madina, selama ini tidak ada sosialisasi maupun penjelasan dari pihak TNBG sekalipun telah dikatakan ada sosialisasi, karena sampai sekarang batas wilayah TNBG yang jumlahnya 108.000 Ha tersebut baik patok maupun pengumuman atau apa saja tidak ada dan kenapa masyarakat diadukan ke polisi ketika membuka lahan untuk mata pencaharian warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda bayangkan, ujar m.Yusri, jika warga tidak bisa mengolah lahan perkebunan itu maka kehidupan warga terancam, sebab sejak beberapa tahun terahir ini tanaman padi tidak baik, makanya warga mencoba membuka usaha lain dengan membuka perkebunan untuk menambah mata pencaharian warga dan sekarang diadukan ke polisi dan sudah tentu masyarakat merasa takut dan trauma jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat senang adanya TNBG dan masalah batas-batas wilayah kami tidak tau karena kami orang desa yang tidak pernah memahami hukum seperti penjelasan pihak Balai TNBG dan tolong kami diberikan tempat mencari nafkah, apakah kami di targetkan untuk hidup susah atau sengaja pemerintah membuat kami miskin, ujar M.Yusri, &lt;br /&gt;Kepala Desa Mondan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasri Nasution dalam pengaduannya ke DPRD, mengaku bahwa tanah perkebunan  yang ada di wilayah Sidua-dua adalah merupakan Tanah Ulayat warga Hutabargot sekitarnya yang dijadikan perkebunan rakyat dan surat persutujuan bersama telah dibuat 6 Kepala Desa di saksikan oleh Camat Panyabungan Utara dan jika sekarang dibuat wilayah TNBG sebagai zona terlarang untuk masyarakat tentu kami tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tanah kami sendiri yang kami oleh kami diadukan, makanya kami keberatan dan lagi pula kami buta hukum, jangan kehidupan kami di kekang dan kemana lagi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami, ujar Kades Mondan Yasri Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ketua Komisi A Binsar Nasution dan Samun Tanjung.SH dari Komisi B dalam keterangannya, menilai pihak Balai TNBG dan Dishut Madina maupun BPH telah melakukan kesalahan dalam masalah TNBG yang biayanya mencapai Rp 9 milyar beberapa waktu lalu, sebab buktinya sekarang ini masyarakat wilayah Hutabargot belum mengetahui tapal batas dari wilayah TNBG dan sudah tentu warga mengolah dan memanfaatkan tanah mereka sendiri yang sekarang di persoalkan oleh pihak TNBG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga ada permainan dalam pembuatan batas wilayah, Tapal Batas, patoknya yang dibuat BPH apa, apakah semen, batu atau kue, jangan-jangan dokumennya juga tidak ada hanya sebatas laporan saja dan kami harap pihak TNBG segera menyerahkan butki-bukti dari sosialisasi yang dibuat selama ini, ujar Binsar Nasution.A.Md dari Fraksi PBR dan yang Ketua DPC.PBR Madina itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungakapan yang sama juga disampaikan oleh anggota DPRD dari Fraksi Bersatu Drs.Razman Arif, Samun Tanjung, bahwa kejadian terhadap warga Hutabargot adalah merupakan kesalahan dari Dishut dan TNBG yang dinilai telah salah dalam melakukan pendataan batas- batas wilayah TNBG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat sepakat sekali kejadian yang telah membuat warga di panggil polisi segera dicari solusinya dengan melakukan pemberhentian pemeriksaan kepada warga, sebab sudah banyak warga yang Trauma dan pihak TNBG segera membuat Tim khusus untuk membuat batas maupun zona yang betul, ujar Drs.Razman Arif Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, pihak Balai TNBG Madina Sahgwan Siregar dan dari BPH Selamat Sembiring dan mewakili Dishut Madina Sardi dalam keterangannya, mengaku telah berkali-kali melakukan sosialisasi baik di wilayah Desa sekitar TNBG maupun di Madina Sejahtera dan juga dengan Pemuda/OKR yang telah dibentuk telah dilakukan sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas-batas wilayah sepanjang 80 KM Taman Nasional Batang Gadis telah dibuat beberapa wilayah dengan membuat batas yang melibatkan Kades, ulama dan tokoh masyarakat dan tentu pihak kita telah bekerja maksimal serta sebelumnya dibuat sosialisasi di desa, ujar BPH TNBG Selamat Sembiring dan Sardi dari Dishut Madina.&lt;br /&gt;Mewakili Polres Madina Kabag Bina Mitra AKP Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan A.Daulay, mengaku melakukan pemanggilan kepada warga adalah berdasarkan Pengaduan pihak TNBG atas terjadinya pembakaran hutan di wilayah Hutabargot sekitar 23 Maret 2007 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memanggil dan memintai keterangan sekitar 20 orang warga dan belum ada yang ditahan sebab masih pemeriksaan atas pengaduan, kalau ada kesepakatan di DPRD untuk pemberhentian pemanggilan kami akan segera laporkan ke pimpinan kami dan juga sepakat untuk dilakukan musyawarah di DPRD, ujar Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.&lt;br /&gt;Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH dalam penjelasannya kepada wartawan di Kantornya, masalah antara warga Hutabargot sekitarnya dengan pihak TNBG serta Polisi telah di sepakati untuk sementara warga jangan dulu mengolah lahan perkebunan yang di ributkan dan pemanggilan warga juga di hentikan serta pihak TNG maupun Pemerintah segera membuat batas- batas zona TNBG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah adanya delegasi warga yang melakukan dialog di ruang paripurna dan dilanjutkan musyawarah di ruangan Pimpinan disepakati dilakukan musyawarah mupakat untuk kebaikan bersama, sebab TNBG juga adalah milik Nasional yang telah diakui dan perlu kita jaga kelestariannya, ujar Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kami Membutuhkan Biaya Hidup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, ketika terjadinya dialog antara Perwakilan warga, Polres, Balai TNBG, Dishut, DPRD dan Asisten I serta Camat Hutabargot di ruang rapat Pimpinan DPRD, sekitar tiga puluh orang warga 13 Desa yang mendatangi DPRD mengaku tetap akan melanjutkan pengolahan lahan perkebunan mereka, sebab warga membutuhkan biaya hidup.&lt;br /&gt;Kami juga manusia yang ingin hidup lebih baik, ingin menyekolahkan anak, ingin makan seperti layaknya warga lain, kenapa kami tidak diperbolehkan untuk mengolah lahan yang merupakan milik nenek moyang kami dan kami memang buta hukum tapi jangan di bodoh-bodohi, ujar Mhd. Hafis Nasution dari Hutabargot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kami, ujar Mhd.Hafis.Nasution, sekalipun asfirasi kami ini tidak bisa di bawak dalam pertemuan dengan DPRD, tapi kami sangat berkeyakinan dengan sikap Wartawan di Madina yang selalu membela rakyat kecil dan kami harapkan Harian Berita Sore dan wartawan lainnya ikut memperjuangkan hak-hak rakyat yang miskin ini.(sof)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://beritasore.com/2007/05/04/dilarang-kelola-tnbg-warga-hutabargot-berdemonstrasi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6719109261197558197?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6719109261197558197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6719109261197558197' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6719109261197558197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6719109261197558197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/dilarang-kelola-tnbg-warga-hutabargot.html' title='Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rps7PR1yWJI/AAAAAAAAAWE/n-lXSUAStOA/s72-c/Mandailing+Picture+0934.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5612078469361601957</id><published>2007-07-14T23:59:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T17:12:38.427-07:00</updated><title type='text'>Gordang Sambilan Semakin Langka?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpoEWR1yWEI/AAAAAAAAAVc/PQagtCF7wtk/s1600-h/Mandailings+0018+jpeg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpoEWR1yWEI/AAAAAAAAAVc/PQagtCF7wtk/s400/Mandailings+0018+jpeg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087383509861029954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gordang Sambilan Tersimpan di Maga, Mandailing Julu&lt;br /&gt;Foto Abdur-Razzaq Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Gordang Sambilan" Semakin Langka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, Kompas &lt;br /&gt;Selasa, 3 Juli 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan musik tradisional Tapanuli Selatan, "Gordang Sambilan" (gendang sembilan), dari waktu ke waktu semakin langka dipertunjukkan di tengah-tengah masyarakat. "Gordang Sambilan" hanya dipertunjukkan ketika ada acara-acara besar, seperti pesta perkawinan adat, kedatangan tamu-tamu pejabat, peresmian kantor-kantor pemerintahan, atau acara-acara pelantikan perkumpulan adat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Tapi, pertunjukan 'Gordang Sambilan' sudah langka sekali. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau mengadakannya," kata Hasyim Siregar (45), Pimpinan "Gordang Sambilan" Halongonan Napurpur, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, di Batam, Minggu (1/7). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini berkaitan dengan acara peresmian organisasi "&lt;em&gt;Parsadaan Halongonan Napurpur&lt;/em&gt;" (Perkumpulan Persaudaraan-Red) Batam yang dipimpin Syafrizal Sitorus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara itu antara lain hadir Asisten I Pemerintah Kota Batam Asyari Abbas. "Kami sengaja mengundang "Gordang Sambilan" untuk melestarikan kesenian tradisional Tapanuli Selatan sekaligus mengenang atau melepas rasa rindu akan kampung halaman," kata Sitorus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik tradisional "Gordang Sambilan" adalah musik yang terdiri dari sembilan gendang, yang diiringi alat musik lain, seperti seruling, &lt;em&gt;ogung&lt;/em&gt; (gong), dibantu gondang (gendang kecil). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini pada zaman Belanda dahulu sering dipertontonkan oleh raja-raja di Tapanuli Selatan dalam pesta adat, pesta perkawinan, atau pesta setelah rakyat memanen sawahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Siregar, langkanya kesenian "Gordang Sambilan" ini bukan hanya karena sedikitnya orang-orang Tapanuli Selatan yang mau mencurahkan perhatiannya untuk melestarikannya. Tapi, orang-orang di Tapanuli Selatan sendiri pun sudah tidak banyak lagi yang mau menggunakannya untuk pesta-pesta adat atau acara-acara adat. "Itu bisa terjadi karena ongkos atau biaya pertunjukannya mahal. Kemahalannya bukan karena membayar orang-orang yang memainkannya, tapi membawa alat-alatnya dari Tapanuli Selatan memakan biaya yang tinggi," ujar Siregar yang sudah mendirikan "Gordang Sambilan" sejak tahun 1985. (smn) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0107/03/daerah/gord19.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5612078469361601957?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5612078469361601957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5612078469361601957' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5612078469361601957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5612078469361601957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/gordang-sambilan-semakin-langka.html' title='Gordang Sambilan Semakin Langka?'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpoEWR1yWEI/AAAAAAAAAVc/PQagtCF7wtk/s72-c/Mandailings+0018+jpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6199756860265386663</id><published>2007-07-14T23:43:00.000-07:00</published><updated>2007-07-14T23:50:45.051-07:00</updated><title type='text'>Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpnDiB1yV8I/AAAAAAAAAUc/78pZq8G7d1U/s1600-h/Mandailing-+Bagas+Pakantan+%26+Pakantan+%26+Abdul+Rahman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpnDiB1yV8I/AAAAAAAAAUc/78pZq8G7d1U/s400/Mandailing-+Bagas+Pakantan+%26+Pakantan+%26+Abdul+Rahman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087312243468687298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang Pelancung Inggeris Bergambar di hadapan Bagas Godang di Pakantan&lt;br /&gt;Foto Abdur-Razzaq Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;09 Jan 07 16:37 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. P.J. Veth, sejarawan Belanda sangat gandrung kepada hal yang berhubungan dengan letak geografis Indonesia. Beberapa karyanya diakui sebagai tonggak penemuan masa lampau peradaban di Indonesia. Daerah penelitiannya mencakup kepulauan Sumatera sampai ke kepulauan Timor. Sosoknya dikenal sangat serius dan jarang tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobbynya membenamkan diri pada timbunan kertas tua. Dari situ ia membuat catatan ringkas dan kemudian mengolahnya dengan sumber lain untuk dijadikan sebuah buku. Salah satu kegemarannya yang lain, yang jarang diketahui orang, adalah membaca memoir (buku harian) para prajurit kompeni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali para prajurit menuliskan keluh kesahnya selama melakukan dinas ke daerah pedalaman. Seorang prajurit yang bernama belakang Logemann, mengunjungi wilayah Mandailing (tahun 1800-an), menulis : Penduduk di wilayah Mandailing Godang dan Mandailing Julu dalam teks ia menuliskan &lt;em&gt;Groot Mandheling en Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten&lt;/em&gt; , sangat memuliakan air, memuja air, sampai-sampai air yang saya minum enak sekali rasanya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ada beberapa buku yang ditulis oleh para ahli (T.Z. Willer dan Junghuhn) tentang Mandailing, tetap saja tulisan Veth merupakan rujukan penting tentang batas geografis Mandailing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tulisan-tulisan Veth sempat menjadi pembicaraan hangat di perkumpulan ' &lt;em&gt;Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen' &lt;/em&gt;( lembaga seni dan ilmu pengetahuan ) di Jakarta. Deskripsinya tentang kelompok etnis yang tersebar pada berbagai kepulauan Indonesia sangat mengagumkan. Akhirnya atas perintah gubernur jendral kumpulan karangan Veth disatukan menjadi satu buku yang berjudul ' &lt;em&gt;Aardrijkskundig en Statistisch, Woorden Boek van Nederlandsch Indie'&lt;/em&gt;, terbit tahun 1869. Karangan Veth tersebut sering kali menjadi sumber penting dalam melakukan penelitian tentang Indonesia. Corak pemikirannya tampak mempengaruhi tulisan Indonesianis G.F.E Gonggrijp dan W.F. Stuurheim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit deskripsi Veth tentang Pakantan (1850-an) sebagai berikut : Sebuah distrik di kepulauan Sumatera, masuk ke dalam keresidenan Tapanuli, dialiri oleh sungai namanya ' Batang Gadis'. Urusan administrasi (perwakilan gubernemen) terletak di Kota Polak. Sedangkan wilayah yang mempunyai kepala kuria adalah Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Seorang &lt;em&gt;Opziener&lt;/em&gt; (pengawas) ditempatkan di Pakantan Lombang. Di daerah Pakantan Dolok terdapat tambang emas, tetapi hasil bumi yang utama adalah pinang, kentang dan jeruk . Sedangkan di Pakantan Lombang, yang waktu itu hanya ada 200 rumah, hasil buminya juga pinang, kelapa, beras dan kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Pakantan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakantan adalah sebuah desa yang terletak di bawah lereng Gunung Kulabu. Jaraknya kurang lebih 12 km dari Muara Sipongi. Daerahnya sangat dekat berbatasan dengan Rao ( Sumatera Barat). Menurut &lt;em&gt;Tarombo&lt;/em&gt; ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, yang pertama kali diakui sebagai nenek moyang bernama &lt;em&gt;Datu Sang Maima Na Bolon&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya keturunan Datu tersebut bernama Namora Pande Bosi I. Diakui sebagai awal yang menurunkan Lubis Si Langkitang dan Si Baitang. Beberapa generasi kemudian lahirlah Sutan Mogol, keturunan langsung dari Mangaradja Ulu Balang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1540-an, Raja Mangalaon Tua (Raja Pakantan I), membuka perkampungan di Pakantan. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Huta Padang adalah anak Raja Mangalaon Tua yang pertama, Namora Tolang. Raja Gumanti Porang Dibata, anak yang kedua menjadi raja di Pakantan Dolok. Kemudian anak Raja Mangalaon Tua yang ketiga, Raja Sutan Barayun, menjadi raja di Pakantan Lombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralihnya paham Parbegu (belum beragama), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830). Para perwira kerajaan waktu itu banyak masuk ke wilayah Pakantan dan wilayah Mandailing lain untuk menyebarluaskan agama Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi adalah jenis komoditi utama di Pakantan. Menurut tulisan Prof.A.P.Parlindungan gelar Sutan Makhudum (Waspada, 17 April 1997), Kopi Arabika di Pakantan, disebut juga Kopi Mandili, kadang ditambahkan 'Pakant', artinya dari Pakantan. Adanya ungkapan khas untuk mengajak makan "Mangopi Hita Jolo ", menandakan pengaruh kopi sangat mendalam terhadap sanubari orang di Pakantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi Pakantan terkenal di Benua Eropa. Rasanya sangat enak dan harum baunya. Orang Belanda yang penciuman bisnisnya tajam, pernah membangun gudang besar ( Pakhuis ) di Pakantan. Seterusnya kopi Pakantan diangkut dengan Pedati ke Padang. Dari pelabuhan Teluk Bayur dikapalkan menuju Belanda. Selain kopi Pakantan, padi juga merupakan tanaman unggulan di Pakantan. Orang menyebutnya dengan nama ' &lt;em&gt;Eme si Pahantan'&lt;/em&gt;. Selain dikenal wangi padi tersebut sangat enak rasanya bila dimakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pakantan banyak terdapat bangunan bersejarah yang unik. Adanya &lt;em&gt;Bagas Godang &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Sopo Godang &lt;/em&gt;yang berusia ratusan tahun membuktikan orang Pakantan itu mempunyai kehidupan budaya yang berarti. Bagas na Godang di Huta Dolok berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara relijius dan musyawarah adat. Bila diperlukan 'Gordang Sambilan' ditabuh untuk menambah sakralnya upacara tersebut. Di daerah Pakantan Lombang terdapat sebuah &lt;em&gt;Bagas Godang &lt;/em&gt;yang unik. Garis yang tertera pada dinding (menurut tipologi unsur seni rupa), mencitrakan kultus keindahan yang penuh romantika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis bisa meyakini goresan seperti itu merupakan sebuah pengejawantahan panca indera yang bernuansa halus. Mungkin saja yang membuat bangunan &lt;em&gt;Bagas Godang &lt;/em&gt;tersebut orang-orang yang memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap seni lukis dan ukir. Selain itu terdapat Bale dari Namora Nasution, Bale Ompu Boru Lubis Silogun dan Bale Ompu Boru Lubis Hadungdung yang berada di Hutatoras. Bale Ompu Sutan Borayun terdapat di Pakantan Lombang. Bale Sutan Mogol, leluhurnya marga Lubis. Bagas Gambar yang didirikan tahun 1821 oleh Soetan Singasoro. Jasalamat di Silogun . Kemudian Bagas Godang dan Sopo Godang Lintang di daerah Pakantan Dolok. Pendirinya adalah Ida Lidya Lintang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pekan biasanya jatuh pada hari Selasa. Orang Pakantan menyebutnya dengan istilah 'marpoken'. Selama hari pekan itu penduduk berbelanja lauk pauk untuk persediaan selama satu minggu. Zaman sebelum Indonesia merdeka, hari pekan di Pakantan selalu dipenuhi oleh hilir mudiknya berbagai bangsa yang datang. Rombongan sirkus, Opera Bangsawan Deli, Sulap dari India dan Tiongkok, permainan bola tarik Jepang sampai pertunjukan bioskop bisu, merupakan ragam hiburan yang terdapat di Pakantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Koko Hendri Lubis (wns)  &lt;br /&gt;http://www.waspada.co.id/seni_&amp;_budaya/budaya/artikel.php?article_id=81997&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6199756860265386663?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6199756860265386663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6199756860265386663' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6199756860265386663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6199756860265386663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/pakantan-sebagai-cakrawala-kebangkitan.html' title='Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpnDiB1yV8I/AAAAAAAAAUc/78pZq8G7d1U/s72-c/Mandailing-+Bagas+Pakantan+%26+Pakantan+%26+Abdul+Rahman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4523061517400372814</id><published>2007-07-14T23:10:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T17:13:38.345-07:00</updated><title type='text'>Gordang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman Yang Terancam Punah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpm7_x1yV6I/AAAAAAAAAUM/ptRuDkmgLz4/s1600-h/Gordang+Sambilan+Drums.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpm7_x1yV6I/AAAAAAAAAUM/ptRuDkmgLz4/s400/Gordang+Sambilan+Drums.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087303958476773282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gondang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman yang Terancam Punah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasaman, Senin &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gondang Sambilan, suatu seni pertunjukan musik tradisi di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kini terancam kelestariannya seiring semakin langkanya para pewaris kesenian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Lubis (50), salah seorang pewaris kesenian itu, di Rao, sekitar 250 kilometer dari Kota Padang, Senin, menyebutkan, saat ini cuma tinggal beberapa sanggar yang tersisa dan itu pun sudah tidak lagi eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, Gondang Sambilan merupakan jenis pertunjukan musik tradisi khas yang terdiri dari sembilan gondang (gendang) yang dipukul sebanyak sembilan personil dengan irama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekitar tahun 80-an ada belasan grup Gondang Sambilan yang rutin menggelar pertunjukan sekali sebulan.  Bahkan saat musim panen juga diadakan pertunjukan, namun kini jumlah itu terus menyusut tajam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anwar, sulitnya pengkaderan dan keengganan generasi muda untuk belajar kesenian menjadi kendala utama melestarikan kesenian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya tiga sampai lima orang remaja di daerah saya yang bisa memainkan musik ini, sudah saatnya ada gerakan melestarikan kesenian tersebut," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di tempat terpisah, Bupati Pasaman H. Yusuf Lubis menjelaskan, pihaknya berupaya melestarikan kesenian khas daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasaman sebagai wilayah multietnis, ada Batak, Jawa, Minang, Tapanuli semuanya memiliki kesenian khas, termasuk Gondang Sambilan, kesenian yang tidak dijumpai di daerah lain, namun keberadaannya sudah semakin mengkhawatirkan," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu pemda setempat akan memberikan pembinaan sekaligus menghidupkan sangar-sangar kesenian tradisi untuk melestarikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gondang Sambilan akan kita angkat dalam setiap iven tingkat kabupaten, selain itu setiap sekolah juga akan dibina dengan kesenian tradisi setempat. Kami akan mendukung upaya ke arah itu," ujar Yusuf Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kompas.com/gayahidup/news/0601/02/190555.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4523061517400372814?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4523061517400372814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4523061517400372814' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4523061517400372814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4523061517400372814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/gordang-sambilan-kesenian-khas-pasaman.html' title='Gordang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman Yang Terancam Punah'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpm7_x1yV6I/AAAAAAAAAUM/ptRuDkmgLz4/s72-c/Gordang+Sambilan+Drums.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4540682623232724059</id><published>2007-07-13T09:38:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T01:47:04.620-07:00</updated><title type='text'>Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqMYnBn9UtI/AAAAAAAAAWk/yMeZE3F_MLQ/s1600-h/Arbain0002b+jpeg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqMYnBn9UtI/AAAAAAAAAWk/yMeZE3F_MLQ/s400/Arbain0002b+jpeg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089939062588789458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Panggetek di Batang Gadis&lt;br /&gt;Foto Arbain Rambey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wajah Gusnan (43) terlihat lusuh. Sekujur badannya berkeringat. Siang itu ia memang cukup sibuk bercengkrama dengan Sungai Batang Gadis yang mengalir deras. Ia lalu mengusap keringatnya yang mengalir ke pipinya. Sambil mengepulkan asap rokok dari bibirnya, ia pun bercerita tentang kegelisahannya bersama penarik getek lainnya di sungai yang membelah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini biasa saja,” katanya. Memang menjadi penarik getek itu susah, katanya lagi. Tapi setidaknya dapat menopang sedikit keperluan keluarga. Ada tiga penarik getek siang itu yang bertugas setiap harinya. Dari situ mereka bisa mengantongi uang untuk dibawa pulang. “Kadang-kadang banyak, lebih sering sedikit. Kalau dirata-ratakan sehari bisa dapat Rp 50.000-an. Itu pun tidak semuanya untuk kami. Sebab setiap bulan sebagian uang akan disetor ke kas desa untuk pemabanguan mesjid,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dan 15 panggetek lainnya bertugas bergantian. Setelah setahun genap “menjabat”, mereka pun harus siap digantikan oleh calon panggetek-panggetek lainnya yang telah ditentukan oleh kepala desa. “Hingga akhirnya nanti semua warga desa dapat giliran, baik anak muda maupun orang tua, saling bergantian sepanjang tahun,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepenuhnya mereka bergantung dari getek itu. Gusnan sendiri, selain menjadi “panggetek”, ia juga bertani. Lahannya sedikit, hanya 4 “bumbun”. Sedang 4 orang anaknya masih bersekolah. Ia lalu memaparkan alasannya mengapa ia menjadi penarik getek. “Tahun lalu, semua lahan saya amblas di serang tikus, rugi jadinya. Tapi, mudah-mudahan tahun ini tidak terulang lagi,” katanya. Tapi inilah yang kini membuatnya cemas. “ Sebab sebagian petani sudah mulai mengeluhkan sawahnya yang rusak diserang tikus lagi.,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda pula dengan Ali Amin Pulungan (37). Selain menjadi panggetek, segala pekerjaan pun ia lakukan termasuk sebagai kuli bangunan. ”Sebab sebenarnya saya tidak bisa berharap sepenuhnya dari penghasilan getek ini,” katanya. Anak Ali dua orang, sedang istrinya bertani di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhir-akhir ini memang lagi susah. Dari sawah rugi dari getek pun penghasilannya hanya sedikit. Bayangkan, sepertinya tikus-tikus di desa kami (Desa Pasar Huta Bargot Kecamatan Panyabungan Utara) kian merajalela. Hampir semua ladang diserang. Bahkan, ladang Pak Kepala Desa pun juga ikut dilibas,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang dipan bambu yang sedikit tergenang air sungai itu, tampak bangunan setengah jadi yaitu pondasi jembatan (Jembatan Aek Godang) yang nantinya diharapkan menjadi sarana penghubung antara Desa Hadian Jior menuju Desa Pasar Huta Bargot menggantikan transportasi getek yang sudah puluhan tahun dipergunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunannya sudah dimulai awal 2003. Meski belum diketahui kapan jembatan itu akan mulai dioperasikan, namun rupa-rupanya penarik getek itu sudah tampak cemas.&lt;br /&gt;“Kami hanya belum siap mencari alternatif lain untuk mengisi pekerjaan sampingan kami nanti jika jemabatan sudah selesai dibangun,”ujar Gusnan. Jadi bagaimana? “Paling-paling kembali bertani. Saya sendiri menggarap lahan sawah milik orang lain. Hasilnya menunggu panen. Jika jembatan itu nanti sudah selesai dibangun dan jadwal menarik getek ditiadakan, terpaksa menganggur sambil nunggu objekan lain,” katanya cemas. Demikian halnya dengan Suaib Pulungan (33). Laki-laki beranak tiga ini tak banyak berkomentar. Ia mengakui pernyataan kedua rekannya piketnya hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tarif getek penumpang getek sebenarnya tidak terlalu mahal. “Sepeda motor, becak dan penumpang umum tarifnya Rp 1.000. Sedangkan anak sekolah tidak diberi tarif wajib. Biasanya gratis,” ujar Suaib. Sehari bisa dapat Rp 200 ribu pada hari pekan atau hari raya. “Tapi kalau buntung, ya enggak untung alias tidak bergaji,” kata mereka tertawa. Lalu bagaimana membiayai hidup sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak, makanan sehari-hari dan keperluan lainnya? Mereka pun menjawab dengan enteng: ”Ya, dicukup-cukupkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkah dari balik bukit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.00 pagi Hasairin Lubis (48) sudah bergumul dengan air Sungai Batang Gadis yang alirannya sampai ke Desa Sabah Pasir Kecamatan Kota Nopan di mana ia akan menghabiskan harinya bekerja. Bermodalkan jerigen dan sekop, laki-laki beranak tujuh ini pun mulai mengais rezeki di sungai yang tepat di alas kaki Bukit Barisan itu.&lt;br /&gt;“Letih,” ucapnya menyapa kami ketika kami menjumpainya di sela-sela istirahatnya. Hari itu, menjelang sore, ia hanya berhasil mengangakat pasir 1 m3 lebih sedikit dan kerikil 0,5 m3. Maklum, akhir-akhir ini memang sering hujan sehingga debit air naik dan menghalangi penggalian, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir dan kerikil hasil galiannya sore itu lalu ia kumpulkan dengan hasil galiannya beberapa hari sebelumnya yang sudah menumpuk di bantaran. Sambil mengisap rokoknya ia pun duduk santai di sebuah gubuk kecil menghadap sungai, menunggu pembeli datang dan uangnya bisa dibawa pulang untuk keluarga nanti. Tapi, biasanya pasir dan kerikil dijual melalui perantara. Perantaranya adalah pemilik kedai kopi yang tak jauh dari sungai. Pemilik kedai lalu memberi tahu bila mana ada pemborong yang membutuhkan pasir dan kerikil dalam jumlah besar. “Maka kami pun mengumpulkannya bersama penggali-penggali lainnya,” kata Hasairin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini pasir saya hanya terjual 1 m3 dan kerikil ¼ m3. Uangnya Rp 20 ribu untuk dibawa pulang,” katanya. Meski demikian, Hasairin tetap tersenyum. “Besok bisa saja lebih, sebab pasir dan kerikil saya ada sisa. Mungkin saja besok terjual semua,” cetusnya tersenyum. Ia tidak sendirian. Bersama istrinya yang bekerja sebagai petani, mereka pun mencukup-cukupkan uangnya untuk membiayai 3 lagi anaknya yang masih sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu di seberang sungai yang mengalir deras, terlihat 3 perempuan sedang asyik dengan sebidang tampi kecil di tangannya. Tak salah lagi, mereka adalah penambang emas. Sayangnya, kami tidak sempat berbicara dengan mereka akibat suara debur air. Untungnya, beberapa penambang pasir di sekitar sungai tahu persis dengan kisah mereka. “Mereka adalah penambang emas yang tinggal di desa seberang. Setiap hari ke sini,” kata Soptu (35) seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita orang-orang setempat, emas itu dijual setiap minggunya ke pekan 1/3 dari harga standar pasar. “Misalnya, jika harga emas 24 karat/gram Rp 25 ribu, maka meraka akan mendapatkan harga 1/3-nya dalam setiap gram,” ujar Hasairin.&lt;br /&gt;Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tonggo Simangunsong&lt;br /&gt;http://tonggo.wordpress.com/2007/03/07/madina-dan-hidup-yang-dicukup-cukupkan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4540682623232724059?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4540682623232724059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4540682623232724059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4540682623232724059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4540682623232724059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/madina-dan-hidup-yang-dicukup-cukupkan.html' title='Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RqMYnBn9UtI/AAAAAAAAAWk/yMeZE3F_MLQ/s72-c/Arbain0002b+jpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5581564329603228253</id><published>2007-07-13T09:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T09:27:53.165-07:00</updated><title type='text'>Kabupaten Mandailing Natal (Madina)</title><content type='html'>Rabu, 30 Juli 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kabupaten Mandailing Natal &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SEBUTAN Madina untuk Kabupaten Mandailing Natal terdengar sejak wilayah itu memisahkan diri dari kabupaten induknya, Tapanuli Selatan, tahun 1999. Di daerah perbukitan Kecamatan Panyabungan Timur yang potensial untuk perkebunan, diketahui terdapat tanaman ganja. Aparat keamanan memperkirakan, ada sekitar 11-14 hektar ladang ganja. Baru 9 ha yang ditemukan dan disita polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGETAHUI di wilayahnya terdapat ladang ganja, pemerintah kabupaten, aparat keamanan bersama masyarakat, sepakat membasmi ganja dan senjata api. Tanggapan positif warga tercermin dari penyerahan 548,8 kilogram ganja dan 68 senjata api rakitan pertengahan Juli 2003 kepada Pemerintah Kabupaten Madina yang diteruskan ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembasmian ladang ganja masih berlangsung, namun tugas berat sudah di depan mata, yaitu penanganan petani untuk alih usaha. Alternatif yang ditawarkan adalah penanaman karet dan kulit manis. Selain karena daerah perbukitan yang subur, sebagian masyarakat di sana hidup dari kulit manis. Sekitar 17 persen penduduk Madina hidup dari perkebunan dan 62 persen dari pertanian tanaman pangan. Tahun 2002, kontribusi sektor pertanian 55,7 persen dari total nilai kegiatan ekonomi yang Rp 1,68 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman pangan dengan komoditas utama padi di bagian timur menjadi andalan kabupaten. Setiap tahun produksinya rata-rata surplus 53.000 ton beras. Untuk perkebunan, tanaman karet dan kulit manis menjadi komoditas paling banyak digeluti penduduk yang 80 persen etnis Mandailing. Produksi karet Madina yang tersebar di wilayah selatan menempati urutan ketiga setelah Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan dengan produksi sekitar 26.000 ton pada tahun 2001. Produksi kulit manis yang ditanam di hampir semua kecamatan belum mampu berbicara banyak di tingkat provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua komoditas perkebunan yaitu karet dan kulit manis masih berpotensi besar dikembangkan. Kecamatan Kota Nopan, Batang Natal, Kecamatan Panyabungan, Panyabungan Barat, Selatan, Timur, dan Utara masih memiliki lahan 30.948 hektar. Sementara, untuk kulit manis masih tersedia 574,35 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Madina yang berbatasan dengan Samudera Hindia memberikan keberuntungan tersendiri. Pantai sepanjang 170 kilometer menyimpan potensi besar yang belum digarap serius. Peluang usaha perikanan laut masih terbuka. Di pantai barat untuk menyebut Kecamatan Batahan, Natal, dan Muara Batang Gadis juga terdapat usaha sarang burung walet. Keberadaannya memberi kontribusi cukup besar. Tahun 2002 kontribusi sarang walet Rp 1,750 miliar atau sekitar 27 persen dari PAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi pertanian seperti karet, kulit manis, padi, dan kopi menjadi komoditas utama perdagangan. Petani menjual hasil pertanian kepada pedagang yang mayoritas terpusat di ibu kota kabupaten. Pedagang lokal mengumpulkan komoditas dan menjual ke pedagang besar di Medan yang membutuhkan waktu tempuh 10-12 jam. Melalui pedagang besar luar daerah itulah komoditas pertanian diekspor ke negara tetangga seperti Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas perdagangan dengan komoditas hasil pertanian memberikan kontribusi terbesar kedua setelah pertanian. Tahun 2002, sektor perdagangan, hotel, dan restoran membukukan nilai Rp 335 miliar. Pemkab mengakui, keberhasilan perdagangan menggairahkan perputaran ekonomi daerah, tidak lepas dari peran pengusaha luar daerah yang mengekspor komoditas pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan yang menyerap 11.594 tenaga kerja ini tidak langsung terpengaruh iklim masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang bernaluri tinggi untuk berdagang. Yang menjadi keprihatinan pemkab, tingginya aktivitas perdagangan yang terbatas pada komoditas pertanian ini berdampak pada lambatnya perkembangan industri pengolahan.&lt;br /&gt;Usaha industri di Madina masih didominasi industri kecil dan menengah, seperti industri makanan dan kerajinan. Perkembangan industri yang dimaksudkan memberi nilai tambah pada komoditas pertanian yang belum mampu berbicara banyak. Apalagi dalam APBD 2003, sektor industri hanya dialokasikan dana 0,3 persen dari nilai belanja pembangunan yang Rp 112, 9 miliar. Lain halnya sektor perdagangan yang tahun 2003 dialokasikan dana pembangunan Rp 10,6 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkab menyadari, untuk mengembangkan Madina dibutuhkan peran serta investor. Untuk menggaet penanam modal diperlukan kesiapan sarana dan prasarana memadai, misalnya perhubungan. Beberapa ruas jalan, khususnya di ibu kota kabupaten tampak lebar dan halus. Namun pemkab mencatat, tidak kurang 64 persen dari panjang jalan kabupaten rusak dan rusak berat. Mau tidak mau pemkab harus mengeluarkan dana untuk membenahi jalan. Sektor transportasi dialokasikan dana terbesar kedua setelah sektor aparatur negara dan pengawasan yaitu Rp 14,4 miliar atau 13 persen dari anggaran pembangunan 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten yang menyebut Tapanuli Selatan sebagai parameter kemajuan pembangunan dalam mengembangkan daerah masih harus berhadapan dengan kendala mendasar. Letak Panyabungan kurang menguntungkan, jauh dari pusat perdagangan. Dalam hal telekomunikasi, Madina hanya diberi alokasi 2.692 SST dan terpakai 52 persen. Itu pun terpusat di Panyabungan dan Kota Nopan. Investor yang ingin menggarap potensi daerah menunggu kesiapan sarana dan prasarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aritasius Sugiya/Litbang Kompas)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5581564329603228253?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5581564329603228253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5581564329603228253' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5581564329603228253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5581564329603228253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/kabupaten-mandailing-natal-madina.html' title='Kabupaten Mandailing Natal (Madina)'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-8308481185728312238</id><published>2007-07-13T02:39:00.000-07:00</published><updated>2007-07-13T03:00:13.088-07:00</updated><title type='text'>Tujuk Kali Meletus</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpdMzB1yVwI/AAAAAAAAAS8/Jtv_Qjuq-yk/s1600-h/9.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpdMzB1yVwI/AAAAAAAAAS8/Jtv_Qjuq-yk/s320/9.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086618743689336578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pendamping atau guide mendaki Sorik Marapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuh Kali Meletus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar segala keindahannya, Gunung Sorik Marapi yang berada pada koordinat 00o41' 11.72" lintang utara dan 99o32' 13.09" bujur timut, sesungguhnya gunung yang berbahaya. Salah satu dari 129 gunung api aktif di Indonesia. Bahkan termasuk dalam kategori gunung berapi tipe A. Artinya, pernah meletus dalam 400 tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari Direktorat Vulkanologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan gunung ini pernah meletus sebanyak tujuh kali. Masing-masing pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917, 1970 dan terakhir pada tahun 1986. Pada letusan terakhir, Sorik Marapi memuntahkan lahar panas dan debu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di udara, aliran debu itu bahkan sampai ke Kabupaten Pasaman di Sumatera Barat. Letusan merapi memang umumnya berupa letusan freatik, letusan debu yang bersumber dari kawah pusat, yakni danau vulkanik yang berada di puncak. Namun pada letusan tahun 1892 dan 1893, yang terjadi adalah letusan di kawah samping pada lereng sebelah timur. Dilaporkan sebanyak 180 orang tewas terkena lahar panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama, lahar itu kemudian menjadi sumber kesuburan bagi pertanian warga. Perkebunan jeruk, cabai dan tanaman sayuran dataran tinggi lainya, dapat dilihat di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisinya yang masih aktif, maka para pendaki diminta untuk melapor ke Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi yang ada di Desa Sibanggor Tonga. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana status Sorik Marapi, karena kondisinya kadang berubah tak terduga. Misalnya pada pada 14 September 2004 lalu. Gunung ini sedikit menggeliat. Terjadi peningkatan kegempaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan normal, gerakan getaran gempa yang dicatatkan komponen seismometer vertikal yang ditanam di kawasan puncak gunung, dan direkam seismograf di pos pengamatan secara telemetri, paling banyak hanya satu kali gempa dalam seminggu. Itupun berupa gempa vulkanik dalam yang  hanya tercatat di seismograf, tidak terasa di permukaan. Namun pada hari itu, tercatat ada 142 kali gempa, bahkan sebelas di antaranya berskala II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI), sebutan ukuran untuk besarnya efek yang dirasakan di permukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena peningkatan aktifitas ini, status Sorik Marapi yang semula berada di level satu, yakni aktif normal, ditingkatkan menjadi level dua, status waspada. Pemerintah Kabupaten Madina pun mengeluarkan imbauan agar pengunjung tidak mendekati puncak gunung. Pada Juli 2005, status waspada juga diberikan kepada gunung ini sekitar satu pekan karena peningkatan aktifitas kegempaan. Antara tanggal 8 hingga 14 Juli tercatat 112 gempa, dan 10 di antaranya terasa di permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Minimal Dua Guide &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aspek keamanan gunung sudah terpenuhi di Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi, maka pendaki juga disarankan untuk melapor kepada kepala desa setempat untuk alasan keselamatan pendakian. Biasanya pendaki disarankan untuk membawa guide yang berasal dari warga lokal. Mengenai biaya, tergantung tawar-menawar. Untuk tahun 2006 ini, angkanya sekitar Rp 30 ribu perorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pendamping atau guide juga tidak boleh satu. Minimal dua orang. Alasan mengapa harus dua orang, karena masalah keselamatan juga. Masalahnya kalau nanti pendaki jatuh atau ada masalah, guide yang satu bisa turun untuk membawa bantuan, sementara yang satu tetap mendampingi sang pendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya guide yang mendampingi akan membawa serta senapan buruan. Jadi sementara dia bercerita tentang pantangan yang harus dipatuhi pengunjung selama mendaki, matanya juga berkeliaran di pucuk pepohonan mencari burung buruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kita dilarang memaki, mengucapkan kata yang tidak sopan, dan membuang sampah sembarangan, agar ...”  Dhuarrr!!! Senapan menyalak dan guide tidak melanjutkan alasan pelarangan itu, karena sibuk memungut seekor burung piccala yang telah remuk tulang pahanya tertembus peluru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://khairulid.multiply.com/journal/item/158&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-8308481185728312238?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/8308481185728312238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=8308481185728312238' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8308481185728312238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/8308481185728312238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/tujuk-kali-meletus.html' title='Tujuk Kali Meletus'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpdMzB1yVwI/AAAAAAAAAS8/Jtv_Qjuq-yk/s72-c/9.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6738509508752755392</id><published>2007-07-13T02:34:00.000-07:00</published><updated>2007-07-14T04:46:15.959-07:00</updated><title type='text'>Gumpalan Awan di Puncak Gunung Sorik Marapi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpi3Wh1yV4I/AAAAAAAAAT8/f3ycMD_te_E/s1600-h/Sorikmarapi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpi3Wh1yV4I/AAAAAAAAAT8/f3ycMD_te_E/s400/Sorikmarapi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087017376783947650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sorikmarapi, seen here from the west, is a forested stratovolcano with a steep-sided, 600-m-wide summit crater containing a crater lake and substantial sulfur deposits. Another crater lake is located on the upper SE flank and several small explosion craters occur within the main crater and on the outer flanks. Small explosive eruptions have been documented from summit and flank vents in the 19th and 20th centuries&lt;br /&gt;Photo by Tom Casadevall, 1987 (U.S. Geological Survey)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gumpalan Awan di Puncak Gunung Sorik Marapi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumpalan awan seperti menyatu dengan puncak Gunung Sorik Marapi. Awan-awan itu seolah menjadi pagar bagi siapa saja untuk melihat puncaknya. Hanya jika matahari bersinar terik, barulah puncak terlihat dari kaki gunung. Itupun selalu ditingkahi kabut tipis. Untuk mengetahui bentuk puncak secara utuh, hanya dengan satu cara: berdiri di atas puncaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak, kabut dan gumpalan awan itu menjadi pesona sendiri bagi Gunung Sorik Marapi yang berada di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Tambangan, Kabupaten, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Uniknya, Sebagai sebuah objek wisata, keberadaan Gunung Sorik Marapi, terbilang tidak begitu populer. Bisa dihitung dengan jari berapa banyak pendaki yang datang setiap bulannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor jauhnya jarak dari Medan, ibukota Sumatera Utara, merupakan salah satu penyebab. Butuh waktu hingga 12 jam perjalanan dengan angkutan darat untuk menempuh jarak sepanjang 480 kilometer jarak dari Medan – Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal. Dari Panyabungan, harus menyambung dengan angkutan pedesaan menuju Desa Sibanggor Julu. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Sibanggor Julu berada di lereng timur Gunung Sorik Marapi. Di desa inilah tempat terakhir bisa membeli perbekalan, mulai air mineral hingga biskuit. Titik awal pendakian dapat ditemui setelah melewati perumahan penduduk. Rumah-rumah panggung ini kental dengan tradisi lokal. Beratap ijuk dengan material dinding dan lantai dari kayu. Beberapa bagian rumah bahkan tidak menggunakan paku. Hanya belitan tali rotan sebagai perekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya, setelah melewati barisan rumah tradisional itu, akan terlihat jalan setapak. Jalur itu melewati perkebunan coklat, karet, kopi dan tanaman keras lainnya milik penduduk. Titik awal pendakian itu adalah sebuah tanjakan ekstrim sekitar 75 derajat. Dengan stamina prima, setidaknya perlu 15 menit untuk melewati tanjakan ini. Tanjakan yang berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut (mdpl) ini merupakan tantangan pertama. Namun usai itu akan didapatkan shelter, tempat peristirahatan pertama. Posisinya persis di dinding bukit paling ujung. Jadinya, pandangan luas ke arah timur. Rumah-rumah penduduk tampak mengecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan perjalanan berikutnya relatif mudah. Walau jalanan terus menanjak, tetapi tidak terlalu menguras tenaga. Lantas akan terlihat perbukitan tandus. Awalnya tempat ini merupakan bukit belerang yang aktif. Beberapa penduduk mengatakan, sekitar tahun 1990-an percikan api mengakibatkan terbakarnya kawasan ini. Maklum saja, belerang memang mudah terbakar. Ratusan hektar kawasan di sekitar bukit belerang ini berubah jadi tumpukan arang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah belasan tahun, kini tumbuhan baru mulai hadir. Namun entah mengapa sumber belerang yang ada di bukit ini justru berhenti berproduksi. Sisa-sisa semburannya yang sudah membatu seperti naik-turun gelombang air laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit belerang ini, merupakan tempat peristirahatan kedua. Jika berangkat sangat pagi, sekitar jam enam atau jam setengah tujuh, maka di tempat ini sarapan sangat nikmat. Teh manis panas di dalam termos akan sangat membantu. Setiap teguk yang mengalir di tenggorokan, akan mengusir dingin di sekujur tubuh. Suhu yang mencapai 20 derajat celcius bisa jadi akan sangat menyiksa jika tubuh tidak terbiasa dengan suhu dingin menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanah Lembab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bukit belerang tadi, pendakian akan terasa menguras tenaga. Pemandangan pun monoton, hanya dominasi pohon-pohon besar. Sesekali tanaman berduri menyabet wajah sebab berada persis di tengah lintasan pendakian. Karena relatif jarang dilewati, maka jalur pendakian seringkali harus ditebas ulang. Terkadang lintasan itu berbentuk terowongan dari pepohonan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kemungkinan untuk tersesat sangat kecil. Ada kabel yang mengikuti alur pendakian. Kabel ini mengalirkan listrik untuk sebuah tonggak pemancar di puncak gunung. Memegang kabel ini tentu saja sangat tidak dianjurkan. Walau menurut warga belum memakan korban, namun harap diingat: selalu ada yang pertama untuk semuanya, termasuk tersengat listrik di lereng gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintasan di sini umumnya tanah lembab. Hujan yang turun pada malam sebelumnya menyebabkan tanah berubah jadi lumpur saat diinjak. Kicauan burung murai batu (Copsycus malabaricus) yang biasa disebut piccala di sana, atau jejak binatang liar dapat ditemukan di sepanjang lintasan. Kawasan Gunung Sorik Marapi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Batang Gadis, memang tempat habitat kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopumatem minckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitis binturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang(Muntiacus muntjac) atau landak (Hystix brachyura). Kebanyakan pemburu yang berasal dari warga desa, hanya berhasil menembak burung. Sementara binatang buas lainnya, sudah jarang ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati sekitar lima tempat peristirahatan, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam lebih dari awal titik pendakian, kawasan puncak gunung mulai terlihat. Pohon-pohon perdu khas ketinggian berjejer di kiri dan kanan. Struktur tanah pun sudah berubah. Dari tanah lembab, berubah menjadi pasir. Kaki pun melangkah lebih ringan. Hingga akhirnya tiba di puncak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah sampai di sini, ada baiknya mengikuti tradisi masyarakat sekitar yang masih terjaga. Pendaki disarankan untuk melakukan adzan. Selain untuk memuji keagungan Sang Maha Pencipta, adzan ini merupakan upaya spritual agar dapat selamat hingga waktu turun nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Danau Vulkanik &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak pertama itu adalah hamparan tandus seluas sekitar setengah lapangan bola. Kebanyakan pendaki berhenti sampai di sini karena di sinilah sajian utama Gunung Sorik Marapi berada, sebuah danau vulkanik dengan air kebiruan. Inilah danau tertinggi di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau ini menjadi pelepas lelah. Memandangnya dari tepian, seakan ada yang mengundang untuk terjun. Danau ini tidak ada namanya. Hanya disebut Danau Sorik Marapi. Airnya asam. Di sini semburan belerang masih kuat. Untuk turun ke danau, lumayan berbahaya. Jalurnya terjal, dan pijakan juga tanah pasir yang gampang runtuh. Bila tak awas, bisa terjun ke dasar danau yang dalamnya kira-kira 100 meter dari puncak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari atas saja, bisa dinikmati panoramanya. Dinding-dinding kawah danau terlihat menghitam, mencirikan kekokohannya. Sementara di beberapa sudut dinding, semburan asap solfatara perdengarkan suara menderu. Seringkali suaranya tidak terdengar karena tertimbun desau angin berkecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Kadang angin seolah ingin membawa serta semua yang ada di puncak gunung untuk melayang bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri berlama-lama di sini, akan membuat tubuh menggigil. Setidaknya butuh dua lapis jaket. Namun jika ingin mengambil visual danau dengan handycam maupun kamera, tantangan suhu dingin ini harus dihadapi. Kabut sering kali tidak bersahabat. Menutupi permukaan bahkan hingga keseluruhan danau. Makanya hampir tidak ada yang berhasil mengabadikan danau ini dengan utuh, tanpa sapuan kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Puncak Sebenarnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lokasi danau ini puncak kedua yang merupakan puncak sebenarnya bisa didapati dengan berjalan sekitar setengah jam lagi. Jalurnya sempit. Di kiri danau, di kanan jurang. Berjalan beriringan akan sangat berbahaya. Harus antri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tanjakan ekstrim berupa jalur batu podas yang hanya muat satu pijakan kaki, harus dilewati. Membawa barang akan berpengaruh pada kelenturan tubuh. Sebab itu, ada baiknya menitipkan ransel atau bawaan kepada teman, agar bisa melangkah dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara puncak itu sendiri hanyalah sebuah tonggak batu putih setinggi satu meter. Di sana tertulis angka 2.100. Kemungkinan maksud awalnya untuk menjelaskan tinggi gunung, namun angka ini salah. Ketinggian Gunung Sorik Marapi sebenarnya 2.145 meter dari permukaan laut (mdpl). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri di atas tonggak batu putih itu, pandangan hanya lepas ke arah utara dan selatan. Pohon-pohon perdu menghalangi pandangan ke arah lain. Tapi tidak mengapa dari kedua arah tadi, gugusan Bukit Barisan akan menjadi kenangan untuk dibawa pulang. Tapi jangan terlalu lama di puncak, selain dingin menusuk tulang, kabut juga akan menjadi masalah jika pulang lebih dari jam lima sore. Perlu waktu sekitar tiga jam untuk mendaki, serta satu jam lebih untuk turun. Lewat dari jam lima, senter akan sangat dibutuhkan agar tidak terjerembab waktu turun. &lt;br /&gt;http://khairulid.multiply.com/journal/item/157&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6738509508752755392?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6738509508752755392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6738509508752755392' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6738509508752755392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6738509508752755392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/gumpalan-awan-di-puncak-gunung-sorik.html' title='Gumpalan Awan di Puncak Gunung Sorik Marapi'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rpi3Wh1yV4I/AAAAAAAAAT8/f3ycMD_te_E/s72-c/Sorikmarapi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-831668395742313243</id><published>2007-07-08T08:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T08:59:39.190-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SYEIKH MUHAMMAD SALEH AL MINANKABAWI SYEIKHUL ISLAM PERAK DARUL REDZUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGENAI ulama yang berasal dari Minangkabau ini, masih terdapat beberapa perkara yang masih bersimpangsiur. Terdapat dua nama mengenai orang tuanya, iaitu Abdullah dan Muhammad Thaiyib. Ayahnya yang bernama Abdullah digunakan pada tiga buah karyanya yang telah ditemui. Nama Muhammad Thaiyib pula digunakan sewaktu beliau menjadi Syeikh al-Islam Perak Darul Redzuan.Syeikh Muhammad Saleh dilahirkan di Kampung Tungkar, Luak Tanah Datar, Minangkabau, Sumatera Barat. Muridnya bernama &lt;strong&gt;Muhammad Saleh Mandahiling&lt;/strong&gt;, penulis buku biografinya yang menyebut bahawa Syeikh Muhammad Saleh lahir kira-kira pada tahun 1266 Hijrah. Penulis masih meragui tahun andaian itu, kerana beberapa fakta bertentangan dengan jalan sejarah yang ada hubungan dengannya. Syeikh Muhammad Saleh meninggal dunia pada 17 Zulkaedah 1351 Hijrah/12 Mac 1933 Masihi di Kuala Lumpur. Dalam buku muridnya itu diceritakan bahawa Syeikh Muhammad Saleh bersahabat dengan Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (lahir 1276 Hijrah), Syeikh Mukhtar Jawa/Bogor (lahir 1278 Hijrah) dan Syeikh Nawawi Bantan (1230 Hijrah). Berdasarkan perbandingan tahun kelahiran ulama-ulama yang tersebut dengan kelahiran Syeikh Muhammad Saleh (1266 Hijrah) itu, penulis berkesimpulan bahawa Syeikh Muhammad Saleh bukan sahabat Syeikh Nawawi Bantan tetapi beliau adalah muridnya. Kelahirannya yang diandaikan tahun 1266 Hijrah itu masih perlu dikaji semula, sekurang-kurangnya agak berdekatan dengan tahun kelahiran Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (1276 Hijrah) dan Syeikh Mukhtar Jawa/Bogor (1278 Hijrah) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1 PENDIDIKAN &lt;br /&gt;  2 PENGEMBARAAN DAN AKTIVITI &lt;br /&gt;  3 MENJADI SYEIKH AL-ISLAM &lt;br /&gt;  4 KARYA KARYA &lt;br /&gt;  5 Murid-murid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Saleh berangkat ke Mekah sejak berumur 6 tahun mendapat pendidikan daripada orang tuanya, Syeikh Muhammad Thaiyib @ Syeikh Abdullah, seorang Syeikh haji di Mekah. Beliau sempat belajar kepada ulama-ulama besar Mekah yang terkenal, iaitu Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Abu Bakar Syatha, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwani, Saiyid Umar Ba Junaid, Saiyid Muhammad Said Babshail dan Saiyid Abdullah Zawawi.Dalam buku biografinya tidak disebut seorang pun gurunya yang berasal dari dunia Melayu secara jelas, tetapi memperhatikan jalan ceritanya, Syeikh Muhammad Saleh juga belajar kepada ulama-ulama dunia Melayu yang terkenal di Mekah pada zaman itu. Diceritakan dalam buku itu bahawa sewaktu Syeikh Muhammad Saleh akan memperdalam ilmu falak bersama beberapa orang kawannya. Kawan-kawannya hanya belajar empat kali saja kerana guru tersebut terlalu keras. Nama guru falak yang diceritakan dalam buku itu tidak dinyatakan. Syeikh Muhammad Saleh sempat khatam belajar kepada guru yang keras itu. Demi lebih memperoleh kefahaman, beliau belajar pula kepada seorang pemuda yang berusia 16 tahun, juga tidak disebut namanya.Daripada cerita di atas penulis berpendapat kemungkinan yang dimaksudkan guru falak yang terlalu keras itu ialah Syeikh Ahmad al-Fathani. Sedangkan pemuda ahli falak yang berusia 16 tahun itu, ialah Syeikh Muhammad Nur al-Fathani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBARAAN DAN AKTIVITI&lt;br /&gt;Setelah belajar selama 17 tahun di Mekah, Syeikh Muhammad Saleh pulang ke Minangkabau. Selama kira-kira empat tahun di Minangkabau, digunakan untuk mengembara ke segenap pelosok wilayah itu, dan pada waktu-waktu tertentu membantu gurunya, Syeikh Muhammad Jamil mengajar. Pengembaraan di Minangkabau dimanfaatkannya pula berdakwah dan mengajar melalui pembacaan kitab, sama ada kitab bahasa Arab mahu pun bahasa Melayu. Sewaktu berada di Minangkabau selama empat tahun itu, Syeikh Muhammad Saleh berkesempatan pula belajar ilmu persilatan dan beberapa jenis ilmu hikmat untuk pertahanan diri yang diperlukan pada zaman itu. Diceritakan bahawa dalam ilmu persilatan, beliau telah mencapai martabat seorang pendekar. Dalam ilmu perubatan beliau berkemampuan pula mengubati berjenis-jenis penyakit. Syeikh Muhammad Saleh berangkat lagi ke Mekah kerana masih dirasakan kekurangan ilmunya dalam bidang-bidang tertentu, seperti ilmu falakiyah, ilmu manthiq, ilmu tafsir dan lain-lain. Setelah beberapa tahun belajar dan mengajar di Mekah, sahabat dan muridnya, Engku Kudin, putera Raja Deli-Serdang mengajak beliau menyebarkan Islam di kerajaan di Sumatera Timur itu. Selesai menunaikan haji tahun 1309 Hijrah/1892 Masihi, Syeikh Muhammad Saleh bersama jemaah haji menaiki kapal dari Jeddah ke Pulau Pinang.Selanjutnya Syeikh Muhammad Saleh mengembara di seluruh Semenanjung Tanah Melayu, mulai Pulau Pinang, Perak, Selangor, Pahang, Terengganu dan Johor. Di mana saja beliau pergi, beliau terus mendapat sambutan bukan hanya rakyat jelata tetapi juga para sultan setiap kerajaan yang tersebut itu.Daripada pergaulan dengan sultan-sultan Melayu, Syeikh Muhammad Saleh berkesimpulan bahawa Sultan Abdur Rahman Mu'azzam Syah, Sultan Riau-Lingga adalah sultan yang paling garang. Beliau mementingkan keindahan pakaian dan perhiasan serta menyukai kelazatan makanan dan minuman. Sultan Abu Bakar, Sultan Johor, adalah sultan yang cerdik, mengasihi rakyat dan mengutamakan kepentingan kerajaannya. Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu, adalah sultan yang sangat alim pengetahuan Islamnya dan sangat bertakwa kepada Allah. HAKIM DI KERAJAAN RIAU-LINGGA Sebelum Syeikh Muhammad Saleh menjadi Syeikh al-Islam Perak, beliau pernah memegang jawatan Hakim di kerajaan Riau-Lingga. Pelantikan beliau sebagai Hakim Riau-Lingga adalah atas kehendak Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi.Sebab-sebab Syeikh Muhammad Saleh diminta oleh Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi menjadi Hakim Riau-Lingga adalah untuk menjaga kewibawaan putera baginda, Sultan Abdur Rahman Mu'azzam Syah, Sultan Riau-Lingga ketika itu. Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi dalam beberapa tahun merasa gelisah kerana beberapa perkara di mahkamah banyak yang tidak dapat diselesaikan. Ada yang tertangguh sekurang-kurangnya tiga tahun. Syeikh Muhammad Saleh dapat menyelesaikannya, beliau adalah seorang ulama yang bijaksana, amanah. Semuanya dapat beliau selesaikan.Syeikh Muhammad Saleh terpaksa berpindah dari Riau, Pulau Penyengat ke Pulau Lingga untuk menjalankan tugasnya sebagai Hakim. Sewaktu Syeikh Muhammad Saleh memegang jawatan Hakim Riau-Lingga itulah salah seorang Kerabat Diraja Kerajaan Perak bernama Engku Raja Mahmud atau digelar dengan Imam Paduka Tuan Perak mengenalinya.Engku Raja Mahmud mengkagumi kebijaksanaan Syeikh Muhammad Salehdalam menyelesaikan pelbagai isu, apatah lagi ulama yang berasal dari Minangkabau itu dapat menggabungkan pengetahuan yang bercorak duniawi dan ukhrawi. Dengan bermacam-macam cara Engku Raja Mahmud memujuk ulama itu supaya berkhidmat di negerinya di Perak Darul Redzuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJADI SYEIKH AL-ISLAM&lt;br /&gt;Engku Raja Mahmud akhirnya berhasil mengajak Syeikh Muhammad Saleh berpindah ke Perak setelah dua tahun beliau bertugas sebagai Hakim di Riau-Lingga. Manakala Engku Raja Mahmud kembali ke Perak, beliau dilantik menjadi Kadi Besar Kerajaan Perak. Syeikh Muhammad Saleh mulai mengajar pelbagai kitab-kitab Islam terutama kitab-kitab Melayu/Jawi di Kuala Kangsar pada tahun 1318 Hijrah/1900 Masihi. Sejak awal kedatangannya di Kuala Kangsar, beliau telah mendapat restu daripada Sultan Idris, Sultan Perak Darul Redzuan ketika itu.Selain mengajar kitab untuk pengajian orang tua-tua, Syeikh Muhammad Saleh juga berhasil mendirikan Madrasah Ihsaniyah yang menurut sistem pendidikan persekolahan di Teluk Anson.Cita-cita Sultan Perak untuk melantik seorang Syeikh al-Islam bermula tahun 1922 Masihi, namun secara rasminya Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi memegang jabatan itu pada 6 Jamadilakhir 1343 Hijrah/1 Januari 1925 Masihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYA KARYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;em&gt;Mawa'izhul Badi'ah&lt;/em&gt;, diselesaikan pada 24 Muharam 1335 Hijrah. Dicetak Mathba'ah Al-Ahmadiah, 1344 Hijrah. Kandungannya merupakan nasihat dan akhlak yang diringkaskan daripada Mawa'izhul Badi'ah karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;em&gt;Kasyful Asrar&lt;/em&gt;, diselesaikan pada hari Selasa, 27 Safar 1344 Hijrah. Cetakan yang pertama hingga cetakan yang ke 29 oleh Maktabah wa Mathba'ah Al-Ahmadiah, Singapura. Kandungannya membicarakan tentang tasawuf haqiqat atau tasawuf falsafi. Karya ini pernah ditahqiq oleh Syeikh Haji Muhammad Wali al-Khalidi dengan judul &lt;em&gt;Tanwirul Anwar fi Izhhari Khalal ma fi Kasyfil Asrar&lt;/em&gt;, diterbitkan oleh Al-Maktabatut Taufiqiyah, Jalan Perdagangan No. 4 Atas, Banda Aceh. &lt;em&gt;Kasyful As&lt;/em&gt;rar juga pernah diubahsuai ke dalam bahasa Indonesia dengan judul &lt;em&gt;Menyingkap Rahsia Agama Dan Tasawuf&lt;/em&gt;, diterbitkan oleh Yayasan Dakwah Islam, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;em&gt;Jalan Kematian&lt;/em&gt;, diselesaikan 14 Jamadilakhir 1344 Hijrah. Dicetak pada bahagian akhir Kasyfur Asrar oleh Maktabah wa Mathba'ah Al-Ahmadiah, Singapura.&lt;br /&gt;4. Nashihatul Mubtadi, tanpa tarikh. Cetakan yang pertama Maktabah wa Mathba'ah Al-Ahmadiah, 1346 Hijrah/1927 Masihi. Kandungannya merupakan berbagai-bagai nasihat ke arah keteguhan pegangan dalam beragama Islam dan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid&lt;br /&gt;Murid beliau sangat banyak di seluruh Semenanjung, di antaranya termasuk Sultan Iskandar Syah, Sultan Perak. Yang pernah menulis riwayat hidup beliau ialah murid yang lama berhubungan dengannya, ia adalah &lt;strong&gt;Muhammad Saleh Mandahiling&lt;/strong&gt;, Tapanuli. Buku tersebut diberi judul &lt;em&gt;Izalatul Hairan fi Qshshah Syaikhil Islam Darir Ridhwan&lt;/em&gt;, judul dalam bahasa Melayu adalah Menghilangkan Kehairanan Pada Menyatakan Cerita Syeikhul Islam Perak Darul Redzuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Muhammad_Saleh_Al-Minankabawi"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-831668395742313243?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/831668395742313243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=831668395742313243' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/831668395742313243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/831668395742313243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/syeikh-muhammad-saleh-al-minankabawi.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-1105365304559343411</id><published>2007-07-08T08:23:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T08:25:48.082-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pilkada Kabupaten Pasaman Trah Tuanku Imam Bonjol atau Tuanku Rao? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 April 2005 &lt;br /&gt;(Media) - Kabupaten Pasaman terletak di wilayah paling utara Sumatra Barat (Sumbar). Daerah ini dilintasi garis khatulistiwa, tepatnya di Bonjol, daerah asal pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, Pasaman tepatnya terletak pada 0,55 derajat Lintang Utara sampai dengan 0,11 derajat Lintang Selatan dan 99,55 derajat Bujur Timur sampai dengan 100, 21 derajat Bujur Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarahnya, nama Pasaman berasal dari kata pasamoan yang berarti kesepakatan atau kesamaan. Kesepakatan yang dimaksud ialah antargolongan etnis penduduk yang mendiami wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten ini memang didiami tiga etnis, yakni Minangkabau, Mandahiling, dan Jawa. Semenjak dimekarkan pada 2003 lalu, yang memisahkan Pasaman Barat dari Kabupaten Pasaman, dua etnis yang menonjol di kabupaten ini tinggal Minang dan Mandahiling. Karena, orang Jawa memang banyak berada di Pasaman Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup harmonis ratusan tahun bersama, kedua etnis yang berbeda budaya tersebut tak pernah bentrok. Bahkan, dalam keseharian budaya Minang dengan Mandahiling sudah saling membaur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kecamatan Duo Koto, misalnya, akan ditemui nama-nama marga yang sama dengan marga Mandahiling lainnya, seperti Batubara, Pulungan, Lubis, dan lainnya. "Tapi, mereka tidak patrilineal seperti halnya tradisi Mandahiling. Marga anak di sana mengikuti marga ibunya. Matrilineal seperti halnya di Minangkabau," kata Ketua KPUD Pasaman Willi Admiral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, antara lain karena di antara dua etnis tersebut banyak terjadi asimilasi melalui jalur pernikahan. Tidak adanya dikotomi soal Minang-Mandahiling, yang tegas selama ini dalam kehidupan sosial masyarakat setempat, menurut Willi, merupakan modal positif untuk memilih kepala daerah. Karena, masyarakat akan memilih sesuai dengan kemampuan dan integritas calon, bukan karena 'alasan buta' primordialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah ada pembaruan, sesungguhnya, kedua etnis masing-masing juga masih mempertahankan identitas. Setidaknya itu dilihat dari bahasa ibu yang digunakan.&lt;br /&gt;Etnis Minang memakai bahasa Minang, demikian juga Mandahiling. Namun, bagi mereka yang 'gaul' biasanya menguasai kedua bahasa tersebut, dari mana pun asalnya.&lt;br /&gt;Etnis Mandahiling mayoritas tinggal di bagian utara Pasaman. Mereka rata-rata menempati Kecamatan Duo Koto, Panti, Rao, Rao Utara, dan Rao Selatan. Jumlah mereka hampir sebanding dengan etnis Minang di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah ini, kedua etnis sudah menyatu dan merasa sebagai 'Orang Utara'. Sementara, di bagian selatan seperti di Kecamatan Lubuk Sikaping, Tiga Nagari, dan Bonjol, mayoritas penduduknya ialah etnis Minang. Mereka kemudian juga mengerucut menjadi 'Orang Selatan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikotomi Selatan-Utara tersebut, kini muncul (atau dimunculkan) ke permukaan oleh para 'pekerja politik' di Pasaman. Apalagi kalau bukan karena akan diadakannya pemilihan bupati di sana pada 27 Juni nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai data pencalonan, Willi Admiral mengatakan, hingga ditutup pendaftaran pada 27 Juni lalu, sudah mendaftar tiga pasang calon ke KPU Pasaman. Mereka adalah pasangan AKBP Yusuf Lubis sebagai calon bupati (cabup) dan Hamdy Burhan Datuk Bagindo sebagai calon wakil bupati (cawabup). Keduanya diusung oleh partai-partai yang memiliki kursi di DPRD Pasaman, yakni PAN 4 kursi, PKPB 3, PKS 2, PKB 2, PDIP 1, PBB 1, dan Partai Merdeka 1 kursi. Total koalisi tersebut sebanyak 14 kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan kedua diusung oleh PPP yang memperoleh 5 kursi di DPRD Pasaman, yakni Sekdako Bukittinggi Khairul sebagai cabup dengan pasangannya, Hj Rahanum (notaris) sebagai cawabup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Partai Golkar sebagai pemenang pemilu di Pasaman dengan perolehan 10 kursi bersama PKP Indonesia (1 kursi) mengusung Ketua DPD Partai Golkar Pasaman Benny Utama yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati Pasaman bersama Letkol CAJ Buyung Nurlan Tanjung sebagai cawabup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berpedoman kepada hasil pemilu legislatif pada 2004 lalu, maka yang paling berpeluang adalah pasangan Benny Utama-Buyung Nurlan yang menggabungkan Partai Golkar, PKP Indonesia, serta 9 partai lainnya. Total perolehan suara koalisi ini pada pemilu legislatif sekitar 44 ribu (43,56%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan ini ditempel ketat Yusuf Lubis-Hamdy Burhan yang dicalonkan tujuh partai dengan perolehan suara sekitar 40 ribu (39,60%). Sisanya, baru diambil oleh pasangan yang dicalonkan PPP, Khairul-Rahanum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hitungan di atas kertas itu dalam realitasnya sama saat pilkada dilangsungkan?&lt;br /&gt;Bisa jadi ya atau tidak. Ya, jika Partai Golkar setempat bisa mengulang sukses mereka pada pilpres pertama memenangkan calon Partai Golkar Wiranto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan daerah lain di Sumbar yang dikuasai Amien Rais, di Pasaman, Wiranto memang menang dengan 38,15%, mengungguli Amien yang memperoleh 29,03% dan Susilo Bambang Yudhoyono 21,39% dari total sekitar 100 ribu suara sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Partai Golkar kembali menggerakkan mesin politiknya seperti dalam hal pilpres pertama, Benny bisa melenggang mulus ke kursi bupati. Apalagi, selama menjadi wakil bupati, tokoh asal Lubuk Sikaping (wilayah selatan), Kabupaten Pasaman, tersebut sudah amat dikenal oleh masyarakat Pasaman. Benny memang rajin turun ke bawah, dekat dengan masyarakat Pasaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tunggu dulu. Yusuf Lubis yang masih menjabat Kapolresta Padang Panjang, Sumbar, tersebut berasal dari Rao (wilayah utara) Kabupaten Pasaman. Seiring munculnya dikotomi Utara-Selatan tersebut, Yusuf harus diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, dialah satu-satunya cabup dari wilayah utara yang memiliki potensi pemilih sebesar 60%. Sedangkan Benny harus berebut dengan Khairul di selatan yang hanya memiliki potensi 40% pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, apa masyarakat mau dikotak-kotak dengan dikotomi Utara-Selatan yang selama ini kurang populer tersebut? Toh, masing-masing pasangan juga amat menghargai daerah yang berbeda dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, Yusuf dari Utara, memilih Hamdy sebagai wabup dari Bonjol (Selatan). Benny dari Selatan memilih Buyung dari Kecamatan Panti (Utara) sebagai cawabup. Demikian juga Khairul dari Selatan memilih cawabup Rahanum dari Rao (Utara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana Utara-Selatan itu tadi memang gencar menjadi bahan isu para politikus. Selatan dilambangkan sebagai Tuanku Imam Bonjol, sementara Utara dilambangkan dengan Tuanku Rao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar menengok ke belakang, semasa hidup, Tuanku Imam Bonjol memang memusatkan perjuangannya di Bonjol (sekarang Kecamatan Bonjol), Pasaman Selatan. Sementara Tuanku Rao, salah seorang panglima perang Tuanku Imam Bonjol, ditugaskan untuk memimpin perjuangan di Rao, di Pasaman bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Rao diakui oleh orang Minang sebagai 'urang awak', sementara etnis Mandahiling pun mengklaim panglima tersebut sebagai kerabat Raja Sisingamangaraja. Artinya, Tuanku Rao memang menjadi simbol kesatuan orang Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, mereka menyusun kekuatan agar 'Tuanku Rao' bisa menang agar tak selalu 'Tuanku Imam Bonjol' yang memerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budayawan Sumbar asal Pasaman, Eddy Utama, kepada Media mengakui adanya upaya untuk menegaskan Utara-Selatan, bahkan juga berkembang menjadi kesadaran untuk mempertegas geokultural Minang-Mandahiling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Budaya Minang dan Mandahiling di Pasaman selama ini tak menonjol sebagai sebuah perbedaan. Namun, dalam kondisi terakhir memang ada kesadaran untuk mempertegas geokultural itu," kata mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) tersebut.&lt;br /&gt;Selagi itu tidak berlebihan, menurutnya sah-sah saja. Tapi, Eddy yang biasa dipanggil Bung mengingatkan, di tingkat pendukung dan tim sukses para calon, ini jangan dibiarkan berkembang menjadi tajam dan malah akan mengakibatkan konflik horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun slogan dan isunya, asal masih dalam koridor hukum dan etika, sah saja. Namun, yang lebih penting apa yang harus dilakukan bupati terpilih nanti.&lt;br /&gt;"Potensi pertanian, perikanan di daerah ini belum maksimal dikembangkan. Demikian juga dengan perkebunan rakyat yang banyak terdapat di daerah ini. Hal lain, pentingnya untuk memperlebar jalan lintas Sumatra di sepanjang Kabupaten Pasaman," kata Bung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang kecil, selama ini, menghambat akses jalan antara kota-kota besar di provinsi lain seperti Medan dan Pekanbaru yang melalui Pasaman. Jika infrastruktur seperti jalan belum layak, menurut Bung, amat susah untuk mulai membangun industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra Makmur/P-4&lt;br /&gt;Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005041201285216&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-1105365304559343411?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/1105365304559343411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=1105365304559343411' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1105365304559343411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1105365304559343411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/pilkada-kabupaten-pasaman-trah-tuanku.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5856291778124650527</id><published>2007-07-07T10:59:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T17:21:27.644-07:00</updated><title type='text'>Kisah Dari Desa, Kisah Tentang Kekalahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpiyiR1yV3I/AAAAAAAAAT0/Sv5R2wV2xZo/s1600-h/Mandailings+Pictures+0543.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpiyiR1yV3I/AAAAAAAAAT0/Sv5R2wV2xZo/s400/Mandailings+Pictures+0543.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087012081089271666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Desa Manambin, Mandailing Julu&lt;br /&gt;Foto Abdur-Razzaq Lubis&lt;br /&gt;tulisan ke-2&lt;br /&gt;KISAH DARI DESA, KISAH TENTANG KEKALAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    HAMPARAN sawah menguning bak permadani. Biji kopi yang masak menyala merah di antara hijau daunan. Aneka sayur dan berbagai tanaman keras, seperti kayu manis dan karet, tumbuh subur. Air Sungai Batang Gadis mengalir tak henti-hentinya sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    BERBEDA dari petani di Jawa yang ketersediaan lahannya sudah sangat sempit, di lereng Gunung Sorik Merapi, Mandailing Natal, petani sebenarnya masih memiliki lahan yang cukup. Rata-rata mereka memiliki seperempat hektar sawah dan 2-4 hektar ladang yang biasa ditanami kopi, karet, aren, kayu manis, serta berbagai macam buah-&lt;br /&gt;buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Data di Badan Pusat Statistik tahun 2003, angka kepadatan penduduk di Mandailing Natal hanya sekitar 56 jiwa per km2. Bandingkan dengan kepadatan penduduk di Jawa yang pada tahun 1999 saja rata-rata sudah di atas 814 jiwa per kilometer persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, kepemilikan dan kesuburan tanah bukanlah aset yang menjanjikan lagi. Harga jual hasil pertanian yang selalu anjlok saat panen dan naiknya biaya produksi pertanian adalah lagu lama bagi petani di lereng Sorik Merapi yang kian nyaring terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Simaklah kisah Asmara Lubis (42), petani dari Desa Huta Godang, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal. Lelaki itu telah bersabar menunggu 12 tahun sebelum akhirnya memutuskan menebang pohon kayu manis di ladangnya. Karena merasa hasilnya kurang banyak, dia menebang satu lagi pohon kayu manis berumur delapan tahun. Butuh &lt;br /&gt;kerja keras selama empat hari untuk menebang, menguliti, dan menjemur kulit kayu hingga siap dijual. Namun, penjualan dari dua pohon kayu manis yang berumur delapan dan 12 tahun itu hanya menghasilkan uang Rp 21.000, sementara harga parang yang ingin dia beli Rp 31.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejumlah komoditas andalan lain, seperti kopi, kentang, dan berbagai macam sayur-mayur, juga selalu anjlok harganya saat panen. Beberapa bulan lalu, Asmara dan kelompok taninya menanam kentang secara kolektif di lahan seluas sekitar lima hektar dengan bibit sebanyak 1,5 ton. Harga bibit saat itu mencapai Rp 12.000 per kilogram (kg). Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk dan obat-obatan mencapai Rp 6 juta. Total biaya yang dibutuhkan mereka sebanyak Rp 18 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Hasil panen sebenarnya sangat memuaskan, kualitasnya baik dan produksinya sekitar 10 ton. Namun, yang jadi masalah kentang kami hanya dihargai Rp 1.700 per kg. Kami rugi sekitar Rp 1 juta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain masalah harga, serangan hama dan penyakit terhadap tanaman juga berkembang pesat, jauh meninggalkan teknologi yang digunakan petani untuk mengatasinya. Tanaman cabai, yang sebelumnya menjadi andalan warga sekitar Sorik Merapi, kini juga hancur terserang penyakit keriting kuning tanpa bisa teratasi. Dan jeruk sibanggor, yang pernah menjadi penopang ekonomi juga hampir punah karena &lt;br /&gt;terserang berbagai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    KISAH tentang petani Sorik Merapi hanyalah satu kisah desa-desa kita. Di desa-desa waktu seakan berhenti. Bahkan, sebagian seakan berjalan mundur, menuju titik mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Huta Godang, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, sisa-sisa kejayaan masa lalu masih tergambar pada kemegahan rumah-rumah adat yang dikelilingi hamparan sawah yang luas. Namun, rumah-rumah dan segala isinya tersebut ditinggalkan pewarisnya yang memilih menjadi pengusaha di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aktivitas ekonomi Negeri Suah, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, sejak puluhan tahun terakhir stagnan. "Dari dulu desa kami seperti ini. Jumlah warga yang tinggal di sini tidak bertambah, bahkan jumlah rumah berkurang. Jika dulu 16 rumah, sekarang tinggal 15 rumah. Jalan dari kota ke sini juga makin rusak saja dan membuat desa kami ini kian jauh dari dunia luar," ujar Nelson Barus (43), warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Walaupun tak "berkembang", untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga Negeri Suah sebenarnya masih berkecukupan karena hampir setiap keluarga masih memiliki sawah yang panen padinya cukup untuk makan selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masalah sebenarnya muncul saat orang-orang desa berinteraksi dengan dunia luar, terutama untuk menyekolahkan anak dan berobat ke dokter. Kenyataannya, walaupun cukup makan, mereka tidak cukup uang untuk mengikuti ritme kehidupan modern yang segala sesuatunya harus dibayar dengan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi masyarakat desa, uang susah didapat. Mereka kaya barang dan sumber daya alam, tetapi miskin uang. Harga hasil bumi mereka dihargai sangat murah oleh pembeli. Misalnya, karet yang merupakan komoditas andalan Negeri Suah hanya dihargai tengkulak kurang dari Rp 4.000 per kg. Padahal, di Medan harga karet Rp 4.800 per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Warga yang sakit harus digotong ke desa tetangga yang berjarak sekitar setengah jam jalan kaki. Ongkos berobat menjadi sangat mahal untuk ukuran orang desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendidikan juga menjadi dilema. Anak-anak yang bersekolah di sekolah dasar (SD) harus berjalan kaki ke luar desa. Sedangkan, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang terdekat hanya ada di Bandar Baru yang harus ditempuh selama empat jam dengan sepeda motor atau seharian berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beban berat itu misalnya dirasakan keluarga Kardi Barus (58), warga yang memiliki dua anak. Anak pertamanya sudah berkeluarga dan tinggal di Medan. Sedangkan anak bungsunya, Serli Novita Barus (16), masih sekolah di sekolah menengah ekonomi atas di Kabanjahe. Tiap dua pekan Kardi harus mengirim uang kepada anak bungsunya itu sedikitnya Rp 200.000. Belum lagi dia harus membayar uang BP3 Rp 400.000 setahun &lt;br /&gt;sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beban Kardi tambah berat karena cucunya yang masih balita dari anak pertamanya yang telah bercerai dititipkan padanya. Sedikitnya Rp 200.000 per bulan tandas untuk membeli susu dan biskuit bagi cucunya. Seluruh kebutuhan keluarganya ditopang dari ladang karet seluas setengah hektar. Rata-rata, dia bisa mendapatkan 5 kg karet per hari. Dengan penghasilan maksimal Rp 24.000 per hari atau sekitar Rp 168.000 per minggu, praktis semuanya tersedot untuk membiayai sekolah anaknya dan membeli susu untuk cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, kualitas pendidikan di desa sepertinya juga mustahil menjadi gerbang perubahan strata sosial dan ekonomi. Berbagai keterbatasan menyebabkankualitas pendidikan di desa sangat rendah sehingga lulusannya kesulitan bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Binanga, Tapsel, misalnya, fasilitas pendidikannya sangat minim. SD satu-satunya di dusun yang dibangun secara swadaya pada tahun 1982 tersebut hanya memiliki satu ruang kelas sehingga seluruh siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI bercampur dan gurunya hanya seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hingga kini murid-murid SD di sana harus belajar dengan menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan. "Susah mengharapkan lulusan SD kami bisa meneruskan ke jenjang lebih tinggi. Di samping masalah biaya, mereka kesulitan ikut ujian," kata Raja Dima Siregar, satu-satunya guru di SD itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi warga desa yang tidak memiliki keahlian dan pendidikan formal memadai, interaksi ekonomi dan sosial dengan dunia luar adalah sebuah eliminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    ELIMINASI kekuatan luar terhadap warga desa dalam beberapa kasus lain dilakukan dengan sangat keras. Aset desa diperas, dikuasai, dan warganya kemudian diusir keluar dari tanah mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hal itu misalnya dialami orang-orang Mandailing di Dusun Sibengggol, Desa Pangirkiran Dolok. Sedikitnya 17 rumah warga Dusun Sibenggol, Pangirkiran Dolok, dibakar perusahaan perkebunan swasta nasional. Warga yang rata-rata tak mengerti masalah hukum tersebut kemudian diusir ke luar dusun dan 650 hektar tanah adat diambil alih untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini warga Sibenggol mengungsi ke dusun-dusun lain di Desa Pangirkiran. Warga desa sempat melawan dan mengadu ke aparat keamanan serta instansi pemerintahan. Namun, justru Dusun Sibenggol dan bekas ladang mereka telah dikelilingi parit oleh perusahaan tersebut. Tak seorang warga dusun pun yang berani ke sana karena tanah tersebut dijaga para centeng bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Warga Desa Kodon-kodon, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, juga mengalami nasib serupa. Kalangan pengusaha yang melihat strategisnya lokasi Gorat Ni Padang, tanah adat milik desa, lalu mengambil alih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sang pengusaha yang berhasil menggandeng investor asing bermimpi untuk membangun lapangan golf, hotel, perkebunan, dan berbagai sarana wisata lain di sana. Mereka yakin bisa memberi nilai lebih lahan adat tersebut. Namun, proses ganti rugi bermasalah karena hanya sebagian warga yang mendapatkan. Dan ladang milik warga justru terkena longsor, dampak dari pembangunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat warga menuntut, mereka kalah. Pembangunan yang proses perizinannya belum selesai itu pun jalan terus. Sementara itu, pemerintah daerah merestuinya. Alasannya, investasi asing akan menaikkan pendapatan daerah dan nantinya akan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kasus lain, warga juga dimanfaatkan kekuatan dari luar untuk melakukan perusakan sumber dayanya sendiri, dengan imbalan tak seberapa. Di Desa Angin Barat, Kecamatan Kota Nopan, Mandailing Natal, warga desa yang semula menentang keras usaha penebangan hutan di sekitar desa mereka akhirnya diam ketika mereka dijanjikan tanah &lt;br /&gt;bekas hutan itu akan diserahkan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, saat hutan sudah rusak dijarah dan pengusaha telah pergi, pemerintah dan aparat keamanan kemudian datang untuk melarang alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan. Janji-janji penyerahan lahan itu menjadi semu. Sementara itu, longsor dan banjir kini mengancam warga desa akibat perusakan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Desa-desa seperti dikepung kekuatan dari luar yang sangat agresif dalam memanfaatkan lahan sebagai aset ekonomi semata. Sementara sumber daya di desa loyo karena putra-putra terbaik mereka memilih &lt;br /&gt;merantau keluar. (AHMAD ARIF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ayiek.multiply.com/journal/item/1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5856291778124650527?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5856291778124650527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5856291778124650527' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5856291778124650527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5856291778124650527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/tulisan-ke-2-kisah-dari-desa-kisah.html' title='Kisah Dari Desa, Kisah Tentang Kekalahan'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RpiyiR1yV3I/AAAAAAAAAT0/Sv5R2wV2xZo/s72-c/Mandailings+Pictures+0543.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-3002100647197252649</id><published>2007-07-07T10:38:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T01:30:05.076-07:00</updated><title type='text'>Si Banggor Julu, Lenyapnya Budaya Markusip dan Tersisanya Gordang Sambilan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ro_UBD01AFI/AAAAAAAAAQ4/kdemfX3C03c/s1600-h/SibanggorJulu51.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ro_UBD01AFI/AAAAAAAAAQ4/kdemfX3C03c/s400/SibanggorJulu51.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084515618996420690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sibanggor Julu&lt;br /&gt;Foto Arbain Rambey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SiBanggor Julu, Lenyapnya Budaya Markusip dan Tersisanya Gordang Sambilan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KIsah dari Desa, Kisah tentang Kekalahan...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal beberapa hari di desa-desa lereng Sorik Merapi, Mandailing Natal aku seperti dikembalikan pada masa kecil. Desa yang permai, dengan gemericik air mengalir dan sawah menghampar luas. Orang-orangnya yang sangat ramah, menyediakan tempat menginap dan makan dengan sangat tulus. Tetapi, menyelami kehidupan warga desa lebih jauh, aku merasakan nafas kekalahan yang menghimpit mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menulis tentang desa, berarti menulis tentang kekalahan. Kekalahan negara dalam melindungi rakyat dari hisapan kapitalisme, dan kekalahanku secara personal yang membuatku meninggalkan kehidupan desa yang permai.Inilah yang menjadi dasar dari dua tulisanku di Kompas (22/5/2005) lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ke 1: &lt;br /&gt;DESAKU YANG PERMAI, DESAKU YANG KUTINGGALKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    HUTA Baringin pagi hari adalah aroma pegunungan yang dingin. Desa di lereng Gunung Sorik Merapi-gunung berapi di Mandailing Natal, Sumatera Utara-itu sudah menggeliat sejak pukul 06.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ANAK-anak mandi di pancuran dan perempuan memasak di dapur. Sedangkan para lelaki &lt;em&gt;markombur&lt;/em&gt;-bahasa Mandailing yang berarti ngobrol-di kedai kopi sebelum kemudian menuju ke sawah atau ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di sebuah rumah panggung dari kayu beratap ijuk, Zulkarnain Nasution (23) baru saja terbangun ketika ibunya sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aroma ikan asin bercampur harum nasi yang mengepul tercium dari dapur yang tak jauh dari tempat Zulkarnain tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menunggu masakan siap, Zul, demikian dia dipanggil, mandi di permandian air panas alami di perbatasan desa. Dingin udara pagi itu terusir hangatnya air panas yang selalu mengepulkan asap. Air panas alami adalah berkah alam yang banyak ditemui di desa-desa di lereng Sorik Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah sarapan, Zul bergegas merapikan diri. "Hari Minggu saatnya pacaran ke kota," kata Zul setengah berbisik. Zul mengaku masih jengah berduaan dengan pacarnya di desa mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada masa lalu, kegiatan berpacaran antara muda dan mudi dalam masyarakat Mandailing sama sekali tak boleh dilakukan secara terbuka. Jika dua orang muda yang dimabuk asmara hendak berkomunikasi, biasanya mereka menggunakan bahasa daun-daunan atau &lt;em&gt;hata bulung-bullung&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Secara bergiliran muda-mudi tersebut akan mengunjungi tempat rahasia yang sudah disepakati berdua untuk melihat "surat cinta" yang terdiri dari daun-daunan. Kalau, misalnya, daun &lt;em&gt;hadungdung&lt;/em&gt; bersama-sama dengan daun &lt;em&gt;sitata&lt;/em&gt;, daun &lt;em&gt;sitarak&lt;/em&gt;, daun &lt;em&gt;sitanggis&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;daun podom-podom&lt;/em&gt; dikirimkan seorang pemuda, sang kekasih akan mengerti bahwa sang pemuda mengatakan, "&lt;em&gt;Dung hita marsarak jolo tangis au anso modom&lt;/em&gt;." Artinya, "Setelah kita berpisah, menangis saya dahulu baru bisa tertidur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan jika hasrat untuk bercakap-cakap secara langsung kian menggelora, mereka akan melakukannya dengan cara yang disebut &lt;em&gt;markusip&lt;/em&gt; (berbisik). &lt;em&gt;Markusip&lt;/em&gt; dilakukan pada waktu tengah malam agar tidak diketahui orang lain. Dalam hal ini, pemuda dengan cara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah tempat kekasihnya tidur. Untuk membangunkan sang kekasih, biasanya pemuda mengetuk dinding kamar gadis atau memanggilnya secara perlahan-lahan untuk memberi tahu bahwa dia sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kadang-kadang untuk memberi tahu kehadirannya, sang pemuda membunyikan alat musik tiup dari bambu yang dinamakan tulila yang suaranya sangat lembut. Bila sang gadis sudah mengetahui kehadiran kekasihnya di balik dinding atau di kolong rumah, mulailah mereka berdialog secara berbisik-bisik, diselingi pantun percintaan yang &lt;br /&gt;romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                  ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    BAGI Zul yang telah mengecap gaya hidup kota, tradisi berkomunikasi dengan daun-daunan atau ber-&lt;em&gt;markusip&lt;/em&gt; adalah masa lalu. "Kami hanya mendengar cerita tentang &lt;em&gt;hata bulung-bullung &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;markusip&lt;/em&gt;. Sekarang tidak ada lagi yang melakukannya. Paling-paling kami pacaran secara sembunyi-sembunyi di luar desa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seharian jalan-jalan di kota, Zul pulang ke desa menjelang senja. Dia kemudian ke kedai untuk markombur sambil menikmati kopi panas. Di kedai, Zul lebih banyak diam. Dia kesulitan mengikuti tema obrolan pengunjung kedai yang rata-rata orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Zul adalah sedikit dari pemuda desa yang bertahan di Huta Baringin. Dia sebenarnya ingin merantau. Tetapi, kedua orangtuanya yang telah renta melarang. Alasannya, Zul satu- satunya anak yang tinggal di desa karena keempat kakaknya telah pergi merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Di desa sebenarnya enak. Mau mandi air panas gratis. Hasil panen masih cukup untuk dimakan sendiri. Tetapi, yang bikin stres, saya merasa tidak bisa berbuat banyak dan tidak punya uang. Apa gunanya sekolah jika tiap hari kerjanya hanya bergelut dengan lumpur sawah," kata pemuda yang pernah merasakan hidup di kota ketika duduk di sekolah menengah atas. Zul juga sempat setahun menjadi mahasiswa &lt;br /&gt;sebelum putus di tengah jalan karena tak ada biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi Zul dan sebagian besar pemuda desa di lereng Sorik Merapi, semua tawaran kenyamanan di desa tak lagi mampu menambatkan hati untuk tetap berada di sana. Hanya satu-dua pemuda yang masih bertahan di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kondisi sama juga terjadi di desa tetangganya, yaitu Sibanggor Julu. Seperti Huta Baringin, desa ini pun loyo kekurangan tenaga muda untuk mengolah tanah-tanah subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Basaruddin Nasution, Ketua Kelompok Tani Suka Mulia, Sibanggor Julu, mengatakan, sawahnya seluas setengah hektar dan kebun kopinya seluas satu hektar kini terbengkalai. Basaruddin sudah mulai menua. Tangan dan kakinya tak lagi lincah mengolah tanah. Tetapi, putra tunggalnya memilih berwiraswasta di Bogor, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya, tidak bisa melarang anak saya pergi. Saya juga pernah muda dan merasakan dorongan kuat untuk merantau. Dan, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya kembali di desa. Di sini tidak ada pekerjaan untuk orang sekolahan," kata Basaruddin, mengomentari kepergian anaknya yang tamatan SMEA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut Basaruddin, tak ada seorang anak muda pun yang sejak semula bercita-cita menjadi petani di desa. Saat umur dirasa cukup, yaitu menginjak usia belasan tahun, anak-anak muda akan pergi ke merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gambaran tentang tiadanya tenaga-tenaga muda sangat terasa ketika malam itu gordang sembilan, alat musik perkusi tradisional Mandailing yang terdiri dari sembilan gordang (kendang) dengan gordang terbesar sepanjang sekitar dua meter, dimainkan di Sibanggor Julu. Hampir semua pemain gordang malam itu adalah orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam dingin malam, suara televisi memecah sunyi, bersahut dengan celoteh pengunjung kedai. Namun, dominasi kedai sebagai pusat kegiatan pecah saat selepas isya. Dari ruang terbuka di seberang kedai terdengar suara tabuhan yang mengentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malam teramat dingin. Gerimis menambah dingin. Tetapi, empat lelaki desa tak hirau. Mereka selempangkan sarung dan lengan baju disingsingkan. Lelaki yang tak muda lagi itu memanaskan malam dengan memukul gordang sembilan yang berirama mengentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa lelaki yang semula duduk-duduk di kedai kopi perlahan ikut bergabung, silih berganti memainkan gordang. Di pinggir arena, anak-anak kecil bersorak gembira. Tak lama kemudian beberapa ibu dan gadis tergelitik dengan keramaian. Mereka keluar, menyaksikan kaum pria yang unjuk kebolehan. Malam itu, lelaki Desa Sibanggor Julu tengah berlatih gordang sembilan. "Karena susah cari hiburan, &lt;br /&gt;permainan inilah yang menjadi hiburan kami, selain menonton televisi &lt;br /&gt;dan &lt;em&gt;markombur&lt;/em&gt; di kedai," kata Hasanuddin Tanjung (42), pemimpin &lt;br /&gt;kelompok kesenian Sibanggor Jalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gordang sembilan dalam sejarahnya tidak bisa dimainkan sembarang orang. Ada upacara tertentu untuk membuka selubungnya sebelum dimainkan dalam upacara-upacara adat, seperti kematian ataupun perkawinan. Sebelum masuknya Islam, alat musik ini juga digunakan untuk upacara memanggil roh nenek moyang untuk meminta pertolongan. &lt;br /&gt;Seekor kerbau jantan harus disembelih sebelum alat musik itu dimainkan. Jika tak terpenuhi, gordang sembilan tidak boleh digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Zaman sudah berubah, gordang sembilan bisa dimainkan sebagai hiburan atau pertunjukan dan kami dibayar untuk itu. Sekali pertunjukan biasanya dibayar Rp 400.000. Kalau tidak ada bayaran, rasanya berat memainkan gordang sembilan ini," kata Hasanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malam menua. Sekitar pukul 22.00, irama gordang sembilan kian sayup. Unjuk kebolehan malam itu usai sudah. Para gadis kembali ke dalam rumah, anak-anak pun segera terlelap. Sebagian lelaki kembali ke kedai kopi dan kembali terlibat dalam obrolan hangat sambil melihat tayangan televisi yang ditangkap melalui parabola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut Hasanuddin, gordang sembilan merupakan satu-satunya warisan masa lalu yang masih tersisa di desa. Itu pun nilai-nilai sakralnya kian luntur dan yang bisa memainkan kebanyakan sudah berumur. "Beberapa tahun lagi gordang sembilan mungkin akan punah, seperti sejumlah tradisi lain yang pernah ada di desa ini," kata &lt;br /&gt;Hasanuddin.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;                                  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    HAMPIR semua lelaki di Sibanggor Julu dan Huta Baringin yang kini tinggal di desa sebenarnya pernah merasakan hidup di perantauan. "Orang-orang yang tinggal di desa adalah orang-orang yang kalah di perantauan. Kalau tidak bodoh, ya, orang-orang yang usahanya di perantauan bangkrut, seperti saya ini. Dari 450 penduduk yang &lt;br /&gt;tinggal di desa ini, hanya seorang yang sarjana dan sekarang jadi guru agama," kata Rahmad Nasution (38), tokoh masyarakat Huta Baringin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada tahun 1983, Rahmad yang tamat sekolah menengah pertama ini merantau ke Bogor, Jawa Barat. Di sana dia mencoba peruntungan dengan berwiraswasta. Gagal berwiraswasta, dia menjadi sopir truk, buruh bangunan, dan berbagai pekerjaan kasar lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rahmad akhirnya menyerah. Pada tahun 1998 dia kembali ke Huta Baringin, tanpa hasil. Di desa dia menikah dan menjadi petani dengan menggarap sawah warisan orangtuanya seluas seperenam hektar. "Menjadi petani adalah pilihan terakhir jika semua usaha di perantauan gagal," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dulu, orang-orang Mandailing merantau ke luar daerah tak semata masalah uang. Sebagaimana tetangganya, yaitu orang-orang Minang, merantau menjadi ujian untuk meneguhkan citra diri. Namun, berbeda dari orang-orang Minang yang harus sukses di perantauan guna membiayai mamak keponakan di desa, orang-orang Mandailing tidak malu &lt;br /&gt;kembali pulang jika gagal merantau. Dalam pandangan orang Minang, perantau yang gagal dikecam secara kultural. Di Mandailing perantau yang gagal bisa diterima dengan ramah. Toh, sawah yang subur masih menghampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, itu dulu. Kini, tradisi pulang kampung untuk menjadi petani jika kalah di kota kian sulit ditemui di Mandailing. "Sebelum merantau, sejak kecil saya biasa membantu orangtua bertani sehingga ketika gagal di perantauan tidak kesulitan bertani lagi. Tetapi, anak muda sekarang sebelum merantau waktunya habis untuk sekolah dan tidak biasa memegang cangkul. Akhirnya, setelah gagal di perantauan mereka tak mau jadi petani. Bukan malu yang membuat perantau gagal kembali ke desa, tetapi mau bekerja apa lagi di sini. Mereka yang sudah mendapat pendidikan lebih tinggi enggan jadi petani walaupun kota tak juga menjanjikan," kata Rahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekolah justru menjauhkan anak-anak desa dari tradisi dan sumber daya di desa. "Mungkin, perlu sekolah untuk menjadi petani dalam arti sebenarnya. Lulusannya menjadi petani dan kembali ke desa agar bisa membangun kembali sawah-sawah dan ladang. Jangan setelah lulus sekolah pertanian malah jadi buruh pabrik di kota," kata Rahmad. &lt;br /&gt;(AHMAD ARIF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ayiek.multiply.com/journal/item/1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-3002100647197252649?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/3002100647197252649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=3002100647197252649' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3002100647197252649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3002100647197252649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/sibanggor-julu-foto-arbain-rambey.html' title='Si Banggor Julu, Lenyapnya Budaya Markusip dan Tersisanya Gordang Sambilan'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ro_UBD01AFI/AAAAAAAAAQ4/kdemfX3C03c/s72-c/SibanggorJulu51.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-484248026529884057</id><published>2007-07-07T10:34:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T02:20:20.201-07:00</updated><title type='text'>Guru Dengan Bayaran Seadanya</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9qMxVqbJI/AAAAAAAAAYM/n7lyvV72Lho/s1600-h/guru+yang+seadanya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9qMxVqbJI/AAAAAAAAAYM/n7lyvV72Lho/s320/guru+yang+seadanya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115924469351345298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guru dengan Bayaran Seadanya &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: AHMAD ARIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Dima Siregar (37) hanya petani dari desa. Namun, bagi warga Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Barumun Tengah, Tapanuli Selatan, dia adalah pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan, karena dia menjadi guru bagi anak-anak dusun dari kelas I hingga kelas VI hanya dengan bayaran 80 kaleng beras per tahun satu kaleng beras setara dengan 16 kilogram. Selain itu, dia juga guru mengaji tanpa imbalan. Saya melakukan ini karena merasa harus melakukannya. Saat itu anak- anak tidak sekolah selama tiga bulan karena tidak ada guru, saya tidak tega melihatnya, kata Raja Dima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah delapan bulan ini dia menjadi satu-satunya guru di SD Dusun Sigoring-goring. Semua pelajaran dari kelas I hingga kelas VI diborongnya. Guru sebelumnya mengundurkan diri pada Oktober 2004 sehingga selama tiga bulan kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang dibangun secara swadaya sejak tahun 1982 itu sempat terhenti. Sebenarnya sulit mengajar sekaligus enam kelas, tetapi warga tidak akan mampu membayar dua guru. Membayar satu guru saja kesulitan, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki empat putra ini bukan orang berpunya. Ia petani penggarap dengan lahan yang hanya menghasilkan 100 kaleng beras sekali panen, yang seperlimanya diberikan kepada pemilik sawah. Sejak dia menjadi guru, istrinya menjadi tulang punggung yang mengerjakan sawah garapan. Sepulang mengajar, Raja Dima menemani istrinya di sawah.&lt;br /&gt;Rumahnya sangat sederhana. Di rumah panggung dari papan kayu itu hanya terdapat dapur dan ruang serba guna yang menjadi tempat tidur, makan, dan menerima tamu. Tak ada kasur, hanya tikar dari rotan yang digelar saat ada tamu atau ketika ada anak-anak mengaji. Hewan ternak yang dimiliki keluarganya berupa dua ayam kampung yang kini beranak 15 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SD Sigoring-goring berada di pedalaman, diapit hutan register 40 Tapsel, perkebunan sawit milik PT PN II dan sejumlah perusahaan sawit swasta, serta hutan tanaman produksi yang dikelola PT Raja Garuda Mas, rekanan PT Toba Pulp Lestari. Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun lain, tak terjangkau listrik, apalagi telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tergilas balok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat dari madrasah aliyah di Binanga tahun 1988, Raja Dima merantau ke Pekanbaru untuk mencari kerja. Namun, ijazahnya tak laku sehingga setelah satu bulan terlunta-lunta di perantauan, Raja Dima akhirnya menerima pekerjaan sebagai salah satu pengangkut kayu dari perusahaan pembalakan liar. â€Saya harus menyeret balok kayu dari hutan. Terkadang diameternya satu meter dan panjang empat meter. Satu hari bisa mengangkut paling banyak tiga kubik kayu, dengan bayaran Rp 13.000 per kubik yang dibagi delapan orang, sejumlah anggota kelompok saya,â€ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan ketiga, kaki kiri Raja Dima hancur karena tergilas balok. Selama dua tahun, Raja Dima mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di Padang, Sumatera Barat. Pengalaman itu menyadarkan Raja Dima bahwa hidup jangan merusak alam dan harus berguna bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari perawatan, Raja Dima menetap di dusun sebagai petani. Pen baja yang ditanam di kakinya hingga kini menjadi penyangga tubuhnya yang terbebani kerja keras. Sesekali, Raja Dima juga ke hutan mencari rotan atau berburu ayam hutan.&lt;br /&gt;Setahun kemudian Raja Dima menikahi Kholimah Hasibuan, gadis tetangga desa. Hari-hari dilalui keluarga Raja Dima dengan ke sawah, ke hutan sesekali, dan ke pasar tiap pekan. Hingga kemudian, pada tahun 1995, ayahnya yang menjadi guru mengaji meninggal dunia. Anak keempat dari lima bersaudara ini diberi amanat untuk meneruskan mengajar anak-anak membaca Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kegiatan Raja Dima bertambah. Ia pun kian dekat dengan jiwa anak-anak yang meramaikan rumahnya tiap malam. Maka, ketika guru sekolah satu- satunya di dusunnya mengundurkan diri, Raja Dima menerima tawaran menjadi guru. Saya akan jadi guru selama masyarakat masih menginginkan saya, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi murid-muridnya dan orangtua murid, Raja Dima dikenal sebagai guru yang penyabar. Dia bisa mendidik anak dengan sabar. Dan yang penting, dia mau jadi guru dengan bayaran seadanya, kata Amsal Rambe, orangtua murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi guru di tengah wilayah yang terus didesak untuk perluasan perkebunan kelapa sawit. Katanya, tanaman karet warisan orangtuanya di tanah adat Desa Pangirkiran Dolok sebanyak 200 pohon musnah dibakar oleh perusahaan perkebunan nasional yang hendak memperluas kebun sawit di kawasan itu. Dalam pembakaran itu, 20 rumah warga Dusun Sibenggol dusun terdekat dengan Sigoring-goringâ€”ikut dibakar. Masa depan suram anak-anaknya menggelisahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://kompas.com/kompas-cetak/0507/29/Sosok/1922875.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-484248026529884057?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/484248026529884057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=484248026529884057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/484248026529884057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/484248026529884057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/guru-dengan-bayaran-seadanya-oleh-ahmad.html' title='Guru Dengan Bayaran Seadanya'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Rv9qMxVqbJI/AAAAAAAAAYM/n7lyvV72Lho/s72-c/guru+yang+seadanya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5932105000287857064</id><published>2007-07-07T10:32:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T10:34:08.801-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kisah Guru Desa, Kisah tentang Kepahlawanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalananku menuju Mandailing, pada tanggal 7-8 Mei 2005 aku "tersesat" di sebuah dusun di pinggir hutan register 40, Tapanuli Selatan. Semalam aku menginap di dusun itu, dan aku diharu-biru oleh kisah sedih yang berkelindan dengan kepahlawan. Di daerah yang harus ditempuh sekitar 16 jam dari Medan itu, aku melihat dusun-dusun yang dibakar oleh perusahaan perkebunan swasta nasional. Tanah milik adat dikuasai dan warga diusir. Namun, di sana aku juga bertemu dengan Raja Dima Siregar, pahlawan dusun yang menjadi satu-satunya guru sekolah dasar di dusun tersebut. Dia hanya dibayar 80 kaleng beras sekali setahun. ..Saat hendak menulis tentang perjalanku kali ini di Kompas, aku dihadapkan pada dua hal:1)tentang kisah kepahlawanan (juga penderitaan) Raja Dima dan anak-anak desa; atau 2) tentang penindasan yang dilakukan oleh perusahaan sawit tersebut, yang berarti akan berhadapan langsung dengan pengusaha dan kroninya. Akhirnya, aku memilih menulis tentang kepahlawanan...(lain kali, aku ceritakan alasan kenapa aku memilih menulis dengan angle ini) ...Sebagian foto dan tulisan telah dimuat di Kompas hal 1,16 Mei 2005.. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAYARAN GURU DESA 80 KALENG BERAS...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SUDAH enam bulan ini Raja Dima Siregar (37) mengajar lima kelas di SD Dusun Sigoring-goring tanpa gaji. Lelaki itu hanya dijanjikan akan mendapat bayaran beras sebanyak 80 kaleng (satu kaleng sekitar 16 kg) atau setara dengan 1.280 kg per tahun oleh para orangtua murid pada akhir tahun ajaran nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    MESKI demikian, satu-satunya guru di SD Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Binanga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, itu tak mengeluh dengan apa yang ia dapatkan. Yang ia gelisahkan justru nasib anak-anak didiknya yang belajar dengan buku pelajaran kedaluwarsa. Hingga kini murid-murid SD Dusun Sigoring-goring harus belajar dengan menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fasilitas SD satu-satunya di dusun itu sangat minim. SD tersebut hanya memiliki satu ruang kelas sehingga seluruh siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas VI, bercampur dan gurunya hanya seorang. Menurut Raja Dima, sekolah itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1982. Sejak dibangun, belum ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tahun ini SD yang berada di tepi hutan eukaliptus milik Toba Pulp Lestari itu hanya memiliki 27 siswa, yaitu kelas I sebanyak sembilan siswa, kelas II delapan siswa, kelas III tujuh siswa, kelas IV satu siswa, dan kelas VI dua siswa. Kelas V tidak ada siswanya. "Semakin tinggi kelasnya, siswanya makin sedikit karena banyak yang putus di tengah jalan. Anak-anak membantu orangtuanya bekerja sehingga jika dirasa sudah cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung, mereka tidak pergi ke sekolah lagi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dusun Sigoring-goring berada jauh di pedalaman Sumatera Utara, diapit hutan register 40 Tapanuli Selatan dan hutan tanaman produksi milik PT Toba Pulp Lestari (TPL). Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun lain, dan tak terjangkau listrik, apalagi telekomunikasi. Untuk mencapai kota Kecamatan Binanga sedikitnya perlu 14 jam perjalanan darat dari Medan atau sekitar empat jam dari ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan. Dari Binanga ke desa itu, perjalanan menembus belantara sejauh 22 kilometer. Hanya mobil-mobil gardan ganda pengangkut kayu yang sanggup melintasi jalan lumpur menuju dusun tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                    ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    MINGGU siang siswa SD Sigoring-goring tetap masuk sekolah. Mereka libur pada hari Kamis bersamaan dengan pekan di kota Binanga. Saat hari pekan, orangtua termasuk Raja Dima bisanya pergi ke kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli barang kebutuhan selama seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Siang itu para siswa yang berseragam coklat bercampur dengan yang berseragam merah putih dan sebagian lainnya yang tidak berseragam. Hampir semua anak tidak memakai alas kaki, sedangkan Raja Dima hanya mengenakan sandal jepit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tak seorang siswa pun yang memiliki buku-buku pelajaran. Mereka hanya mengandalkan keterangan dari guru yang menggunakan materi pelajaran dari buku-buku yang sudah kedaluwarsa tersebut. Kendati demikian, anak-anak itu mencatat pelajaran di buku tulis mereka dengan semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bocah-bocah dusun tersebut belajar di dalam bangunan tunggal  sekolah dari papan yang dibagi menjadi dua ruangan dan dibatasi sekat papan semiterbuka. Terdapat dua papan tulis yang dipakai secara bersama-sama oleh lima kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah menuliskan pelajaran untuk kelas I, Raja Dima kemudian menghapusnya dan ganti menuliskan bahan pelajaran untuk kelas II, demikian seterusnya. Raja Dima juga harus hilir mudik menerangkan pelajaran yang ditulisnya di dua papan tulis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Sekarang pertanyaan untuk kelas III, orang yang pekerjaannya mencari ikan di laut apa?" kata Raja Dima. Suasana hening. Tak seorang siswa pun menjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mungkin akan dijawab dengan mudah oleh anak-anak SD kelas I di kota  itu terasa sulit bagi anak-anak dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Raja Dima harus menjawab sendiri pertanyaannya. Dengan sabar ia menerangkan, ada dunia di luar sana yang digeluti oleh nelayan."Nelayan ini harus bekerja keras untuk hidup, sepertibapak-bapak kalian yang menjadi petani. Bedanya, kalau petani bekerja di ladang dengan parang dan cangkul, nelayan bekerja di laut dengan jala dan pancing," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Raja Dima menjadi guru di sekolah tersebut sejak bulan Desember 2004. Guru sebelumnya mengundurkan diri pada bulan Oktober 2004 sehingga selama tiga bulan kegiatan belajar-mengajar di SD tersebut sempat terhenti. "Karena tidak ada yang mau mengajar, saya kasihan kepada anak-anak. Apalagi banyak orangtua murid berharap saya bisa mengajar anak-anak itu. Akhirnya saya jadi guru mereka," kata lelaki lulusan madrasah aliah negeri (MAN) di Gunung Tua, Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Di sini guru dibayar dengan beras sebanyak 80 kaleng setahun. Jelas bayaran tersebut tidak memadai sehingga kebanyakan tidak tahan. Tetapi, saya tidak bisa menuntut bayaran lebih karena memang masyarakat di sini juga tidak mampu. Toh dua anak saya juga ikut sekolah di sini," kata lelaki yang juga alumni SD Sigoring-goring itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, Raja Dima lebih mengandalkan kerja kerasnya sebagai petani. Lelaki muda berputra tiga ini menggarap sawah sekitar 2.500 meter persegi yang menghasilkan beras sebanyak 100 kaleng. Beras sejumlah itu biasanya cukup untuk makan sehari-hari dan sisanya dijual untuk biaya hidup. Semenjak dia menjadi guru, pengelolaan sawah lebih banyak dilakukan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk kebutuhan sehari-hari, Raja Dima dan warga desa yang lain mengandalkan hasil tanaman karet yang ditanam di tanah adat Desa  Pangirkiran. Rata-rata per orang memiliki dua hektar yang ditanami 200 pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, semenjak enam bulan lalu ladang karet warga Desa Pangirkiran, termasuk milik warga Sigoring-goring, musnah dibakar bersamaan dengan pembakaran oleh perusahaan perkebunan nasional yang hendak membuka kebun sawit di kawasan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam pembakaran itu, 17 rumah warga Sibenggol serta satu sekolah dan mushala ikut dibakar. Kini warga Sibenggol mengungsi ke dusun-dusun lain di Desa Pangirkiran, termasuk di Dusun Sigoring-goring. Raja Dima dan warga desa lain yang terdiri dari enam dusun sempat melawan perusahaan tersebut. Namun, mereka kalah. Saat ini Dusun Sibenggol dan bekas ladang mereka telah dikelilingi parit oleh perusahaan tersebut. Tak seorang warga dusun pun yang berani ke sana karena tanah tersebut dijaga para centeng yang bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Kami miskin. Dan orang miskin dalam cerita negeri ini selalu kalah," kata Raja Dima. Ia mengaku sempat memimpin perlawanan dengan melakukan demonstrasi ke kabupaten. Bukti perlawanan itu, yaitu berupa bait-bait puisi Darah Juang karya Wiji Thukul, masih ditempel di dinding kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Di sini negeri kami, tempat padi terhampar, samuderanya kaya raya, tanah kami subur Tuhan. Di negeri kami ini berjuta anak rakyat tertindas duka, anak tani tak sekolah, pemuda tak bekerja...Puisi-puisi ini sepertinya mewakili suara kami. Saya mendapatkannya dari teman-teman dari Bina Keterampilan Desa yang mendampingi warga di sini. Biarlah puisi ini tertempel di kelas ini agar terus dibaca anak-anak kami sebagai bukti perlawanan orangtua mereka," kata Raja Dima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini harapan Raja Dima memang kian pupus. Bayang-bayang kekalahan tak terelakkan. Masa depan suram anak-anak didiknya, termasuk anak-anaknya, menggelisahkannya tiap hari. "Entah mau jadi apa anak-anak nantinya? Tanah-tanah terus direbut bahkan rumah dan kebun dibakar habis. Tetapi, siapa juga yang peduli?" kata Raja Dima, seolah bicara pada dirinya sendiri. (AHMAD ARIF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ayiek.multiply.com/journal/item/2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5932105000287857064?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5932105000287857064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5932105000287857064' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5932105000287857064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5932105000287857064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/kisah-guru-desa-kisah-tentang.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-6254059085400027485</id><published>2007-07-07T10:03:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T10:04:37.509-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ajaran Islam Jamaah Oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis Diharamkan di Malaysia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New Straits Times&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE Selangor Islamic Affairs Department (JAIS) is monitoring nine deviant groups — all but one have been banned — that it suspects are operating in the state. The department has issued fatwa against their teachings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. The teachings of Banuar Roslan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Banuar Roslan, 63, from Batu Pahat, Johor, who is a traditional healer with education up to Standard Six at a Malay school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Based in Kampung Bukit Kapar, Klang. Conducts "healing" sessions, especially for women, which contain sexual elements. A JAIS official says one ritual involves bathing ceremonies where the patient is asked to strip down to her underwear, earning the group’s leader the nickname of "Bikini Banuar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: July 20, 2000&lt;br /&gt;Gazetted: July 5, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hassan Jonit’s knowledge of truth teachings&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Hassan Jonit, 73, from Malacca, who lives in Ampang. He was educated at a religious school in Johor, and up to Standard Three at a Malay school in Malacca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Now based in Batu Arang, Rawang, the group was formed about 15 years ago. Hassan claims of being able to meet God and the Prophet, and that he is able to govern his followers’ dreams.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: March 23, 1998&lt;br /&gt;Gazetted: Sept 24, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. The Qadiani Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, who founded the group in 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Selangor’s oldest deviant group, the name Qadiani is taken from Qadian, the village in India where Mirza was born. The group came to the country in the 1930s, and is based in Jeram, Kuala Selangor. In 1953, a debate between the group and an ulama was held, witnessed by the Sultan of Selangor. The group was declared as having left Islam. Among the group’s deviant traits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mirza’s claim of being a prophet as well as the Imam Mahdi;&lt;br /&gt;• That the haj can be performed in Qadian, India; and,&lt;br /&gt;• Making alterations to the verses in the Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: Nov 25, 1975&lt;br /&gt;Gazetted: Sept 24, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. The teachings of Tijah @ Khatijah Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Khatijah Ali, 53, from Kuala Besut, Terengganu, who lives in Puchong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Khatijah received instructions from pondok religious schoolteachers. Among her teachings’ deviant traits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Regards the words of Sufi leaders as Hadith; and,&lt;br /&gt;• Performs the religious act of zikir to the extent of reaching a trance-like state.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: Feb 12, 1998&lt;br /&gt;Gazetted: Sept 24, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tarikat Samaniah Ibrahim Bonjol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Indonesian Ibrahim Abdullah, better known as Ibrahim Bonjol, who was born in the 1920s in Sumatra. He died in 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Ibrahim was a supporter of D.N. Aidid, who led the Indonesian Communist Party. Ibrahim visited Malaya in 1935 and managed to lure a number of VIPs. When Ibrahim failed to obtain a visa to enter Malaysia some decades later, he tried to get his followers to attack the Malaysian consulate in Medan, Sumatra. In Selangor, three centres were set up to cater for the Cheras, Petaling Jaya and Sepang areas. Among the group’s deviant traits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Regards the Quran as being merely a historical record; and,&lt;br /&gt;• Claims that prayers can be done by the expression of intent (niat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: Jan 19, 1998&lt;br /&gt;Gazetted: Sept 24, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. The teachings of Islam Jamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Indonesian Nurhasan Al Ubaidah Lubis, who was born in 1948.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: The group believes that only its followers are Muslims and that everyone else is infidel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: Feb 12, 1998&lt;br /&gt;Gazetted: Sept 24, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kahfi Youth Movement&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Unknown&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Believed to have ties with a deviant sect from Indonesia known as the Negara Islam Indonesia. The group targets young professionals and conducts Quran classes. Their aim is to create a "true" Islamic government in the country. The group is being investigated by JAIS and the police.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Rufaqa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Not available&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Description: Authorities believe there is an attempt to revive the deviant teachings of the banned al-Arqam group by individuals linked to Rufaqa Corporation Sdn Bhd. Run by former al-Arqam members, the company denies any involvement although several states including Selangor, Malacca and Negri Sembilan have issued fatwa banning Rufaqa’s teachings due to their similarities with al-Arqam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: Dec 10, 2006&lt;br /&gt;Gazetted: Date not available&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. The Kahar Ahmad Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leader: Kahar Ahmad, 56, from Hulu Klang, who was educated up to Standard Five at a Malay school. He was given religious lessons by his father, the imam of the Hulu Klang mosque. Among the group’s deviant traits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kahar’s claims to be a prophet; and,&lt;br /&gt;• Does not believe that Muslims are obliged to pray five times daily since "prayer" can be performed merely by doing good deeds and refraining from speaking bad things.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa issued: March 28, 1991&lt;br /&gt;Gazetted: Aug 29, 1991&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-6254059085400027485?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/6254059085400027485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=6254059085400027485' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6254059085400027485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/6254059085400027485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/ajaran-islam-jamaah-oleh-nurhasan-al.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-45231459018813672</id><published>2007-07-07T09:43:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T09:55:32.882-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Seputar Islam Jamaah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM JAMA'AH/LEMKARI/LDII (LEMBAGA DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUKADIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk kepada cahaya iman, Dien yang lurus yaitu agama Islam melalui hamba pilihan-Nya Muhammad SAW. Dan yang telah meneguhkan hati para hambanya yang teguh dalam memegang aqidah yang lurus. Shalawat dan salam teriring kepada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW, Nabi yang terakhir, juga kepada para keluarga dan para sahabatnya serta kaum Muslimin/muslimat yang teguh mengikuti ajaran dan aqidahnya sampai akhir jaman, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya gerakan (&lt;em&gt;harakah&lt;/em&gt;) aliran-aliran sesat di Indonesia yang sudah tersebar luas di penjuru tanah air, sudah sangat meresahkan masyarakat. Pengaruh ajarannya telah dapat mengubah gaya dan cara hidup (&lt;em&gt;way of life&lt;/em&gt;) bagi pengikutnya. Gerakan mereka sangat halus dan pintar sehingga tidak semua orang memahami bahwa aliran dan ajarannya menyesatkan. Hanya dengan pertolongan dan petunjuk, taufik dan hidayah Allah SWT melalui pemahaman prinsip-prinsip aqidah yang lurus dalam risalah Islam (&lt;em&gt;Islamic Message&lt;/em&gt;) yang dapat mengetahui dan membedakan pemahaman yang benar dari pemahaman yang menyimpang dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW telah menjamin akan adanya segolongan umat yang tetap atas kebenaran hingga hari kiyamat. Rasulullah SAW. telah bersabda:"Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu."&lt;br /&gt;(Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segolongan umat itu adalah yang telah disebut di atas sebagai satu golongan yang masih mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW yang akan selamat yaitu Ahli Sunnah wal Jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu difahami bagi kita bahwa banyaknya organisasi-organisasi keagamaan dalam Islam tidak mesti menunjukkan perpecahan Islam, seperti misalnya NU, Muhamadiayah, Al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis), Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, kelompok Mujahidin, kelompok FPI, kelompok Laskar Jihad dan lain-lain sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sekelompok orang memiliki visi dan misi yang sama dalam meningkatkan pemberdayaan sosial keagamaan, maka terbentuklah berbagai macam organisasi keagamaan dengan corak khasnya masing-masing. Maka dilihat dari segi prinsip keimanan atau aqidah secara umum, organisasi-organisasi tersebut di atas tidaklah menunjukkan berpecah-belahnya ummat, mereka itu semua dilihat dari ciri-ciri aqidah yang dianutnya merupakan ummat yang satu, yaitu Ahli Sunah wal Jama'ah/Islam Suni. Hanya saja satu dengan yang lainnya memiliki derajat kebenaran dan kesalahan yang berbeda (tingkat ke-SUNI-annya berbeda), dari yang terbanyak kesalahannya sampai yang paling sedikit kesalahannya. Hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki derajat kefahaman yang berbeda dalam beragama, terutama dalam hal ini mengenai hal yang bersifat cabang (&lt;em&gt;furu'&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perbedaan itu memang kemudian timbul perselisihan (&lt;em&gt;ikhtilaf&lt;/em&gt;), seperti kita ketahui perseteruan dua organisasi besar NU dengan Muhamadiyah. Akan tetapi ikhtilaf yang terjadi antara kedua organisasi besar Islam di Indonesia itu masih dalam batas toleransi. Jika kemudian di dalam perbedaa-perbedaan atau ikhtilaf diantara kelompok organisasi yang ada itu menjurus kepada fanatisme sempit, maka akan mengakibatkan konflik dan umat akan berpecah-pecah. Ini yang harus dihindari dan para ulama atau pemimpin umat harus memperhatikan masalah serius ini. Dilihat dari sudut pandang ini, terdapat kelemahan dalam berorganisasi karena akan timbulnya fanatism kelompok/ golongan dan kelemahan ini lebih jauh akan dapat menjurus kepada kesesatan karena akan lebih mementingkan kelompoknya dan lupa bahwa sesungguhnya perjuangan yang hendak dicapai adalah menegakkan agama Allah, bertakwa/ beribadah untuk mencapai keridhoan dan kasih sayang-Nya. Lebih amannya adalah individu yang dalam beribadah dan perjuangan agamanya baik ikut maupun tidak berorganisasi tidak membawa simbul golongan/kelompok/organisasi atau apapun bentuknya yang penting adalah "kami dengar dan kami taat" dengan niat yang ikhlas beribadah menuju kebenaran untuk mencapai ridha dan kasih sayang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi juga tidak dapat dipungkiri akan dampak positif dari adanya suatu organisasi masa keagamaan yaitu akan meningkatkan kekuatan atau potensi umat Islam untuk kemaslahatan bersama. sehingga akan memiliki daya saing dan daya tahan yang lebih kuat terhadap tekanan dari luar atau umat-umat lainnya. Sehingga perlu adanya jalan tengah dalam hal ini supaya menghasilkan out put yang positif sebesar-besarnya dan negatif sekecil-kecilnya bagi kehidupan beragama dalam Islam. Sehingga timbulnya ikhtilaf tidak berarti menyebabkan perpecahan (&lt;em&gt;iftiraq&lt;/em&gt;), tidak semua ikhtilaf berakibat perpecahan. Inilah yang lebih mendekati dari pemahaman bahwa perbedaan pendapat dalam Islam itu merupakan suatu rahmat. Maka di masing-masing pihak yang berbeda pendapat dalam hal ini tidak boleh memvonis kafir atau mengeluarkan salah satu pihak dari Ahli Sunnah wal Jama'ah. Karena perbedaan disini terjadi dengan adanya ijtihad yang berbeda mengenai suatu hukum yang tidak dijumpai secara jelas baik di dalam Al-Qur'an maupun hadits. Dan Rasulullah SAW. sendiri telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila seorang hakim berijtihad dan ia benar mendapatkan dua pahala. Bila ia berijtihad dan salah maka ia hanya mendapatkan satu pahala."&lt;br /&gt;(HR. Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad ulama dalam masalah hukum itu seperti ijtihadnya orang yang mencari arah Ka'bah. Bila empat orang shalat dan setiap orang menghadap ke suatu arah yang ia yakini sebagai arah kiblat, maka shalat keempat orang itu sah dan benar. Sedangkan yang shalat menghadap Ka'bah dengan tepat hanya satu dan dialah yang mendapatkan dua pahala. (Demikian, pernah dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perbedaan seseorang di dalam menempuh jalan yang benar, beragama dengan aqidah yang lurus diibaratkan sebagai orang yang mencari Ka'bah di hamparan bumi yang datar. Keempat orang yang shalat dengan menghadap kepada arahnya masing-masing, meyakini arahnya benar menuju Ka'bah, maka yang jalannya menuju kearah yang benar hanya satu, dialah yang akan menemukan Ka'bahnya. Sedangkan yang lainnya masing-masing yang satu berlawanan dan yang dua menyimpang, maka mereka tidak akan menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan aliran-aliran pemahaman yang telah benar-benar keliru dan jauh menyimpang dalam hal-hal prinsip yang mendasar, maka ini termasuk kedalam golongan yang ajarannya menyesatkan. Kesalahan atau penyimpangan yang merupakan hal prinsip seperti ini misalnya membolehkan seorang muslim tidak shalat tanpa alasan, mewajibkan seorang Muslim berbai'at kepada hanya seorang imam dalam aliran itu, mengkafirkan orang Muslim lain yang tidak bergabung dalam kelompoknya, meyakini firman Allah adalah makhluk dan semacamnya yang oleh para ulama salaf telah bersepakat (&lt;em&gt;ijma&lt;/em&gt;) dengan kesepakatan dan pemahaman yang lurus berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka jika menyimpang dan berlawanan dari padanya, maka yang demikian itu termasuk kedalam aliran pemikiran Islam yang ekstrim dan sesat dan bukan golongan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran sempalan yang telah menyimpang dari pemahaman Al-Qur'an dan As-Sunnah yang benar sesuai pemahaman ulama Salaf, telah banyak bermunculan, termasuk di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam banyak kelompok/aliran, seperti: Ahmadiyah dari India, Jamus (Jama'ah Muslimin) dari Cileungsi Bogor, LK (Lembaga Karasulan), Isa Bugis, Ingkar Sunnah, kemudian LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) yang akan kita bahas ini dan masih banyak lagi aliran-aliran yang menyesatkan. Di dalam kelompok aliran-aliran sempalan seperti ini banyak dijumpai pemahaman agama yang menyimpang sekehendak para tokoh pimpinan atau para pendiri-pendirinya dengan cara mengambil dalil-dalil diartikan sekehendak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat munculnya berbagai penyimpangan dan munculnya aliran-aliran menyesatkan telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan "Khairil Bariyah" (maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka.&lt;br /&gt;(Hadits Sahih riwayat Imam Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Al-Irbadh bin Suriyah r.a. berkata: Rasulullah SAW. pernah bersabda: "Saya berpesan kepada kamu sekalian, hendaklah kamu takut kepada Allah dan mendengarkan serta patuh, sekalipun kepada bangsa Habsy, karena sesungguhnya orang yang hidup antara kamu sekalian di kemudian aku, maka akan melihat perselisihan yang banyak; maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khulafah yang menetapi petunjuk yang benar; hendaklah kamu pegang teguh akan dia dan kamu gigitlah dengan geraham-geraham gigi, dan kamu jauhilah akan perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang baru diadakan itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat."&lt;br /&gt;(Hadits riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Ibnu 'Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW. pernah bersabda: "Sesungguhnya di masa kemudian aku akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman." Seorang sahabat bertanya: "Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: 'Kami telah beriman'." Rasulullah SAW. bersabda: "Ya, karena mengada-adakan di dalam agama, apabila mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya."&lt;br /&gt;(Hadits riwayat Ath-Thabarani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka telah kita ketahui bersama datangnya jaman penuh dengan fitnah dan banyaknya aliran/firqah. Oleh karena itu kami mengajak kepada diri kami dan juga kepada kaum Muslimin sekalian, tetaplah berpegang teguh dengan keimanan dan prinsip aqidah yang lurus dan benar mengikuti jejak ulama yang lurus sesuai pemahaman generasi slafus solih yang mengikuti sunnah Rasul dan menetapi kewajiban bertakwa kepada Allah SWT .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada yang masih merasa bingung dan ragu karena telah mengikuti pengajian suatu kelompok aliran dan kemudian diajak, dirayu atau dibujuk untuk mengikuti suatu organisasi atau aliran tertentu hendaknya jangan langsung menerima sebelum meminta pendapat dari orang-orang alim dan tokoh-tokoh agama yang lurus, juga kepada pihak-pihak lain yang dapat dimintai keterangannya dengan benar dan obyektif. Dan utama adalah memohon petunjuk jalan yang lurus kepada Allah SWT Yang Maha Benar. Tiada yang dapat menyesatkan seseorang yang Allah tunjuki kepadanya jalan yang lurus. Dan tiada yang dapat menunjukan kepada jalan yang lurus yang Allah sesatkan kepadanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk dan semoga kita termasuk orang yang ditunjukan dan menempuh jalan yang lurus dengan taufik dan hidayah-Nya, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini pengkajian tentang LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) yang dalam sifat sebagian besar menyerupai keyakinan Khawarij. Maka kelompok jama'ah ini termasuk kedalam firqah Khawarij (Lebih tepatnya: Khawarij gaya baru, asal Jawa Timur, Indonesia) yang telah dinyatakan sebagai aliran sesat oleh LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) berdasarkan dari penelitian dan penelusuran yang mendalam serta dari pengakuan bekas-bekas gembong LDII itu sendiri yang telah keluar dan insyaf. Semoga kajian ini menjadi petunjuk kepada setiap Muslim untuk memperoleh gambaran tentang LDII yang lebih jelas, obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG LDII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIRI LDII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasas dan pemimpin tertinggi pertamanya adalah Madekal/Madigol. Nama kebesaran dalam aliran kelompoknya adalah Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir. Dan nama kecilnya ialah Madekal/Madigol atau Muhammad Medigol, asli pribumi Jawa Timur. Ayahnya bernama Abdul Azis bin Thahir bin Irsyad. Lahir di Desa Bangi, Kec. Purwoasari, Kab. Kediri Jawa Timur, Indonesia pada tahun 1915 M (Tahun 1908 menurut versi Mundzir Thahir, keponakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAL MUNCULNYA LDII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama'ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama'ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972). Namun dengan adanya UU No. 8 tahun 1985, LEMKARI sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai MUBES II tahun 1981 ganti nama dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat juga LEMKARI (1981). Pengikut aliran tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR, kemudian LEMKARI berafiliasi ke GOLKAR&lt;br /&gt;Dan kemudian berganti nama lagi sesuai keputusan konggres/muktamar LEMKARI tahun 1990 dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Perubahan nama tersebut dengan maksud menghilangkan citra lama LEMKARI yang tidak baik di mata masyarakat. Disamping itu agar tidak jumbuh dengan nama singkatan dari Lembaga Karatedo Indonesia. kini plang-plang LDII telah tersebar di penjuru tanah air sampai ke pelosok desa. Di permukaan orangnya kelihatan Islami dan lurus, tetapi di dalamnya tersimpan kesesatan yang luar biasa. Dan orang awam tidak mudah mengetahui kesesatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota atau daerah asal mula munculnya Islam Jama'ah/Lemkari atau sekarang disebut LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Desa Burengan Banjaran, di tengah-tengah kota Kediri, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Desa Gadingmangu, Kec. Perak, Kab. Jombang, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Desa Pelem di tengah-tengah kota Kertosono, Kab. Nganjuk, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Sekitar tahun 1940-an sepulang Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) dari mukimnya selama 10 tahun di Makkah, saat itulah masa awal dia menyampaikan ilmu hadits manqulnya, juga mengajarkan ilmu bela diri pencak silat kanuragan serta qiroat. Selain itu juga ia terus memelihara hobi utamanya yaitu hobi kawin cerai, terutama mengincar janda-janda kaya. Hobi itu benar-benar ia tekuni hingga ia tewas di Cirebon karena kecelakaan lalulintas pada 13 Maret 1982. Hobi lainnya adalah mengkafir-kafirkan dan mencaci maki para kiyai/ulama yang diluar aliran kelompoknya dengan cacian dan makian sumpah serapah yang keji dan kotor. Dia sering menyebut-nyebut ulama yang kita kaum Suni muliakan yaitu Prof. Dr. Buya Hamka dan Imam Ghozali dengan sebutan (maaf, pen) Prof. Dr. Buaya Hamqo dan Imam Gronzali. Juga dia sangat hobi membakar kitab-kitab kuning pegangan para kiyai/ulama NU kebanyakan dengan membakarnya di depan para murid-murid dan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Masa membangun Asrama Pengajian Darul Hadits berikut pesantren-pesantrennya di Jombang, Kediri, dan di Jl. Petojo Sabangan Jakarta sampai dengan masa Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep asal doktrin imamah dan jama'ah (yaitu : Bai'at, Amir, Jama'ah, Taat) dari seorang Jama'atul Muslimin Hizbullah, yaitu Wali al-Fatah, yang dibai'at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama'ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu itu Wali al-Fatah adalah kepala biro politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Masa pendalaman manqul Qur'an Hadits, tentang konsep Bai'at, Amir, Jama'ah dan Ta'at, itu sampai tahun 1960. Yaitu ketika ratusan jama'ah pengajian Asrama manqul Qur'an Hadits di Desa Gadingmangu menangis meminta Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol)mau dibai'at dan ditetapkan menjadi imam/amir mu'minin alirannya. Mereka semuanya menyatakan sanggup taat dengan dikuatkan masing-masing berjabat tangan dengan Madigol sambil mengucapkan Syahadat, shalawat dan kata-kata sakti ucapan bai'atnya masing-masing antara lain : "Sami'na wa atho'na Mastatho 'na" sebagai pernyataan sumpah untuk tetap setia menetapi program 5 bab atau "Sistem 3 5 4." Belakangan yang menjadi petugas utama untuk mendoktrin, menggiring dan menjebak sebanyak-banyaknya orang mau berbai'at kepada dia adalah Bambang Irawan Hafiluddin yang sejak itu menjadi Antek Besar sang Madigol. Namun Alhamdulillah Bambang Irawan Hafiluddin dengan petunjuk, taufik dari Allah SWT, telah keluar dari aliran sesat ini dan mengungkap rahasia LDII itu sendiri. Syukurlah kedok-kedok kaum sesat sedikit demi sedikit Allah SWT sendiri yang menyingkapnya kepada golongan yang masih lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Masa bergabungnya si Bambang Irawan Hafiluddin (yang diikuti juga oleh Drs. Nur Hasyim, Raden Eddy Masiadi, Notaris Mudiyomo dan Hasyim Rifa'i) sampai dengan masa pembinaan aktif oleh mendiang Jenderal Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo berikut para perwira OPSUSnya yaitu masa pembinaan dengan naungan surat sakti BAPILU SEKBER GOLKAR: SK No. KEP. 2707/BAPILO/SBK/1971 dan radiogram PANGKOPKAMTIB No. TR 105/KOPKAM/III/1971 atau masa LEMKARI sampai dengan saat LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Masa LEMKARI diganti nama oleh Jenderal Rudini (Mendagri 1990/1991 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) yaitu masa mabuk kemenangan, karena merasa berhasil Go-Internasional, masa sukses besar setelah antek-antek Madigol berhasil menembus Singapura, Malaysia, Saudi Arabia (bahkan kota suci Makkah) kemudian menembus Amerika Serikat dan Eropa, bahkan sekarang Australia dengan siasat Taqiyyahnya: Fathonah,&lt;br /&gt;Bithonah, Budiluhur Luhuringbudi, yang lebih-lebih tega hati dan canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOKOH-TOKOH PENDUKUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh pendukung yang ikut membesarkannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Di atas puncak tertinggi sebagai penguasa atau imam adalah imam amirul mu'min. Sejak wafatnya Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol), tahta itu dijabat langsung oleh anaknya yaitu Abdul Dhohir bin Madigol didampingi adik-adik kandungnya: Abdul Aziz, Abdus Salam, Muhammad Daud, Sumaida'u (serta suaminya yaitu Muhammad Yusuf sebagai bendahara) dan si bungsu Abdullah. Sang amir dijaga dan dikawal oleh semacam paswal pres yang diberi nama Paku Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Empat wakil terdiri dari empat tokoh kerajaan yaitu Ahmad Sholeh, Carik Affandi, Su'udi Ridwan dan Drs. M Nurzain (setelah meninggal diganti dengan Nurdin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Wakil amir daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Wakil amir desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Wakil amir kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.. Di samping itu ada wakil amir khusus ABRI (TNI/POLRI sekarang), yaitu jama'ah ABRI, RPKAD, BRIMOB, PGT AURI, MARINIR, KOSTRAD, dan lain-lain) dan wakil khusus muhajirin, juga ada tim empat serangkai yang terdiri dari para wakil amir, para aghniya' (orang-orang kaya), para pengurus organisasi (LDII/Pramuka/CAI/dan lain-lain) serta para mubaligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu digerakkan dengan disiplin dan mobilitas komando "Sistem Struktur Kerajaan 354" menjadi kekuatan sihir manqul, berupa: "Bai'at, Amir, Jama'ah, Ta'at" yang selalu ditutup rapat-rapat dengan system: "Taqiyyah, Fathonah, Bithonah, Budi luhur Luhuring Budi karena Allah." Pengembangan dan perluasan daerah kekuasaan LDII telah meliputi daerah-daerah propinsi di seluruh wilayah Indonesia bahkan sudah merambah ke luar negeri seperti: Australia, Amerika Serikat, Eropa, Singapura, Malaysia, Arab Saudi. lebih dari itu mereka sudah memiliki istana dan markas besar di kota Suci Makkah yang berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah terutama pada musim haji dan umrah sekaligus sebagai tempat mengulang dan mengukuhkan sumpah bai'at para jama'ahnya. Setiap tahunnya mereka selalu berkumpul yakni beribu-ribu jamaah LDII dari seluruh penjuru dunia termasuk para TKI/TKW yang melaksanakan haji dan umrah bersama sang amir. Adapun istana dan markas besar LDII tersebut: yang satu di kawasan Ja'fariyyah di belakang makam Ummul Mu'minin Siti Khodijah R.A. dan di kawasan Khut Aziziyyah Makkah di dekat Mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGGALANGAN DANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalangan dana dari pengikut LDII sangat diutamakan dan dijadikan ukuran kesetiaan dan kesungguhan dari bai'at sumpahnya kepada jama'ah. Penggalangan dananya terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Infak mutlak wajib, sebesar 10% dari setiap pendapatan/penghasilan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Infak pengajian juma'atan, Ramadhan, Lailatur Qadar, Hari Raya dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Infak shadaqoh pembelaan fi sabilillah untuk pembangunan pesantren/markas masjid dsb, atau untuk uang sumbangan yang diberikan demi mengamankan kelompok aliran LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Infak shadaqoh rengkean, berupa penyerahan bahan-bahan &lt;em&gt;in-natura &lt;/em&gt;kepada sang amir (berupa bahan makanan, pakaian dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Zakat, Hibah, Wakaf dan pembagian warisan dari anggota jama'ahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.. Saham haji, saham PT/CV, usaha bisnis perkebunan teh dan pabrik-pabriknya, pabrik beras/huller, pom-pom bensin, pasar, took/ruko, &lt;em&gt;mix farming&lt;/em&gt;, the hijau &lt;em&gt;cap&lt;/em&gt; korma, &lt;em&gt;real estate &lt;/em&gt;dan KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) antara lain KBIH "Nurul Aini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.. Dan usaha-usaha lain (usaha-usaha khusus yang dirahasiakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu canggih dan suksesnya dalam taktik dan siasat manajemen system mafia yang dikelola dan direkayasa jama'ah aliran ini, apa lagi dengan dukungan partai besar (GOLKAR) yang selama tidak kurang dari 30 berkuasa di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POKOK-POKOK DOKTRIN LDII YANG MENYESATKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok-pokok doktrin yang dapat menjebak orang-orang yang masih lugu dan belum mengerti agama dan yang dapat menyesatkan atau sebagai system sihir mautnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Sistem Ilmu Manqul Musnad Muttasil (system belenggu otak/system Brain Washing) melalui disiplin pengajian dengan ilmu agama pemahaman/buatan sendiri, terus menerus digencarkan dengan metode (CBSA tradisional yang canggih) yaitu Sorongan Bandongan Qur'an Hadits Jama'ah (jama'ah Qur'an Hadits), yaitu Qur'an dan Hadits yang manqul dari sang amir Madigol Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Sistem manqul, bai'at, amir, jama'ah, ta'at. Yaitu sistem yang membelenggu orang yang sudah terlanjur ikut LDII, yang intinya adalah menghancurkan akal sehat, merusak akidah yang lurus dan akhlak mulia. Maka para pengikut/jama'ah kelompok aliran LDII secara tidak sadar telah menjadi budak dan robot bagi para pemimpin aliran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Sistem Taqiyyah, berupa "Fathonah, Bithonah, Budiluhur Luhuring Budi karena Allah." Dengan menggunakan istilah-istilah yang Islami dan mulia, orang-orang yang tidak mengerti menjadi percaya dan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Sistem Mukhlis Lillah karena Allah, yaitu tujuan utama jihadnya karena ingin masuk sorga dan takut neraka. Terus menerus diulang dan ditekankan basyiran wa nadziran. Dengan menggunakan istilah kepada tujuan Allah dan surga serta takut neraka ini mantaplah sudah bagi orang yang telah terjebak menjadi sangat yakin dan fanatik kepada alirannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Sistem program 5 bab atau "system 354".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.. Sistem ala Yahudi. Selalu merasa kelompok alirannya yang benar, selalu mengukur kebenaran dengan dirinya dan kelompoknya saja, sehingga tidak lepas aliran kelompok ini dari sifat-sifat ujub, takabur dan sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.. Dalam konsep kerja operasionalnya, wajib selalu menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.. Sistem filsafat buah pisang dan pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.. Sistem poligami ala manqul amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.. Sistem sakralisasi, mengkultusindividukan kepada sang amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.. Sistem pengajian daerahan sebagai latihan dan praktik taat kepada amir dan sambung jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.. Sistem pembentukan Muhajirin dan Anshor. Desa Gading Mangu, Perak, Jombang, Jawa Timur menjadi kawasan real estate daerah muhajirin Jawa Timuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.. Sistem jama'ah ABRI (TNI/POLRI sekarang), yang digunakan atau diperalat untuk melindungi dan membentengi kelompok aliran LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.. Sistem SK (surat keputusan) sang amir Nurhasan Madigol tentang suksesi keamiran (pergantian kepemimpinan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.. Sistem DMC (djama'ah &lt;em&gt;motor club&lt;/em&gt;) dengan armada &lt;em&gt;Harley Davison &lt;/em&gt;dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.. Sistem pengajian Asrama Gribigan Hataman manqul Qur'an Hadits dengan selingan-selingan pesta pora dan latihan ketaatan kepada amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.. Sistem perintah amir, wajib membela alirannya dan wajib mempersiapkannya dengan berbagai macam kegiatan latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.. Setiap tahun mengirimkan jama'ah untuk haji dan umrah dengan cara dan keyakinan alirannya. Juga untuk menjadi TKI/TKW atau mukimin gelap di Saudi Arabia, markasnya di Khut Aziziyyah Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.. Mencetak sebanyak-banyaknya kader-kader mubaligh laki-laki dan perempuan, juga mubaligh cabe rawit yang dicekoki dengan persiapan dalil-dalil untuk berdebat agar kelihatan fasih dan kepintarannya bagi orang awam, jika para mubaligh ini kewalahan bertemu dengan orang yang sedikit pinter mengenai aqidah yang lurus, maka mengajaknya untuk bertemu dengan pemimpin atasannya yang lebih banyak menghafal dalil-dalil untuk berdebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.. Sistem nasehat amir, yaitu istilah-istilah atau semboyan buatan sang amir untuk menambah keyakinan dan semangat para jama'ahnya, seperti: ribuan rintangan, jutaan pertolongan, miliaran kemenangan, surga pasti. Kebo-kebo maju. Barongan-barongan mundur dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.. Sistem memperbanyak markas dan pesantren-pesantren mini di seluruh dunia untuk kepentingan mencetak kader-kader jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.. Sistem fatwa amir. Yaitu yang menyatakan bahwa di seluruh jagat dunia ini satu-satunya aliran/jalan mutlak untuk selamat dari neraka dan masuk surga hanyalah aliran LDII dengan pegangan kitab campur sari rekayasa sendiri yaitu Qur'an Hadits Jama'ah/Jama'ah Qur'an Hadits Program 5 Bab dengan system 354. di luar itu pastilah kafir dan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.. Sistem klaim amir: 7 fakta sahnya keamiran jama'ah menurut Qur'an dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.. Sistem kitab-kitab himpunan dalil yang mencakup fiqh model aliran LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.. Sistem pernyataan taubat kepada amir yang sifat taubatnya ditentukan amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.. Sistem nasehat amir dengan mengulang-ulang dalil : &lt;em&gt;laa Islama illa bil jama'ah &lt;/em&gt;dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.. Sistem nasehat amir bahwa sumber hukum syariat Islam menurut aliran LDII itu ada tiga, yaitu Allah, Rasul dan amir, maka wajiblah ada tiga jenis pengajian: ngaji Allah, ngaji Rasul dan ngaji amir. Dan sumber hukum syariat yang dari sang amirlah yang utama dan nomor satu. Dalam hal ini kelompok aliran LDII telah membuat/merekayasa pemahaman agama Islam dengan diramu sedemikan rupa sesuai dengan kepentingan tujuannya dan seleranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.. Sistem adanya sumur barokah di pondok kediri yang disambungkan dengan sumur Zam-Zam di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.. Sistem nasehat amir bahwa Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) itu lebih tinggi derajatnya dan lebih berat bobotnya dari pada manusia sedunia, maka wajiblah para jama'ah bersyukur kepada sang amir. Sebab dengan adanya sang amir maka jama'ah pasti masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.. Sistem nasehat amir bahwa semua alim ulama di luar aliran kelompok jama'ah LDII itu bodoh, lalai, khianat, pelupa, pikun, ilmunya tidak sah atau batil dan orangnya diyakini pasti kafir dan ahli neraka, kekal. Dalam menanamkan keyakinan pada para jamaah mereka dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kalau saudara-saudara mengira diluar kita masih ada orang yang bisa masuk sorga maka sebelum berdiri, saudara sudah kafir (faroqol jama’ah/memisahkan diri dari jama’ah),sudah murtad harus tobat dan dibai’at kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Orang keluar dari jama’ah kok masih ngaji, shalat dan puasa, itu lebih bodoh dari pada orang kafir, sebab orang-orang kafir tahu kalau akan masuk neraka, maka mereka hidup bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian itulah gambaran konsep-konsep yang diterapkan kelompok aliran LDII yang mungkin boleh jadi konsep-konsep itu akan berubah atau bertambah dan sebagainya demi lebih meyakinkan para pengikutnya dan demi menggaet orang-orang yang belum masuk menjadi anggotanya. Maka jika dilihat pada permukaannya, aliran ini tertutup bagi orang diluar alirannya. Kepada orang-orang yang masih bimbang untuk dibujuk masuk, mereka lebih menampakan kepada akhlak yang secara dhahir lebih Islami, dengan berjenggot dan celana yang di atas mata kaki dengan fasih mengeluarkan dalil-dalil yang telah dihafalkannya. Maka tertariklah orang yang belum tahu apa-apa, terlebih lagi dengan cekokan surga dan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIK DAKWAHNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memburu, membujuk, menggaet kemudian mendoktrin orang-orang yang menjadi targetnya, LDII menggunakan cara-cara, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Merekayasa disiplin dan mobilitas tinggi pada gerakan-gerakan dakwahnya secara tetap dan baku. Wujudnya berbentuk kerajaan jama'ah. Berpedoman Qur'an manqul amir dan hadits manqul amir, berilmu manqul musnad, muttashil. Berprogram 5 bab: Ngaji, ngamal, bela, jama'ah dan taat. Menamakan dirinya bertujuan masuk surga, agar selamat dari neraka. Bertaqiyyah ketat: Fathonah Bithonah Budi luhur, Luhuring Budi karena Allah. Berbai'at (bersumpah untuk taat kepada amir), beramir, berjama'ah dan bertaat. Berpembinaan sambung-menyambung, turun-temurun ila yaumil qiyamah (sampai hari kiyamat). Bertali pengikat iman yang 4: Mengagungkan sang amir, mensyukuri sang amir, bersungguh-sungguh hati dan berdo'a khusu' (berdo'a memohon agar bisa tetap taat dan mengagungkan sang amir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Dengan semangat berkobar-kobar melaksanakan : sampaikanlah dariku (dari Madigol) walau satu ayat (ayat-ayat yang telah disimpangkan Madigol), jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, bangunlah lalu peringatkanlah. Di mana saja kapan saja, mengajak masuk surga dengan mengajak mengaji manqul dan bai'at kepada amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Melalui pendekatan-pendekatan pribadi secara halus, luwes, supel, telaten tapi menjebak menuju kepada ajaran sesat (untuk masuk mengaji manqul dan bai'at kepada sang amir). Mereka memulai dengan mengaji kitab shalat, kitab dalil, kitab sifatul jannah wan nar, kitab do'a. sesuai sikon sampai ujungnya kitab imaroh/imamah untuk kemudian dibai'at kepada sang amir. Jadi pada mulanya menampakan ajaran yang biasa kepada teman-teman dekatnya, kepada keluarga-keluarga dekatnya yang belum masuk LDII, sehingga tidak mencurigakan apalagi dengan senjata istilah masuk surga dan terhindar neraka, maka kaum yang masih awam bisa langsung percaya. Akan tetapi setelah dibai'at maka kemudian muncullah ajaran-ajaran asli LDII sedikit-demi sedikit, sampai kemudian setelah menjadi fanatik terhadap jama'ahnya maka jadilah ia anggota dan kader jama'ah LDII yang telah aman dari kemungkinan lari dan keluar. Dari setelah dibai'at inilah setiap anggota jama'ah diharamkan mempelajari agama Islam dari luar ajaran LDII, dilarang mengaji kepada jama'ah lain. Maka bagaimanakah bisa membandingkan mana ajaran agama yang benar dan mana yang sesat, seseorang yang semula tidak tahu tentang agama hanya diajarkan dari satu pihak yang kebetulan adalah ajaran yang sesat. Jelas mereka tidak mempercayai kesesatan ajaran terhadap dirinya karena kebodohannya. Maka hanya dengan taufik dan hidayah Allah SWT saja mereka dapat insyaf dan sadar. Maka mereka yang mendapat hidayah kemudian keluar dan menceritakan hal-ikhwal tentang LDII. Banyak yang terheran-heran mengapa pertama ikut tidak menyadari kesesatannya. Banyak juga mereka yang stress mengikuti ajaran LDII yang kemudian lama-kelamaan keluar dengan sendirinya. Dan banyak sekali kejadian-kejadian tentang mereka yang insyaf dari ajaran sesat LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Dengan mengajak naik haji/umrah bergabung dengan rombongan KBIH milik jama'ahnya atau sengaja memburu sasaran selama musim haji untuk dijebak ikut bai'at kepada sang amir di Makkah di markas Khut Aziziyah Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Dengan program dan disiplin tinggi, mereka menyampaikan dakwahnya melalui segala sarana, seperti pada pengajian di kelompok, di desa, di daerah, di pusat jama'ahnya, di kesempatan shalat 'Idul Fitri/Idul Adha yang terpisah dari umat pada umumnya (menyendiri, tidak mau menyatu bercampur beribadah dengan umumnya umat Islam), di kesempatan kegiatan Ramadhan di kesempatan I'tikaf/Lailatur Qadar, di acara kelompok Cinta Alam Indonesia, di kelompok sepak bola, di kampus-kampus, di sekolah-sekolah dan di kesempatan lainnya, dengan memakai teknik bayan penyampaian nasehat/doktrin meniru cara nasehat amir dan memakai teknik pengajian cara belajar siswa aktif Sorongan, Bandongan, sambil menulis arti makna terjemahan kata demi kata, langsung pada kitab Qur'an dan haditsnya masing-masing dengan mengartikan dan memahamkan sesuai pemahaman sang amir aliran sesat LDII, dengan penekanan selalu terus-menerus, dan diulang-ulang tentang mutlak wajibnya manqul, bai'at, amir, jama'ah, taat, system 354.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dakwahnya jelas bukan dakwah karena Allah, tetapi dakwahnya karena manusia, karena sang amir. Karena tunduk dan mengikuti ajaran dari sang amirnya. Kitab-kitab ilmu agamanya dari sang amirnya yang telah diselewengkan dari pemahaman yang benar. Sang amir telah membuat konsep ilmu untuk jama'ah LDII dengan mengambil ayat-ayat dan hadits-hadits yang sesuai dengan seleranya tetapi diartikan/ditakwilkan dengan pemahaman dan kemauan sendiri untuk tujuan membangun jama'ah. Padahal dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang mereka ambil memiliki pemahaman dan arti yang telah di gariskan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. kepada sahabatnya, kemudian kepada generasi berikutnya dan seterusnya yang sekarang disebut dengan pemahaman ulama salaf/ulama-ulama terdahulu generasi pertama sampai ketiga yang lurus dan dapat dipercaya. Karena kelompok jama'ah LDII itu selalu merasa dirinya yang benar, maka mereka cenderung dan menghina orang-orang di luar kelompoknya. Mereka mengkafir-kafirkan semua orang di luar jama'ahnya. Maka oleh benarlah apa yang telah dikatakan oleh LPPI bahwa kelompok LDII itu adalah firqah Khawarij gaya baru, yang takabur, sombong, merasa suci tetapi sesunguhnya licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LDII DAN PENYIMPANGANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali pemahaman-pemahaman jama'ah LDII yang sangat jauh menyimpang dan menyesatkan. Berikut kami paparkan beberapa penyimpangan dan kesesatan pemahaman jama'ah LDII sebagai penerang atau penjelasan lebih detail semoga dapat bermanfaat terutama bagi mereka yang sedang bingung dan ragu karena dibujuk oleh kelompok sesat ini. semoga kaum Muslimin akan memahami dan berhati-hati terhadap bujukan dan rayuan berbagai macam aliran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESESATAN/PENYIMPANGAN LDII DARI SEGI IMAMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok atau pangkal kesesatan Islam Jama'ah/Lemkari/LDII (sekarang: Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) yang utama terletak pada otoritas mutlak bagi imam yang dibai'at, yaitu H. Nurhasa Ubaidah Lubis (Madigol) dengan nama kebesarannya: Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir. Sekarang keamirannya dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Abdul Dhohir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menafsirkan serta mengimplementasikan Al-Qur'an dan hadits dengan cara dan keinginan mereka sendiri. Sejak awal, semua anggota sudah diarahkan atau didoktrin untuk hanya menerima penafsiran ayat dan hadits yang berasal dari imam/amirnya. Dan mereka menyebutnya dengan istilah MANQUL. Jadi, semua anggota Islam Jama'ah/Lemkari/LDII dilarang untuk menerima segala penafsiran yang tidak bersumber dari imam/amir karena penafsiran yang tidak bersumber dari imam dikatakannya semua salah, sesat, berbahaya dan tidak manqul. Doktrin ini diterima sebagai suatu keyakinan oleh semua anggota Islam Jama'ah/Lemkari/LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah tentu pendapat atau pemahaman yang seperti ini tidak dapat dibenarkan. Karena Al-Qur'an dan Hadits tidak ada yang menyebutkan bahwa otoritas/kekuasaan mutlak untuk menafsirkan dan mengimplementasikan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits berada di tangan imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir/imam mereka (Islam Jama'ah/Lemkari/LDII) dalam rangka mendoktrinkan anggotanya soal imamah menggunakan Al-Qur'an surat Al-Isra': 71) yang artinya:&lt;br /&gt;"Pada hari Kami memanggil tiap-tiap manusia dengan Imam mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Q.S. Al-Isra': 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penafsiran Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kiamat nanti setiap orang akan dipanggil oleh Allah dengan didampingi oleh imam mereka yang akan menjadi saksi atas semua amal perbuatan mereka di dunia. Kalau orang itu tidak punya imam dikatakannya pada hari kiamat nanti tidak ada yang menjadi saksi baginya sehingga amal ibadahnya menjadi sia-sia dan dimasukkan kedlam neraka. Oleh karena itu, katanya semua orang Islam harus mengangkat atau membai'at seorang imam untuk menjadi saksi bagi dirinya pada hari kiamat. Dan jama'ah harus taat kepad imamnya agar nanti disksikan baik oleh imam dan dimasukkan ke dalam surga, dan orang yang paling berhak menjadi Imam adalah Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), katanya. Karena dia dibai'at pada tahun 1941, maka orang-orang yang mati sebelum tahun 1941, berarti mereka belum berbai'at, jadi pasti masuk neraka, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penafsiran pada pemahaman yang lurus (dapat dilihat dalam tafsir Ibnu Katsir):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafazh imam dalam ayat itu, menurut Mujahid dan Qatadah artinya ialah: nabiyyihim "nabi mereka." Sehingga sebagian ulama salaf berkata, bahwa ayat ini menunjukan kemuliaan dan keagungan para pengikut hadits (Ash-habul-Hadits), karena pada hari kiamat nanti mereka akan dipimpin oleh Rasulullah SAW (bukan dipimpin oleh Nur Hasan/Madigol, orang Jawa Timur yang baru lahir kemarin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud 'imam' di dalam ayat itu, ialah bikitaabi a'maalihin "Kitab catatan amal mereka", seperti yang disebutkan dalam surah Yasin: 12 yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang nyata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut dua keterangan ini, pada hari kiamat tiap-tiap orang akan dipanggil oleh Allah dengan didampingi oleh nabi-nabi mereka dan juga kitab-kitab catatan amal mereka.&lt;br /&gt;Siapa saja yang ingin meneliti lebih jauh dalam masalah ini, silahkan periksa Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 52. Yang pasti di situ tidak ada penafsiran yang tidak ada landasannya sama sekali alias ngawur seperti penafsiran si Madigol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya penafsiran hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak halal bagi tiga orang yang berada di bumi falah (kosong), melainkan mereka menjadikan amir (pemimpin) kepada salah satu mereka untuk memimpin mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini terdapat dalam kitab himpunan hadits koleksi Islam Jama'ah/LDII yang bernama "Kitabul-Imarah" pada halaman 255 dan dicantumkan tanpa sanad yang lengkap, jadi langsung dari sumber utamanya, yaitu Abdullah bin Amr bin Ash. Dari segi penulisan sumber hadits saja mereka itu tidak faham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penafsiran Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) tentang hadits di =&lt;br /&gt;atas adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Setiap Muslim di dunia ini, tidak halal hidupnya alias haram.&lt;br /&gt;Makannya haram, minumnya haram, bernafasnya haram dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Dan setiap Muslim yang hidupnya masih haram karena belum bai'at, maka harta bendanya halal untuk diambil atau dicuri, dan darahnyapun halal, karena selama ia belum bai'at mengangkat seorang iamam, setatusnya sama dengan orang kafir dan islamnya tidak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran Nur Hasan (Madigol) ini jelas menyimpang jauh dari kebenaran dan menyesatkan pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hadits ini tidak berbicara mengenai pembai'atan karena di dalamnya tidak ada lafazh bai'at sama sekali. Hadits ini hanya menyebut soal Amir atau pemimpin dalam safar/perjalanan. Hal ini ditunjukkan oleh lafazh 'ardh falatin' yang artinya daerah yang tidak berpenghuni, dan lafazh 'ammaru' yang artinya menjadikan amir atau mengangkat amir. Di situ tidak ada lafazh 'baaya'uu' yang artinya membai'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hadits ini adalah hadits yang tidak sahih atau hadits dhaif atau lemah karena di dalam sanadnya (lihat kitab: Al-Ahaditsud Dha'iefah, hal. 56, juz ke-II, nomor hadits 589) ada seoarang yang bernama Ibnu Luhai'ah yang dilemahkan karena hafalannya yang buruk. Dan para ulama ahlul hadits sepanjang masa, dari dulu sampai sekarang tidak menghalalkan penggunaan hadits yang dha'ief sebagai hujah untuk menetapkan suatu kewajiban dalam beribadah kepada Allah, kecuali hanya dengan hujah yang sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan bukti bahwa Nur Hasan (Madigol) sebetulnya tidak mengerti ilmu hadits, yang akhirnya menimbulkan kekacauan pemahaman dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, hadits (atsar atau hadits mauquf yang diucapkan Umar bin Khaththab) yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada Islam tanpa jama'ah, dan tidak ada jama'ah tanpa imarah, dan tidak ada imarah tanpa ketaatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar atau hadits mauquf ini terdapat dalam Kitabul-Imarah milik Islam Jama'ah/LDII hal. 56-57, yang dicantumkan tanpa sanad yang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran menurut Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) ialah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Islam seseorang itu tidak sah kecuali dengan berjama'ah. Dan yang dimaksud jama'ah katanya ialah jama'ahnya Nur Hasan (Madigol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Jama'ah juga tidak sah kalau tanpa imam. Dan yang dimaksud imam ialah Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Harusnya Nur Hasa menafsirkan" "Imamah juga tidak sah tanpa ketaatan." Sesuai dengan urutan penafsirannya pada point 1 dan 2. Akan tetapi dengan lihai Nur Hasan memutar penafsiran point 3 dengan ucapan : "Ber-Imam atau mengangkat imam atau Bai'at seseorang itu tidak sah kecuali dengan melaksanakan ketaatan kepada imam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) Ini sudah menjadi aqidah yang diyakini oleh semua pengikutnya. Padahal, hadits mauquf pun tidak sah dipakai sebagai hujjah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hazmin dalam kitab Al-Muhalla juz I hal. 51, artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadits mauquf dan hadits mursal, kedua-duanya tidak dapat dipakai sebagai hujjah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitabushalah (kitab tentang Shalat) hal. 124-125 yang disusun oleh imam LDII (Tidak diperjualbelikan khusus untuk intern warga LDII), Nur Hasan mengutip sebuah hadits dalam kitab Sunan At-Tirmidzi. Dia mengatakan bahwa dirinya manqul dari Nabi Muhammad saw. Hadits tersebut berbunyi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Telah menceritakan kepada kami, 'Ubaidah bin Abdil Aziz (Nur Hasan Ubaidah Lubis, Pen), telah menceritakan kepada kami, Syaikh Umar Hamdan Al-Madani Al-Makki dari sayyid Ali Adh-Dhahir Al-Witri Al-Madani dari Syaikh Abdil Ghani Al-Majaddidi dari ayahnya Abi said dari Abdil Aziz Ad-Dihlawi As-Syah Waliyillah Ad-Dihlawi dari Syaikh Abi Thahir al-Kurani dari ayahnya Syaikh Ibrahim Al-Kurani dari Syaikh Al-Mijahi dari Syaikh Ahmad As-Subki dari Syaikh Najmuddin Al-Ghaithi dari Zaini Zakaria dari Al-Iz bin Abdirrahim bin Furaat dari Syaikh Umar bin Al-Hasan Al-Maraghi dari Al-Fahr bin Ali bin Ahmad bin Abdil Wahid dari Syaikh Umar bin Thobarzad al-Baghdadi telah berkata, telah menceritakan kepada kami Syaikh Abul Fatah Abdul Malik bin abdil Qosim Al-Harawi Al-Karruhi telah berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Qadli Al-Zahid Abu Amir Mahmud bin Qasim dan telah menceritakan kepadaku Syaikh bin Nashr Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali At-Tiryaqi dan Syaikh Abu Bakar Ahmad bin Abdi As-Shamad al-Ghurazi mereka telah berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdul Jabbar bin Muhammad bin Al-Jarrah Al-Jarrahi telah berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abdul Abas Muhammad bin Ahmad bin Mahbub telah berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At-Tirmidzi. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya'kub al-Jauzajaani telah menceritakan kepadaku Shafwan bin sholih telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Syuaib bin Abi Hamzah dari Abi Zinad dari Al-'Araz dari abi Hurairah telah berkata, telah berkata Rasulullah saw. Sesungguhnya bagi Allah SWT itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama, barang siapa yang menghitungnya pasti dia masuk sorga, Dia Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Qudus, As-Salam, Al-Mukmin, Al-Muhaimin, Al-Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, al-Baari, Al-Mushawwir, Al-Ghaffar, Al-Qahar, Al-Wahab, Ar-Razzaq, Al-Fattah, Al-'Alim, Al-Qabidl, Al-Basit, Al-Khafidl, Ar-Rafi, Al-Muiz, Al-Mudzil, As-Sami, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-'Adl, Al-Latif, Al-Khabir, Al-Halim, Al-'Adlim, Al-Ghofur, Asy-Syakur, Al-'Ali, Al-Kabir, Al-Hafid, al-Muqit, Al-Hasib, Al-Jalil, Al-Karim, Ar-raqib, Al-mijib, Al-Waasi, Al-Hakim, Al-Wadud, Al-Majid, Al-Baits, As-Syahid, Al-Haq, Al-Wakil, Al-Qawi, Al-Matin, Al-Wali, Al-Hamid, Al-Muhshi, Al-Mubdi, Al-Muid, Al-Muhyi, Al-Mumit, Al-Hayyu, AlQayum, Al-Wajidu, Al-Majidu, Al-Wahidu, Ash-Shamadu, Al-Qadiru, Al-Muktadir, Al-Muqadim, Al-Mu'akhir, Al-Awwal, Al-Akhir, Adh-Dhahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muta'ali, Al-Barru, At-Tawwab, Al-Muntaqimu, Al-'Afuwwu, Ar-Raufu, Maalikul Mulki, Dzul Zalali wal Ikram, Al-Muqsit, Al-Jaami, Al-Ghani, Al-Mughni, Al-Maani, Adl-Dlaru, An-Nafi', An-Nur, Al-Hadi, Al-Badi', Al-Baqi, Al-Waritsu, Ar-Rasyid, Ash-Shobur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut aslinya dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, juz 5, hal.192, hadits no. 3574, penerbit: Perpustakaan As-Salafiyah Madinah Al-Munawwarah.&lt;br /&gt;Beberapa catatan tentang buku tersebut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut, sanadnya aslinya sbb: Imam At-Tirmidzi menerima dari Ibrahim bin Yaqub Al-Jaujaani, Ibrahim menerima dari Shofwan bin Sholih, Shofwan menerima dari Al-Walid bin Muslim, Al-Walid menerima dari Syaib bin Hamzah, Syaib menerima dari Abi Zinad, Abi Zinad dari Al-Araz, Al-Araz dari Abi Hurairah, Abu Hurairah dari Nabi saw. Itulah sanad hadits tersebut dalam kitab asli Imam At-Tirmidzi. Sama sekali tidak tercantum nama Nurhasan Ubaidah Lubis (yang dalam kitab-kitab pegangan LDII, tercantum dengan nama Ubaidah bin Abdul Azis) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah, Nur Hasan telah menambah sanad hadits tersebut secara bathil / tidak berhak dan mencantumkan nama Nur Hasan Ubaidah padanya. &lt;br /&gt;Tambahan nama Nur Hasan bin Abd. Azis (Nur Hasan Ubaidah Lubis) di awal sanad tersebut adalah pemalsuan yang dilakukan oleh Nur Hasan dan kelompoknya. Begitu juga nama orang-orang yang ditambahkan Nur Hasan setelah namanya tersebut sampai Imam At-Tirmidzi tidak ada dalam Kitab Imam At-Tirmidzi yang asli. Yang ada hanya nama Imam At-Tirmidzi sampai dengan Rasulullah saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempitnya memahami hadits dan sejarah pembukuan hadits, sehingga yang penting Manqul, Musnad, Muttashil. Walaupun hadits tersebut Dha’ief asal sesuai dengan maunya Nurhasan, maka akan dijadikan hujjah. Padahal tidak seluruh hadits ditulis pada jaman nabi apalagi dibukukan sehingga dibutuhkan penelitian yang mendalam tentang hadits. Dalam sejarah, pemalsuan hadis mulai berkembang pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib, sedangkan proses penghimpunan hadits ke dalam kitab-kitab hadits memakan waktu sampai 200 tahun setelah Nabi wafat. Untuk itu perlu dipahami tentang apa itu hadits Shahih. Menurut ulama hadis, Ibn Ash-Shalah (w. 643 H), hadis Shahih adalah : “Hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi), diriwayatkan oleh (periwayat) yang ‘adil dan dhabith sampai akhir sanad, (di dalam hadits itu) tidak terdapat syudzudz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sanad bersambung mengandung unsur-unsur : muttashil, marfu’, mahfuzh dan bukan mu’allal&lt;br /&gt; Periwayat bersifat adil mengandung unsur-unsur : beragama Islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama Islam dan memelihara muru’ah&lt;br /&gt; Periwayat bersifat dhabith dan atau adhbath mengandung unsur-unsur : hafal dengan baik hadis yang diriwayatkannya, mampu dengan baik menyampaikan riwayat hadis yang dihafalnya kepada orang lain, terhindar dari kejanggalan dan cacat matan (isi).&lt;br /&gt;Pemahaman yang rendah tentunya tidak akan dengan mudah memahami bagaimana suatu hadits yang shahih seperti diatas dan dengan ikhlas mau menerima kesalahan karena sikapnya yang arogan merasa benar sendiri dan orang lain (diluar jamaah dia) itu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIMPANGAN PEMAHAMAN IMAMAH DAN BAI'AT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imamah atau kepemimpinan dalam Islam lebih dikenal dengan istilah khilafah. Dan orang yang menduduki jabatan tersebut, disebut Khalifah. Adapun ta'rif atau definisi al-khalifah dari segi bahasa ialah : "Seorang yang menggantikan orang lain dan menduduki jabatannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengertian menurut sara', ta'rifnya ialah :&lt;br /&gt;"Penguasa yang tinggi." (lihat Mukhtarush-Shihah hal.186).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ta'rif syara' yang lain lagi:&lt;br /&gt;"Imam yang tidak ada lagi imam di atasnya." (atau pemimpin tertinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adalah Bani Israil dipimpin oleh para Nabi, ketika seorang Nabi wafat maka digantikan oleh seorang Nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku, yang ada adalah para Khalifah, maka jumlah mereka pun banyak ."&lt;br /&gt;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi menerangkan hadits ini dalam syarahnya, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para Nabi di kalangan Bani Israil memimpin mereka sebagaimana layaknya para penguasa (Umara) memimpin rakyatnya." (Lihat syarah Muslim juz XII, hal. 231 oleh Imam Nawawi). Dengan kata lain, para Nabi itu bukanlah pemimpin sepiritual semata akan tetapi mereka adalah para penguasa yang melakukan kegiatan siyasah (politik) demi kemaslahatan umatnya di dunia dan akhirat. Mereka pun melakukan perang untuk melawan musuh-musuh mereka. Dan seperti itu pula Rasulullah SAW di samping kedudukannya sebagai utusan Allah, beliau juga seorang militer dan pemimpin tertinggi bagi Daulah Islam yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, khalifah atau imam dalam syari'at Islam identik dengan kepemimpinan Negara. Bukan pemimpin sepiritual dan keberadaannya tidak untuk mensahkan Islam atau keislaman seseorng seperti yang diucapkan Nur Hasan (Madigol). Tetapi ia (imam) berfungsi untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan syari'at Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Hal ini tercermin dengan jelas dalam pidato Abu Bakar r.a., pada saat pelantikannya menjadi khalifah yang pertama dalam Islam, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dijadikan penguasa atas kalian, bukan berarti aku yang paling baik diantara kalian, maka jika aku melakukan kebaikan, tolonglah aku. Dan jika aku melakukan penyimpangan, cegahlah aku. Kejujuran itu merupakan amanat dan kebohongan adalah khianat. Adapun orang-orang yang lemah diantara kalian justru kuat dihadapanku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya. Sedangkan orang-orang yang kuat diantara kalian justru lemah dihadapanku, sampai aku mengmbil hak-haknya. Jangan sampai seorang dari kalian meninggalkan jihad, melainkan Allah berikan (jadikan) kehinaan bagi mereka. Taatlah kepadaku selama aku mentaati Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila menentang Allah, tidak ada kewajiban bagi kalian mematuhiku."&lt;br /&gt;(Itmamul-Wafa' fi Siratil Khulafa' hal.16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat lain, ada beberapa tambahan dalam khutbah beliau ini di antaranya ialah, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..akan tetapi Al-Qur'an telah diturunkan, dan Nabi SAW pun telah mewariskan sunnahnya. Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah pengikut (muttabi), dan sekali-kali aku tidak membut-buat peraturan yang baru (bid'ah). - Dalam satu riwayat - Abu Bakar berkata: Dan apabila kalian mengharpkan wahyu dariku, seperti yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, maka aku tidak memilikinya, karena aku hanyalah manusia biasa, jadi perhatikan oleh kalian segala tindak-tanduk dan ucapanku." (Lihat Hayatush-Shahabah juz III, hal. 427).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khutbahnya, Abu Bakar r.a. sama sekali tidak menyebut-nyebut dibai'atnya beliau menjadi khalifah adalah untuk mensahkan Islamnya kaum Muslimin dan beliau juga tidak mengatakan bahwa siapa saja yang menolak berbai'at, maka Islamnya batal.&lt;br /&gt;Akan tetapi beliau Abu Bakar r.a. menjelskan fungsi imamah atau khalifah dalam syari'at Islam sebagaimana tersimpul dari khutbah ini, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Beliau telah diangkat menjadi penguasa, seperti ucapannya: Qod wulliitu 'alaikum. Jadi, kkhalifah itu adalah penguasa, seperti telah dijelaskan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Khalifah bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang lemah dan mengambil hak-hak yang kuat atau kaya. Ini beliau buktikan dengan memerangi orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Khalifah harus menjunjung tinggi kejujuran sebagai amanah dan menjauhi ucapan dusta yang merupakan pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.. Menerangkan kepada umat batas-batas ketaatan kepada khalifah, yaitu sepanjang ia mentaati Allah dan Rasul-Nya. Artinya, mentaati dan mematuhi khalifah itu hukumnya wajib selama ia mematuhi Al-Qur'an dan Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.. Khalifah tidak boleh membuat-buat peraturan (syari'at) baru (bid'ah) dalam agama, tetapi ia harus bersikap sebagai muttabi', yaitu mengikuti aturan syari'at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.. Khalifah tidak dapat menggantikan kedudukan Nabi sebagai penerima wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.. Khalifah adalah manusia biasa, dan umat senantiasa harus melakukan kontrol terhadap segala tindak tanduk serta ucapannya. Dengan kata lain, umat tidak boleh menerima begitu saja segala ucapan dan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, kita bisa melihat bahwa Abu Bakar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW sebagaimana layaknya seorang kepala negara. Begitu pula khalifah-khalifah sesudah beliau, seperti: Khalifah Umar bin Khaththab, Khalifah Utsman bin Afan, Khalifah Ali bin Abi Thalib, Khalifah Mu'awiyyah bin Abi Sufyan dan seluruh khalifah dari Bani Umayyah serta Bani 'Abbasiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pengertian 'IMAMAH' yang sesungguhnya menurut syari'at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan dan hujah yang jelas ini, kita bisa menyimpulkan betapa sesat dan menyimpangnya ajaran kelompok/jama'ah LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERIKUTNYA, MEMAHAMI KONSEP BAI'AT DALAM SYARI'AT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bai'at adalah perjanjian untuk taat, dimana orang yang berbai'at bersumpah setia kepada imam atau khalifahnya untuk mendengar dan taat kepadanya, baik dalam hal yang menyenangkan maupun hal yang tidak disukai, dalam keadaan mudah ataupun sulit.&lt;br /&gt;Patuh kepada khalifah atau berbai'at untuk mematuhinya hukumnya wajib, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka apabila engkau melihat adanya khalifah, menyatulah padanya, meskipun ia memukul punggungmu. Dan jika khalifah tidak ada, maka menghindar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Thabrani dari Khalid bin Sabi', lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW menegaskan, bahwa wajibnya bai'at adalah kepada khalifah, jika ada atau terwujud meskipun khalifah melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti memukul, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thabrani mengatakan bahwa yang dimaksud menghindar ialah menghindar dari kelompok-kelompok partai manusia (golongan /firqah-firqah), dan tidak mengikuti seorang pun dalam firqah yang ada. (Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 37).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, apabila khalifah atau kekhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai'at pun tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, sabda Rasulullah SAW, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa mati tanpa bai'at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Muslim). Yang dimaksud bai'at disini ialah bai'at kepada khalifah, yaitu jika masih ada di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Hasan (Madigol), pemimpin kelompok jama'ah LDII, menggunakan hadits ini untuk dijadikan dasar mengambil bai'at dari pengikutnya bagi dirinya. Ini adalah manipulasi pemahaman yang jauh menyimpang dan menyesatkan. Dengan kata lain Nur Hasan (Madigol) dan anaknya yang menjadi penerusnya yang menjadi imam Islam Jama'ah/LDII sekarang ini, telah menempatkan dirinya sebagai khalifah, padahal ia dan juga anaknya sama sekali bukan khalifah dan tidak sah atas pengakuan kelompoknya itu. Dan menurut Nur Hasan, mati jahiliyah dalam hadits ini ialah sama dengan mati kafir. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat para ulama ahli hadits, seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini bukanlah mati kafir, melainkan mati dalam keadaan menentang (tidak mau berbai’at). &lt;br /&gt;(Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, pemahaman Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) itu mengandung konsekuensi pengkafiran terhadap sebagian sahabat Nabi SAW yang tidak mau berbai'at kepda khalifah, seperti: Mu'awiyyah bin Abi Sufyan yang tidak mau berbai'at kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, tidak ada seorang sahabatpun yang mengkafirkan Mu'awiyyah, termasuk Khalifah Ali. Begitu pula Husein bin Ali yang menolak berbai'at kepada Khalifah Yazid bin Mu'awiyyah, juga Zubair, padahal khalifah-khalifah itu merupakan penguasa-penguasa kaum Muslimin yang sah, tidak seperti Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) dan anaknya Abdul Dhohir. Dan mengkafirkan sahabat-sahabat Rasulullah SAW termasuk perbuatan murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terdapat ayat yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwasannya orang-orang yang berjanji (berbai'at) kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat melanggar janji itu, akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janji kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar."&lt;br /&gt;(Q.S. Al-Fath: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aliran yang mendasarkan ayat ini sebagai hujah untuk mengambil bai'at bagi jama'ah pengikutnya tidaklah dapat dibenarkan dan merupakan pemahaman yang menyimpang dan menyesatkan. Karena surat Al-Fath ayat 10 menceritakan peristiwa Baitur Ridhwan, yaitu berbai'atnya para sahabat kepada Nabi SAW dalam tekad untuk memperjuangkan nasib Utsman yang menurut perkiraan mereka ditawan orang-orng Qurasy. Kejadian ini terjadi di Hudaibiyah tatkala rombongan Rasulullah SAW yang hendak melakukan umrah ke Makkah ditahan orang-orang Qurasy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak ada keterangan yang jelas tentang bai'at sebagai suatu syarat sahnya keislaman seseorang. Dalam hadits-hadits juga tidak diperoleh periwayatan tentang pembai'atan atas keislaman keislaman seseorang. Jika hal itu ada tentunya banyak periwayatan yang demikian, karena hal seperti itu merupakan peristiwa yang penting dalam sejarah Islam dan memiliki tasyri' yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ketahuilah bahwa sekarang ini, kaum Muslimin atau dunia Islam tidak mempunyai Khalifah yang memimpimnya. Maka hendaklah setiap Muslim menjauh dari firqah-firqah yang menyesatkan. Dalam hal ini Imam Bukhari telah menyusun satu bab khusus yang berjudul "Bagaimana perintah syari'at jika jama'ah tidak ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata, bahwa yang dimaksud di sini ialah: Apa yang harus dilakukan oleh setiap Muslim dalam kondisi perpecahan diantara umat Islam, dan mereka belum bersatu di bawah pemerintahan seorang khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Imam Bukhari menukilkan hadits Hudzaifah bin Yaman r.a. yang bertanya kepada Rasulullah SAW, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka, bagaimana jika mereka, kaum Muslimin tidak memiliki Jama'ah dan tidak memiliki Imam? Rasulullah SAW menjawab: "Maka tinggalkanlah olehmu semua golongan yang ada, meskipun engkau terpaksa makan akar pohon, sehingga engkau menjumpai kematian dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, yaitu apabila khalifah tidak ada, maka menghindar. Hanya ada tambahan dalam hadits ini "meskipun engkau terpaksa makan akar pohon.dst."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Baidhawi, kata-kata tersebut merupakan kinayah atau kiasan dari kondisi beratnya menanggung sakit. Selanjutnya Baidhawi berkata: "Makna hadits ini ialah apabila di bumi tidak ada khalifah, maka wajib bagimu menghindar dari berbagai golongan dan bersabar untuk menanggung beratnya zaman." (Wallahu A'lam). (Lihat Fathul Bari, juz XIII, hal. 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian itulah pemahaman yang berdasarkan argumentasi dan hujah yang jelas dan dapat dipercaya. Kami berharap amir berikutnya sepeninggal Madigol, kelompok LDII ini menyadari kesesatannya dan bertaubat kepada Allah SWT dan segera mengajak jama'ahnya berhaluan kepada ajaran yang lurus. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIMPANGAN DAN PENYALAHGUNAAN DALAM IJTIHAD/MENGAMBIL HUKUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali pemahaman Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) yang menyimpang dari syari'at dan ditelan mentah-mentah oleh para pengikutnya/jama'ah LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) menegaskan bahwa imam, dalam hal ini dirinya sebagai imam jama'ah LDII, wajib ijtihad (mengeluarkan hokum) untuk kepentingan jama'ahnya. Dalil yang digunakannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa saja penguasa, yang menguasai suatu persoalan dari umatku, kemudian ia tidak memberi nasihat dan ijtihad bagi mereka sebagaimana ia menasihati dan bersusah payah untuk kepentingan dirinya, maka pasti Allah telungkupkan wajahnya di Neraka pada hari kiamat."&lt;br /&gt;(HR. Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini terdapat (dimasukkan) dalam kitab Kanzul Ummal edisi Islam Jama'ah/LDII dengan judul Kitabul Imarah, hal. 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) mengatakan bahwa berdasarkan hadits ini, ia sebagai imam harus memberi nasehat dan ijtihad kepada jama'ah, sebab kalau tidak, ia akan dimasukkan ke dalam Neraka. Oleh karenanya jama'ah harus taat kepada Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), kalau tidak akan masuk Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan ijtihad menurut Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) ialah ide atau ilhamnya untuk membuat peraturan atau undang-undang. Yaitu dengan menafsirkan menurut kemauan sendiri dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Allah-Hadits. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh:&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur'an banyak skali ayat-ayat yang berbicara mengenai kewajiban infaq, seperti dalam surah Al-Baqarah: 3, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sebagian dari apa yang Kami beri rizki kepada mereka, mereka menginfaqkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), lafazh infaq di dalam ayat ini dan juga ayat-ayat yang lain ialah setoran atau pemberian harta dari jama'ah anggota LDII kepada imam Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol). Sedangkan besarnya setoran ditetapkan oleh Madigol sebesar 10 % dari setiap rizki yang diterima anggota jama'ahnya. Ini merupakan ijtihad Madigol yang harus ditaati. Tinggal terserah para anggota LDII, apakah mau masuk Surga atau Neraka. Kalau mau masuk Surga ya harus taat kepada Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol). Na'udzubilahimindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang benar dari para ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah, mengenai hadits tentang ijtihad ialah bahwa ijtihad hanya boleh dilakukan pada saat tidak ada dalil/nash dari Al-Qur'an maupun Hadits. Hal ini dapat dapat diperjelas dari suatu riwayat dari kawan-kawan Mu'adz bin Jabal, dari Rasulullah SAW, ketika beliau mengutus Mu'adz ke Yaman, maka beliau bersabda, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana engkau menghukum?." Muadz berkata: "Aku akan menghukumi dengan apa yang ada di dalam Kitabullah." Beliau bersabda: "Maka jika tidak ada dalam Kitabullah?." Muadz menjawab: "Maka dengan sunnah Rasulullah SAW." Beliau berkata lagi: "Maka jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah?." Mu'adz menjawab: "Aku akan berijtihad dengan fikiranku." Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq pesuruh Rasulullah SAW."&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Darami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dikatakan oleh Imam At-Tirmidzi isnadnya tidak muttasil. Dan hadits ini diterima dan dipergunakan hujah oleh sebagian besar para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kini kita bandingkan dengan bid'ahnya Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) yang membuat-buat peraturan dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengenai pemahaman ayat tentang infaq di atas, yang benar menurut pemahaman ulama Ahli Sunnah wal Jama'ah adalah seperti yang dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, mengenai infaq mencakup dua aspek, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Berbuat baik kepada semua makhluk, yaitu dengan memberi manfaat yang besar kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Zakat Mafrudhah atau yang diwajibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun zakat mafrudhah, sudah diatur tata-caranya menurut syari'at yang sudah jelas, yaitu harta yang sudah mencapai nishabnya (batas jumlah yang telah ditentukan) dan telah lewat masa satu tahun, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Ali r.a. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila ada bagimu dua ratus dirham dan liwat atasnya satu tahun maka zakat padanya lima dirham, dan tidak wajib atasmu sesuatu hingga ada bagimu dua puluh dinar dan liwat atasnya satu tahun maka (zakat) padanya setengah dinar. Dan apa-apa yang lebih, maka (zakatnya) menurut perhitungannya. Dan tidak ada di satu harta zakat hingga liwat atasnya satu tahun."&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya uang dinar (emas) apabila telah mencapai nishab 20 dinar, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar setengah dinar. Begitu pula mengenai zakat ternak, zakat hasil pertanian dan lain-lain semua sudah ada ketentuannya menurut syari'at yang sudah lengkap. Maka Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) tidaklah perlu digubris dengan membuat syari'at baru, bagi orang yang mau berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan ini maka Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) telah membuat syari'at baru kepada jama'ah pengikutnya (LDII) dan mereka termasuk ahli bid'ah yang sesat. Penglihatan, pendengaran dan hati mereka telah ditutup oleh Allah SWT sehingga mereka tidak bias melihat, mendengar, dan merasakan getaran kebenaran dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya saja yang akan keluar, insyaf dan bertaubat menuju ajaran yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG DOKTRIN ILMU MANQUL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) bahwa ilmu itu tidak sah atau tidak bernilai sebagai ilmu agama kecuali ilmu yang disahkan oleh Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) dengan cara mankul (mengaji secara nukil), yang bersambung-sambung dari mulut ke mulut dari mulai Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol) sampai ke Nabi Muhammad SAW lalu ke Malaikat Jibril AS dan Malaikat Jibril langsung dari Allah. Dengan kesimpulan bahwa ilmu agama itu sah jika sudah dimankuli oleh Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol), dan dia telah menafikan semua keilmuan Islam yang datang dari semua ulama, ustadz, kiyai, dan dari semua lembaga keislaman yang ada di dunia ini. Menurut pengakuan Madigol ini hanya dirinya satu-satunya orang yang punya isnad/sandaran guru yang sampai ke Nabi SAW. Sedangkan ulama-ulama lainnya di seluruh dunia tidak ada dan ilmunya tidak sah dan haram, kata Madigol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan faham ilmu manqul ini mereka bersandar pada suatu ucapan seorang Tabi'in yang bernama Abdullah bin Mubarok yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telah berkata Abdullah bin Mubarok : "Sandaran guru itu termasuk dari pada agama. Dan kalaulah tidak ada isnad, tentu orang akan mengatakan semau-maunya dalam agama ini."&lt;br /&gt;(Dapat dilihat dalam hadits riwayat Imam Muslim, jilid I hal. 9 bab Muqaddimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menurut pemahaman yang benar, maksud dari ucapan tersebut adalah diperuntukkan bagi ahli-ahli hadits yang memang harus. Yaitu pada jaman atau tahap-tahap permulaan hadits itu di himpun. Jaman itu jaman dari mulai sahabat Nabi SAW kemudian jaman Tabi'in (generasi yang belajar kepada generasi sahabat) kemudian jaman Tabi'it Tabi'in (generasi yang belajar kepada generasi Tabi'in) kemudian generasi berikutnya belajar kepadanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kita ketahui di dalam sejarah Islam bahwa hanya sampai kepada generasi ketiga yaitu Tabi'it Tabi'in pun ilmu agama telah tersebar luas lintas pulau dan lintas bangsa dan syari'at telah sempurna ditambah dengan adanya ulama-ulama yang mencatatnya dengan teliti dan cermat sehingga kita generasi sekarang dapat belajar dan melihat hasil-hasil jerih payah para ulama jaman dahulu menuliskannya dalam kitabnya. Lalu bagaimana mungkin seorang yang bernama Madigol/Nur Hasan dari Jawa Timur Indonesia yang lahir baru kemarin (1915 Masehi), yang sudah ribuan tahun jaraknya dari bermulanya sumber ilmu Islam itu kemudian mengklaim dirinyalah yang ilmunya sah dan yang lain batil. Maka jika dibalik dengan ilmunya Madigol keliru dan sesat itulah yang lebih tepat dan meyakinkan. Maka hanya orang-orang yang masih dikaruniai oleh Allah akal sehat sajalah yang dapat memahami hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camkanlah kata-kata yang telah keluar dari amir LDII kepada salah seorang angota jama'ahnya yang telah melanggar aturannya dengan mempelajari ilmu Islam, yaitu bahasa Arab dari luar : "Kita orang ini (Islam Jama'ah/LDII) adalah ahli sorga semuanya, jadi tidak usah belajar bahasa arab, nanti kita di Surga akan bisa bahasa Arab sendiri. Pokoknya yang penting kita menepati lima bab yaitu doktrin setelah berbai'at 1. Mengaji, 2. Mengamalkan, 3. Membela, 4. Berjama'ah, 5. Taat Allah, Rasul, Amir, pasti wajib tidak boleh tidak masuk sorganya." Inilah bahaya ilmu manqul itu. Bukankah itu penipuan terselubung besar-besaran di tengah-tengah lautan umat Islam di dunia ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pernah ada kejadian, salah satu anggota Islam Jama'ah/LDII, bapaknya meningal dunia. Karena bapaknya belum ber amir dan berbai'at, jadi katanya hukumya mati kafir. Maka seorang anak tidak boleh mendoakan dan mensolati jenazahnya. Tetapi karena didesak oleh keluarganya akhirnya dengan terpaksa dia mensolati tetapi tidak berwudhu karena takut melanggar bai'at. Daripada melanggar bai'at yang akibatnya masuk neraka, katanya, lebih baik menipu Allah dan membohongi sanak keluarga dan kaum muslimin lainnya. Sifat seperti ini kalau bukan orang munafik siapa lagi ? Dan Allah SWT telah berfirman, yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak sadar."&lt;br /&gt;(Q.S. Al-Baqarah : 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, mereka tidak sadar bahwa dirinya telah tertipu. Na'udzubilahimindzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APAKAH BENAR MENGAJI DI DARUL HADITS MEKKAH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Hasan mengaku dirinya belajar di perguruan Darul Hadits Makkah Al-Mukarramah sekitar tahun 1929-1941 M. Apakah benar orang yang bernama Haji Nurhasan Al-Ubaidah pernah study di perguruan Darul Hadits dalam periode 1349 s/d 1361 H? (1929 s/d 1941, pen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kutipkan jawaban Direktur Umum Inspeksi Agama di Masjid Al Haram As Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid pada tahun 1399 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban : "Perguruan Darul Hadits belum berdiri sebelum 1352 H. (1932 M, pen). Maka study H. Nurhasan Al-Ubaidah sebelum lahirnya perguruan tersebut pada perguruan itu adalah di antara hal yang membuktikan bahwa pengakuannya tidak benar. Dan setelah kami periksa arsip perguruan Darul Hadits di sana, tidaklah terdapat nama dia sama sekali, hal itu membuktikan bahwa dia tidak pernah study di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pertanyaan saudara tentang "Dapatkah dibenarkan pendiriannya yang mengharuskan diterimanya hadits-hadits Nabi yang hanya diriwayatkan oleh dia saja?" dapatlah dijawab bahwa menggunakan periwayatan hadits, sehingga tidak dapat diterima kecuali melalui dia adalah suatu pendirian yang salah; dan tampaknya orang ini seorang dajjal (penipu) dan pemalsu keterangan yang tidak patut dipercaya, sebab riwayat hadits-hadits Rasulullah sudah tercantum dalam kitab-kitab shahih, kitab-kitab induk dan kitab-kitab agama Islam lainnya. Selanjutnya dia tidak akan sanggup mencakup (menghafal) hadits-hadits Rasulullah SAW. walau sekedar sepersepuluhnya (1/10, pen), sebab itu bagaimana tidak dibolehkan seseorang menerima hadits-hadits Rasulullah SAW. kecuali melalui dia, sedangkan dia pun sudah terbukti tidak pernah study pada Perguruan Darul Hadits di Makkah Al-Mukarramah. Orang ini sebenarnya hanya pemalsu keterangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pertanyaan saudara tentang "Benarkah dia seorang Amirul Mukminin yang dibai'at secara ijma' dan bahwa mengenai Amirul Mukminin itu telah menunjuk seorang wakilnya yaitu Haji Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis, dan adakah legalitasnya yang mewajibkan umat tauhid di Indonesia untuk patuh dan taat kepada dia?" &lt;br /&gt;Jawabannya: "Haji Nur Hasan Al-Ubaidah mengaku wakil Amirul Mukminin dan tidak ada orang yang mengangkatnya sebagai wakil. Tetapi orang ini sebenarnya hanyalah dajjal (penipu) dan pemalsu keterangan, sehingga tidak perlu dihiraukan dan tidak patut dipercaya, bahkan wajib dibongkar kepalsuannya kepada khalayak ramai serta di jelaskan penipuannya dan menerangkan keterangan-keterangannya yang palsu supaya khalayak ramai mengetahuinya... wassalamu'alaikum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAKTIK/METODE ATAU CARA PENYEBARAN AJARAN LDII/LEMKARI/ISLAM JAMA'AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Dalam tahap permulaan kepada calon pengikut (pemuda, pelajar, mahasiswa dll) yang masih awam dalam pemahaman agama, pertama-tama diberikan pelajaran agama Islam seperti biasa, yaitu : pelajaran Tauhid, Fiqh, akhlak dan lain-lain yang bersumber langsung dari Al-Qur'an dan hadits yang diterjemahkan. Kemudian dihafalkan dan didiskusikan sehingga benar-benar dapat dihayati. Pelajaran ini diberikan secara kekeluargaan, santai dan bebas dari sesuatu ikatan dan biaya apapun. Disinilah letak kelihainya para mubaligh LDII yang begitu rajin mengadakan pendekatan dengan calon-calon anggotanya. Apalagi dakwah mereka itu pertama kali dakwah biasa yang tidak kelihatan penyimpangannya. Maka sudah barang tentu bagi kalangan muda dan orang-orang awam yang sedang haus akan kecintaan Islam, akan cepat menerima dan merasa sreg dengan aliran ini, ditambah lagi aliran ini berpenampilan yang kelihatan serius dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. Pengikut-pengikut yang sudah mengerti dan dapat membaca hadits, Al-Qur'an serta terjemahannya dengan baik dan dihafalkan, diharuskan menyampaikannya (dakwah) kepada teman-teman dekat yang belum memasuki pengajaran aliran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. Dalam tahap berikutnya, setelah para pengikut tertarik (pada umumnya setelah menamatkan satu buku atau setelah belajar sekitar 6 bulan sampai 1 tahun) barulah mereka dibai'at (mengucapkan sumpah setia) kepada Amirul Mu'minin mereka secara langsung atau melalui amir-amir wakilnya ditempat. Inilah awal dari diikatnya anggota baru dengan ikatan yang kuat dan kokoh yang tidak mudah setiap orang akan lepas darinya kecuali hanya atas taufik dan hidayah Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kepada mereka anggota yang telah dibai'at, sedikit-demi sedikit diajarkan hadits-hadits dan ayat-ayat Al-Qur'an yang artinya dipahami dengan cara mereka sendiri menguatkan kelompok LDII. Mereka menggunkan hadits-hadits yang lemah atau ayat-ayat yang ditafsirkan menurut kemauan kelompok jama'ah aliran LDII. Sampai setingkat ini mereka anggota baru itu sudah terikat kepada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.. Keharusan patuh/taat (sumpah setia) kepada imamnya atau Amirul Mu'minin beserta segala wakil-wakilnya (amir atau pemimpin daerah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.. ketentuan tidak boleh menerima ilmu agama dari luar kelompok jama'ahnya. Hanya ilmu yang dari imam jama'ahnya saja yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.. keyakinan bahwa mereka sudah terjamin masuk surga, dan terjamin bebas neraka menurut imamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pokok pengajaran yang penting tersebut yang membuat seseorang menjadi terikat tidak diberitahukan ketika masih permulaan dan belum dibai'at. Disinilah letak kelihaian dan kecerdikan aliran sesat ini. Maka hati-hatilah bagi kita semua, barang kali jama'ah aliran sesat ini telah masuk ke dalam keluarga kita. Jika telah masuk ke keluarga kita maka virus kesesatan segera akan menyebar dan menjadi bencana dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga para jama'ah LDII menyadari akan kekeliruan dan penyimpangan ajarannya dan kembali kepada ajaran yang lurus. Dan semoga kita selalu mendapat taufik dan hidayah-Nya karena hanya atas pertolongan, taufik dan hidayah Allah SWT kita dapat beribadah kepada-Nya dengan benar dan diridhai-Nya, amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Jamaah, yang mulanya dipimpin oleh Nurhasan dan diteruskan oleh anaknya, itu adalah aliran sesat dan menyesatkan yang telah keluar dari aqidah Islam yang murni serta melestarikan bid’ah. Bahkan telah menodai kemurnian ajaran Islam pada keseluruhannya. Pengunggulan kelompok sendiri dan memastikan muslimin selain kelompoknya masuk neraka seperti itu, jelas model sifat iblis yang telah dijabarkan Al-qur’an yang telah menipu Adam dan Hawa. Sedang rangkaian kerjanya, bisa dilihat bahwa mereka sangat berat menghadapi orang alim agama, sebagaimana Syaithan pun berat menghadapi orang alim agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib bagi kita umat Islam untuk memerangi dan mencegah dari bahaya-bahaya pemahaman yang sesat ini. Jangan sampai dibiarkan, apalagi diberi kesempatan. Ini sangat berbahaya sekali. Karena orang awam atau kebanyakan umat Islam belum mengetahui kesesatan atau penyimpangannya, lantaran biasanya masih baru mengenal ajaran ini. Tentu sang mubaligh Islam Jamaah mengajarkan yang baik-baik saja. Tetapi nanti sudah kena baru mereka akan memasukkan doktrin sesatnya, cukup dengan bermodalkan “Kalau percaya = iman, tidak percaya = kafir, ragu-ragu = munafik”. Logika kenapa harus berimam kepada Nurhasan sangat lemah, tidak bersandarkan ijma’ dan dibuat-buat, tetapi karena ditakut-takuti dengan modal doktrin tersebut cukup ampuh menyeret orang untuk berbai’at kepada sang Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami berbagai argumentasi di atas jelas bahwa keamiran Nurhasan adalah bathil dan tidak sah serta bertentangan dengan Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, apalagi menganggap dirinya sebagai khalifah dunia tanpa kesepakatan umat Islam sedunia yang dengan arogan menganggap dirinya benar, selain Islam Jamaah salah semua fin naar, bahkan sebenarnya dengan kelakuannya tersebut ia akan diancam menjadi ahli neraka, mudah-mudahan Nurhasan dan para pengikutnya karena ketidaktahuannya/keawaman dapat diampuni oleh Allah SWT. Semoga Imam Dzhohir dan para pengikutnya diberi taufik dan hidayah dari Allah SWT untuk kembali ke jalan yang benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-45231459018813672?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/45231459018813672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=45231459018813672' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/45231459018813672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/45231459018813672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/seputar-islam-jamaah-islam.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-395711220897523456</id><published>2007-07-07T09:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T09:40:37.363-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Profil Imam Nurhasan AL Ubaidah Lubis Amir (1908-1982) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Asli : Madekal / Muhammad Madigol&lt;br /&gt;Nama Populer : Imam Haji Nurhasan Al Ubaidah Lubis Amir&lt;br /&gt;Lahir : 1908, Desa Bangi, Purwosari, Kediri&lt;br /&gt;Nama Ayah : H. Abdul Azis bin Thahir bin Irsyad&lt;br /&gt;Pendidikan : Sekolah Rakyat (SD sekarang) sampai kelas 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Pesantren : 1) Pondok Sewelo, Nganjuk (sufi)&lt;br /&gt;2) Pondok Jamsaren, Sala&lt;br /&gt;3) Dresmo, Surabaya (belajar silat)&lt;br /&gt;4) Sampang, Madura (Kyai Al Ubaidah, Batuampar)&lt;br /&gt;5) Lirboyo, Kediri&lt;br /&gt;6) Tebuireng, Jombang&lt;br /&gt;Anak : 1) Abdul Dzohir&lt;br /&gt;2) Abdul Aziz&lt;br /&gt;3) Abdul Salam&lt;br /&gt;4) Muh Daud&lt;br /&gt;5) Sumaidau’&lt;br /&gt;6) Abdullah&lt;br /&gt;7) Zubaidi Umar (dari janda Al Suntikah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kronologis Tahun : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1929 : Berangkat haji pertama, mengganti nama menjadi Haji Nurhasan Al Ubaidah&lt;br /&gt;1933 : • Belajar hadits Bukhari dan Muslim kepada Syeikh Abu Umar Hamdan dari Maroko&lt;br /&gt;• Belajar di Madrasah Darul Hadits dekat Masjidil Haram (padahal Madrasah Darul Hadits baru didirikan tahun 1956)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lain : &lt;br /&gt;• Berangkat ke Mekah tahun 1937/1938 karena ada keributan di Madura, beliau lari ke Surabaya lalu kabur ke Mekah.&lt;br /&gt;• Tiba di Mekah, disaksikan oleh H. Khoiri Ketua Rukbat Nahsyabandi (asrama pemukim di Saudi Arabia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1941 : • Kembali ke Indonesia, membuka pengajian di Kediri&lt;br /&gt;• Berdagang gedek&lt;br /&gt;• Kawin dengan orang Madura, Al Suntikah&lt;br /&gt;• Kawin dengan orang Sala (2 orang) dan orang Mojokerto (1 orang), hanya berganti-ganti istri sesudahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1951 : Mendirikan Darul Hadits/Yayasan Pondok Islam Djamaah (YPID) dengan tema pengajian “Menetapi Al Quran dan Al Hadits serta Budi Luhur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1953 : Mendapat konsep Imamah dan Jamaah dari Jama’atul Muslimin Hizbullah, dan berbai’at kepada Imam Wali Al Fatah di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1960 : Puncak pendalaman manqul Qur’an dan Hadits tentang konsep Bai’at, Amir, Jamaah, Taat. Ratusan jamaah di Desa Gadingmangu membai’at Nurhasan Al Ubaidah sebagai Imam/Amirul Mu’minin. Dan mencetuskan doktrin dasar :&lt;br /&gt;1) Tidak mengesahkan pengajian kecuali secara manqul&lt;br /&gt;2) Tidak boleh berimam kepada orang di luar jamaah&lt;br /&gt;3) Tidak boleh kawin dengan orang di luar jamaah&lt;br /&gt;4) Hanya anggota Islam Jamaah yang diakui masuk surga, sedangkan yang lainnya masuk neraka&lt;br /&gt;5) Orang di luar Islam Jamaah dianggap najis&lt;br /&gt;6) Amir boleh punya empat istri, wakil amir tiga istri, amir daerah dua istri&lt;br /&gt;7) Mengadakan akad nikah sendiri (tidak lewat KUA)&lt;br /&gt;8) Anggota Islam Jamaah dilarang berpoligami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1968 : Larangan faham Darul Hadits oleh Kopkamtib dan Pakem Kejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1969 : Larangan faham Darul Hadits oleh Kejati Sulawesi Tenggara dan Laksus Kopkamtibda Sumsel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1971 : • Larangan faham Darul Hadits oleh Jaksa Agung RI (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971) di seluruh Indonesia&lt;br /&gt;• Sekber Golkar mendukung Darul Hadits dengan membantu dan membina pondok-pondok Al Jamaah No. KEP.-2707/BAPILU/SBK/1971&lt;br /&gt;• Darul Hadits menyatakan mendukung Golkar&lt;br /&gt;• Setelah Pemilu 1971, Nurhasan membawa kabur 2 anggota jamaah perempuan asal Malang (Sumiati dan adiknya) yang mondok di Gading Mangu Perak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1972 : • Akibat kasus pelarian 1971, Nurhasan digerebek di Garut oleh CPM dan diseret ke Malang untuk interogasi, saat pemeriksaan Nurhasan menjadi lumpuh tidak bisa berbicara akhirnya dipulangkan ke keluarganya&lt;br /&gt;• Lemkari (Lembaga Karyawan Islam) didirikan tanggal 13 Januari 1972 sebagai pengganti Darul Hadits di Pondok Pesantren Al Jamaah Burengan Kediri dengan nama Yayasan Lembaga Karyawan Islam Keluarga Besar Golongan Karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1974-1979 : • Nurhasan dan keluarga yang berjumlah 9 orang bermukim di Tanah Suci Mekkah untuk berobat karena lumpuh namun tidak kunjung sembuh&lt;br /&gt;• Drs. H. Nurhasyim tokoh penting Islam Jamaah meninggal dunia tahun 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1979 : • Lemkari mengeluarkan SK No. 199/F.1/IX/1979 sebagai sarana budi luhur yang menjelaskan bahwa Lemkari bukan Islam Jamaah dan bukan Darul Hadits bahkan melarang warganya menyebarkan faham Islam Jamaah&lt;br /&gt;• Pada Bulan Mei 1979, Nurhasan unjuk keahlian menginjak-injak kaca dan paku-paku besar tanpa alas kaki di rumahnya di Rawagabus, Karawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1981 : Lemkari 1972 menjadi Lembaga Karyawan Dakwah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1982 : • Sabtu sore, 13 Maret 1982 Nurhasan dan keluarga (Abdul Aziz (anak), Fatimah (istri), Yusuf (menantu)) mengalami kecelakaan lalu lintas di Pelayangan (20 km arah Cirebon), yang rencananya akan menghadiri kampanye Golkar di Jakarta. Kendaraan Mercy Tiger B 8418 EW warna merah yang ditumpangi menabrak truk Fuso. Selepas magrib Nurhasan menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon&lt;br /&gt;• Abdul Dhohir, putra sulung Nurhasan, dibai’at sebagai Imam didepan mendiang jenazah ayahnya. Wasiat Nurhasan sebelum meninggal.&lt;br /&gt;• Senin 15 Maret 1982 dinihari pk. 03.00 jenazah Nurhasan dikuburkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1988 : • Peletakan batu pertama markas pusat Lemkari di Kediri di atas tanah seluas 1.425 meter persegi&lt;br /&gt;• 18 Nopember 1988 secara resmi mengundang wartawan membantah isu tentang Lemkari dan menyatakan Lemkari tidak dibawah naungan Golkar melainkan ormas yang mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1990 : Lemkari berubah nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) berdasarkan hasil Kongres&lt;br /&gt;1992 : Mendagri Rudini meresmikan markas pusat LDII di Burengan Banjaran Kediri. Gedung Serbaguna “Wali Barokah” yang bernilai Rp 1,5 milyar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-395711220897523456?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/395711220897523456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=395711220897523456' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/395711220897523456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/395711220897523456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/profil-imam-nurhasan-al-ubaidah-lubis.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-7357922631900864021</id><published>2007-07-07T09:32:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T09:37:11.499-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Faham Darul Hadis oleh H. Nurhasan Ubaidah Lubis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 20/11/2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Nomor: BD/HM. 01/758 /2002 tanggal 22 Oktober 2002 tentang Hasil Kajian LDII berisi:&lt;br /&gt;Badan Litbang Agama dan Diklat Keagaman pernah melakukan penelitian tentang LDII pada tahun 1994/1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) lahir pada tahun 1990 sebagai metamorfose dari Lembaga Karyawan Indonesia (Lemkari), sedangkan Lemkari itu sendiri merupakan format baru dari organisasi-organisasi yang mendahuluinya, yaitu: Darul Hadis, Islam Jamaah, Yayasan Karyawan Islam (Yakari), Karyawan Dakwah Islam (KADI) dan lain-lain, yang sebagiannya berdiri pada tahun 1940.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Catatan tentang LDII antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. LDII merupakan format baru dari Lembaga Karyawan Islam (Lemkari), sedangkan Lemkari merupakan metamorfosis dari organisasi yang mendahuluinya seperti: Darul Hadis, Islam Jama'ah, Yayasan Karyawan Islam (Yakari), Karyawan Dakwah Islam (KADI) dan lain-lain yang keberadaannya pernah dilarang, baik oleh pihak berwenang lokal maupun Kejaksaan Agung di seputar akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faham Darul Hadis (DH) mulai diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1940 oleh H. Nurhasan Ubaidah Lubis. Bendera yang dibawa adalah mengembalikan Islam di Indonesai yang sudah banyak menyimpang ke jalur yang benar. Secara konsep, Darul Hadis datang dengan mengajarkan paham tentang "ke-amir-an", bai'at, imamah, manqul, dan beberapa hal teknis ubudiyah, khususnya tentang salat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mula penyebaran hanya dilakukan di lingkungan keluarga dan kerabat dekat. Perluasan dilakukan dengan mengawini sejumlah keluarga kaya serta mencarikan jodoh untuk anak-anak, keluarga, dan anggotanya. Tatkala pengikut sudah dianggap cukup, terutama setelah dua lurah di Kediri (H. Sanusi dan H. Nur Asnawi) menjadi pengikut, Nurhasan diangkat menjadi amir jamaah yang bertugas untuk mengurus, sekaligus menjadi penasehat tentang berbagai masalah agama yang murni berdasarkan Alquran dan Hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kegiatan Darul hadis terus dilakukan dengan giat, tidak saja di kediri dan sekitarnya, akan tetapi juga di daerah lain di Pulau Jawa, bahkan di luar Jawa. Tahun 1951 paham yang disebarkan itu dikukuhkan namanya menjadi paham "Darul Hadis". Nama ini konon diambil dari nama sebuah madrasah di Mekah, di mana Nurhasan pernah belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apa yang diajarkan oleh Nurhasan sebagai Islam yang murni, berdasarkan Alquran dan Hadis mendapat tantangan dari berbagai kalangan, baik masyarakat biasa maupun tokoh-tokoh agama, bahkan pemerintah. Karena dianggap meresahkan masyarakat, Pangdam VIII Brawijaya mengeluarkan SK tentang larangan/pembubaran gerakan Darul Hadis Nomor: Kept/28/26/1967. Larangan juga muncul dari Laksus Komkamtibda Jakarta tahun 1968, Pakem Kejati Jawa Barat tahun 1968, Kejati Sulawesi Tenggara tahun 1969, Komkamtibda Sumatera Selatan tahun 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kenyataannya, pelarangan ini tidak menyebabkan gerakan dan paham Darul hadis berhenti. Dengan mengguanakan berbagai nama, di berbagai wilayah baik di Jawa dan luar Jawa muncul gerakan-gerakan yang mengajarkan paham yang sama dengan Darul Hadis, antara lain: "Islam Murni", "Jama'ah Quran Hadis", "Islam Jamaah", "Yayasan Pondok Pendidikan Nasional", "Yayasan Pondok Alquran dan Hadis", 'Jamaah Amirul Mukminin", dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk memperoleh simpati pemerintah dan masyarakat, mereka juga giat menyelenggarakan pengajian-pengajian dalam rangka peringatan hari-hari besar nasional seperti: HUT Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, dan lain-lain. Bahkan semenjak 2 Desember 1970 melaui pimpinan Pondok Darul Hadis, para tokoh dan anggotanya menyatakan bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dengan masuk ke Golkar mereka merasa aman dan mendapat perlindungan cukup untuk terus menyebarkan ajaran yang menjadi misinya. Namun, karena berbeda dengan mainstream keislaman yang dianut oleh sebagian besar masyarakat, keresahan pun muncul di berbagai tempat dim mana paham tersebut diperkenalkan. Karena itu, melalui SK Nomor: 089/DA/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971, Kejaksaan Agung RI akhirnya melarang gerakan Darul Hadis, Islam Jamaah, dan sejenisnya beroperasi di seluruh wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Untuk membina eks-pengikut Darul Hadis, pada tanggal 3 Januari 1972 dibentuk Lemkari yang berkedudukan di Kediri. Melalui Mubes ke-2 tanggal 10-11 Juni 1981 yang dibuka oleh Menteri Agama ketika itu H. Alamsyah Ratuperwiranegara, kedudukan Lemkari dipindahkan dari Kediri ke Jakarta. Semenjak 8 Juni 1974, seperti Darul Hadis, Lemkari secara resmi menyatakan diri bernaung di bawah Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Semenjak Muber ke-3 4 Mei 1986 di Jakarta, yang dibuka oleh Menag Munawir Syadzali, Lemkari berkembang pesat. Namun seiringf dengan itu, sikap eksklusifis yang mereka tunjukkan meng-undang reaksi keras masyarakat: mengajankan paham Islam Jamaah, tidak mau berjamaah dengan Muslim lain, tidak mau bergaul dengan umat lain, meilih jodoh hanya dari kalangan internal, salat jumat di mesjid sendiri, adalah di antara gugatan orang. Melaui serangkaian rapat koordinasi antara tim peneliti Badan Litbang Agama dengan Ditjen Sospol Depdagri, BAKIN, dan DPP Golkar tanggal 25 April 1989 dan 22 Februari 1990 dihasilkan rekomendasi menyangkut dua hal pokok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Lemkari tidak dibubarkan, tetapi organisasi, personil dan ajaran (doktrin) harus dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penataan organisasi disiapkan oleh Depdagri, personil oleh Golkar, sedangkan ajaran oleh Depag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Untuk realisasi penataan tersebut Lemkari mengadakan Mubes di Jakarta tanggal 19-20 November 1990. di antara keputusan yang dihasilkan adalah mengubah nama Lemkari menjadi LDII, singkatan dari "Lembaga Dakwah Islam Indonesia". Adapun doktrin yang terus dianut hingga kini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Amir adalah pemimpin organisasi dan pemimpin spritual yang harus ditaati secara penuh oleh seluruh ikhwan jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Keanggotaan dilakukan melalui bai'at (walau adakalnya dibantah, namun menyarakat menyaksikan praktik tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Melanggengkan hubungan spritual murid-guru melalui sistem sanad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tidak boleh mengajarkan apapun yang tidak/belum diajarkan oleh guru. Semua ajaran harus duterima langsung dari guru secara manqul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Khutbah Jumat hanya dengan bahasa Arab dan dilaksanakan di mesjid LDII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Tidak mau salat di mesjid non-LDII (karena kotor/najis), juga makmum pada imam yang bukan anggota LDII (karena Islamnya tidak murni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Kalau ada orang luar (non-LDII) yang salat diasuk berkunjung ke mesjid LDII, maka apa yang terkena orang tersebut harus disucikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Muslim selain anggota LDII, termasuk sanak keluarga, bahkan orang tua sekali pun, dianggap tidak Islam murni sehingga ada kecenderungan dapat memutuskan hubungan keluarga. Kedudukan amir dan ikhwan jauh lebih tinggi dari sanak famili, termasuk orang tua (ibu dan bapak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Perkawinan oleh PPN dianggap tidak sah dan harus diulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.depag.web.id/news/kerukunan/39/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-7357922631900864021?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/7357922631900864021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=7357922631900864021' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7357922631900864021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7357922631900864021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/faham-darul-hadis-oleh-h.html' title=''/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-7030799959260195828</id><published>2007-07-03T11:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T11:40:28.540-07:00</updated><title type='text'>Pembentukan Provinsi Tapanuli?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqXzT00_-I/AAAAAAAAAP4/MdXVqK0Edgk/s1600-h/Mula+Harahap.bmp"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqXzT00_-I/AAAAAAAAAP4/MdXVqK0Edgk/s200/Mula+Harahap.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083042037191999458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;mulaharahap@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembentukan Provinsi Tapanuli?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;April 10th, 2007 &lt;br /&gt;Oleh: Mula Harahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu sampai dimana batas wilayah dari apa yang akan dinamai Propinsi Tapanuli itu. Mungkin para “tokoh” pengagasnya berangan-angan bahwa batas wilayah tersebut masih sama dengan Keresidenan Tapanuli bentukan Pemerintah Hindia Belanda dahulu. Tapi saya sangsi kalau angan-angan tersebut akan bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman penjajahan Belanda dahulu distrik Mandailing–yang mayoritas penduduknya beragama Islam–sebenarnya sudah enggan untuk bergabung dalam sebuah keresidenan yang bernama Keresidenan Batak, bersama saudara-saudaranya dari sub-etnis dan agama yang berbeda. Bahkan–karena alasan agama–mereka enggan disebut sub-etnis Batak, walau pun secara antropologi “traits”-nya memang demikian. Mereka lebih suka bergabung dalam Keresidenan Padang. Akhirnya, untuk melunakkan hati dan mengajak mereka agar mau bergabung, dipilihlah nama Tapanuli–yang berasal dari kata Tapian Na Uli–yaitu nama sebuah teluk di pantai Sibolga sebagai kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Belanda memang masih punya “otot” untuk memaksa sebuah distrik bergabung ke dalam sebuah keresidenan seperti yang diuraikan di atas. Tapi di era demokratisasi dan desentralisasi ini, saya tidak tahu siapa lagi yang masih punya “otot”. Karena itu–saya membayangkan–untuk mewujudkan cita-cita sebuah propinsi yang bernama Tapanuli terpaksa harus dilakukan rembug dan tawar-menawar yang meletihkan. (Syukur-syukur tidak terjadi konflik fisik antar etnis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pula kita lupa bahwa saat ini kita hidup di sebuah era yang semakin kental diwarnai oleh sentimen agama dan etnis. Saya pikir Kabupaten Mandailing-Natal tak akan mau bergabung dalam propinsi tersebut. Karena alasan agama atau etnis, besar kemungkinan kabupaten/kotamadya berikut ini pun tak akan mau bergabung: Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kotamadya Padang Sidempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dan Kotamadya Pematang Siantar; sejak dahulu memang berada dalam Keresidenan Sumatera Timur. (Dan beberapa waktu yang lalu–kalau saya tak salah–”tokoh- tokoh” dari Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat sudah menyatakan diri pula untuk bergabung dalam gerakan yang mengangan-angankan Propinsi Sumatera Timur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi akan tersisalah Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kotamadya Sibolga–yang dihuni oleh mayoritas penduduk dari sub-etnis Batak Toba yang beragama Kristen–untuk bergabung dalam Propinsi Tapanuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu akan timbul pertanyaan: Apakah ada gunanya propinsi yang seperti itu? Wilayahnya tidak luas-luas amat, populasinya sangat homogen, dan relatif tidak memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau karena statusnya setelah menjadi sebuah propinsi ia bisa mendapat total anggaran yang jauh lebih besar daripada total anggaran setiap kabupaten/kotmadya yang bergabung ke dalamnya (dan karenanya anggaran yang bisa dipergunakan untuk pembangunan/kesejahteraan rakyat menjadi lebih besar pula), maka saya sangsi kalau anggaran tersebut bisa mencapai tujuannya. Anggaran itu pasti akan habis hanya untuk membiayai aparatur propinsi yang baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, oleh politik dagang sapi dan akal-akalan di tingkat pusat (bukan karena proses demokrasi yang mencerminkan aspirasi rakyat di tingkat akar-rumput) boleh-boleh saja Propinsi Tapanuli itu memiliki batas wilayah yang hampir sama seperti pada masa penjajahan Belanda dahulu. Tapi peryalah, bahwa pemekaran yang “dipaksakan” akan menimbulkan banyak persoalan di kemudian hari. Propinsi ini hanya akan diwarnai oleh kericuhan agama dan etnis, seperti yang kini terjadi di Propinsi Sulawesi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kalau saya boleh menganjurkan, lupakan sajalah mimpi tentang Propinsi Tapanuli (dan Propinsi Sumatera Timur) itu. Satu propinsi yang bernama Sumatera Utara, yang dihuni oleh berbagai agama, etnis dan sub-etnis adalah sebuah kekuatan yang dinamis dan progresif dalam upaya mensejahterakan rakyat. (Tentu saja kalau kita tahu mengelolanya dengan baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para “tokoh” (terutama mereka yang sudah pensiun dan sudah menikmati buah kekuasaan semasa Pemerintahan Rezim Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati), tapi masih saja terus ingin “bermain” dalam isyu pemekaran Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur, saya ingin mengatakan: “Sudahlah, Bapak. Istirahatlah. Pergilah bermain-main dengan cucu. Dan lakukanlah hal yang baik-baik saja bagi Sumatera Utara khususnya, dan Tapanuli umumnya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kesejahteraan rakyat ditentukan oleh kemauan dan kemampuan para bupati dan anggota DPRD di setiap kabupaten/kotamadya dalam mengelola wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan rakyat bukan ditentukan oleh pemekaran propinsi[.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://mulaharahap.wordpress.com/2007/04/10/pembentukan-provinsi-tapanuli/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-7030799959260195828?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/7030799959260195828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=7030799959260195828' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7030799959260195828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7030799959260195828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/pembentukan-provinsi-tapanuli.html' title='Pembentukan Provinsi Tapanuli?'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqXzT00_-I/AAAAAAAAAP4/MdXVqK0Edgk/s72-c/Mula+Harahap.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-2673163615040855306</id><published>2007-07-03T11:29:00.001-07:00</published><updated>2007-07-22T02:08:20.224-07:00</updated><title type='text'>Politik Sektarian Belanda</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Politik Sektarian Belanda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;January 9th, 2007 — Tapanuli &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola berusaha memecah belah masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, sesuai dengan misi Devide et Impera dengan menerapkan gagasan untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. A.P. Godon yang sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: “Dalam laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku Melayu-Batak Islam dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen.” (Lihat O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1889, Gubernur Jenderal pemerintah penjajah Belanda mengeluarkan surat keputusan rahasia yang menentukan antara lain bahwa di daerah yang penduduknya tidak memeluk agama Islam, tidak boleh diangkat kepala desa atau pegawai muslim. Peraturan atau kebiasaan yang mendukung Islam pun tidak dibenarkan. (lihat: Beslit Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang residen Tapanuli bernama Westenberg dan Barth kemudian membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak senang melihat perubahan kepada Islam, bahkan Westenberg memberi contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, (Arnheim , 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama 23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul. Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas dasar beslit rahasia 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh H Ibrahim melakukan perlawanan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr. Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan, laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909. Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang digariskan pada tahun 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Residen Westenberg kemudian dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak pada tahun 1903, Janji Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan pengaduan tersebut. (Lihat; “Christelijke Zending en Islam in Indonesia”, dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru. Sekalipun jumlah warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim Sitompul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Residen Vorstman sadar dengan instruksi rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini berhasil unjuk gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi juga diputus dengan alasan Devide et Impera. Dengan demikian orang-orang Batak di tanah Batak pusat akan terisolir dan mudah untuk ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen Bataklanden dan Residen Tapanuli kemudian melakukan langkah dengan memisahkan orang-orang Batak di Singkel dengan Dairi. Hubungan lalu lintas antara Singkel dan Dairi pun diputus. Raja Batu-batu, seorang Raja Batak Singkel, yang kebetulan seorang muslim dilarang untuk mendatangi rakyatnya di Dairi. (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909, dalam Koleksi G.A.J Hazeu). Bahkan sejak tahun 1910 para pedagang Batak Singkel dilarang tinggal di daerah Batak, maksudnya Keresidenan Tapanuli, lebih dari 24 jam. (Nota Lulofs 11 Juli 1915, dalam Lance Castle, Hal 94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penjajah Belanda untuk mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritori agar mudah dijajah juga dilakukan di Silindung. Pada tahun 1915, Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup. Misalnya dengan menggunakan Ordonansi Guru 1905 untuk menghindari pendidikan Islam di daerah tersebut. Ordonansi Guru ini memungkinkan penjajah dapat memburu, mengusir dan mengasingkan guru-guru Batak Islam yang termasuk para haji-haji dari kalangan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pihak zending menentang instruksi- yang dinilai terlalu menguntungkan Islam- ini. Dan menyatakan keheranannya mengapa sikap seorang pegawai demikian simpati kepada Islam. Karena menurut mereka di daerah ini terdapat 15.000 orang Kristen, 3000 orang Batak Islam dan masih banyak animis yang akan diserahkan kepada nabi palsu. (Lihat surat Lulofs kepada Direktur BB tanggal 16 Mei 1916).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pemisahan daerah Islam-Kristen semacam ini Hazeu tidak setuju, karena dia tidak membenarkan terjadinya pengusiran seseorang dari daerah tertutup. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 29 Desember 1916, Hazeu menyatakan, “Saya memperingatkan dengan keras bahwa Ordonansi Guru tidak boleh digunakan untuk tujuan mengusir haji sebagaimana dibenarkan oleh tuan Lulofs” (Koleksi G.A.J.). Namun, pengusiran dan pemburuan tersebut tetap saja terjadi di tanah Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menghalangi gerak pedagang Batak Islam yang sejak abad 15 telah eksis dan menjadi tulang punggung perekonomian tanah Batak, khususnya dari marga Hutagalung, Hasibuan, Pasaribu dan Marpaung serta marga-marga lainnya, Asisten Residen Fraser mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah H.N. vander Tuuk yang pada tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.&lt;br /&gt;2. Harus kawin dengan wanita Eropa, karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih berpengaruh daripada pendeta biasa.&lt;br /&gt;3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.&lt;br /&gt;4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.&lt;br /&gt;5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.&lt;br /&gt;6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.&lt;br /&gt;7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.&lt;br /&gt;8. Dalam taraf permulaan hanya omong-omong, secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.&lt;br /&gt;9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel.&lt;br /&gt;10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.&lt;br /&gt;11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.&lt;br /&gt;12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.&lt;br /&gt;13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.&lt;br /&gt;14. Sebagai peternak harus memelihara babi.&lt;br /&gt;15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.&lt;br /&gt;16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai, Karena semua pegawai yang beragama Islam, biasa mengucapkan: “Jangan makan babi lagi” setelah memberikan suatu suntikan.&lt;br /&gt;17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.&lt;br /&gt;18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.&lt;br /&gt;Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, pihak zending mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu (jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa menentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gottfried Simons adalah seorang zendeling Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun 1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap orang Islam di Hindia Belanda).&lt;br /&gt;2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).&lt;br /&gt;3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat brosur tersebut yang menurut Hazeu penuh dengan kebohongan dan kepalsuan tersebut, timbullah kehebohan, sehingga untuk mengatasinya brosur tersebut segera disita oleh kontrolir dari rumah zendeling Jerman, Ameler, di Bungabondar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asisten Residen bermaksud memanggil pihak zending ke pengadilan, tapi Jaksa Agung di Batavia melarangnya. Kemudian pusat Zending di Tarutung meminta agar brosur yang disita itu dikembalikan secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 12 Juli 1919 brosur tersebut akan dikembalikan dan pihak zending mengumumkan hal itu sebelumnya, meskipun sudah diminta untuk merahasiakannya. Akibatnya timbul kehebohan sehingga zendeling Ameler meminta agar kontrolir tidak jadi datang, karena sudah memancing perhatian pelbagai organisasi beribadatan suluk di tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brosur seharga f.0,15 per buah itu bisa laku f.2,-, (Lance Castle, Hal 110-112). Selama ini harapan demikian tinggi untuk bisa mengikis pengaruh Islam dari tanah Batak dengan jalan mempercepat kristenisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan semacam ini didasarkan atas kepercayaan berlebihan tentang superioritas Kristen atas Islam dan dugaan bahwa agama Islam yang sinkretis di negeri ini (seperti parmalim dan agama kepercayaan Batak lainnya yang mirip dengan Islam sedikit atau banyak) akan mudah dikristenkan. Banyak orang Belanda terutama pada abad ke-19 yang berpengharapan demikian (Lihat A. Retif, “Aspect Religiux de l’Indonesie”, dalam Etudes, 1945, hal 371-381; Harry J. Benda, “The Crescent and the Rising Sun”, op cit., hal. 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjuangan kemerdekaan dan pergumulan antara orang Batak dengan penjajah Belanda di tanah Batak ini nampaklah kesan bahwa di satu pihak agama Islam berkembang dengan segala kesederhanaannya, sedang di pihak lain agama Kristen dengan segala kelebihannya ditunjang oleh para pejabat dan pegawai kolonial pada umumnya. (Aqib Suminto; Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat berkembangnya Kristen di daerah ini jelas bukan semata-mata karena “gereja-gereja di sana memiliki semangat missioner yang besar” seperti pendapat Dr. F. Ukur yang menyatakan bahwa satu ciri gereja-gereja di Sumatera adalah memiliki semangat missioner yang besar, sehingga dapat berkembang cepat dalam waktu yang relatif singkat. Lihat: Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh, XII (Jakarta, 1976), hal. 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan tahunannya 1906/1907, Konsul Zending mengakui bahwa pemerintah penjajahan Belanda sering mendukung aktivitas Kristen; bahkan kadang-kadang pemerintah meminta kepada zending agar mereka membuka cabangnya di suatu tempat, seperti di Simalungun tahun 1904 dan Pakpaklanden tahun 1906, dua daerah yang sudah banyak menganut agama Islam selain animisme. Lihat Laporan ke-25 Algemeene Nederlandse Zendingsconferentie, 1911, Hal. 80, tentang “De prediking des zendelings aan de Mohammedanen” atau lihat M.C.Jongeling, op cit., hal 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya memang perluasan kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiosis yag paling menunjang. Lihat: H. Kraemer, “De Zending en Nederlands Indie”, dalam H. Baudet, &amp; I.J. Brugmans, op.cit., hal 294.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu zending Kristen dianggap sebagai faktor penting dalam proses penjajahan, walaupun tujuan zending hanya rohani. Semua yang menguntungkan pihak Batak yang Islam di Hindia Belanda berarti merugikan bagi kekuasaan moril pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat, Alb. C. Kruyt, “De Inlandsche Staat en de Zending”, dalam Indisch Genootschap, 23 Oktober 1906, hal 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbiosis ini nampak jelas di tanah Batak. Seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban. Ketika enam orang Batak pelebegu berkomunikasi dengannya dan menyatakan keinginannya masuk Islam dan zending Muller tidak berhasil memurtadkannya kembali, Residen Tapanuli memanggil keenam orang tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau keluar dari Islam meskipun diancam akan dibuang. Lihat Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916. Catatan buku harian tersebut dikutip oleh Residen Tapanuli dalam suratnya kepada pimpinan tertinggi penjajah Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 No. 246 (Koleksi G.A.J Hazeu, op cit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilaporkan pula, adanya lima orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang berusaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dituduh telah menyebarkan agama Islam dan dihukum dengan hukuman satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat: Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916. Gubernur Jenderal lebih keras dengan memerintahkan penghentian apa yang disebutnya propagandis Islam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani Batak di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut. Lihat, Laporan penelitian anggota Desan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917. (Lihat Lance Castle, op cit., hal 101).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi masalah sosial yang timbul, sikap para pejabat penjajah Belanda nampak jelas memihak zending. Residen Tapanuli mengakui bahwa sikap netral di bidang agama akan berakibat gagal totalnya zending di daerah ini. Sebaliknya kemengangan kristen pasti terwujud, bila dibantu sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda. (Lihat: Surat Residen Tapanuli kepada Gubernur Jenderal Van Heutsz tanggal 31 Maret 1909. Ia menyatakan; Kita boleh memilih antara netral seratus persen terhadap agama dengan hasil pasti menurut matematika bahwa pekerjaan zending akan gagal total, dan lambat atau cepat seluruh daerah Batak akan masuk Islam. Atau membantu sepenuhnya kepada zending untuk menghindari propaganda Islam di daerah Batak. Dengan demikian kemenangan Kristen di daerah ini pasti terwujud. Andaikata pemerintah bersikap netral, akan berakibat seperti di daerah padang Sidempuan. Walaupun zending di sana cukup rajin di antara penduduk yang waktu itu masih pelebegu namun Islam ternyata menang di Mandailing, Angkola dan sebagian besar Sipirok. Justru pegawai-pegawai kita memegang politik nonintervensi (Koleksi G.A.J Hazeu, op. cit,. Hal 102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan agar pegawai pemerintah penjajah Belanda, kapanpun dan dimanapun tidak memihak penduduk muslim; sebaliknya secara moril harus membantu dan mendukung zending. Sementara itu, peraturan rahasia itu ditambah lagi dengan satu artikel yang berbunyi; “Orang Kristren (yakni pribumi sebagai objek yang dijajah) tidak harus melakukan kerja paksa pada hari Minggu.” Lihat: M.C. Jongeling, op cit., hal 114-115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://pakkat.wordpress.com/2007/01/09/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-2673163615040855306?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/2673163615040855306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=2673163615040855306' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/2673163615040855306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/2673163615040855306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/politik-sektarian-belanda.html' title='Politik Sektarian Belanda'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-918954559900642937</id><published>2007-07-03T11:19:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T11:22:44.012-07:00</updated><title type='text'>Jalanraya Hapuskan Warisan Mandailing di Perak?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqTzz00_9I/AAAAAAAAAPw/lfog5q7Unk0/s1600-h/perkuburanMandailing.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqTzz00_9I/AAAAAAAAAPw/lfog5q7Unk0/s400/perkuburanMandailing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083037647735422930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembinaan Jalanraya hapuskan Warisan Sejarah Perak &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Faisal Mustaffa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATU GAJAH 15 Nov - Waris-waris keturunan Mandailing di sini hari ini telah mengemukakan rayuan kepada pihak kerajaan khususnya Jabatan Kerja Raya supaya menimbang kembali cadangan untuk membina jalanraya Gopeng - Seputeh Fasa II sehingga terpaksa mengambilalih tanah perkuburan nenek moyang mereka yang berusia lebih 100 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurucakap bagi pempetisyen itu, Hj Mohd Zain bin Zon berkata bahawa pembinaan jalanraya tersebut akan melibatkan beberapa bidang tanah yang sudah pun diberikan pampasan termasuk sebidang tanah perkuburan yang menempatkan Dato Stia Raja yang dipercayai membuka Batu Gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mohd Zain, tanah perkuburan yang terletak di Lot 2038 dan Lot 34044 Jalan Tanjung Tualang itu bukan hanya penting bagi keturunannya (Mandailing) tetapi juga makam itu merupakan sebahagian daripada sejarah Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah perkuburan itu menempatkan lebih daripada 150 kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Mandailing inilah yang telah membina kedai-kedai (tuanpunya asal) pekan lama Batu Gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan hapusnya tanah perkuburan ini, maka hapuslah sejarah Melayu, khasnya orang Mandailing Batu Gajah," ujar Mohd Zain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waris-waris arwah yang dikebumikan di sini hari ini telah berkumpul di tanah perkuburan tersebut bagi menunjukkan protes mereka, termasuk Tan Sri Annuar (bekas pengerusi Suhakam) yang merupakan cucu menantu kepada Tok Stia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk kepada sejarah, Dato Stia Raja atau lebih dikenali sebagai Tok Setia Raja, anak Bendahara Raja Ketua Mandailing di Selangor pernah terlibat bersama Raja Asal dalam Peperangan Klang (1867 - 73) kemudian berpindah bersama Raja Asal ke Perak, pada mulanya di Selama, kemudiannya menetap di Batu Gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok Stia Raja juga telah memperkenalkan industri perlombongan bijih dan perladangan getah ekonomi Perak, khususnya Batu Gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari usaha Tok Stia dalam bidang bijih timah dan getah telah membawa kepadatan penduduk Melayu, Cina dan India ke Batu Gajah secara langsung merupakan orang yang membuka Batu Gajah," terang Mohd Zain, 65 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mohd Zain yang juga merupakan generasi keempat Tok Stia, sekiranya Raja Asal dipelihara tanah perkuburannya, mengapa tidak Tok Stia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut buku Raja Bilah and The Mandailing tulisan Abdul Razzaq dan Khoo Salma Nasution (2003), kedua-dua Raja Asal dan Tok Stia sama handal (panglima perang), malah Tok Stia lebih berjasa kepada Batu Gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut buku itu lagi, hubungannya amat rapat dengan Raja Asal dan Raja Bilah (anak lelaki Raja Bilah berkahwin dengan anak perempuan Tok Stia Raja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam temuramahnya dengan Malaysia Today, wakil-wakil waris itu telah merayu kepada pihak berkenaan untuk mengkaji semula projek pembinaan jalanraya supaya mereka dapat menziarahi tanah perkuburan yang sentiasa dijaga kebersihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat telah pun dihantar kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab termasuk Jabatan Kerja Raya tetapi tiada apa-apa balasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-918954559900642937?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/918954559900642937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=918954559900642937' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/918954559900642937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/918954559900642937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/jalanraya-hapuskan-warisan-mandailing.html' title='Jalanraya Hapuskan Warisan Mandailing di Perak?'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqTzz00_9I/AAAAAAAAAPw/lfog5q7Unk0/s72-c/perkuburanMandailing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4912610491200401135</id><published>2007-07-03T10:34:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T10:38:29.001-07:00</updated><title type='text'>Ma'had Musthafawiyah</title><content type='html'>Ma'had Musthafawiyah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqJGj00_5I/AAAAAAAAAPQ/ftClZ2LCTSA/s1600-h/musth.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqJGj00_5I/AAAAAAAAAPQ/ftClZ2LCTSA/s400/musth.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083025875230064530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nun di provinsi sisi barat, adalah pesantren yang hampir seabad usianya (1912). Ma`had Almusthafawiyah sangat dikenal di Sumatra Utara karena lulusannya yang telah menyebar ke mana-mana. Pesantren ini didirikan Syekh Kiyai H. Musthafa Husein Nasution, di Desa Purbabaru, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal, sekitar 12 jam perjalanan dari Medan. Di lahan seluas 10 hektare itu saat ini dihuni sekitar 8.000 santri. Tercatat asal santri selain dari beberapa daerah di Indonesia antara lain Malaysia dan Singapura. Di bulan Ramadan hingga 2 minggu setelah Idul Fitri pesantren libur panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Musthafa, sang pendiri, yang belajar ilmu agama selama 13 tahun di Makkah itu meninggal pada November 1955. Pimpinan pesantren berpindah kepada anak lelaki tertuanya, H. Abdullah Musthafa. Warisan yang ditinggalkan hanya satu unit bangunan papan dengan enam ruangan kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, jumlah santri yang ingin memperdalam ilmu agama semakin meningkat dari tahun ke tahun, apalagi Almusthafawiyah mulai menerima santriwati. Karena itu, Haji Abdullah Musthafa pun membeli tanah di lokasi Kampung Tengah Purbabaru dan membangun tiga ruang belajar darurat. Ruang belajar itu hanya berdinding bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. “Herannya, jumlah santri yang ingin belajar bukannya tambah surut malah bertambah banyak,” tutur Hajjah Zahara Hanum Lubis, istri H. Abdullah Musthafa Nasution (almarhum) yang mengelola asrama putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1960 dibangun lagi satu unit gedung dengan sepuluh ruang belajar. Kali ini bangunannya sudah semipermanen. Pada tahun 1962, ruang belajar yang dibangun dari sumbangan para orang tua santri berupa sekeping papan dan selembar seng setiap orangnya ditambah tabungan H. Abdullah Musthafa Nasution itu selesai. Bangunan ini diresmikan Jenderal Purnawirawan Abdul Haris Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Abdullah Musthafa meninggalkan sejumlah aset pesantren berupa bangunan megah, tempat 8.000 orang santri dan santriwati menuntut ilmu. Pesantren Musthafawiyah yang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Purbabaru itu kini memiliki banyak fasilitas, antara lain lima unit gedung belajar dengan masing-masing 16 ruang belajar yang terletak di empat lokasi  yang sebagian dananya dari bantuan masyarakat dan Pemda Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, dua unit asrama putri berlantai dua dengan 20 kamar yang masing-masing dihuni sedikitnya 60 orang santriwati, dua unit lantai satu dengan 40 kamar, dua unit warung serba ada yang dikelola para santri, dua unit rumah pegawai, satu unit poliklinik dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pondok pesantren diasuh oleh anaknya H.Musthafa Bakri Nasution (Mudir), Wakil Mudir oleh Abdul Hakim Nasution. Sekretaris H. Zulyaden. Bendahara oleh H. Miswaruddin Nasution. Kepala Sekolah H.Muhammad Yaqub Nasution, Kepala Aliyah H.Sobirin Rangkuti, LC. Kepala Tsanawiyah H. Mahmudin Pasaribu, Kepala Program Pendidikan Secara Keseluruhan Drs. H. Ardabili Batubara. Pengelola Koperasi Syari`ah Musthafawiyah oleh Mislahuddin Nasution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lahan enam hektare ini, para santri putra dilatih kemandiriannya dengan membangun pondok tempat tinggal mereka. Ribuan pondok yang terhampar di Desa Purbabaru ini menjadi pemandangan unik di jalan lintas Sumatra. Ada yang merupakan bangun sederhana dengan atap rumbia dan dinding papan, tapi ada juga yang membangun dengan model mutakhir, bahkan tak sedikit yang bertingkat dua atau tiga. Yang menarik, walau mereka bangun dengan model mutakhir, tetap dengan penerangan lampu sumbu dan beralaskan tikar pandan. Bukannya mereka tak sanggup membeli, tapi soal kepraktisan saja. Para santri tidak mau repot harus membawa-bawa seluruh harta bendanya saat liburan panjang (istilah dari santri Marayap). Sebab, ketika liburan, seluruh pondok dibiarkan terbuka tak terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan pondok tidak gratis. Ada sistem sewa kapling dengan membayar dua tabung beras per semesternya (satu tabung beras sama dengan empat kilogram) untuk setiap santri. Dan pembayaran itu diberikan kepada penduduk yang memiliki tanah. Sewa kapling tanah itu dilakukan karena jumlah pondok yang berdiri sudah melebihi areal yang enam hektare itu. Tetapi, banyak juga santri baru yang tidak membangun pondok; mereka membeli dari santri yang lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang kerap menjadi perhatian adalah bila mereka sedang mandi di Sungai Batang Gadis yang terhampar mengelilingi ribuan pondok tersebut. Maka, jubah-jubah mereka yang putih itu pun mulai memenuhi batu-batu sungai. Tapi, itu pula yang menjadi kebahagiaan tersendiri buat para santri. Hidup bersama alam dan kemandirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan para santri putra yang hidup dalam kemandirian, santri putri harus tinggal di asrama. Mereka justru tidak pernah memasak makanan sendiri. Namun, menurut Hj. Zahara Hanum, dengan kondisi saat ini, pihak asrama tidak dapat lagi memenuhinya. Saat ini setiap penghuni asrama putri diwajibkan membayar 4,5 tabung beras setiap bulan (sama dengan 18 kilogram beras), dan memasak sendiri. “Untuk lauknya mereka membeli,” kata Hj. Zahara yang berjanji jika keadaan ekonomi sudah agak membaik, para santri tak perlu lagi membeli lauk. “Kasihan mereka,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya, para santri putri punya peluang mendapatkan uang. Di asrama mereka memperoleh banyak keterampilan dari menyulam taplak meja hingga menjahit dan membordir mukena. Produk itu dijual ketika mereka kembali ke kampung halaman atau kepada penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang pendidikan di pesantren hanya Rp 7.500, itu sudah termasuk uang asrama, bagi santri wanita. Bila ada saudaranya menjadi santri, ada hitungan lain. Anak tertua dikenakan biaya penuh, sedangkan anak kedua mendapat potongan separonya, menjadi Rp 3.750. Jika ada adiknya lagi, tidak dikenakan biaya lagi. Gratis juga dikenakan pada santri anak guru dan yatim piatu. Tapi, biaya makan dihitung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama pendidikan di sini tujuh tahun, dari kelas satu sampai kelas tujuh. Setahun pertama digunakan untuk pengenalan Alquran dan belajar membaca ejaan Arab yang merupakan bahasa wajib di pesantren ini. Jumlah staf pengajar tercatat 200 orang, berasal dari berbagai pendidikan di luar negeri, khususnya dari Kairo, India, dan Makkah. Jumlah staf pengajar itu tentu tidak sepadan dengan jumlah santri yang ribuan. Untuk itu Departemen P dan K Sumatra Utara menempatkan gurunya di sana. “Mereka harus alumni IAIN serta mampu berbahasa Arab,” Zahara menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, karena besarnya biaya pengelolaan yang tidak sebanding dengan jumlah uang yang diterima dari para santri, itu menyebabkan pesantren Al-Musthafawiyah masih mendapatkan subsidi dari Pemda Madina dan Donatur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://varhand.wordpress.com/2007/04/04/20/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4912610491200401135?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4912610491200401135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4912610491200401135' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4912610491200401135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4912610491200401135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/mahad-musthafawiyah.html' title='Ma&apos;had Musthafawiyah'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqJGj00_5I/AAAAAAAAAPQ/ftClZ2LCTSA/s72-c/musth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4914776896684995668</id><published>2007-07-03T10:17:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T10:24:31.255-07:00</updated><title type='text'>Merentas Jalan Kebersamaan, Bersatu Membangun Kembali Mandailing</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqGSD00_3I/AAAAAAAAAPA/ihikcmpFIQA/s1600-h/BINDU_SEGI_TIGA.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqGSD00_3I/AAAAAAAAAPA/ihikcmpFIQA/s400/BINDU_SEGI_TIGA.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083022774263676786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MERETAS JALAN KEBERSAMAAN, &lt;br /&gt;BERSATU MEMBANGUN KEMBALI MANDAILING&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulkifli B. Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering kita mendengar keluhan betapa sulitnya orang Mandailing bersatu, terutama yang bermukim di perantauan. Perkumpulan atau organisasi sosial orang Mandailing di perantauan silih berganti timbul, kemudian tenggelam atau mati suri. Pada tahun 1980-an di bawah pimpinan H. M.Y. Effendi Nasution (alm) berdiri Himpunan Keluarga Besar Mandailing (HIKMA), yang cukup berpengaruh ketika itu di Sumatera Utara khususnya, tetapi perannya terus menyurut sejak 1990-an hingga sekarang. Perkumpulan lain yang berlandaskan kecendiakawanan, kebangsawanan, kampung asal, marga, dan lain sebagainya juga banyak tumbuh namun hanya sedikit yang mampu bertahan lama. Di  antara perkumpulan yang mampu bertahan juga pada umumnya hanya bergerak dalam urusan sosial budaya dan keagamaan, tak terdengar adanya organisasi yang fokus untuk menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat Mandailing. Mengapa sulit sekali orang Mandailing bersatu ?  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meskipun pertanyaan itu mungkin sudah ada di hati setiap warga yang prihatin dengan eksistensi dan kiprah orang Mandailing dalam gerak pembangunan bangsa saat ini dan merasa cemas tentang eksistensi mereka di era globalisasi di depan, toh belum ada jawaban yang memadai untuk itu. Masing-masing kita mungkin punya jawaban, berdasarkan asumsi-asumsi, perkiraan, maupun analisis sekenanya, sehingga akurasinya tak bisa dipertanggung-jawabkan. Karena itulah, tampaknya kita perlu menemukan suatu jawaban ilmiah, dan berdasarkan jawaban itu pula kita menyusun agenda bersama ke depan. Tentu saja hal itu kita butuhkan kalau kita masih memandang perlu untuk kembali membangun Mandailing dalam arti luas dengan semangat kebersamaan dan persatuan.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasti banyak yang tidak sependapat dengan penulis kalau dikatakan bahwa kebudayaan dan peradaban Mandailing sedang menuju kepunahan, dan eksistensi orang-orang Mandailing di masa depan hanya bisa teridentifikasi atau terlacak dari sisa-sisa identitasnya berupa penggunaan marga di belakang namanya. Itupun sebatas bagi mereka yang masih mau menggunakannya. Mengapa dikatakan sedang menuju kepunahan ?. Pertama, kita sudah hampir melupakan salah satu kekayaan peradaban kita, yaitu kepemilikan aksara khas yang bernama Surat Tulak-tulak. Hanya bangsa yang berperadaban maju di muka bumi ini yang pernah memiliki aksara sendiri sebagai alat transmisi kebudayaan, seperti yang dimiliki bangsa Mesir Kuno, pemilik aksara Latin, Arab, Cina, Jepang, Sanskerta, dan beberapa suku bangsa yang ada di Indonesia, termasuk Mandailing. Dari sekian banyak bangsa ciptaan Tuhan di bumi ini ternyata Mandailing termasuk dari sedikit yang memiliki peradaban aksara sendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bahasa Mandailing sebagai ‘gudang’ penyimpanan paling aman bagi kekayaan sebuah kebudayaan, juga sedang menuju kepunahan, termasuk di kampung halaman. Jika bahasa Mandailing kehilangan kosa kata aslinya, itu adalah pertanda akan musnahnya kebudayaan Mandailing. Coba kita amati kosa kata yang digunakan orang Mandailing di kampung halaman dalam percakapan sehari-hari, mungkin hampir separuhnya adalah unsur serapan dari bahasa lain. Anak-anak yang dilahirkan setiap perantau Mandailing tidak lagi diasuh dengan bahasa ini, berbeda sekali dengan orang Jawa, Batak Toba, Tionghoa, dan lain-lain yang tetap mewariskan bahasa mereka kepada anak cucunya meskipun sudah turun temurun di perantauan. Karena itu, kita melihat rasa kebersamaan, solidaritas, persatuan di kalangan suku bangsa yang disebutkan tadi jauh lebih kuat daripada yang dimiliki oleh orang Mandailing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sebagai akibat dari semakin hilangnya kekuatan bahasa Mandailing (konsep-konsep budaya yang tertuang secara lisan, tulisan, ornamentasi) dari gerak kehidupan kita, maka memudar pula kepekaan dan antusiasme kita untuk menggali khasanah kekayaan budaya bangsa kita untuk menata kehidupan warga masyarakat Mandailing. Apatah lagi untuk menyumbangkan khasanah kekayaan itu untuk kemajuan peradaban bangsa Indonesia, atau bahkan peradaban dunia. Dengan kata lain, kebudayaan kita menjadi kehilangan konteks dalam gerak kemajuan peradaban bangsa Indonesia sendiri. Kita menjadi (suku)bangsa yang tidak diperhitungkan dalam statistik politik kebudayaan di negeri ini, karena kita sadari atau tidak, kita terima atau tidak, kita telah didefinisikan orang lain dengan identitas yang justru mengaburkan eksistensi kita. Kita sudah terlelap dalam tidur panjang, atau bahkan terkena jebakan ‘sipogang’  hegemoni pihak lain selama bertahun-tahun. Dalam istilah sarkastis Mandailing, kebudayaan kita telah disabot orang lain atau disebut dengan “igadis jongjong!” . Betapa tidak berdayanya kita menghadapi tantangan !      &lt;br /&gt;Sudah saatnya kita bangun dan sadar untuk keluar dari jebakan sipogang tadi.  Bukankah misalnya, nilai tinggi dari falsafah hukum dan keadilan yang terkandung secara simbolik dalam patung kayu bernama &lt;em&gt;Sangkalon Sipangan Anak Sipangan Boru &lt;/em&gt;yang ada di depan pintu &lt;em&gt;Sopo Godang Mandailing&lt;/em&gt;, adalah kekayaan budaya yang sepatutnya menjadi alas penataan kehidupan kita sendiri, dan potensial untuk dikontribusikan memajukan peradaban dan budaya hukum di negeri ini ?. Prinsip-prinsip keadilan yang ditawarkan oleh kebudayaan Mandailing ternyata amat sangat sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan yang berlaku universal dan juga prinsip-prinsip hukum dan penegakan keadilan dalam Islam. Mengapa kita tak bangga dengan itu ? Jawaban pertama, pasti karena kita tidak mengenalnya.                            &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sinondang Mandailing&lt;/em&gt; lahir dan sampai di tangan kita pada hari ini berangkat dari suatu kesadaran bahwa kita harus bangun dan sadar akan ketertinggalan selama ini. Tidak sepantasnya lagi kita membiarkan diri dan kebudayaan kita didefinisikan sepihak oleh orang lain. Sudah pasti tidak mengenakkan bagi kita, lebih-lebih bagi catatan sejarah anak cucu kita kelak, bahwa Mandailing pernah ada dalam peta wilayah ekspansi Kerajaaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi, tetapi pada abad ke -19 dan awal abad ke-20 mulai dipertanyakan eksistensinya sebagai sebuah entitas etnik, dan pada abad 21 akan hilang di telan bumi. Semoga hal itu tidak terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Meretas jalan kebersamaan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perjalanan sejarah betapa sulit, berliku, beronak duri, dan terjalnya jalan yang harus ditempuh untuk bisa mewujudkan persatuan di kalangan orang Mandailing di perantauan, kiranya kita tak perlu tergopoh-gopoh untuk mewujudkan sebuah perkumpulan atau organisasi sosial yang besar atas nama Mandailing. Yang perlu kita hidupkan lebih awal adalah lampu yang memberi cahaya (&lt;em&gt;sinondang&lt;/em&gt;) bagi setiap warga Mandailing, agar setiap individu yang terlahir dengan atribut Mandailing melihat jalan terang di hadapannya. Dengan cahaya itu dia tercerahkan bahwa budaya Mandailing telah membekalinya falsafah hidup yang sejalan dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai Islam, dan bahwa budaya Mandailing dapat memampukannya untuk memberi warna indah dalam membingkai mozaik kebangsaan dalam kerangka NKRI. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cahaya itu pula setiap individu warga Mandailing diharapkan mampu melihat kenyataan bahwa untuk besar tidak cukup dilakukan dengan usaha sendiri. Meskipun banyak individu warga Mandailing yang berhasil menjadi orang besar dengan usahanya sendiri, dan karena itu tidak merasa berhutang budi kepada tanah leluhurnya Mandailing, pada titik tertentu dalam batinnya ia selalu merindukan akan akar budayanya. Dan kita menyaksikan dalam fenomena global betapa akar budaya leluhur tetap menjadi pertalian yang tidak bisa dimusnahkan, karena ia menjadi sesuatu yang primus (&lt;em&gt;primordial&lt;/em&gt;) dalam kehidupan manusia. Tentu bukan maksud kita untuk menggalakkan semangat etnosentrisme Mandailing untuk membangun kerangkeng eksklusifitas etnik. Sama sekali tidak, karena  dalam pandangan kita hal itu adalah wujud miopisme kebudayaan. Semangat yang ingin dibangun adalah : dari Mandailing untuk bangsa Indonesia dan untuk dunia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan itu perlu pemahaman komprehensif tentang Mandailing, dan perlu kebersamaan untuk mempromosikan falsafah hidup Mandailing untuk dapat menjadi unsur indah dalam mozaik kebudayaan Indonesia dan peradaban dunia. Agar dapat memahami Mandailing secara komprehensif diperlukan wahana yang bisa memfasilitasi proses belajar bersama atau saling berbagi pengetahuan antar warga Mandailing dimanapun berada. Dengan kemajuan teknologi informasi proses transmisi pengetahuan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan murah. Beragam medium pertukaran informasi bisa dipilih, mulai dari buku, surat kabar, majalah, tabloid, jurnal, buletin, radio, situs internet, dan lain sebagainya. Harus kita akui bahwa media publikasi Mandailing nyaris tidak ada kecuali penerbitan buku secara sporadis oleh beberapa penulis. Kita salut kepada orang Batak Toba yang tampaknya sangat menyadari pentingnya media informasi dalam percaturan politik kebudayaan, sehingga hampir semua jenis media mereka manfaatkan untuk mempromosikan kebudayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersatu membangun (kembali) Mandailing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya kebersamaan adalah modal sosial (&lt;em&gt;social capital&lt;/em&gt;) untuk berkecambahnya persatuan. Rasa kebersamaan akan lebih mudah tumbuh jika terdapat kesepahaman tentang persoalan-perosalan yang dihadapi bersama. Oleh karena itu, untuk dapat mewujudkan rasa persatuan dalam rangka membangun kembali Mandailing kita perlu menggali, mempelajari, menganalisis persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang Mandailing di kampung halaman, di perantauan, di kalangan generasi muda, kalangan generasi tua, di kalangan warga Mandailing yang miskin, juga di kalangan mereka yang berkecukupan, warga Mandailing yang berpendidikan tinggi dan tidak berpendidikan, di kalangan perantau generasi awal, maupun perantau generasi baru. Pendeknya, kita perlu memahami peta permasalahan berupa kelemahan dan kekuatan,  peluang dan ancaman maupun tantangan yang dihadapi segenap lapisan dan golongan orang Mandailing saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bermaksud mengajak kita semua yang menyebut diri sebagai orang Mandailing untuk bersama-sama menyumbang pemikiran, informasi, fakta dan data untuk kita pelajari dan analisis bersama, untuk menemukan peta permasalahan yang kini dihadapi oleh warga dan komunitas Mandailing. Harapannya, berdasarkan peta permasalahan itu kita bisa secara bersama-sama pula menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah, sehingga kita dapat membangun peta jalan (&lt;em&gt;road map&lt;/em&gt;) untuk memajukan kembali kebudayaan Mandailing dalam pengertian yang luas. Pada saat kita telah memiliki peta jalan tersebut, kita akan dapat menentukan bentuk atau wujud persatuan (dalam arti kelembagaan, organisasi) yang lebih ideal dan efektif untuk dibangun untuk menampung aspirasi dan kontribusi dari warga Mandailing yang cukup beragam latar belakang. Kita yakin bahwa sangat banyak orang Mandailing yang ingin berkontribusi bagi kemajuan Mandailing, namun belum menemukan peta jalan yang ia nilai ideal untuk mewujudkannya. Mari bersama-sama membangun peta itu. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4914776896684995668?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4914776896684995668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4914776896684995668' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4914776896684995668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4914776896684995668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/merentas-jalan-kebersamaan-bersatu.html' title='Merentas Jalan Kebersamaan, Bersatu Membangun Kembali Mandailing'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/RoqGSD00_3I/AAAAAAAAAPA/ihikcmpFIQA/s72-c/BINDU_SEGI_TIGA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-3286259368493211399</id><published>2007-07-03T09:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T09:16:10.202-07:00</updated><title type='text'>Experimen Irigasi Berkala di Sihepeng Untuk Melawan Malaria</title><content type='html'>Research Report from JKPKBPPK / 2005-04-01 11:59:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Persawahan sebagai Habitat Larva Nyamuk Vektor Malaria (Anopheles spp.) serta Kemungkinan Pengendaliannya melalui Pola Irigasi Berkala Eksperimen di Desa Sihepeng Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal Propinsi Sumatera Utara &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Potency of Rice Filed as the Mosquito Larva Habitat of (Anopheles spp.) Malaria Vector and the Possibility of its Control through Intermittent Irrigation Pattern : An Experiment at the Sihepeng Village, Siabu Sub-District, Mandailing Natal District, North  &lt;br /&gt; By: Irnawati Marsaulina &lt;br /&gt;Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia&lt;br /&gt;Created: 2002  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keywords: Malaria; Abstrak Penelitian Kesehatan&lt;br /&gt;Subject: MALARIA -prevention and control&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Sihepeng merupakan desa endemis malaria yang terletak di Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara, dengan infeksi malaria atau Parasite Rate (PR) tahun 1998/1999 adalah sebesar 32,7% dan yang terakhir adalah sebesar 56,35% tahun 1999/2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kasus malaria di Desa Sihepeng cukup serius dan merupakan prevalensi tertinggi selama empat kali survai malariometrik yang telah dilakukan sejak tahun 1993 (Sudomo, 2000). Jika dibandingkan dengan angka Parasite Rate secara nasional, adalah sebesar 4,18% (Depkes RI, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa pola irigasi berkala dapat digunakan sebagai metode pengendalian vektor malaria di daerah persawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian berlangsung mulai Januari 1999 sampai dengan Januari 2000, termasuk pengambilan data sekunder, sedangkan penelitian eksperimen penanaman padi di sawah dimulai pada bulan Oktober 1999 sampai Januari 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Eksperimen Semu (Quasi Experiment) dengan desain riset Quast Experimental pretest-postest memakai rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding (Control Time Series Design).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah larva nyamuk Anopheles spp. dihitung dan dianalisis secara manual dan statistik. Variabel ligkungan fisik dan kimia yang diambil dari lokasi penelitian diukur dan dianalisis secara in-situ di laboratorium. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi Spearman, uji-t, dan uji kai kuadrat (Chi-square), kemudian dilakukan analisis univariat, juga analisis bivariat dan mulivariat dengan menggunakan Regresi Logistik Berganda (Multiple Logistic Regression). Pengambilan larva dilakukan dengan cara dipping, yaitu dilakukan pencidukan sebanyak 20X dengan menggunakan ciduk ukuran standar WHO (250 mm3). Pencidukan dilakukan satu kali seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat persawahan yang menerapkan pola irigasi berkala dapat menurunkan kepadatan populasi larva nyamuk Anopheles spp. secara bermakna. Penurunan populasi larva terjadi berdasarkan lama waktu pengeringan air dan penggenangan kembali. Dari setiap perlakukan terbukti yang paling efektif terhadap terjadinya penurunan populasi larva nyamuk Anopheles spp. adalah perlakuan A (5 hari kering, 5 hari basah), jika dibandingkan dengan perlakuan B (7 hari kering , 7 hari basah), dan C (9 hari kering, 9 hari basah). Hal ini terbukti dengan ditemukannya jumlah larva Anopheles spp. yang terendah terdapat pada perlakuan A (5K-5B) sebesar 1,45 larva/ciduk dan tertinggi terdapat pada perlakuan C (9K-9B) sebesar 1,95 larva/ciduk, perlakuan B (9K-9B) sebesar 1,60 larva/ciduk sedangkan kelompok kontrol jumlah larvanya sebesar 10,55 larva/ciduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kepadatan populasi larva nyamuk Anopheles spp. yang paling dominan di daerah persawahan Desa Sihepeng dimiliki oleh spesies larva nyamuk An. sundaicus diikuti oleh An. nigerrmus dan An. kochi dan berdasarkan hasil penelitian pula terbukti bahwa puncak kepadatan dari larva tersebut berada pada saat umur padi 1,5 bulan dihitung berdasarkan masa penanaman padi dimulai. Puncak kepadatan populasi larva nyamuk Anopheles spp. terjadi pada bulan Desember 1999 dan terendah terjadi pada bulan Januari 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil uji multivariat telah didapat pembentukan model secara matematis terhadap populasi larva nyamuk Anopheles spp. di persawahan. Model yang diperoleh untuk menurunkan kepadatan populasi larva nyamuk Anopheles spp. adalah dipengaruhi oleh parameter fisika dan kimia yaitu variabel oksigen terlarut (DO), tegangan permukaan air, parameter serangga air, yaitu Dytiscidae, Belostoma sp. dan Ephemeroptera. Variabel-variabel tersebut berpengaruh terhadap kepadatan populasi larva Anopheles spp. dan terbukti berkorelasi secara bermakna dengan larva nyamuk Anopheles spp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola irigasi berkala secara statistik terbukti berhasil dalam menurunkan populasi larva nyamuk Anopheles spp. di persawahan. Metode pengeringan dan pengairan kembali yang dilakukan pada sawah secara berkala, telah terbukti dapat menurunkan kepadatan populasi larva nyamuk Anopheles spp. maka metode tersebut dapat diterapkan di daerah endemik malaria yang habitat nyamuk vektornya adalah persawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyrights:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2001 by Badan Litbang Kesehatan. &lt;br /&gt;Verbatim copying and distribution is permitted in any medium, provided this notice is preserved.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-3286259368493211399?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/3286259368493211399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=3286259368493211399' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3286259368493211399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3286259368493211399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/experimen-irigasi-berkala-di-sihepeng.html' title='Experimen Irigasi Berkala di Sihepeng Untuk Melawan Malaria'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4757697533419882903</id><published>2007-07-03T08:29:00.000-07:00</published><updated>2007-07-04T04:12:04.455-07:00</updated><title type='text'>Pengusahaan Bahan Galian di Madina</title><content type='html'>Proyek Kerja Dinas Pertambangan Sumatera Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan Skala Prioritas Pengusahaan Bahan Galian&lt;br /&gt;di Kabupaten Mandailing Natal (2000 / 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Mandailing Natal yang merupakan hasil pemekaran dari daerah Kabupaten Tapanuli Selatan sebelumnya, memiliki potensi sumber daya alam, yaitu potensi sumber daya mineral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi sumber daya mineral di daerah kabupaten Mandailing Natal yang di dasarkan atas data dan informasi terdahulu, terdapat beberapa sumber daya mineral yang termasuk dalam golongan C antara lain granit, batugamping, marmer, andesit, batumulia, lempung dan sirtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, maka dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah secara nasional dari sektor non migas, keberadaan potensi sumber daya mineral di daerah ini mempunyai prospek pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan. Untuk mencapai tujuan tersebut adalah mengadakan penyelidikan guna mengetahui sebaran, mutu / kualitas, jumlah cadangan, lokasi dan kesampaian, penggunaan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I.2. Maksud dan Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelidikan ini dimaksudkan untuk mengetahui keterdapatan sumber daya mineral, mutu/kualitas, penggunaannya dan prioritas pengembangan bahan galian serta kondisi geologi umum. Tujuan dari penyelidikan ini adalah untuk memberikan informasi tentang potensi bahan galian golongan C di wilayah kabupaten Mandailing Natal kepada pihak Investor serta peningkatan usaha pertambangan dengan pedoman pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan diharapkan akan menambah sumber pendapatan asli daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3. Metode Penyelidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.1. Tahap Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengumpulkan laporan hasil penyelidikan terdahulu&lt;br /&gt;- Mengumpulkan data-data yang terkait dengan pengembangan sektor pertambangan.&lt;br /&gt;- Interpretasi peta geologi, skala 1: 250.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.2. Tahap Penyelidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kegiatan lapangan yakni difokuskan pada daerah yang mengandung bahan galian golongan c.&lt;br /&gt;- Mengetahui nama batuan dan lokasi keterdapatannya.&lt;br /&gt;- Mengetahui situasi dan kondisi geologi.&lt;br /&gt;- Pengambilan contoh bahan galian untuk analisa laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.3. Tahap Penyusunan Laporan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan laporan akhir, yaitu mengevaluasi data-data hasil penyelidikan di lapangan dan hasil penyelidikan terdahulu serta ditunjang dengan hasil analisa laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.4. Peralatan Yang Digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan dalam penyelidikan ini, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kompas dan palu geologi.&lt;br /&gt;- Peta topografi, skala 1: 50.000 antara lain lembar Kotanopan, lembar Penyabungan, lembar Muara Sipongi dan lembar Muara Soma.&lt;br /&gt;- Peta geologi, skala 1: 250.000 lembar Lubuk Sikaping.&lt;br /&gt;- Loupe / Kaca pembesar.&lt;br /&gt;- Kamera.&lt;br /&gt;- Larutan Hcl 0,1 N.&lt;br /&gt;- Alat tulis menulis.&lt;br /&gt;- Kantong contoh batuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II&lt;br /&gt;KEADAAN UMUM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1 Letak dan Kesampaian Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah kabupaten Mandailing Natal sebagai daerah penyelidikan dapat dicapai melalui jalur darat dari Kota Medan - Tarutung - Padang Sidempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografi, daerah Kabupaten Mandailing Natal terletak pada koordinat antara 0 10'- 1 50' Lintang Utara dan 98 50' - 100 10' Bujur Timur,&lt;br /&gt;Ibukotanya penyabungan dengan batas :&lt;br /&gt;- Sebelah Utara : Kabupaten Tapanuli Selatan&lt;br /&gt;- Sebelah Timur : Propinsi Sumatera Barat&lt;br /&gt;- Sebelah Selatan : Propinsi Sumatera Barat&lt;br /&gt;- Sebelah Barat : Samudera Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2. Luas Wilayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas Wilayah Kabupaten Mandailing Natal 6.6209,70 km, terdiri dari 8 kecamatan, letak pada 0 - 2.145 meter diatas permukaan laut, PDRB/Kapita U$$ 491, beriklim tropis, curah hujan 1.000 - 4.000 mm/tahun, suhu udara 27 C - 30 C, kelembaban udara 75 %, mata pencaharian umumnya bertani dan berladang, sebagian pengusaha swasta dan pegawai negeri sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk umumnya didiami oleh suku Mandailing, Angkola, Batak, Minang dan Jawa dengan kepercayaan yang di anut adalah agama Islam dan sebagian beragama Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.3. Tata Guna Lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya mempunyai keadaan topografi perbukitan bergelombang sedang sampai perbukitan terjal, dan pada beberapa bagian lainnya relatif datar terutama pada kawasan pemukiman.&lt;br /&gt;Daerah penyelidikan meliputi Kecamatan Penyabungan, Kecamatan Kotanopan, Kecamatan Muara Sipongi, dan Kecamatan Batang Natal, daerah tersebut umumnya memiliki bahan galian golongan C. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.4. Sumber Daya Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Mandailing Natal merupakan daerah perbukitan (sekitar 70 %), dikenal sebagai daerah perkebunan karet, sawit, kemiri, kopi. Dan kemenyan dan persawahan ( Tanaman Bahan Makanan dan Tanaman Perkebunan Rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberdaya hutan antara lain kayu gergajian, log pinus dan log rimba yang terdapat di daerah ini cukup banyak dan memberikan peluang investasi dalam sektor industri pengolahan hasil hutan ( kayu lapis ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sektor parawisata daerah Kabupaten Mandailing Natal, terdapat beberapa kawasan wisata lokal yang memiliki potensi dalam pengembangan dan pengelolaan yang memberikan peluang sebagai pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.5. Iklim dan Cuaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya beriklim tropis dengan 2 kali pergantian musim dalam satu tahun, yakni musim kemarau dan musim penghujan. Curah hujan cukup tinggi, suhu udara rata-rata setiap harinya antara 26 C - 30* C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GEOLOGI LINGKUNGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1. Geomorfologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut N.M.S Rock,dkk, (1983), membagi fisiografi daerah lembar lubuk Sikaping menjadi enam zone, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.1. Dataran Pantai Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu dataran yang dikelilingi oleh sederatan perbukitan dengan puncak tertinggi mencapai 400 meter dari permukaan laut, disusun oleh batuan vulkanik Tersier (BK.&lt;br /&gt;Sikara-kara bagian Natal), beberapa intrusi granitoid ( BK. Banjaralang &lt;br /&gt;Di Air Bangis). Dan beberapa metasedimen Pre-Tersier ( bagian baratlaut DK. Sungai Pinang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.2. Zona Pengunungan Bukit Barisan Bagian Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zona ini membentuk pengunungan yang memanjang, dipisahkan oleh graben.&lt;br /&gt;Bagian barat graben disusun oleh meta vulkanik dan meta sedimen berumur Mesozoikum Akhir, intrusi granitoid kemudian ditutupi oleh sedimen-sedimen resisten dan vulkanik berumur Miosen dan selanjutnya diendapkan batuan vulkanik berumur Kuarter.&lt;br /&gt;Topografi meta sedimen dari ketiga pegunungan, berumur Kuarter mempunyai ketinggian ;Gn.Sorik Merapi (2145m), Gn. Malintang (1948) dan Gn. Talamau (2913m). Salah satu gunung yang terbesar adalah Gn. Talamau, luas sekitar 400 km dan mempunyai bentuk kerucut kembar. Gn. Sorik Merapi merupakan gunung aktif, ketinggian dari dasar laut bervariasi dari 300 meter hingga 1.300 meter, lerengnya berarah ketimur laut dan barat laut. Sorik Merapi mempunyai suatu kawah yang kecil dan Gn. Malintang mempunyai kaldera, tetapi Gn. Talamau hanya mempunyai lubang gas daerah puncak (Kemerling 1920).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.3. Zona Graben&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graben ini cenderung berarah kebarat laut - tenggara seperti terlihat di daerah Panyabungan (Panyabungan Graben), Rao (Rao Graben) dan Lubuk Sikaping (Sumpur Graben), oleh Vestappen (1973), disebut Sistem Sesar Sumatera.&lt;br /&gt;Bagian dasar dari Panyabungan graben, kemiringannya landai ke arah barat karena di bagian timur endapan-endapan ini cukup tebal. Penyabungan graben di bagian selatan sekarang ini dibatasi suatu garis memanjang dari daerah Padang Sidempuan hingga ke bagian utara. Dataran tinggi dari bagian dasar, graben yang besar ini terisi aluvial dengan "fault scarp". Sepanjang 300 meter. Hal ini dianggap sebagai lenti micro graben. Graben ini umumnya mudah dicapai, sebagian besar dihuni oleh penduduk dan merupakan areal persawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.4. Zona Bukit Barisan Bagian Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan zona bagian barat dari segi umur, terutama batuan dasar (meta sedimen dan intrusi berumur Palezoikum Akhir), tidak dijumpai vulkanik Kuarter, beberapa bagian puncak membulat dan puncak tertinggi. Umumnya daerah ini tidak dapat &lt;br /&gt;Dicapai, mempunyai torehan sungai yang sangat dalam. Korelasi antara geologi dan topografi kurang jelas dibandingkan zona di bagian barat, batuan dasar disusun oleh meta Sedimen dan intrusi dapat dibedakan teksturnya pada geologi foto, tetapi ketinggiannya tak tampak. Hanya satu dari beberapa singkapan batugamping yang dicirikan suatu punggungan besar dari Tor Sihite (1407 m) pada kontak metamorfisma berbatasan intrusi Rao-Rao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.5. Kaki Pegunungan Bukit Barisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menggambarkan suatu rangkaian graben dan horst membentuk perlipatan pada lapisan tersier, batas sesar-sesar ini mengikuti sayap lipatan. Graben ini disusun oleh lapisan Tersier Muda (Formasi Telisa), dengan sebaran aluvial sepanjang aliran sungai dengan rangkaian perbukitan yang berelevasi sedang hingga tinggi dengan torehan sungai tidak dalam. Korelasi antara geologi dan topografi daerah ini nampak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1.6. Aliran Cekungan Sosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak di bagian timur laut lembah Lubuk Sikaping, menempati daerah rendah dimana memotong perbukitan yang disusun oleh flat aluvial. Perbukitan ini membentuk perlipatan yang ditutupi oleh sedimen Tersier dengan ketebalan bervariasi dari suatu urutan Klasik berumur Pleistosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2. Stratigrafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut N.M.S. Rock, dkk, (1983), pada peta geologi lembar Lubuk Sikaping dibagi atas tiga succession sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2.1. Pra-Tersier Succession&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pra-Tersier ini di kenal tiga kelompok. Zona Bukit Barisan bagian timur mempunyai lapisan dasar yang cukup tebal. Kelompok Tapanuli ini berumur Karbon Awal hingga Perm Awal, di mana umumnya didominasi oleh batu sabak dari Formasi Kuantan (Silitonga &amp; Kastowo, 1975) dan metamorfisma dari greenschist atau amphibolite facies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok Tapanuli :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali dijumpai fosil pada kelompok ini. Zwierzycki (1992), merekam fosil di beberapa lokasi di bagian utara Sumatera yang berumur Perm hingga Karbon, tetapi tak satupun dibuktikan sebagai suatu bagian dari kelompok Tapanuli.&lt;br /&gt;Formasi Kuantan mengandung fosil berumur Karbon Awal dan Perm Tengah (Silitonga &amp; Kastowo, 1975), batugamping berumur Perm ini termasuk dalam Formasi Silungkang.&lt;br /&gt;Oleh karena itu Kelompok Tapanuli dianggap berumur Karbon Awal hingga Perm Awal, mungkin juga berumur Devon atau lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelompok Peusangan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini berumur Perm Akhir hingga Trias Akhir dengan sebaran yang tidak begitu luas, dijumpai pada daerah atau dekat graben, umumnya singkapan bagian bawah berumur Perm Akhir, tersusun oleh batuan vulkanik hingga batugamping pada Formasi Silungkang (Silitonga &amp; Kastowo, 1975) dan singkapan di bagian atas berumur Trias Akhir di jumpai fosil Holobia pada batu lumpur (Formasi Cubadak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke&lt;strong&gt;lompok Woyla :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Woyla ini berumur jura Akhir hingga kapur Akhir, sebaran yang sangat luas pada zona Bukit Barisan bagian barat, stratigrafnya cukup jelas pada cross-strike section di daerah Batang Natal.&lt;br /&gt;Pada peta, skala 1 : 250.000 memperlihatkan kesamaan umur. Singkapan singkapan Kelompok Woyla dapat diamati dari formasi-formasi secara tersendiri, tersebar luas di Pantai Utara pada 3 N, dimana dapat diamati secara paleontologi. Fauna-fauna berumur Jura Akhir hingga Kapur Awal pada daerah dangkal, ditutupi oleh lapisan berumur Jura hingga Kapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian pada Woyla succession di daerah Batang Natal mirip dengan lapisan Palezoic bagian atas di daerah Bentong dan Malya (Haile et al, 1977), chert radiolarian, argillit dan serpentinit ditutupi oleh batupasir dan kontak dengan kuarsa-mika sekis dengan umur yang berbeda. Dari beberapa daerah pada lembar ini dekat dengan zona graben. Hubungan stratigrafi dari ketiga kelompok di atas tidak jelas. Oleh karena itu sementara memberikan suatu kesamaan satuan Pre-Tersier. Kontak antara perbedaan kelompok Pre-Tersier tidak jelas karena merupakan zona sesar atau intrusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2.2. Tersier Succession&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedimen Tersier Sumatera bagian Utara adalah Kompleks, beberapa cekungan sedimentasi berbeda waktu, dipisahkan oleh pegunungan Bukit Barisan atau tinggian.&lt;br /&gt;Lapisan Tersier I tidak dapat diamati dipermukaan di daerah Natal, namun batuannya mempunyai umur sama yang dijumpai di daerah Rantau Panjang (hasil pemboran I dibagian Pantai Barat). Lapisan Tersier II dan III dipisahkan oleh cekungan sedimentasi /cekungan Sumatera bagian tengah dan barat. Succession cekungan Sumatera bagian tengah dilakukan oleh Pertamina dibagian baratlaut cekungan Margin. Lapisan Tersier di bagian tengah tersesarkan dan merupakan sistem graben.&lt;br /&gt;Succession cekungan Sumatera bagian barat mempunyai struktur yang sangat komplek, terjadi pengendapan di beberapa daerah bagian barat pada Sesar Pasaman dan penelanjangan akibat erosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2.3. Kuarter Succession&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan Kuarter dibatasi oleh dataran Pantai Barat dan daerah graben. Menurut Kanao et al (1971), umumnya daerah aluvial menempati sepanjang bagian barat daya Gunung Malintang yang merupakan hasil rombakan vulkanik.&lt;br /&gt;Berdasarkan interpretasi geologi foto bahwa endapan aluvial menempati daerah datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III.3. Struktur Geologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut N.M.S Rock, dkk, (1983) pada peta geologi lembar Lubuk Sikaping, skala 1 : 250.000, Sesar utama dapat dilihat dari hasil foto udara, tetapi umumnya dapat dilihat secara dilapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zona utama dari sistem Sesar Sumatera dicirikan kedua graben dengan struktur yang kompek. Zona sesar ini termasuk kumpulan pengaliran beberapa sungai (bagian timur laut kaki Sorik Merapi dan umumnya sepanjang pungkut Baralis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan Sinistral dapat kita lihat dari perangkap struktur komplek antara Asik hingga Lubuk Sikaping dan sesar Pungkut hingga Baralis, terutama di sekitar Muara Sipongi, ini terlihat dari perputaran "anticlocwise", strukturnya cenderung berarah timur - tenggara dan memutar sinistral dimana struktur utama berarah barat laut - tenggara dengan tipe utama 'transcurrent fault system".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkapan yang dari sesar Pungkut - Baralis dapat kita lihat pada sungai sungai kecil di bagian selatan fault valley, lebar zona sesar ini sekitar 20 meter, disusun oleh sulfida hitam yang kaya dengan lempung, silicified breccias yang kaya dengan gypsum, dijumpai dolomit breksi di bagian barat jalan daerah Panti, dapat menggambarkan suatu sesar Pada Rau Graben. Sesar Komplek ini sejajar dengan Sistem Sesar Sumatera menerus ke laut diikuti dengan sesar An-Batee. Selanjutnya ke utara (daerah Tapaktuan). Beberapa dari sesar-sesar ini di jumpai di Batang Natal, dicirikan oleh dolomitic breccias, warna orange, berbutir halus dengan suatu zona hancuran dan ketebalan yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB IV&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;POTENSI BAHAN GALIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.1. Potensi Bahan Galian Yang Tersedia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Potensi bahan galian golongan C daerah Kabupaten Mandailing Natal dapat dikelompokkan menjadi bahan galian industri dan bahan galian konstruksi.&lt;br /&gt;Berdasarkan potensi bahan galian tersebut, maka dapat di uraikan jenis bahan galian, letak dan kesampaian daerah, mutu dan cadangan serta kegunaannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Marmer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan Marmer dalam istilah geologi adalah batugamping atau dolomit yang mengalami metamorfosa kontak atau regional. Batuan Marmer di daerah ini, berwarna abu-abu gelap - agak kemerahan putih, keras, kompak, masif, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit dan oksida besi, struktur laminasi masih nampak, berbutir kasar - halus, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan. Batuan marmar di daerah ini membentuk perbukitan terjal, sebagian berupaya perladangan dan hutan semak belukar (foto 3,4,5 dan 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Potensi bahan galian marmar di kecamatan Muara Sipongi, terdapat di desa Ranjo Batu, desa Hutatoras, Kecamatan Kotanopan terdapat di desa Huta Pungkut dan Kecamatan Panyabungan, terdapat di desa Aek Banir dan Sipagapaga, pada umumnya dapat di jangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal sampai ibukota kecamatan dan selanjutnya menuju lokasi dengan kondisi jalan pengerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan Cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik, memperlihatkan komposisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Contoh (MD.1) SiO2 = 33,25 %, TiO = 0,57 %, AL2O3 = 24,89 % Fe2 O = 5,85 %, CaO = 5,43 %, MgO = 23,86 %, MnO = 0,49 %, HO = 5,66 % dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,62 gr/Cm dan kuat tekan = 4,25 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.3) SiO2 = 36,94 %, TiO = 0,87 %, A1 O = 36,97 %, Fe O = 2,93 %, CaO = 4,42 %, MgO = 6,87 %, MnO = 0,01 %, H O = 10,99 % dan analisa sifat menunjukkan berat jenis = 2,46 gr/Cm dan kuat tekan = 4,45 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.15) SiO = 31,19 %, TiO = 0,02 %, A1 O = 24,14 %, Fe O = 6,14 %, CaO = 7,12 %, MgO = 19,24 %, MnO = 0,01 %, H O = 10,99 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,46 gr/Cm dan kuat tekan = 4,45 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.15) SiO = 31,19 %, TiO = 0,02 %, A1 O = 24,14 %, Fe O3 = 6,14 %, CaO = 7,12 %, MgO = 19,24 %, MnO = 0,01 %, H O = 12,14 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,35 gr/Cm dan kuat tekan = 3,52 Kg/Cm.&lt;br /&gt;Perkiraan luas penyebaran sekitar 322,5 Ha, sedangkan perkiraan cadangannya sekitar 2257,5 Juta M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Kegunaan marmer terutama untuk bangunan seperti ubin lantai, dinding, papan nama, dekorasi atau hiasan, monumen dan perabot rumah tangga seperti meja dan kap lampu serta bahan baku pembuatan pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Andesit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan galian andesit, berupa lava andesit, berwarna abu-abu - gelap, kompak, keras, masif, rekah rekah, sedikit berpori, tekstur porphyritic, dan disusun oleh mineral utama plagioklas, hornblende, biotit dan piroksim, umumnya membentuk perbukitan menyebar ke arah barat dan timur meliputi daerah Panyabungan, Sipaga-paga dan Purba Lama, sebagian besar bersifat bongkahan-bongkahan, Bahan galian andesit ini umumnya menempati daerah pemukiman, perkebunan, dan perladangan serta aliran aliran sungai &lt;br /&gt;(foto 7,8,9, dan 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Bahan galian andesit dijumpai di Kecamatan Panyabungan, terdapat di daerah Aek Banir, Sipaga-paga dan Purba Lama. Daerah tersebut dapat dijangkau dengan kondisi jalan beraspal. Penyebaran bongkahan bongkahan batuan andesit umumnya dapat diamati secara jelas pada aliran aliran sungai di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik adalah sebagai :&lt;br /&gt;Contoh (MD.2) SiO = 22,30 %, TiO = 0,04 %, A1 O3 = 19,27 %, Fe O3 = 5,80 %, CaO = 15,25 %, MgO = 18,22 %, MnO = 4,17 %, H O = 14,95 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,95 gr/Cm dan kuat tekan = 3,20 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.4) SiO = 31,73 %, TiO = 0,15 %, A1 O3 = 25,45 %, Fe O3 = 6,70 %, CaO = 9,15 %, MgO = 4,52 %, MnO = 0,05 %, H O = 20,25 % dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 3,20 gr/Cm dan kuat tekan = 4,41 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.7) SiO = 32,73 %, TiO = 0,15 %, Al O3 = 24,45 %, Fe O = 5,70 %, CaO = 10,15 %, MgO = 4,52 %, MnO = 0,05 %, H O = 20,25 % dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 3,21 gr/Cm dan kuat tekan = 4,39 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Kegunaan bahan galian andesit ini terutama untuk bahan bangunan (agregat) dan batu hias (ornamental stone).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Batu Gamping&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Gamping, berwarna abu-abu - keputihan, keras, kompak, struktur masif, tekstur kristalin dengan ukuran butir kasar, sebagian terkekarkan kuat, terisi mineral kalsit dan oksida besi, umumnya tidak menunjukkan suatu perlapisan, ketebalan bervariasi dari 4 - 10 meter. Batugamping ini tersusun oleh mineral kalsit (CaCo ), terjadi secara organik, mekanik atau kimia. Batugamping ini pada umumnya membentuk perbukitan merupakan areal perladangan dan semak belukar (foto 11 dan 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Potensi bahan galian batugamping di Kecamatan Muara Sipongi, terdapat di Kp. Hutalemba dan di Kecamatan Batang Natal, terdapat di desa Sopotinjak, Bangkelang dan Muara Soma, pada umumnya dapat di jangkau dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal dengan kondisi jalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan Cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik, memperlihatkan komposisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Contoh (MD.8) SiO = 31,75 %, TiO = 0,15 %, A1 O = 30,73 %, Fe O = 1,40 %, CaO = 10,55 %, MgO = 12,12 %, MnO = 0,05 %, H O = 10,25 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,55 gr/Cm dan kuat tekan = 4,1 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.9) SiO = 33,30 %, TiO = 0,57 %, A1 O = 40,27 %, Fe O = 5,80 %, CaO = 7,25 %, MgO = 5,15 %, MnO = 0,17 %, H O = 10,02 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2, 62 gr/Cm dan kuat tekan = 4,25 Kg/Cm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.10) SiO = 33,30 %, TiO = 0,04 %, A1 O = 40,27 %, Fe O = 5,80 %, CaO = 7,25 %, MgO = 5,05 %, MnO = 0,17 %, H O = 10,12 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2, 53 gr/Cm dan kuat tekan = 4,2 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisa kimia pada contoh MD.8, dan MD. 9 dan MD.10, kandungan unsur MgO 12,12 % - 5,15 % - 5,05 % hal ini termasuk jenis batugamping dolomitan.&lt;br /&gt;Perkiraan luas penyebaran sekitar 45 Ha, sedangkan perkiraan cadangannya sekitar 35,1 Juta M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Penggunaan batugamping tergantung pada sifat-sifat fisik dan kimianya. Penggunaan sebagai bahan bangunan ditentukan oleh sifat fisiknya, sedangkan sebagai bahan industri di tentukan oleh sifat kimianya.&lt;br /&gt;Batugamping banyak digunakan sebagai bahan baku semen, karbid, bahan pemutih, penetral keasaman, pupuk industri, keramik, bahan bangunan, bahan ornamen, pengembang dan pengisi dalam industri cat, kertas, karer dan plastik serta dalam industri farmasi, kosmetik dan industri kimia lainnya. Disamping itu, daerah yang mempunyai topografi karst dapat dikembangkan menjadi objek wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d. Granit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan granit pada umumnya berwarna abu-abu - putih bintik hitam, berbutir kasar, tekstur granitic, kompak, terkekarkan, bentuk kristal subhedral - anhedral, komposisi antara lain kuarsa, biotit dan plagioklas. Pada umumnya tubuh batuan granit di daerah ini telah mengalami tingkat pelapukan yang cukup tinggi sehingga batuan tersebut agak sulit diidentifikasi secara megaskofis lagi, ketebalan 5- 10 meter. Untuk mengetahui ciri litologi dan sifat fisik batuan ini beberapa bongkahan-bongkahannya yang terdapat di sungai masih menunjukkan aslinya. Batuan granit ini termasuk dalam Batholith Panyabungan yang cukup luas, berumur Perm hingga Jura (foto 13 dan 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Bahan galian granit terdapat di Kecamatan Muara Sipongi (Muara Sipongi), Kecamatan Kotanopan (Kotanopan), dan Kecamatan Panyabungan (desa padangluru dan Tebing Tinggi), pada umumnya dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan selanjutnya berjalan kaki menuju lokasi bahan galian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan Cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik dari bongkahan batuan granit, menunjukkan komposisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Contoh (MD.5) SiO = 31,20 %, TiO = 0,01 %, A1 O = 25,14 %, Fe O = 5,24 %, CaO = 7,04 %, MgO = 20,24 %, MnO = 0,01 %, H O = 11,12 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 3,34 gr/Cm dan kuat tekan = 3,22 Kg/C&lt;br /&gt;Perkiraan luas penyebaran sekitar 827 Ha, sedangkan perkiraan jumlah cadangan sekitar 5.789 Juta M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;- Batuan granit yang berbutir kasar dan menengah dapat digunakan sebgai bahan bangunan, dermaga, pengeras jalan dan bendungan.&lt;br /&gt;- Batuan granit yang berbutir halus dapat diasah dan dipoles untuk penghias lantai dan rumah/gedung.&lt;br /&gt;- Batuan granit yang berwarna pink, abu-abu bintik hitam, dapat dipoles untuk dinding rumah/gedung, dekorasi dan alat rumah tangga seperti meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;e. Kaolin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaolin adalah massa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi rendah. Kaolin mempunyai komposisi hidrus aluminium silikat (A1 O 2 SiO 2 H O) dengan beberapa material penyerta.&lt;br /&gt;Kaolin di daerah penyelidikan umumnya berwarna abu-abu cerah - putih, bersifat gembur, mudah diremas, mengandung oksida besi, perlapisan tidak jelas, ketebalan antara 1 - 3 meter, terbentuk akibat proses hidrotermal (foto 15 dan 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Potensi bahan galian kaolin terdapat di daerah Sibanggor Tonga, Kecamatan Kotanopan, daerah tersebut dapat ditempuh dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal, terdapat ditepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan Cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik, menunjukkan komposisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Contoh (MD.10) SiO = 3,30 %, TiO = 0,04 %, A1 O3 = 10,27 %, Fe O = 15,80 %, CaO = 45,25 %, MgO = 5,05 %, MnO = 0,17 %, H O = 20,12 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 1,53 gr/ Cm dan kuat tekan = 1,2 Kg/Cm.&lt;br /&gt;Perkiraan luas penyebaran sekitar 3,75 Ha, sedangkan perkiraan jumlah cadangannya sekitar 7,5 Juta M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Bahan galian kaolin umumnya digunakan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku utama atau sebagai bahan pembantu. Fungsinya bisa sebagai pengisi (filler), pelapis (coater), bahan tahan api, atau penyekat (isolator). Penggunaan kaolin yang utama adalah dalam industri kertas, keramik, cat, karet/ban, dan plastik. Sedangkan penggunaan lainnya diantaranya untuk industri semen, pestisida, pupuk, kosmetik, farmasi, pasta gigi, tekstil dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;f. Batumulia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batumulia adalah semua jenis mineral dan batuan yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang khas, serta digunakan untuk perhiasan dan bahan dekorasi atau hiasan. Dalam dunia perdagangan, batumulia digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu batu permata (precious stones), jenis batu setengah/semi permata (semi-precious stones) dan jenis batu hias (ornamental stones).&lt;br /&gt;Di daerah penyelidikan batumulia termasuk dalam jenis batu setengah/semi permata (semi-precious) seperti kalsedon, agate, jasper, feldspar dan rijang. Batumulia ini termasuk batumulia bertemperatur rendah, umumnya dijumpai dalam bentuk kerakal karena telah mengalami transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Bahan galian batumulia terdapat di daerah Muara Soma dan sekitarnya, Kecamatan Batang Natal, daerah ini dapat ditempuh dari kota Panyabungan dengan kenderaan roda empat melalui jalan beraspal sekitar 65 Km. Batu mulia umumnya dijumpai pada sungai-sungai di sekitar daerah tersebut dengan berbagi ukuran dari kerikil sampai kerakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Batumulia biasanya digunakan sebagai perhiasan oleh manusia dan penambah keindahan ruangan. Dalam industri pengolahan batumulia antara lain pembuatan cincin, giwang, liontin, gelang, asbak, vas bunga, plakat, batu alam dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;g. Phospat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endapan posfat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu endapan permukaan, endapan gua dan endapan bawah permukaan. Secara umum endapan posfat berasal dari tumpukan kotoran burung dan kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batugamping karena pengaruh air hujan dan air tanah. Endapan posfat di daerah penyelidikan, terdapat pada gua, berupa posfat guano, berwarna kecoklatan bintik putih, dan mudah digali. Endapan posfat pada daerah ini belum pernah diselidiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Potensi endapan posfat terdapat pada gua Soma di desa Muara Soma, Kecamatan Batang Natal. Daerah tersebut dapat ditempuh kendaraan roda empat dengan kondisi jalan beraspal, selanjutnya menuju lokasi dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Kegunaan endapan posfat terutama sebagai pupuk, baik pupuk buatan maupun pupuk alam, dalam industri detergen, asam sulfat dan industri kimia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;h. Pasir dan Batu ( S i r t u )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasir dan batu (sirtu) merupakan batuan hasil rombakan dari batuan asal yang tidak terkonsolidasi. Sirtu ini pada umumnya ditemukan pada aliran sungai. Potensi bahan galian sirtu di daerah ini tersebar dan sebagian telah dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Bahan galian sirtu (pasir dan batu) pada umumnya terdapat pada aliran-aliran sungai besar antara lain di Batang Angkola, Batang Natal, Batang Gadis, Aek Soma dan beberapa anak sungainya dan sebagian telah diusahakan oleh penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Sirtu dapat digunakan dalam sektor konstruksi, seperti perumahan, pertokoan, perkantoran, jembatan, dan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;i. Serpentinit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan serpentinit merupakan batuan metamorf, pada umumnya berwarna kehijauan - gelap, berlaminasi, berbentuk lembaran, mudah terbelah melalui bidang-bidang belahan, ketebalan antara 2 -8 meter, Batuan serpentinit mempunyai komposisi utama serpentin yang paling dominan. Serpentin yang menunjukkan kandungan unsur MgO tinggi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alternatif (foto 17,18 dan 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi dan Kesampaian Daerah :&lt;br /&gt;Potensi serpentin di daerah Kecamatan Batang Natal, terdapat di desa Muara Soma dan sekitarnya. Daerah tersebut dapat di tempuh kenderaan roda empat dengan kondisi jalan beraspal, selanjutnya menuju lokasi dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu dan Cadangan :&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik, menunjukkan komposisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Contoh (MD.11) SiO = 42,25 %, TiO = 0,57 %, AI O = 30,89 % Fe O = 5,85 % CaO = 5,43 % MgO = 3,86 %, MnO = 0,45 %, H O = 10,70 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,52 gr/Cm dan kuat tekan = 4,2 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.12) SiO = 42,55 %, TiO = 0,27 %, AI O = 30,89 %, Fe O = 5,85 %, CaO = 5,43, MgO = 3,86 %, MnO = 0,45 %, H O = 10,70 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,51 gr/Cm dan kuat tekan = 4,2 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.13) SiO = 42,55 %, TiO = 0,27 %, AI O = 28,89 %, Fe O = 7,85 %, CaO = 3,43 %, = 5,86 %, MnO = 0,45 %, H O = 10,70 %, dan analisa sifat fisik menunjukkan berat jenis = 2,52 gr/Cm dan kuat tekan = 4,22 Kg/Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan :&lt;br /&gt;Kegunaan serpentin terutama sebagai pupuk alternatif, pada saat ini di manfaatkan sebagai pupuk pada perkebunan jagung, sawit dan karet.&lt;br /&gt;Hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik dari bahan galian marmar, andesit, granit, batugamping, kaolin dan serpentin (terlampir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV.2. Prioritas Pengusahaan Bahan Galian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan bahan galian industri, khususnya bahan galian Golongan C memerlukan pemikiran yang menyeluruh. Hal ini di sebabkan erat kaitannya dengan pengembangan sektor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Kabupaten Mandailing Natal memiliki beberapa potensi bahan galian industri golongan C seperti marmar, batugamping, granit, kaolin, batumulia dan sirtu. Berdasarkan pengamatan terhadap aspek fisik seperti aspek geologi, topografi, hidrologi, jumlah cadangan, lingkungan, serta aspek ekonomi terdapat tiga jenis bahan galian yang potensial untuk diusahakan, yaitu marmar, batugamping dan serpentin. Pengusahaan bahan galian ini dapat dilakukan dengan skala penambangan padat karya, semi mekanis dan mekanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bahan galian yang tidak termasuk dalam PP. No. 27 Tahun 1980, yaitu batuan Serpertin, pemanfaatannya sebagai bahan baku pupuk alternatif (pengganti pupuk urea) bagi perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisa kimia dan analisa sifat fisik dari bahan galian yang ada di daerah Kabupaten Mandailing Natal, makan yang menjadi prioritas untuk diusahakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marmer :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.1) mempunyai unsur MgO 23,86 %, termasuk jenis dolomit, conto&lt;br /&gt;(MD3) mempunyai unsur MgO 6,87 %, termasuk jenis batugamping dolomitan, dan conto (MD.15) mempunyai unsur MgO 19,24 %, termasuk jenis dolomit. Kuat tekannya dari 3,52 Kg/Cm - 4,45 Kg/Cm. Pemanfaatan bahan galian terutama sebagai bahan bangunan, batu hias (Ornamen), pembuatan keramik dan bahan baku pembuatan pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Gamping :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.8) dan (MD.9) mempunyai unsur SiO dan CaO masih rendah, tidak memenuhi persyaratan sebagai bahan baku pembuatan semen. Unsur MgO 12,12 % (MD.8) termasuk jenis dolomit berkalsium dan unsur MgO 5,15% (MD.9) termasuk jenis batugamping dolomitan. Kuat tekan dari 4,1 Kg/Cm - 4,2 Kg/Cm. Berdasarkan hal tersebut, maka bahan galian batugamping ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, batu hias (ornamen), pembuatan keramik dan perabot rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serpentin :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (MD.11), (MD.12) dan (MD.13) mempunyai unsur MgO 3,86 % - 3,86 % dan 5,86 %, sangat rendah sebagai persyaratan dalam pembuatan pupuk alternatif (harus &gt; 30 %). Untuk mengatasi hal ini, biasanya serpentin yang mempunyai unsur MgO rendah dicampur dengan serpentin dengan unsur MgO tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk alternatif yang pada saat ini sedang banyak digunakan untuk perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan prioritas pengusahaan bahan galian industri di daerah ini, digunakan beberpa parameter yang bersifat umum untuk menilai prospeknya. Parameter tersebut antara lain pasar, teknis, lingkungan, hukum dan ekonomi serta finansial. Di bawah ini dapat diuraikan secara sederhana beberapa parameter sebagai pedoman menentukan penyusunan prioritas pengusahaan bahan galian sebagai berikut :&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4757697533419882903?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4757697533419882903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4757697533419882903' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4757697533419882903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4757697533419882903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/pengusahaan-bahan-galian-di-madina.html' title='Pengusahaan Bahan Galian di Madina'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-1426245348383028625</id><published>2007-07-03T08:25:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T08:26:26.708-07:00</updated><title type='text'>Memerangi Nyamuk di Daerah Persawahan Desa Sihepeng</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Model Irigasi Berkala di Daerah Persawahan untuk Menurunkan Kepadatan Larva Nyamuk Anopheles spp. di Desa Sihepeng Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gray literature from JKPKBPPK / 2002-12-12 09:01:00&lt;br /&gt;Oleh : Irnawati Marsaulina, Faculty of Public Health, North Sumatera University&lt;br /&gt;Dibuat : 2002, dengan 0 file&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyword : irigasi; larva nyamuk; persawahan; Warta Litbang Kesehatan&lt;br /&gt;Subjek : MOSQUITO CONTROL; ANOPHELES; IRRIGATION; LARVA&lt;br /&gt;Sumber pengambilan dokumen : Warta Litbang Kesehatan, Vol. 6 (2) 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Sihepeng merupakan desa endemis malaria yang terletak di Kacamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini dilakukan di daerah persawahan dimana sebagian masyarakatnya pekerjaanya adalah bertani. Lokasi persawahan yang banyak terdapat disekitar rumah-rumah penduduk memungkinkan sebagai tempat perindukan nyamuk Anopheles, apabila persawahan tersebut tidak terpelihara dan diurus baik setelah se-lesai panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan beberapa informasi tentang aspek dari ekologi nyamuk Anopheles sundaicus di daerah persawahan yang potensial sebagai tempat perindukannya. Survei larva di sawah dengan menggunakan cara Dipping (mengambil air sawah dengan gayung) dilakukan seminggu sekali. Pemantauan entomologi dilakukan dengan cara menangkap nyamuk dengan umpan badan di lakukan dua kali dalam seminggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah nyamuk dan larva dihitung kepadatan populasinya dan diidentifikasi jenis (spesies-nya). Kemudian parameter fisik dan kimia dan biologi yaitu pH, DO, CO2, kedalaman dan temperatur (air dan udara) serta kelembaban maupun curah hujan diukur dan dianalisis secara insitut dan di laboratorium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menggigit nyamuk selalu aktif sepanjang malam mulai jam 18.00 s.d 06.00 dan puncaknya jam 24.00 - 01.00. Puncak kepadatan larva An. Sundaicus adalah pada saat padi berumur 1,5 bulan. Jenis larva nyamuk Anopheles yang ditemukan didaerah persawahan di Desa Sihepeng ada 3 spesies yaitu An. sundaicus, An. nigerrimus, dan An. kochi dan mendominasi adalah An. sundaicus tetapi ditemukan juga beberapa jenis spesies Aedes albopictus ditambah beberapa spesies Culex antara lain Culex bitaeniohynchus, Culex pseudovishnui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling mendukung terhadap kelanjutan perkembang biakan spesies tersebut adalah temperatur, pH, DO, CO2 dan kedalaman air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predator serangga yang ditemukan adalah Belosto-matidae, Ephemeroptera, Zygoptera, Larva Dyctiscidae, Larva Hydrophylidae dan Larva Cybister spp. Yang paling dominan Dycriscidae dan Ephemeroptera. Perindukan larva An. sundaicus yaitu daerah persawahan banyak dipadati oleh vegetasi air yang berfungsi sebagai tempat berlindung larva Anopheles dari arus air dan serangan predator. Jenis yang ditemukan sebagai berikut: Pistia, Lumut, Ganggang, Impomeca sp, Salvinia, Hydrilla, Algae, Azolla dan jenis rumput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari perhitungan efektivitas kepadatan larva nyamuk Anopheles sp ternyata perlakuan 7K-7B adalah yang paling efektif (77,90%). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Alternatif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Sihepeng merupakan desa endemis malaria yang terletak di Kacamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini dilakukan di daerah persawahan dimana sebagian masyarakatnya pekerjaanya adalah bertani. Lokasi persawahan yang banyak terdapat disekitar rumah-rumah penduduk memungkinkan sebagai tempat perindukan nyamuk Anopheles, apabila persawahan tersebut tidak terpelihara dan diurus baik setelah se-lesai panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan beberapa informasi tentang aspek dari ekologi nyamuk Anopheles sundaicus di daerah persawahan yang potensial sebagai tempat perindukannya. Survei larva di sawah dengan menggunakan cara Dipping (mengambil air sawah dengan gayung) dilakukan seminggu sekali. Pemantauan entomologi dilakukan dengan cara menangkap nyamuk dengan umpan badan di lakukan dua kali dalam seminggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah nyamuk dan larva dihitung kepadatan populasinya dan diidentifikasi jenis (spesies-nya). Kemudian parameter fisik dan kimia dan biologi yaitu pH, DO, CO2, kedalaman dan temperatur (air dan udara) serta kelembaban maupun curah hujan diukur dan dianalisis secara insitut dan di laboratorium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menggigit nyamuk selalu aktif sepanjang malam mulai jam 18.00 s.d 06.00 dan puncaknya jam 24.00 - 01.00. Puncak kepadatan larva An. Sundaicus adalah pada saat padi berumur 1,5 bulan. Jenis larva nyamuk Anopheles yang ditemukan didaerah persawahan di Desa Sihepeng ada 3 spesies yaitu An. sundaicus, An. nigerrimus, dan An. kochi dan mendominasi adalah An. sundaicus tetapi ditemukan juga beberapa jenis spesies Aedes albopictus ditambah beberapa spesies Culex antara lain Culex bitaeniohynchus, Culex pseudovishnui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling mendukung terhadap kelanjutan perkembang biakan spesies tersebut adalah temperatur, pH, DO, CO2 dan kedalaman air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predator serangga yang ditemukan adalah Belosto-matidae, Ephemeroptera, Zygoptera, Larva Dyctiscidae, Larva Hydrophylidae dan Larva Cybister spp. Yang paling dominan Dycriscidae dan Ephemeroptera. Perindukan larva An. sundaicus yaitu daerah persawahan banyak dipadati oleh vegetasi air yang berfungsi sebagai tempat berlindung larva Anopheles dari arus air dan serangan predator. Jenis yang ditemukan sebagai berikut: Pistia, Lumut, Ganggang, Impomeca sp, Salvinia, Hydrilla, Algae, Azolla dan jenis rumput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari perhitungan efektivitas kepadatan larva nyamuk Anopheles sp ternyata perlakuan 7K-7B adalah yang paling efektif (77,90%). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyrights : Copyright © 2001 by Badan Litbang Kesehatan. Verbatim copying and distribution is permitted in any medium, provided this notice is preserved.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&amp;op=read&amp;id=jkpkbppk-gdl-grey-2002-irnawati-727-anopheles&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-1426245348383028625?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/1426245348383028625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=1426245348383028625' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1426245348383028625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1426245348383028625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/memerangi-nyamuk-di-daerah-persawahan.html' title='Memerangi Nyamuk di Daerah Persawahan Desa Sihepeng'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-3179043760340440943</id><published>2007-07-03T05:38:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T06:10:44.586-07:00</updated><title type='text'>Pengukuran Pencadangan Wilayah Pertambangan di Mandailing Natal</title><content type='html'>Proyek Kerja Dinas Pertambangan Sumatera Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran Pencadangan Wilayah Pertambangan Bahan Galian Golongan C Komoditi Marmer di Desa Sipagapaga Kec. Penyabungan Kab. Mandailing Natal Seluas 200 Ha. (1999 / 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pencadangan wilayah pertambangan bahan galian golongan C diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya benturan kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor lain dalam penggunaan lahan. Pencadangan wilayah ini merupakan suatu kajian untuk menentukan lokasi potensi bahan galian yang secara ketata ruangan ( spasial ) yang dapat dikembangkan pengusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengukuran pencadangan wilayah pertambangan bahan galian golongan C Tahun Anggaran 1999/2000 ini dipilih bahan galian marmer yang terdapat di Desa Sipagapaga Kabupaten Mandailing Natal mengingat bahwa Mandailing Natal merupakan Kabupaten baru, yang memerlukan masukan-masukan dalam penyusunan kebijaksanaan tataruangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Maksud dan Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud diadakannya pengukuran pencadangan wilayah pertambangan bahan galian marmer di Desa Sipagapaga Kabupaten Mandailing Natal ini adalah untuk mengetahui kondisi topografi daerah penyebaran marmer sebagai dasar untuk mengkaji berbagai hal yang terkait dengan kegiatan pertambangan dengan tujuan menentukan lokasi bahan marmer yang dapat diusahakan. Dari maksud dan tujuan ini diharapkan dapat dicapai sasaran akhir yaitu memberi masukan bagi penyusunan tata guna lahan yang mencantumkan peruntukan lahan usaha tambang di Kabupaten Mandailing Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Lingkup Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar lingkup pekerjaan ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pekerjaan persiapan.&lt;br /&gt;2. Pemasangan monumen / bench mark (BM&lt;br /&gt;3. Pekerjaan pengukuran&lt;br /&gt;4. Identifikasi geologi&lt;br /&gt;5. Pekerjaan penghitungan dan penggambaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Pemilihan Jenis Komoditi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa jenis bahan galian golongan C yang terdapat di Kabupaten Mandailing Natal dipilih marmer sebagai bahan galian yang lokasinya perlu dicadangkan terlebih dahulu. Pemilihan bahan ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perkembangan pembangunan fisik dewasa ini, terutama dalam pembangunan rumah, gedung perkantoran, hotel dan lain-lain, maka kebutuhan akan bahan marmer semakin meningkat.&lt;br /&gt;2. Penyebaran marmer yang terdapat di daerah ini cukup lama.&lt;br /&gt;3. Kemungkinan adanya hasil sampingan ( &lt;em&gt;by product&lt;/em&gt; ) berupa bahan baku semen portland atau puzzolan serta kapur tohor ( tepung kapur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pemetaan semi mikro yang dilaksanakan oleh Proyek Pemetaan Bahan Galian Golongan C TA.1993/1994 dolomit dijumpai di Kab.Tanah Karo dan Kab.Dairi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesampaian ke lokasi tersebut cukup baik dari segi sarana maupun prasarana yaitu dapat ditempuh melalui jalan beraspal dengan menggunakan bus atau atau kendaraan roda dua.E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Metodelogi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metoda-metoda antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengukuran/pemetaan topografi&lt;br /&gt;2. Pengamatan geologi dan&lt;br /&gt;3. Pengambilan contoh batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan data dilakukan dengan penggambaran peta topografi dan deskripsi mengaskopis terhadap contoh-contoh batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peta topografi yang diperoleh kemudian dianalisa terutama kondisi fisik yaitu morfologi setempat. Berdasarkan peta topografi ini pula dapat dilakukan perhitungan cadangan secara awal, menyusun rencana eksplorasi dan reklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;URAIAN SINGKAT RONA LINGKUNGAN AWAL KABUPATEN MANDAILING NATAL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Iklim&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Tipe tropis basah&lt;br /&gt;2. Musim penghujan, kemarau dan pancaroba&lt;br /&gt;3. Keadaan arah angin tak menentu&lt;br /&gt;4. Suhu maximum : 27 derajat C            &lt;br /&gt;              minimum : 18 derajat C            &lt;br /&gt;              rata-rata : 20 derajat C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Ruang, Tanah dan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peruntukan lahan, menurut keadaan di lapangan adalah lokasi untuk perladangan.&lt;br /&gt;2. Jenis tanah penutupJenis tanah penutup pada lokasi tambang yaitu di Desa Sipaga-paga pada umumnya adalah "RESIDUAL SOIL" sebagai hasil lapukan marmer serta keadaan tanahnya cukup subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sumber air adalah sungai Makam dan beberapa mata air yang dijumpai secara tersebar. Pada umumnya sungai maupun mata air tersebut terdapat air sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. HIDROLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber air dari mata air dan sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. BIOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Jenis Flora : pepohonan, belukar &amp; alang-alang&lt;br /&gt;b. Jenis Fauna : binatang melata &amp;amp; unggas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. KOMPONEN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;a. Mata pencaharian : Petanian&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;b. Kepadatan Penduduk : Jarang&lt;br /&gt;c. Agama : Islamd. Pendidikan : Tamatan SD / SLTP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan marmer tersebut belum diusahakan oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GEOLOGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. GEOLOGI REGIONAL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Geomorfologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara fisiografi daerah pengukuran ternasuk dalam satuan fisiografi Graben Panyabungan yang merupakan bagian Sistem Patahan Sumatera. Lantai dasar graben ini berada pada elevasi 200 m dpl dengan lebar maksimum 200 km. Tinggi maksimum dinding graben sebelah barat mencapai 1000 m sedangkan dinding graben sebelah timur mencapai 1700 m. Sebagian besar lantai graben ditempati oleh endapan aluvial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Stratigrafi.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Stratigrafi daerah pengukuran dan sekitarnya menurut N.M.S Rock dkk terdiri dari Formasi Kuantan yang berumur Pra-tersier dan endapan aluvium serta batuan intrusif berkomposisi granitik ( Batolit Panyabangan ). Formasi Kuantan pada umumnya merupakan batuan-batuan metamorfosa. Antara lain filit, sabak, arenit metakuarsa, dan metalimestone. Endapan aluvium di dominasi oleh pasir, krikil dan lanau. Batolit Panyabungan terdiri dari granit, mikro granit, leuco granit dan diorit mika. Pembentukan batolit ini adalah pada Kretaseus Awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. GEOLOGI DAERAH PENGUKURAN DAN SEKITARNYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;1. Geomorfologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Morfologi daerah pengukuran merupakan satuan perbukitan memanjang dengan arah barat laut - tenggara. Bagian tertinggi mencapai ketinggian 508 m dpl. sedangkan bagian terendah berada pada ketinggian 395 m dpl. TIdak terlihat adanya proses geomorfologi yang menonjol. Jenis batuan yang terdapat di daerah pengukuran adalah batuan metasedimen terutama metalimestone/marmer.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Mineralogi dan Keterjadian&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Marmer atau yang sering disebut batu pualam berasal dari batu kapur yang telah mengalami proses metamorfosa. Metamorfosa merupakan akibat dari adanya tekanan dan suhu yang tinggi sehingga tekstur batuan asal menghilang dan berubah menjadi tekstur baru sebagai hasil dari proses rekristalisasi. Mineralogi marmer terutama terdiri dari mineral-mineral karbonat yaitu kalsit, dolomit dan/atau serpentin, sedangkan mineral-mineral tambahannya adalah kuarsa, talk, khlorit, amfibol, pirit, piroksen, hematit, dan grafit. Semua mineral-mineral tambahan ini akan memberikan pola warna yang sangat bervariasi. Marmer yang terdapat di daerah pengukuran memperlihatkan warna putih dan putih keabu-abuan sesuai dengan kandungan kalsitnya sebagai mineral utama dan mineral pirit sebagai mineral tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Struktur Geologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengamatan tidak terlihat adanya struktur-struktur geologi aktif. Daerah pengukuran merupakan lantai graben dari Sistem Patahan Sumatera. Pada lapisan marmer terlihat adanya struktur-struktur kekar dan retakan-retakan halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB IV&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEADAAN MARMER&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;A. KEADAAN WARNA DAN SIFAT FISIK&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan lapangan, secara umum marmer yang terdapat di daerah pengukuran memperlihatkan warna dasar abu-abu. Warna dasar abu-abu ini bervariasi dari abu-abu terang sampai abu-abu gelap. Di lapangan tidak terlihat batas tegas antara variasi-variasi warna tersebut. Secara mengaskopis batuan ini memperlihatkan hubungan kristal yang saling mengikat, tidak terlihat adanya unsur-unsur pengotor seperti lempung, klorit, dan mika yang mengakibatkan batuan mudah pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekar dan retakan batuan umum dijumpai pada singkapan-singkapan. Kekar dan retakan ini perlu menjadi perhatian khusus pada saat penambangan untuk menghindari agar tidak terlalu banyak bahan yang terbuang. Berdasarkan kenampakan megaskopis ini diperkirakan marmer di daerah pengukuran memenuhi syarat mutu sebagai batu tempel dan ubin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan data yang akurat perlu dilakukan pengujian laboratorium yang meliputi pengujian penyerapan air, kuat tekanan, ketahanan arus dan kekekalan bentuk. Sifat-sifat fisik yang memenuhi persyaratan mengacu pada Syarat Mutu Marmer menurut SII 0379-80 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. LAPISAN TANAH PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanah sebagai hasil lapukan batuan terutama dijumpai pada bagian-bagian puncak perbukitan, sedangkan pada bagian-bagian lereng tidak dijumpai. Tebal tanah penutup ini rata-rata kurang dari 2 meter. Pada beberapa tempat dibagian puncak dan lereng perbukitan terlihat adanya proses eros, jatuhan dan longsoran batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. BESAR CADANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Cadangan Geologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan cadangan dilakukan dalam beberapa tahap dan pada setiap tahap dilakukan koreksi reduksi. Berdasarkan perhitungan ini secara kasar di daerah pengukuran terdapat cadangan prospek sebesar +/- 150.000.000 m3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. PENAMBANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan penambangan bahan galian pada umumnya, penambangan marmer (dan batu dimensi lainnya) mempunyai ciri khusus, baik dalam cara penggalian maupun bentuk produknya. Penambangan dalam hal ini bertujuan untuk menghasilkan bongkahan batuan dengan ukuran tertentu. Metoda penambangan yang banyak digunakan adalah Finish Method dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Pelepasan balok dari batuan induk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ini sisi balok vertikal dibor dengan kedalaman 4 - 6 m dengan spasi 20 cm. Demikian juga dengan sisi balok horizontal dibor dengan kedalaman 5 - 8 m dengan spasi 30 - 40 cm. Pengeboran menggunakan monodrillguide rigged dengan diameter setiap lubang bor 27 - 32 mm. Peledakan dilakukan secara simultan, baik terhadap sisi vertikal maupun sisi horizontal. Densitas bahan peledak yang digunakan sekitar 60 - 100 g/m3 . Dengan metoda ini ukuran balok yang dapat dilepas dari batuan induknya dapat mencapai 4000 m3, yaitu panjang 20 - 80 m, lebar 5 - 8 m dan tinggi 4-6 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;- Persiapan balok untuk pabrik pengolahan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Tahapan selanjutnya adalah membagi balok besar secara vertikal menjadi balok-balok yang lebih kecil. Pemboran dilakukan dengan spasi 25 cm dengan densitas bahan peledak sekitar 30 - 80 g/m3. Balok - balok yang dihasilkan berukuran panjang 3 - 6 m, lebar 1,5 - 3m dan tinggi 4 - 6 m. Selanjutnya balok - balok ini dapat diperkecil lagi hingga mencapai ukuran 15 - 30 ton, tergantung kapasitas alat muat ( &lt;em&gt;wheel loader&lt;/em&gt; ) dan ukuran mesin pemotong utama ( &lt;em&gt;primary saw&lt;/em&gt; ) pada pabrik pengolahan. Dalam penambangan batuan marmer di daerah pengukuran ini yang perlu menjadi perhatian utama adalah bidang belahannya karena akan mempengaruhi kualitas produk akhir. Pemotongan batuan harus dilakukan sejajar dengan arah bidang belahan karena dengan cara ini, disamping mempermudah pelepasan balok dari batuan induknya juga akan menghasilkan kuat tekan produk akhir yang maksimum.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada kegiatan pengukuran yang dilaksanakan belum dapat digambarkan arah bidang belahan karena belum dilakukan eksplorasi detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. REDUKSI PENGAMBILAN BONGKAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Nilai cadangan prospek adalah cadangan yang teronggokan dalam bentuk bongkah-bongkah berukuran minimal 1 m3. Tidak keseluruhan cadangan teronggokan ini dapat diproses menjadi balok marmer dengan pertimbangan :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- hancur / pecah akibat adanya kekar dan retakan&lt;br /&gt;- hancur pada saat peledakan&lt;br /&gt;- terdapat rongga, gerowongan atau lubang-lubang pelarutan&lt;br /&gt;- kompaksi batuan tidak seragam sehingga mudah pecah pada saat penambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan koreksi sebesar 75% maka jumlah cadangan berbentuk bongkah diperkirakan mencapai 112.500.000 m3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. HASIL SAMPINGAN ( BY PRODUCT )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agar diperoleh nilai tambah pada penambangan marmer ini perlu dilakukan analisa kimia untuk mengetahui terdapat atau tidaknya produk sampingan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku semen portland dan puzzolan serta kapur tohor. Berdasarkan pengamatan lapangan kandungan MgO batuan sangat kecil sehingga kemungkinan adanya by product sukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. PENGOLAHAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pengolahan bertujuan untuk menghasilkan lempengan berukuran tertentu sesuai standar pabrik atau besar yang salah satu sisinya dipoles. Pemotong yang digunakan adalah pemotong intan jenis diamond tipped saw dengan metoda makron.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H. SPESIFIKASI PRODUK DAN KEGUNAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Standar spesifikasi batuan yang dapat dijadikan batuan hias mengacu kepada standar menurut ASTM ( &lt;strong&gt;American Standard Testing Material&lt;/strong&gt; ). Standar ini meliputi karakteristik batuan, sifat-sifat fisik yang diperlukan dan metoda pengujian. Khusus untuk marmer, Indonesia telah menetapkan syarat mutu yang dipergunakan sebagai pelapis dinding dan lantai yaitu SII. 0379-80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. PROSPEK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marmer merupakan jenis batu dimensi yang banyak diusahakan. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 30 perusahaan marmer dengan kapasitas pabrik terpasang keseluruhan 4,29 juta m2 per tahun dengan bentuk produk berupa tile dan roofing.Produksi marmer Indonesia saat ini telah mencapai 2,5 juta m2 per tahun. sedangkan konsumsinya mencapai 4 juta m2 per tahun. Konsumen marmer terutama adalah gedung-gedung mewah milik swasta maupun pemerintah seperti pasar swalayan, hotel, perkantoran dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;J. ANALISA FINANSIAL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan besarnya biaya investasi yang diperlukan dalam usaha pertambangan dan pengolahan marmer di Sipagapaga ini dapat dikelompokkan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Investasi Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kedalam investasi ini adalah biaya yang dikeluarkan untuk survey pendahuluan, perizinan dan pembebasan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Investasi Peralatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Investasi ini mencakup pembelian peralatan , antara lain peralatan penambangan, pengolahan, kantor bengkel dan peralatan penunjang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Investasi Bangunan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meliputi bangunan kantor, perumahan karyawan, jalan, sarana penunjang, pabrik pengolahan , bengkel, gudang, dan tempat penimbunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB V&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASPEK LINGKUNGAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. PANGKALAN KERJA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pola morfologi dari hasil pengukuran diperlukan ketelitian untuk menempatkan lokasi pangkalan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat - syarat yang harus dipenuhi dalam penetapan pangkalan kerja ini antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bentuk topografi daftar&lt;br /&gt;- tidak ada daerah berpotensi longsor&lt;br /&gt;- relatif dekat ke lokasi penambangan&lt;br /&gt;- sumber air ada&lt;br /&gt;- pencapaian lokasi mudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar syarat-syarat diatas, alternatif pengkalan kerja adalah antara P18 - P24 ( Peta No. 2 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. DAMPAK YANG AKAN TERJADI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Komponen lingkungan yang akan terkena dampak pada setiap tahapan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahap Persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bentang alam ( topografi )&lt;br /&gt;- Kualitas udara&lt;br /&gt;- Kebisingan&lt;br /&gt;- Perubahan tata lahan&lt;br /&gt;- Flora dan Fauna&lt;br /&gt;- Ketenagakerjaan&lt;br /&gt;- Pendapatan masyarakat&lt;br /&gt;- Sosial ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tahap Operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Iklikm mikro&lt;br /&gt;- Bentang alam ( topografi )&lt;br /&gt;- Kualitas udara&lt;br /&gt;- Kebisingan&lt;br /&gt;- Kualitas Air&lt;br /&gt;- Flora dan Fauna&lt;br /&gt;- Biota akuatik&lt;br /&gt;- Ketenagakerjaan&lt;br /&gt;- Pendapatan masyarakat&lt;br /&gt;- Sosial budaya&lt;br /&gt;- Sosial ekonomi&lt;br /&gt;- Kesehatan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahap Purna Operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bentang alam ( topografi )&lt;br /&gt;- Kualitas udara&lt;br /&gt;- Kebisingan&lt;br /&gt;- Kualitas air&lt;br /&gt;- Pendapatan masyarakat&lt;br /&gt;- Sosial ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. PENGELOLAAN LINGKUNGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengelolaan lingkungan yang harus dilakukan pada setiap tahap antara lain adalah :&lt;br /&gt;Tahap Persiapan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melaksanakan ganti rugi tanah kepada pemilik tanah&lt;br /&gt;- Pengaturan penempatan tanah penutup sesuai rencana tambang untuk segera dapat dimanfaatkan kembali.&lt;br /&gt;- Penggunaan tenaga lokal untuk pekerjaan&lt;br /&gt;-pekerjaan non-skill&lt;br /&gt;- Pelaksanaan mobilisasi tenaga kerja pendatang dengan tenaga kerja lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Operasional :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melakukan kegiatan penambangan sesuai dengan Rencana Kerja Penambangan&lt;br /&gt;- Penggunaan air dilakukan secara &lt;em&gt;re-cycle&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Membuat &lt;em&gt;dam-dam&lt;/em&gt; / kolam penampungan limbah sesuai dengan kapasitas produksi&lt;br /&gt;- Melakukan penyiraman pada jalan-jalan tambang secara rutin.&lt;br /&gt;- Membuat saluran drainase secara baik&lt;br /&gt;- Melakukan pendekatan secara manusiawi dengan penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Purna Operasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melaksanakan reklamasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB VI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan geologi keberadaan bahan galian marmer di Desa Sipagapaga Kabupaten Mandailing Natal dapat dikembangkan pengusahaannya. Tekstur dan warna batuan cukup mendukung sebagai batu tempel maupun sebagai ubin pada gedung-gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi topografi yang merupakan morfologi perbukitan sangat ideal sebagai areal penambangan ditambah lagi keadaan tanah penutup yang tidak tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal kiranya dapat mencadangkan Desa Sipagapaga sebagai wilayah pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. SARAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat mengembangkan marmer di daerah ini perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Eksplorasi detail untuk mengetahui cadangan pasti dan sifat-sifat geologi yang diperlukan dalam perencanaan tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengujian-pengujian laboratorium :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengujian sifat-sifat fisik batuan antara lain penyerapan air, kuat tekan, ketahanan aus dan kekekalan bentuk. Sifat-sifat ini menyangkut kualitas marmer.&lt;br /&gt;b. Pengujian sifat-sifat fisik batuan berupa kuat tekan, kohesi dan berat isi. Parameter ini diperlukan dalam analisa kestabilan lereng tambang.&lt;br /&gt;c. Pengujian sifat-sifat kimia/mineralogi untuk mengetahui kemungkinan adanya hasil-hasil sampingan ( &lt;em&gt;by product&lt;/em&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hasil pengukuran topografi dan identifikasi geologi yang telah dilakukan. Semoga hasil ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya pengembangan usaha pertambangan di Kabupaten Mandailing Natal.&lt;br /&gt;http://www.distam-propsu.go.id/kegiatan14.php&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-3179043760340440943?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/3179043760340440943/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=3179043760340440943' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3179043760340440943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3179043760340440943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/pengukuran-pencadangan-wilayah.html' title='Pengukuran Pencadangan Wilayah Pertambangan di Mandailing Natal'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-7621654998195768732</id><published>2007-07-03T05:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T05:32:53.365-07:00</updated><title type='text'>Legal Challenge to Mining in Protected Forests</title><content type='html'>Down to Earth No. 65, May 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Legal challenge to mining in protected forests&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;In an attempt to save forests and livelihoods, environmentalists have sought a judicial review of the government's 2004 decision to permit mining in protected areas. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The NGOs and individuals challenging the government on its pro-industry mining policy are focussing on the negative environmental, social and economic impacts. The July 2004 law allowing open-pit mining in lands classified by the government as 'protection forests' prioritises international mining investors over local communities' health, natural resources and livelihoods. Thirteen companies have been permitted to resume mining operations in protected areas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 92 petitioners have called on the expertise of two academics and a former minister to back up their arguments. On the first day of the case, April 5th 2005, Indonesia's Constitutional Court heard from former plantations and forestry minister, Muslimin Nasution. He explained how the government had enacted the 1999 forestry law, which bans open-pit mining in protected forests, after it became aware of the devastating effects. According to Muslimin, this law had been thoroughly discussed with the mining and environment ministries. The mining ministry, prompted by the concerns of mining investors, later pushed for the law to be revised.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryadi Kartodihardjo from the Bogor Institute of Agriculture, another expert witness, agreed that forests and the various services they provide are irreplaceable once destroyed. He also argued that mining such areas did not, as argued by the government, bring financial and development support for local governments. One of the 13 approved companies, PT Karimun Granit, he said, had brought losses of Rp4.3billion (US$452,631) per year (see also below).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another academic, Eko Teguh Paripurno warned of impacts in terms of disasters such as floods, landslides, drought and dam sedimentation. He said forest destruction caused by mining also caused social disasters, due to the loss of assets which should belong to local communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryadi also pointed to the indirect impacts of mining in protected forests, which put yet more pressure on Indonesia's rapidly declining forests. Deforestation rates in Indonesia are the world's highest, estimated at 3.8 million hectares per year. These indirect impacts include better access to forests for illegal loggers, thanks to roads built for mining vehicles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;'Unprotecting' the forests&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The judicial review is the latest in a long battle by civil society groups to stop mining in protected forests. A major blow to the campaign came in July last year when Indonesia's national parliament passed Law No 19/2004. This confirmed that mining companies whose contracts were signed before the 1999 forestry law could resume operations in protected forest areas. Forestry Law 41/1999, while criticised on many accounts, did at least attempt to limit destruction to certain forests by prohibiting open-pit mining in such areas. This had the effect of outlawing the activities of around 150 mining companies operating across the Indonesian archipelago. It affected the concessions of companies at the exploration stage, as well as some operations which had already started commercial mining, such as US/British-owned Freeport/Rio Tinto in West Papua, Canada's Inco in Sulawesi and Australian-owned Newcrest on Halmahera Island, Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 1999 ban caused uproar in the international mining fraternity, which promptly started pressuring Jakarta to make legal changes in its favour. After a prolonged period of deliberations and despite widespread support for a strong national campaign to prevent mining in protected areas, President Megawati gave way to business and foreign government pressure. She issued emergency legislation in March 2004 (Perpu 1/2004) and, later, a decree permitting 13 of the affected companies to resume operations. It was this emergency legislation that was then confirmed by the national parliament last July (see &lt;a href="http://dte.gn.apc.org/61MIN.htm"&gt;DTE 61&lt;/a&gt; for more background).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGOs are demanding that the law be revoked, because both it and the Perpu were illegal. There have also been allegations of bribery in parliament where the amendment to the Forestry Act was passed by a narrow margin (just 29 votes, according to media reports). Afterwards, a group of parliamentarians revealed that they had been offered payments of Rp50 million to Rp150 million (US$5,000 - 15,000) to endorse the pro-mining legislation. Two parliamentary factions were reported to have unexpectedly changed their position from anti to pro-mining on the morning of the vote.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;What impact?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The thirteen companies permitted to resume activities in protected forests are: Freeport Indonesia; Karimun Granit; Inco; Indominco Mandiri; Aneka Tambang (Buli-Mahit); Natarang Mining; Nusa Halmahera Minerals; Pelsart Tambang Kencana; Interex Sacra Raya; Weda Bay Nickel; Gag Nikel; Sorikmas Mining and Aneka Tambang (Bh Bulu Sultra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recent reports indicate that some of these projects are taking an unacceptable toll on local communities, the environment and local economies. They include:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Karimun Granit, which operates in the Gunung Karimun protected forest, Riau Islands province, Sumatra. Kartodihardjo, the witness in the judicial review, said continuing to mine the protected forest would bring annual environmental losses of around Rp8.5 billion (US$900,000), based on a calculation of impacts including water pollution and increased illegal logging. The local government received an income of Rp4.14 billion to Rp5.58 billion from the company in 2001-2003, meaning the overall deficit would be between Rp2.9 bn and Rp4.4 bn ($300,000 - 460,000). According to the mining advocacy network, JATAM, PT Karimun Granit has been mining granite on Karimun island for around 32 years, and has an extended contract which runs until 2013. The protected forest contains high levels of biodiversity and protects water courses. In 2002, a study by the Bandung Institute of Technology calculated that mining the protected forest would result in a loss of 74,790 cubic metres of water per year, not including water used by the mining operation itself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorikmas Mining, which holds a concession covering 66,200 hectares in the Mandailing Natal district of North Sumatra. The concession is in the 108,000ha Batang Gadis National Park, established in April last year in an area formerly classified as protection and production forests. The company is 75% owned by Australian company Oropa Ltd, who took over Aberfoyle Pungkut Investments Pte Ltd from Pacmin and Western Metals Copper Ltd. Aberfoyle's Indonesian partner in Sorikmas is the government-owned PT Aneka Tambang. The local government and people of Mandailing Natal reject mining in the park, which guarantees supplies of drinking and irrigation water for rice-fields and plantation crops owned by the communities. The park is also home to endangered species such as the Sumatran tiger. According to former district government head Amru Daulay, illegal logging has become more prevalent in the park due to Sorikmas's mining activities. Gold exploration by the company has also scarred the area, leaving 400 large pits close to villages, according to Amru. He questioned why the central government allowed PT Sorikmas to operate in the park when the company had no licence from the forestry ministry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Weda Bay Nickel, which is planning to open a nickel mining operation in the Aketajawe Nature Reserve and Lalobata protected forest on Halmahera island, North Maluku. The two areas were declared a national park in November last year and cover a total of 167,300 hectares of hill and lowland rainforest. According to the conservation organisation, Birdlife International, the new park is of exceptional biodiversity importance and is essential for at least 23 bird species found only in North Maluku. Weda Bay's CEO John Lynch boasted that the Canadian company played "a leading role" in the "cooperation" between the Indonesian government and mining industry, which led to the decision to allow mining in such areas. The future impacts of mining on the indigenous Tobelo Dalam community and the new national park have not been highlighted by the company. According to Birdlife, the Tobelo Dalam's livelihoods are already under threat from logging and forest clearance for settlements and plantations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Nusa Halmahera Minerals, operated by Australian gold mining company, Newcrest on Halmahera Island, North Maluku. Local people's protests against the mine ended in violence in January 2004 when Brimob special forces police shot dead one protester and beat up several others (see &lt;a href="http://dte.gn.apc.org/60min.htm"&gt;DTE 60&lt;/a&gt;). In July last year, shortly after the green light was given to mining in protected forests, a mass protest in North Halmahera district was coordinated by village leaders, students and NGOs to reject Megawati's pro-mining decree and to demand that Newcrest leave North Maluku. Communities say the company must rehabilitate and restore the environment and the local economy which has been suffering since mining operations began. They also demanded an end to intimidation and violence by security forces and unfair treatment at the hands of the government, plus the fulfilment of all promises, including compensation and community development funds. The mass protest followed an earlier action in May, involving hundreds of local people and their supporters, who reoccupied the Toguraci protected forest, reclaiming their customary lands from Newcrest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Source: Jakarta Post 21/Apr/05, 14/Apr/05; ; &lt;a href="http://www.oropa.com.au/current.html"&gt;www.oropa.com.au/current.html&lt;/a&gt;; &lt;a href="http://www.madina.go.id/CONTENT/TNBG/TNBG.html"&gt;www.madina.go.id/CONTENT/TNBG/TNBG.html&lt;/a&gt;; JATAM Press Release 2/Mar/04; Republika 19/Apr/05; ENS 12/Nov/04; Miningindo.com 28/Ju/04; Mineweb.com 17/Jul/04, Kerebok, April 2004.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Indonesia's legal action against Newmont&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia's environment ministry announced in March that it was taking legal action, demanding millions of dollars in compensation, against US-based mining multinational Newmont. The company is accused of polluting coastal waters near its Ratatotok goldmine in North Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In November last year, a government-sponsored study linked the company's mining operations to ill-health in the local community and declining fish stocks in Buyat Bay. Villagers have complained of skin disease, lumps, breathing difficulties and dizziness, which may be symptoms of arsenic poisoning, the study found. A five-month old baby died in July adding to a toll of more than thirty people whose deaths have been linked to pollution from the mine. Newmont Minahasa Raya dumps mine waste in Buyat Bay, but claims that there is no link to declining fisheries or health problems (see &lt;a href="http://dte.gn.apc.org/63MIN1.HTM"&gt;DTE 63&lt;/a&gt; for background).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Five company executives, three Indonesians, one American and one Australian, are also facing criminal charges related to pollution, and could face up to 15 years in jail. Indonesia is coming under pressure from Australia, which has warned that the legal action could undermine foreign investment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meanwhile, a former Indonesian environment minister has joined NGOs in calling for a ban on Submarine Tailings Disposal - the waste method used by Newmont both in North Sulawesi and at its much bigger copper and gold mine on Sumbawa Island, in Nusa Tenggara Barat province. Sonny Keraf said it was much easier to control on-land tailings disposal, "because we can directly see the effect", whereas tailings could be spread underwater by strong currents, polluting the water.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(For more background on STD see &lt;a href="http://dte.gn.apc.org/50min.htm"&gt;DTE 50&lt;/a&gt;, also &lt;a href="http://dte.gn.apc.org/cstd1.htm"&gt;DTE/Minewatch Asia-Pacific report on STD&lt;/a&gt;, and &lt;a href="http://www.jatam.org/"&gt;www.jatam.org&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Source: AP 27/Mar/05; Jakarta Post received 20/Dec/04)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dte.gn.apc.org/65MIN.HTM"&gt;http://dte.gn.apc.org/65MIN.HTM&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-7621654998195768732?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/7621654998195768732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=7621654998195768732' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7621654998195768732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/7621654998195768732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/legal-challenge-to-mining-in-protected.html' title='Legal Challenge to Mining in Protected Forests'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-5177891273934643166</id><published>2007-07-03T00:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T00:30:31.687-07:00</updated><title type='text'>Orang Mandailing Harus Tampil Maju</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hikma Sumut Upah-upah Pj Bupati Batubara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sofyan Nasution: “Orang Mandailing Harus Tampil Maju”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 25-06-2007&lt;br /&gt;*anang anas azhar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MedanBisnis – Medan&lt;br /&gt;Himpunan Keluarga Besar Mandailing (Hikma) Sumatera Utara melakukan tasyakuran (upah-upah) “Horas Tondo Madingin Pir Tondo Matogu” kepada Pj Bupati Batubara yang baru dilantik Mendagri, yang juga Ketua Umum Hikma Sumatera Utara, Drs H Sofyan Nasution SH MM, di Kantor Sekretariat Hikma, Jalan Letda Sujono Medan, Minggu (24/6). &lt;a name="more92606"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam tasyakuran tersebut, Sekretaris Umum Hikma Sumatera Utara, Ikhsan Lubis SH Sp.N, Ketua DPW PAN Sumut, Ir H Kamaluddin Harahap MSi, tokoh masyarakat Sumut, H Chairuman Harahap SH MH, Ketua PWI Cabang Sumut, Drs H Muchyan AA, dan ratusan undangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tasyakuran itu juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Hikma Sumatera Utara periode 2004-2009. Pengurus Hikma Sumut ini ini didominasi sejumlah tokoh terkemuka di Sumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan Nasution dalam sambutannya mengharapkan warga Mandailing yang hidup di perantauan tetap tampil maju dalam setiap kegiatan apapun. Warga Mandailing dikenal gigih dalam menggapai cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amanah yang diberikan kepada saya (ketua Hikma Sumut—red), merupakan amanah yang tak terhingga. Saya mengharapkan pengurus yang baru dilantik lebih berkembang dan dinamis,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku, setelah dirinya dipercaya menjabat Bupati Batubara, adalah amanah yang harus dijalankan. Ia yakin, dalam menjalankan program pembangunan di Batubara dirinya tak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya teman-teman yang sama-sama membantu saya untuk membesarkan Batubara,” kata Sofyan Nasution. Chairuman Harahap, sebagai tokoh masyarakat mengharapkan Hikma Sumatera Utara di bawah pimpinan Sofyan Nasution berjalan maksimal, khususnya dalam menjalankan program kerja dan roda organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya salut dengan kebudayaan Mandailing. Saya berharap, kekayaan budaya yang ada harus digali secara maksimal. Oleh karenanya, saya mengharapkan Hikma Sumut harus tampil beda,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bupati Madina&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kalangan masyarakat Madina yang tinggal di perantauan, khususnya Medan, menginginkan Sofyan Nasution SH MM untuk tampil maju sebagai Bupati Madina periode 2010-2015, menggantikan H Amru Daulay SH. Masyarakat Hikma Sumatera Utara juga menginginkan agar Sofyan Nasution segera berpasangan dengan IkhsanLubis SH Sp N. “Pasangan Sofyan – Ikhsan sangat layak untuk membangun Madina,” kata petinggi pengurus Hikma Sumut, yang meminta namanya tidak disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.medanbisnisonline.com/rubrik.php?p=92606&amp;amp;more=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-5177891273934643166?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/5177891273934643166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=5177891273934643166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5177891273934643166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/5177891273934643166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/orang-mandailing-harus-tampil-maju.html' title='Orang Mandailing Harus Tampil Maju'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-3226264014957995842</id><published>2007-07-03T00:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-03T00:33:02.516-07:00</updated><title type='text'>Gempa Bumi di Madina</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ron4iz00_hI/AAAAAAAAAMQ/ROkQCSSIG4s/s1600-h/18122006.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082866931375341074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ron4iz00_hI/AAAAAAAAAMQ/ROkQCSSIG4s/s320/18122006.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#000000;"&gt;BERITA GEMPA BUMI&lt;br /&gt;KABUPATEN MANDAILING, NATAL , SUMATRA UTARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(Dikutip dari BMG/Vulcanologi dan berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berdasarkan Informasi BMG (http://gis.bmg.go.id), gempa terjadi pada hari senin, tanggal 18 December pukul 04:39:20 pada koordinat latitute 0.82 dan longitude 99.88, kedalaman 53 KM dan Magnitude 5.7 Skala Ritcher. Pusat gempa berada didarat , 30 KM tenggara penyabungan, Sumatra Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdasarkan sumber USGS, Kekuatan gempa tercatat w : 5,5 pada kedalaman 17,7 km, dan lokasi pusat gempa terletak didarat pada koordinat 0,706o LU - 99,729o BT atau terletak pada posisi ± 18 km barat laut kota Muara Sipongi, ± 70 km timur laut kota Mandailing Natal, ± 89 km tenggara kota Padang Sidempuan, ± 80 km barat laut kota Lubuk Sikaping dan ± 343 km tenggara kota Medan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Guncangan gempabumi kemungkinan dapat dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal dan sekitarnya. Wilayah ini disusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan, sehingga bersifat lepas, belum terkonsolidasi (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi. Disamping itu morfologinya berupa perbukitan terjal dan bergelombang yang tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan, sehingga rentan terjadi longsoran bila diguncang gempabumi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penyebab terjadinya gempabumi ini diperkirakan akibat pergerakan system sesar aktif di wilayah Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara.Menurut Informasi terakhir gempabumi ini mengakibatkan terjadinya longsoran yang mengakibatkan 4 orang meninggal, 50 orang luka - luka akibat tertimpa runtuhan bangunan serta sejumlah bangunan mengalami kerusakan di wilayah Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara. Intensitas gempabumi tersebut diperkirakan mencapai skala VI MMI (Modified Mercally Intensity) di wilayah Muara Sipongi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;Himpunan Ahli Geofisika Indonesia/Indonesian Association of Geophysicists&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.hagi.or.id/"&gt;http://www.hagi.or.id/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://hagi.or.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;amp;id=40"&gt;http://hagi.or.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;amp;id=40&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-3226264014957995842?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/3226264014957995842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=3226264014957995842' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3226264014957995842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/3226264014957995842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/gempa-bumi-di-madina.html' title='Gempa Bumi di Madina'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nq7SZCEhQ5s/Ron4iz00_hI/AAAAAAAAAMQ/ROkQCSSIG4s/s72-c/18122006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-4465992034406213823</id><published>2007-07-01T22:40:00.000-07:00</published><updated>2007-07-01T22:49:48.573-07:00</updated><title type='text'>Bintuas dan Tabuyung, Dua Desa di Kabupaten Madina, Diambang Kepupusan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bintuas dan Tabuyung, Dua Desa di Kabupaten Madina, Diambang Kepupusan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh Marzuki Usman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Maret 2005, saya bersama sahabat Doli D. Siregar mengunjungi Desa Bintuas di Kecamatan Natal dan Desa Ta-bu-yung di Kecamatan Batang Gadis, Kabupaten Madina, Sumatera Utara. Maksud di hati ingin membantu penduduk di kedua desa yang juga kena sapu ombak tsunami pada tangggal 26 Desember 2004. Kedua desa itu tidaklah separah di Aceh, akan tetapi banyak juga rumah-rumah yang hanyut disapu ombak tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, sudah kita programkan untuk merelokasikan desa itu ke tempat yang lebih tinggi. Rumah pemula (stater house) dibuat yang nantinya dapat dikembangkan oleh penghuninya. Setiap rumah dialokasikan 200 meter tanah. Di samping itu, nelayan juga dibantu agar dapat melaut kembali. Akhirnya nanti dicarikan atau diusahakan lagi tanah masing-masing seluas 2 hektar per kepala keluarga agar rakyat desa itu dapat hidup dengan layak. Pokoknya dengan bantuan dana dari Baznas (Badan Amal Zakat dan Infak Nasional) dan diusahakan pula bantuan dari badan-badan lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri, kami sudah bermimpi akan dapat menyaksikan rakyat di kedua desa ini bahagia dan anak-anaknya berpendidikan yang tinggi, dan nantinya pada jadi menteri kabinet dan konglomerat. Faktanya, setelah kita sampai di kedua desa ini, ternyata hal-hal sebagai berikut kami temukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, kedua desa baru terlepas dari isolasi sejak tahun 1999, enam tahun yang lalu, ketika telah dibangun jalan raya dari Natal ke Sengkuang, ibu kota Kecamatan Batang Gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Desa Tabuyung yang berpenduduk 7.000 orang, baru 13 orang anak yang kuliah di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, penduduk meminta yang paling mendesak adalah kebutuhan akan air bersih, karena semua sumur menjadi payau akibat kontaminasi dari ombak tsunami yang hitam legam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, relokasi desa ternyata tidak semudah di atas kertas, karena ternyata sulit mencari tanah meskipun cuma 50 hektar, padahal masih banyak tanah yang terlantar tetapi sudah dikuasai oleh orang-orang kota baik berupa HPH, HTI, HGU, dan macam-macam hak yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, penduduk desa menyambut kami dengan penuh rasa curiga, karena mereka sudah terlalu sering dibohongi. Banyak yang datang dengan dalih mau menolong tetapi kenyataanya malah menyolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu kita sepakati, yaitu mengatasi keperluan akan air bersih dulu, setelah itu secara bertahap diusahakan untuk hal-hal lain yang serba mudah untuk direalisasikan. Kami pulang ke Jakarta pada tanggal 28 Maret 2005, melalui Medan dengan pesawat Garuda jam 20.00. Ketika jam 01.00 pagi tanggal 29 Maret 2005 saya masih bekerja menulis makalah untuk mengisi harian &lt;em&gt;Sinar Harapan&lt;/em&gt;, anak saya yang kebetulan lagi berada di Detroit menelepon dan menyampaikan bahwa menurut televisi FOX ada gempa di Sumatera, dan tempat gempanya di Pulau Nias. Kemudian hal ini oleh Doli D. Siregar keadaaan di kedua desa kami itu dicek, dan ternyata 80 persen dari rumah penduduk telah pupus disapu ombak. Saya menangis, alangkah malangnya nasib sahabat kami di kedua desa itu, bantuan kami belum diterima, mereka sudah tertimpa bencana alam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Dua Ancaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua desa ini sangat rentan terhadap dua ancaman, dan begitulah nasibnya untuk desa-desa lain sepanjang pantai Barat pulau Sumatera. Adapun ancaman pertama ialah ancaman terhadap bahaya ombak-/tsunami yang dapat terjadi kapan saja (natural disaster threat). Solusinya desa mereka harus di relokasi ke tempat yang lebih tinggi, yakni paling sedikit 3 meter di atas permukaan laut. Sedangkan ancaman yang kedua adalah ancaman ekonomi (economic threat). Penduduk desa ini setiap hari semakin miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal Desa Tabuyung, mereka menyatakan bahwa mereka sudah mengirim surat cerai talak tiga kepada laut. Kenapa begitu? Menurut mereka, perahu mereka maksimum cuma 5,5 ton, dan hanya bisa melaut beberapa mil saja dari pantai. Di lautan lepas, beroperasi nelayan Thailand, nelayan Taiwan, nelayan RRC, dan nelayan Jepang yang kapalnya paling kecil 500 dwt. Mereka, penduduk kedua desa itu hanya bisa melaut paling banyak 6 bulan dalam setahun, dan ikannya semakin pupus. Jika mereka ingin berkebun, tanahnya juga sudah habis. Boro-boro mau berkebun, mencari tanah untuk merelokasi desa pun sudah susah.Bagaimana masa depan mereka? Kelihatannya sangat menyedihkan. Mereka ini akan pupus baik karena ancaman alam (ombak/tsunami) ataupun karena ancaman ekonomi. Yang tinggal di desa berpotensi menjadi pencuri untuk buah sawit di pekebunan sekitar desa. Jika ada orang yang ekstrim, bisa-bisa mereka ini menjadi dan terprosok sebagai teroris. Yang pergi ke kota (urbanisasi) bisa-bisa menjadi pengemis, pencopet, dan maaf, penodong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Apa yang Harus Diperbuat?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Desa-desa seperti ini tersebar sepanjang pantai di Indonesia yang rentan terhadap tsunami. Pemerintah perlu merelokasi desa-desa ini ke tempat yang lebih tinggi. Tidak perlu malu untuk meminta bantuan donor internasional, terlebih lagi ke Amerika Serikat yang sangat konsen terhadap terorisme supaya disapu habis dari jagat raya.Lebih jauh, kepada setiap kepala keluarga yang ada di desa-desa ini diberikan tanah untuk hidup, paling sedikit 2 hektare per keluarga. Mereka bisa hidup dari kehutanan, perkebunan, pertanian, dsb. Pengalaman di dunia membuktikan bahwa negara itu menjadi kaya, apabila rakyatnya dikayakan, yaitu dengan memberi tanah. Inilah yang terjadi di Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Thailand dan sekarang RRC. Tanah diutamakan untuk rakyat bukan untuk negara (seperti di Indonesia?) Apabila rakyat sudah kaya pada giliran mereka menjadi pandai dan elegan. Semogalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Penulis adalah pengamat ekonomi dan mantan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/Keuangan/2005/0425/keu3.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-4465992034406213823?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/4465992034406213823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=4465992034406213823' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4465992034406213823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/4465992034406213823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/bintuas-dan-tabuyung-dua-desa-di.html' title='Bintuas dan Tabuyung, Dua Desa di Kabupaten Madina, Diambang Kepupusan'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6213588134953296645.post-1031900286709482064</id><published>2007-06-29T09:00:00.000-07:00</published><updated>2007-07-01T22:51:37.098-07:00</updated><title type='text'>Menghapus Tangis Orang-Orang Pinggiran</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Pilkada Kabupaten Mandailing Natal&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menghapus Tangis Orang-orang Pinggiran &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jumat, 27 Mei 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Provinsi Sumatera Utara akan menjadi panggung drama raksasa bagi rakyat kecil. Sebab, mayoritas masyarakat di daerah ini masih terbelakang secara ekonomi karena tinggal di kawasan pinggiran yang jauh dari pusat-pusat perkembangan peradaban. Sehingga, warga setempat menggantungkan harapan pada pesta demokrasi lokal perdana 27 Juni 2005 mendatang agar dapat mengubah nasib menjadi lebih baik. Asa mereka seolah-olah berkata, bila "gajah-gajah" kandidat bertarung, "pelanduk" jangan sampai mati di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 200 desa di Madina termasuk Tapanuli Selatan (Tapsel) masih terisolir dan penduduk belum merdeka dari kemiskinan, karena tak tersentuh berbagai infrastruktur pembangunan, seperti sarana jalan, informasi, pendidikan dan kesehatan. Secara politik Madina dan Tapsel masih berada dalam kondisi stabil sehingga disarankan orientasi pemerintah terpilih kelak memprioritaskan pembangunan daerah-daerah pinggiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, beberapa infrastruktur penting di Madina dan Tapsel masih sangat pincang. Misal, banyak desa yang belum memiliki puskesmas. Sementara bagi yang sudah ada puskesmas, tidak memiliki dokter. Disebutkan, 200 desa tersebut harus segera diperhatikan, karena kondisi daerah maupun tingkat kesejahteraannya benar-benar sangat memprihatinkan. Seperti, desa-desa di Kecamatan Muara Batanggadis, Batahan dan Natal sangat mengharapkan kandidat yang menjadi pemenang pilkada kelak memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang selama ini terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan, ada banyak jalan provinsi di Madina dan Tapsel yang rusak berat, terutama sepanjang jalan ke arah Natal, Sidimpuan-Tapsel, Aek Latong. Kondisi jalan sudah tak berfungsi, sehingga satu-satunya upaya harus diganti dengan jalan alternatif yang sudah disurvei tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga mendesak Pemprov Sumatera Utara (Sumut) mencarikan solusi terhadap kondisi jalan propinsi di daerah-daerah, termasuk di Madina dan Tapsel. Karena, sejak otonomi daerah seolah-olah pemprov "lepas tangan" yang berakibat kerusakan semakin parah.&lt;br /&gt;Seperti jalur Padangsidimpuan-Siais sepanjang 15 kilometer rusak total. Lalu, jalan Gunungtua, Kecamatan Dolok juga rusak sepanjang 20 km, dan jalur Aek Godang-Sosopan sepanjang 5 km tak bisa dipakai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara terkait dengan program peningkatan kesejahteraan masyarakat di Madina, tokoh masyarakat Azhar Karim mengatakan, anggota dewan periode lalu yang melakukan reses ke daerah itu sangat mendukung program replanting terhadap perkebunan rakyat yang sudah tidak produktif seluas 43.000 hektare. Selain soal infrastruktur, rakyat Madina juga kerap ditimpa bencana. Akibat gempa bumi pada 28 Maret 2005 lalu, sebanyak 2.232 warga Desa Tabuyung terpaksa mengungsi dan mendirikan tenda di lokasi Camp PT Keang Nam, perusahaan pengelola hutan di daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka tinggal di tenda-tenda darurat," kata Sekretaris Tim Reses DPRD Sumut, Ahmad Hosein Hutagalung dalam laporannya pada sidang pleno DPRD Sumatera Utara di Medan, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madina dengan wilayah seluas 6.620 Km2 memiliki 17 kecamatan, 336 desa, 33 kelurahan dan juga memiliki garis pantai sepanjang 170 Km dengan total penduduk 380.546 jiwa atau 82.563 kepala keluarga (KK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hosein, bencana alam mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum, rumah penduduk, masjid dan lainnya sehingga memerlukan penanganan secara cepat dan tepat. Dalam kurun waktu tiga bulan sudah terjadi dua kali gempa dan diperkirakan bakal terjadi lagi gempa susulan, sementara lokasi gempa di Desa Tabuyung yang dekat dengan bibir pantai berimplikasi terhadap korban jiwa dan material yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Pemkab Madina telah menyusun program penanggulangan dampak bencana tersebut antara lain dengan merelokasi permanen di atas areal seluas 12 hektare di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis yang membutuhkan biaya sebesar Rp 12,6 miliar. "Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dapat membantu biaya pembangunan rumah masyarakat dan fasilitas umum lain yang telah hancur," tambah dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Madina yang Madani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina secara resmi membakukan ungkapan "Madina yang madani" dalam lambang daerah. Lihat saja di bagian bawah logo khas kabupaten tersebut ada tulisan besar: Mandailing Natal, Madina Yang Madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Madina yang Madani, seperti tertera dalam lambang daerah, jelas sejak lama menjadi dambaan masyarakat daerah itu. Persoalannya kini adalah bagaimana obsesi yang begitu indah tersebut akan bisa diwujudkan di lapangan dan dampaknya harus bisa dirasakan masyarakat secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pencantuman Madina yang madani di lambang daerah Kabupaten Madina jelas memiliki konsekuensi besar dan tanggung jawab moral para pelaksana pemerintahan dan pembangunan di daerah ini. Kami melihatnya itu sebagai utang seluruh aparat pemerintah dan wakil-wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang memang pada saatnya nanti akan ditagih oleh rakyat kembali," ungkap salah seorang warga, Nasiruddin Lubis mengomentari lambang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konkret, sampai sekarang, Lubis memang mengaku masih bias dan tidak tahu persis Madina yang madani bagaimana yang menjadi target pemkab. Namun, ia dan masyarakat lain berharap, madani yang dicantumkan di lambang daerah itu arahnya sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi kami, madani itu tidak terlalu muluk-muluk. Intinya adalah bagaimana Pemkab Madina bisa membangun daerah ini untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat daerah ini," kata Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebagian besar masyarakat Madina masih bias dalam menyikapi kata-kata Madina yang madani, jajaran Pemkab Madina sendiri tampaknya kini justru sudah memiliki strategi dan arah yang jelas dalam menentukan kebijakan pembangunan daerah ini. Dengan demikian, obsesi dan keinginan itu bisa diharapkan dapat dicapai dalam beberapa tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rencana strategis, Pemkab Madina secara jelas merumuskan visi pembangunan kabupaten ini adalah bagaimana mewujudkan masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera, dan berwawasan lingkungan. Melalui visi tersebut, diharapkan lima tahun ke depan Madina sudah bisa sejajar dengan kabupaten lain di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target pertama agar bisa sejajar dengan kabupaten lain di Sumatera Utara, jelas sesuatu yang sangat wajar. Karena, Kabupaten Madina baru lahir pada tanggal 23 November 2003 seiring dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang pembentukan pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal menjadi daerah otonom. Sebelumnya, daerah seluas 662.070 hektar dan berpenduduk sekitar 370.000 jiwa ini merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hingga kini usia Kabupaten Madina masih balita, yakni baru empat tahun. Justru itu, sebagai kabupaten baru target pertama adalah bagaimana harus bisa berlari dan tumbuh cepat sehingga dapat sejajar dengan kabupaten lain di Provinsi Sumatera Utara," tegas mantan Bupati Madina, Amru Daulay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut soal lingkungan yang menjadi penekanan khusus dalam visi pembangunan Kabupaten Madina, jelas tidak bisa lepas dari kondisi dan ketersediaan lahan di daerah ini yang memang sebagian besar berbalut hutan. Jika tidak ditangani hati-hati, ini justru bisa menjadi isu tersendiri yang akan berdampak luas mengusik ketenangan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja statistik mengenai lahan di wilayah Kabupaten Madina, di mana sebagian besar memang masih berupa hutan. Rinciannya, hutan negara seluas 317.825 hektare (48 persen) yang hingga kini masih merupakan bagian terluas dari total lahan di daerah itu. Sedangkan sisanya, yakni berupa hutan rakyat seluas 42.176 hektare atau hanya sekitar enam persen dari luas seluruh lahan, perkebunan sekitar 67.707 hektar, rawa-rawa 59.976 hektare, dan selebihnya merupakan areal persawahan, perladangan, tambak, permukiman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan hutan yang mengabaikan kelestarian lingkungan akan berdampak serius terhadap masyarakat dan masa depan Kabupaten Madina. Degradasi lingkungan, misalnya pembabatan hutan yang tidak terkendali, jelas akan mengancam banyak orang. Dan seandainya hal itu yang terjadi, maka "Mandailing Natal, Madina yang Madani" mungkin hanya akan menjadi hiasan dan sebatas slogan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Madina untuk Kabupaten Mandailing Natal terdengar sejak wilayah itu memisahkan diri dari kabupaten induknya, Tapanuli Selatan, tahun 1999. Di daerah perbukitan Kecamatan Panyabungan Timur yang potensial untuk perkebunan, diketahui terdapat tanaman ganja. Aparat keamanan memperkirakan, ada sekitar 11-14 hektare ladang ganja. Baru 9 hektare yang ditemukan dan disita polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui di wilayahnya terdapat ladang ganja, pemerintah kabupaten, aparat keamanan bersama masyarakat, sepakat membasmi ganja dan senjata api. Tanggapan positif warga tercermin dari penyerahan 548,8 kilogram ganja dan 68 senjata api rakitan pertengahan Juli 2003 kepada Pemerintah Kabupaten Madina yang diteruskan ke polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembasmian ladang ganja masih berlangsung, namun tugas berat sudah di depan mata, yaitu penanganan petani untuk alih usaha. Alternatif yang ditawarkan adalah penanaman karet dan kulit manis. Selain karena daerah perbukitan yang subur, sebagian masyarakat di sana hidup dari kulit manis. (Yudhiarma/berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=110090&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6213588134953296645-1031900286709482064?l=amalmadina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amalmadina.blogspot.com/feeds/1031900286709482064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6213588134953296645&amp;postID=1031900286709482064' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1031900286709482064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6213588134953296645/posts/default/1031900286709482064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amalmadina.blogspot.com/2007/06/menghapus-tangis-orang-orang-pinggiran.html' title='Menghapus Tangis Orang-Orang Pinggiran'/><author><name>AR Lubis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16641044712425927832</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
