Wednesday, July 25, 2007

Can Forests Protect Us From Floods?


Foto Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara

February 9th, 2006 / Opinion / Can forests protect people from disaster?
Source: The Jakarta Post, Didy Wurjanto, Jakarta

Foresters and environment groups have frequently blamed deforestation, especially that due to logging operations, as the root cause of the recent floods and landslides on Java that have claimed hundreds of lives and incurred huge infrastructure losses. There is a widespread belief that forests can prevent floods by acting as giant sponges, slowing down the surface runoff and soaking up water during heavy rainfall.

However, certain scientists have presented new findings that claim there is no scientific evidence linking large scale flooding and landslides to deforestation (The Jakarta Post, Jan. 6, 2006 )

Although the causes of the tragedies are still under investigation, pro and contra have been debating on whether the disappearing forests have led to the natural disasters in Jember, East Jawa , that killed at 119 people, and Banjarnegara, Central Jawa , that recently took the lives of at least 149 people.

The proponents of the argument that deforestation leads to floods and landslides say that forests are necessary to regulate stream flows and reduce runoff. Reducing forests usually results in increased runoff. Further, they argue that degraded highland forested areas make a significant contribution to the creation of small natural dams as the soil has been compacted and loses its porosity to absorb water from rainfall.

A recent study conducted by FAO and CIFOR (2005), Forests and Floods: Drowning in Fiction or Thriving on Facts?, argued that existing knowledge of deforestation leading to floods and landslide disasters is frequently based more on perceived wisdom than on science. In the rush to identify the causes of the disasters, the study revealed that the assumptions were made simply based on observations from other regions, which often have quite different environmental characteristics, or by extrapolating from small to large scale.

According to this study, forests only have a limited influence on major downstream flooding, especially large-scale events. Forests indeed are capable of reducing runoff as the result of enhanced infiltration. But this is only true for small-scale rainfall events. During a heavy rainfall events, like those that resulted in massive flooding in Jember and Banjarnegara, especially after prolonged periods of preceding rainfall, the forest soil becomes saturated and water no longer infiltrates into the soil but instead runs off along the surface.

Hydrology experts say that within watershed systems, flooding is the natural way to discharge water arising from heavy rainfall. There was no problem with flooding until people decided to use natural flood plains for their own use. This situation forces us to face the fact that people have chosen to live and work in these flood plains.

The key to minimizing potential future disasters is not by abruptly relocating people already living within the watersheds. However, it is vital that fragile areas be identified, classified and protected from inappropriate use, whether this be forestry, agriculture or mining. Nonetheless, even the best plans will not be effective if it is not implemented or facilitated by supportive policies.

Effective watershed management is an iterative process of assessing, planning, restoring and organizing land and resource use within a watershed to provide desired goods and services while maintaining and supporting livelihoods. This process provides an opportunity for stakeholders to balance different goals and resource uses and to consider how the development may affect long-term sustainability of natural resources. Mining and physical infrastructure such as roads can affect local hydrology far more than agricultural practices.

In this autonomy era, several local governments have undertaken preventive measures to protect their people and their infrastructure from similar tragedies. They have launched the concept of Kabupaten Konservasi (conservation regency) by managing the nearby watersheds in the form of conservation area management. The idea is not only to care for the watersheds but also the forest cover.

Amru Daulay, the regent of Mandailing Natal, North Sumatra , led his people to establish the 108,000-hectare Batang Gadis National Park in 2004, which accounts for 26 percent of the forest areas in the regency. The natural park became the center of the surrounding six sub watersheds contributing to the total economic value of more than Rp 160 billion (US$17 million) per year through domestic water, agriculture, fisheries and other environmental services (Conservation International 2006).

The park is responsible for supplying clean water to 13 districts within the regency. Its dense forests are home to very important wildlife including Sumatran tigers, which are now very rare in other parts of North Sumatra . Embedded in the concept of national park management is the recognition of the harmonized interrelationship of many different activities, such as fisheries, urban development, agriculture, forestry, recreation, conservation and other human influences.

Working with other stakeholders the government is striving to find a break-through in creating incentives for those who have an interest in keeping the park functioning.

The writer is an employee of Conservation International Indonesia . He can be reached at dwurjanto@conservation.org.

Banjir di Mandailing Natal


Natal digenangi air
Foto Arbain Rambey

24/07/2007 16:14 WIB
Banjir di Mandailing Natal, 4,300 Jiwa Mengungsi

Medan – Banjir yang bersumber dari luapan air sungai melanda lima kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Tidak ada korban jiw sejauh ini, namun tak kurang dari 4,300 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ketiga sungai yang meluap itu, masing-masing Aek Bangko, Aek Batang Natal, dan Aek Batahan. Akibatnya rumah penduduk yang berada di lima kecamatan yang dilintasi sungai tersebut ikut terendam air. Masing-masing di Kecamatan Muara Batang Gadis, Natal, Kecamatan Sinunukan, Batahan dan Ranto Baek. Pada beberapa titik, ketinggian air mencapai dua meter.

Penduduk yang mengungsi berjumlah sekitar 4,300 jiwa dari 888 keluarga. Saat ini mereka bertahan di Pasar Sinunukan, Bukit Godang, Kecamatan Batahan di kabupaten yang sama.

“Kami sudah mengistruksikan camat untuk segera melakukan penagangan. Agar masyarakat segera mendapatkan bantuan sembako maupun kesehatan,” kata Bupati Mandailing Natal Amru Helmy Daulay kepada wartawan, Selasa (24/7/2007) di Mandailing Natal, sekitar 480 kilometer dari Medan.

Luapan air sungai juga menyebabkan sejumlah jembatan penghubung di kabupaten itu rusak dan hanyut. Di Kecamatan Sinunukan dan Batahan masing-masing satu jembatan. Sementara jembatan Pasar Natal di Kecamatan Natal yang baru dibangun juga ikut hanyut.

Di beberapa titik jalan lainnya juga terdapat longsoran tanah dari perbukitan. Akibatnya, jalur transportasi Kecamatan Natal menuju Panyabungan, ibukota Mandailing Natal, terputus total. Kendala transportasi ini juga menghambat efektivitas pendistribusian bantuan kepada warga. (rul/asy)

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/24/time/161412/idnews/808853/idkanal/10


Ribuan Warga Mandailing Natal Mengungsi Karena Banjir
Selasa, 24 Juli 2007 | 19:35 WIB

TEMPO Interaktif, Medan: Ribuan masyarakat dari Kecamatan Batu Sondet, Bapahan,Patiluban Ilir, Luban Mudik, Natal, Muara Batang Gadis, dan Sinunukan di Kabupaten Mandailing Natal mengungsi karena banjir pada Selasa (24/7).

Banjir yang menggenangi perumahan warga disebabkan meluapnya sungai Aek Batang Natal, Aek Bangko dan Aek Bantahan. Sebagian besar warga mengungsi ke Pasar Sinunukan, Bukit Godang dan Bantahan.

Khairul, seorang warga Panyabungan mengatakan, banjir yang mengenai sejumlah wilayah ini karena hujan turun terus menerus selama dua hari. "Hujan turun selama dua hari terus menerus," katanya.

Namun, banjir di kawasan Batu Sondet diduga karena penebangan hutan untuk perluasan perkebunan milik perusahaan perkebunan milik negara. Menurut Khairul, setiap hari kayu yang ditebang dari wilayah ini. Hambali Batubara
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/07/24/brk,20070724-104299,id.html

Kerugian Bencana Mandailing Natal dan Langkat Rp 108 Miliar
Selasa, 16 Januari 2007 | 11:37 WIB

TEMPO Interaktif, Medan:Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menghitung kerugian bencana gempa dan longsor di Kabupaten Mandailing Natal dan banjir di Kabupeten Langkat mencapai Rp 108 miliar.

Kerugian materi itu akibat rusaknya sejumlah nfrastruktur jalan sepanjang dua kilometer, jalan negara empat kilometer serta jembatan. Adapun rumah yang rusak berat sebanyak 554 unit dan rusak ringan 467 unit.

Adapun bangunan sekolah rusak berat tujuh unit dan 11 lainnya rusak ringan. Korban tewas akibat gempa disusul longsor di Mandailing Natal 33 orang dan 2.988 jiwa hingga saat masih mengungsi.

Sedangkan banjir di Langkat kerugiannya mencapai Rp 70 miliar. Banjir bandang itu merusak lahan persawahan seluas 14.379 hektare, 5.149 unit rumah rusak parah, empat jembatan ambruk serta 1.110 hektare tanaman hortikultura rusak. Banjir yang melanda 15 kecamatan, akhir tahun lalu itu menelan korban jiwa 17 orang.

"Pemerintah Sumatera Utara menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi kedua kebupaten itu selesai dalam tiga bulan," juru bicara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Maringan Lumban Tobing kepada Tempo hari ini.

Sahat Simatupang
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/01/16/brk,20070116-91346,id.html

Saturday, July 21, 2007

Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman


The old police station where Teluk Mak Intan was founded.
Pic by Khoo Salma Nasution

Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman
By Abdur-Razzaq Lubis

Teluk Intan is a moderate sized town in the state of Perak, Malaysia. With an estimated population of around 110,000, Teluk Itan is the largest town in the district of Lower Perak and third largest in the state of Perak.

The town was founded on the bank of the Perak River. The river forms an omega-shaped oxbow, and the town is built in the loop of the oxbow. During high-tide, some parts of the town tends to flood even though there are watergates and protective banks.

Historically, it was known as Teluk Mak Intan (Mak Intan’s Bay) or Pekan Mak Intan (Mak Intan’s Town), taking its name from a noble and wealthy Mandailing woman, in which case, she would have been a family member of the Namora-Natoras (The Noble [and] The Elders), the Mandailing elite.

In view of her social and financial standing, it is plausible that she would have been the patron of the traders at Teluk Mak Intan. The existence of Teluk Mak Intan has been recorded since the late 19th century. Oral tradition has it that Teluk Mak Intan was established after Batak Rabit and Durian Sebatang. The original site of Teluk Mak Intan is the old police station (Balai Polis) and its vicinity.

As for the origin of the name Teluk Mak Intan, oral history narrates an incident in which Mak Intan was swimming and frolicking with her friends and attendants at a bay on the lower reaches of the Perak River, when her diamond studded hair pin, a gift from her parents, which held her bun together, fell into the river and was never recovered. Over time, when recalling the incident, people referred to the place where she dropped her hair pin as Teluk Mak Intan.

Compared to Durian Sebatang or Batak Rabit on the banks of the Perak river, Teluk Mak Intan was then free of floods, its bank secure and the bay deep, making it a suitable river port and commercial centre. On top of that, its hinterland was fertile for tubers, corn, bananas and the likes.

Therefore it comes as no surprise that it was also known as Pekan Mak Intan as it was a staging point for sojourners and traders from the Indonesian archipelago and other parts of the globe, who wanted to trade with the interior of Perak.

Traders from Kampar brought black cloth, shrimp paste (belacan), white silk, batik (kain rawa), tobacco, palm thatch (attap nipah) and salted or pickled fish (ikan peda,ikan pekasam) for sale. On their return journey they carried tin.

Sumatran sojourners and traders from Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang ethnic groups as well as Bugis seamen from the island of Sulawesi (Celebes), would go upstream to Batu Gajah in the Kinta Valley, in the interior of Perak state, through the port of Teluk Mak Intan.

“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju terus ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”

(They came in sampan or sekoci, perahu or lading through the estuary of the Perak river, heading straight to the Kinta river carrying with them the provisions for miners and villagers. The journey from Teluk Intan to Batu Gajah usually takes between four to five days.”

During British colonial rule, the third British Resident to Perak, Hugh Low, proposed,

“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Customs house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore as soon as I can…”

The superior geographical location of Teluk Mak Intan compared to other locations in Lower Perak made it a suitable candidate for a new administrative centre in the district. Hugh Low's proposal was enthusiastically received by the acting Governor of the Straits Settlements (at the time the Federated Malay States has yet to be instituted), Col. Archibald Anson (1879-1880), the latter even drew the first plans for the town.

Accordingly, in a State Council meeting of 15 March 1882, Hugh Low recommended that,

“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”

The recommendation was unanimously accepted by the Council, which officially changed the name of Telok Mak Intan to Telok Anson (literally, Anson’s Bay), or in Chinese 安顺 (Pinyin: Ānshùn).

During its centenary celebrations in 1982, the Sultan of Perak partially reverted the name of the town to Teluk Intan, dropping the feminine Mak. Teluk Intan served as the major administrative and business settlement for smaller neighbouring towns such as Tapah, Bidor, Bagan Datoh and Hutan Melintang. The town has a number of colonial buildings and Chinese shophouses together with modern buildings and a few shopping complexes and educational institutions. Being the major town in Hilir Perak and nearby smaller townships, Teluk Intan attracts shoppers from the surrounding area. Shopping and food brings many people to Teluk Intan during the weekends.

The main economic activities in Lower Perak around Teluk Intan today are oil palm cultivation and palm oil production. Some of the big corporations owning plantations around Teluk Intan, are United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby and Kumpulan Guthrie Berhad.

Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing


Menara Condong atau Jam Tinggi yang dibina pada tahun 1885 merupakan mercu tanda dan simbol Teluk Intan. Pembangunan menara itu diilhamkan oleh bangunan pagoda dari negeri Cina, telah didirikan oleh seorang pemborong bernama Choong Cheong @ Ah Cheong. Asalnya ia adalah sebuah tangki air sebagai persiapan untuk menghadapi musim kemarau dan buat bomba/setoker memadam api kebakaran.

Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing.
Oleh Abdur-Razzaq Lubis

Teluk Intan adalah sebuah kota/bandar sederhana yang terletak di negeri Perak, Malaysia. Dengan penduduk yang dianggarkan kira-kira 110,000 orang, ia merupakan kota yang terbesar di daerah Hilir Perak, dan yang ketiga besarnya di negeri Perak.

Kota Teluk Intan dibangunkan di tebing Sungai Perak. Sungai itu membentuk semacam galang kuk (oxbow) atau tasik ladam, dan kota itu didirikan pada gelung atau cecincin galang itu. Apabila air pasang, sebahagian kota itu banjir meskipun ada pintu air dan pembetongan.

Dari segi sejarah, Teluk Intan dikenali dengan nama Teluk Mak Intan atau Pekan Mak Intan, mengambil namanya dari seorang wanita bangsawan dan hartawan Mandailing. Ini bererti Mak Intan adalah anggota keluarga (Namora-Natoras, Yang Dimuliakan [dan] Yang Dituakan). Oleh yang demikian, boleh diterima akal bahawa Mak Intan menjadi penaung kelompok pedagang di Teluk Intan.

Keberadaan Teluk Mak Intan telah tercatat pada penghujung abad ke-19. Cerita lisan menuturkan bahawa Teluk Mak Intan menyusuli keberadaan Batak Rabit dan Durian Sebatang. Lokasi Teluk Mak Intan adalah di mana bangunan Balai Polis lama sekarang dan kawasan di sekitarnya.

Mengenai asal-usul nama Teluk Mak Intan, cerita lisan mengungkapkan bahawa pada suatu hari Mak Intan dengan beberapa kawan-kawannya sedang mandi-manda dan bersukaria di teluk Sungai Perak, dengan tidak semena-mena pacak intan pemberian orang tuanya, yang dipakai disanggulnya, terjatuh dan hilang di dalam sungai itu. Oleh kerana peristiwa itu disebut-sebut orang belakangan hari bahagian teluk di mana Mak Intan kehilangan pacak intanya sebagai Teluk Mak Intan.

Berbanding dengan Durian Sebatang atau Batak Rabit di tebing Sungai Perak, kedudukan Teluk Mak Intan, yang bebas dari ancaman banjir sementara tebing sungainya yang kuat dan air teluknya dalam, menjadikan Teluk Mak Intan sesuai dijadikan pengkalan sungai dan pusat perdagangan. Tambahan pula kawasan pendalamannya subur untuk tanaman ubi, jagung, pisang dan sebagainya.

Makanya tidak hairanlah mengapa ia juga dikenali sebagai Pekan Mak Intan kerana di sinilah tertumpunya perantau dan pedagang baik dari Nusantara mahupun dari tempat-tempat lain di dunia, yang mahu masuk ke pedalaman negeri Perak untuk memperolehi bijih timah khasnya.

Perantau dan pedagang Sumatra dari etnik Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang serta Bugis dari pulau Sulawesi, masuk ke mudik ke Batu Gajah di Lembah Kinta, di pendalaman Perak, melalui Teluk Mak Intan.

“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju teras ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”

Pada zaman pemerintahan kerajaan negeri Perak di bawah tajaan British, Residen British yang ketiga di negeri itu, Hugh Low, telah mengarahkan supaya

“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Cusoms house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore [di mana pejabat/kantor Gabenur British] as soon as I can…”

Jelaslah kelebihan geografi Teluk Mak Intan berbanding dengan lokasi lain di Hilir Perak untuk didirikan sebuah pusat pentadbiran/administratif baru di jajahan itu. Saranan Hugh Low itu bukan sahaja diterima baik oleh pemangku Gabenor Negeri-Negeri Selat (pada masa itu belum diwujudkan lagi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu), Col. Archibald Anson (1879-1880), malah Gabenor itu telah melukis pelan untuk pusat pentadbiran tersebut.

Maka pada mesyuarat/rapat Majlis Negeri pada 15 Mac/Maret 1882, Hugh Low mengusulkan supaya

“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”

Dengan penerimaan usul itu oleh Majlis Mesyuarat Negeri Perak, nama Telok Mak Intan bertukar menjadi Telok Anson (Cina: 安顺; Pinyin: Ānshùn).

Seratus tahun kemudian pada perayaan ulang tahun keseratus kota Telok Intan pada 1982, Sultan Perak telah menukar kembali nama Telok Anson menjadi Telok Intan. Hari ini, Teluk Intan merupakan pusat administratif dan bisnes yang utama untuk pekan-pekan [pokan] kecil seperti Tapah, Bidor, Bagan Datoh dan Hutan Melintang. Pusat pentadbiran daerah Hilir Perak itu mempunyai beberapa buah bangunan kolonial dan rumah kedai/ruko Cina dengan bangunan modern and kompleks membeli-belah/daerah pertokoan/pusat berbelanja and institusi pendidikan. Kerana ia merupakan kota tersohor di Hilir Perak, Teluk Intan menarik pengunjung dan pembeli-belah dari kawasan seputarnya. Berbelanja dan menjamu selera mendatangkan banyak orang ke Teluk Intan pada hujung minggu.

Aktiviti ekonomi utama sekeliling Teluk Intan di Hilir Perak hari ini ialah perkebunan kelapa sawit dan pengeluaran minyak kelapa sawit. Perbadanan yang memiliki perkebunan-perkebunan besar di kawasan sekitar Teluk Intan termasuklah United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby dan Kumpulan Guthrie Berhad.

Sunday, July 15, 2007

Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi


Perkebunan Rakyat
Foto Abdur-Razzaq Lubis

Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi
Mei 4th, 2007

PANYABUNGAN ( Berita ) : Sebanyak 50 orang perwakilan warga 13 Desa Kecamatan Hutabargot Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (03/05) sekitar pukul 10.00 Wib mendatangi Gedung DPRD untuk mengadukan nasib mereka yang kehidupannya mulai terancam dan nyaris tidak mempunyai mata pencaharian disebabkan pihak pengelola Taman Nasional Batang Gadis ( TNBG ) mengadukan masyarakat ke Polisi agar tidak mengolah dan memanfaatkan tanah perkebunan daerah itu.

Selain itu, akibat terjadinya Kebakaran Hutan di wilayah itu sekitar 23 Maret 2007 lalu telah membuat masyarakat 13 Desa yang selama ini mengolah lahan perkebunan Trauma dan bahkan ada yang telah meninggalkan rumah dan keluarganya disebabkan sudah di panggilnya 20 orang warga yang di duga telah terlibat dalam pembakaran hutan di daerah itu.

Delegasi warga yang jumlah 50 orang masing-masing di Pimpin Kepala Desa dan didampingi Camat Hutabargot Adek Damanik .AP diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH, Ketua Komisi A Binsar Nasution.A.Md, Ketua Komisi B H.Saripada Hasan Lubis, dan beberapa anggota Dewan lainnya serta turut hadir dalam pertemuan/dialog itu Asisten I M.Gozali Pulungan.SH.MM, Kabag Bina Mitra AKP.Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.

Juru bicara warga Desa Bangun Sejati M.Yusri dalam penjelasannya mengaku masalah keberadaan TNBG sangat di dukung oleh masyarakat, tetapi hendaknya pihak TNBG membuat penjelasan yang jelas apakah wilayah yang telah di kelola oleh masyarakat termasuk wilayah TNBG, sebab sejak zaman dulu wilayah perkebunan yang di kelola oleh warga merupakan hak turun temurun dari keluarga masyarakat.

Sebab ujar M.Yusri dihadapan anggota DPRD, dari Balai TNBG, Dishut serta Polres Madina, selama ini tidak ada sosialisasi maupun penjelasan dari pihak TNBG sekalipun telah dikatakan ada sosialisasi, karena sampai sekarang batas wilayah TNBG yang jumlahnya 108.000 Ha tersebut baik patok maupun pengumuman atau apa saja tidak ada dan kenapa masyarakat diadukan ke polisi ketika membuka lahan untuk mata pencaharian warga.

Coba anda bayangkan, ujar m.Yusri, jika warga tidak bisa mengolah lahan perkebunan itu maka kehidupan warga terancam, sebab sejak beberapa tahun terahir ini tanaman padi tidak baik, makanya warga mencoba membuka usaha lain dengan membuka perkebunan untuk menambah mata pencaharian warga dan sekarang diadukan ke polisi dan sudah tentu masyarakat merasa takut dan trauma jadinya.

Kami sangat senang adanya TNBG dan masalah batas-batas wilayah kami tidak tau karena kami orang desa yang tidak pernah memahami hukum seperti penjelasan pihak Balai TNBG dan tolong kami diberikan tempat mencari nafkah, apakah kami di targetkan untuk hidup susah atau sengaja pemerintah membuat kami miskin, ujar M.Yusri,
Kepala Desa Mondan.

Yasri Nasution dalam pengaduannya ke DPRD, mengaku bahwa tanah perkebunan yang ada di wilayah Sidua-dua adalah merupakan Tanah Ulayat warga Hutabargot sekitarnya yang dijadikan perkebunan rakyat dan surat persutujuan bersama telah dibuat 6 Kepala Desa di saksikan oleh Camat Panyabungan Utara dan jika sekarang dibuat wilayah TNBG sebagai zona terlarang untuk masyarakat tentu kami tidak setuju.

Kenapa tanah kami sendiri yang kami oleh kami diadukan, makanya kami keberatan dan lagi pula kami buta hukum, jangan kehidupan kami di kekang dan kemana lagi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami, ujar Kades Mondan Yasri Nasution.

Sementara itu Ketua Komisi A Binsar Nasution dan Samun Tanjung.SH dari Komisi B dalam keterangannya, menilai pihak Balai TNBG dan Dishut Madina maupun BPH telah melakukan kesalahan dalam masalah TNBG yang biayanya mencapai Rp 9 milyar beberapa waktu lalu, sebab buktinya sekarang ini masyarakat wilayah Hutabargot belum mengetahui tapal batas dari wilayah TNBG dan sudah tentu warga mengolah dan memanfaatkan tanah mereka sendiri yang sekarang di persoalkan oleh pihak TNBG.

Saya menduga ada permainan dalam pembuatan batas wilayah, Tapal Batas, patoknya yang dibuat BPH apa, apakah semen, batu atau kue, jangan-jangan dokumennya juga tidak ada hanya sebatas laporan saja dan kami harap pihak TNBG segera menyerahkan butki-bukti dari sosialisasi yang dibuat selama ini, ujar Binsar Nasution.A.Md dari Fraksi PBR dan yang Ketua DPC.PBR Madina itu.

Ungakapan yang sama juga disampaikan oleh anggota DPRD dari Fraksi Bersatu Drs.Razman Arif, Samun Tanjung, bahwa kejadian terhadap warga Hutabargot adalah merupakan kesalahan dari Dishut dan TNBG yang dinilai telah salah dalam melakukan pendataan batas- batas wilayah TNBG.

Kita sangat sepakat sekali kejadian yang telah membuat warga di panggil polisi segera dicari solusinya dengan melakukan pemberhentian pemeriksaan kepada warga, sebab sudah banyak warga yang Trauma dan pihak TNBG segera membuat Tim khusus untuk membuat batas maupun zona yang betul, ujar Drs.Razman Arif Nasution.

Sedangkan, pihak Balai TNBG Madina Sahgwan Siregar dan dari BPH Selamat Sembiring dan mewakili Dishut Madina Sardi dalam keterangannya, mengaku telah berkali-kali melakukan sosialisasi baik di wilayah Desa sekitar TNBG maupun di Madina Sejahtera dan juga dengan Pemuda/OKR yang telah dibentuk telah dilakukan sosialisasi.

Batas-batas wilayah sepanjang 80 KM Taman Nasional Batang Gadis telah dibuat beberapa wilayah dengan membuat batas yang melibatkan Kades, ulama dan tokoh masyarakat dan tentu pihak kita telah bekerja maksimal serta sebelumnya dibuat sosialisasi di desa, ujar BPH TNBG Selamat Sembiring dan Sardi dari Dishut Madina.
Mewakili Polres Madina Kabag Bina Mitra AKP Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan A.Daulay, mengaku melakukan pemanggilan kepada warga adalah berdasarkan Pengaduan pihak TNBG atas terjadinya pembakaran hutan di wilayah Hutabargot sekitar 23 Maret 2007 yang lalu.

Kami memanggil dan memintai keterangan sekitar 20 orang warga dan belum ada yang ditahan sebab masih pemeriksaan atas pengaduan, kalau ada kesepakatan di DPRD untuk pemberhentian pemanggilan kami akan segera laporkan ke pimpinan kami dan juga sepakat untuk dilakukan musyawarah di DPRD, ujar Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.
Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH dalam penjelasannya kepada wartawan di Kantornya, masalah antara warga Hutabargot sekitarnya dengan pihak TNBG serta Polisi telah di sepakati untuk sementara warga jangan dulu mengolah lahan perkebunan yang di ributkan dan pemanggilan warga juga di hentikan serta pihak TNG maupun Pemerintah segera membuat batas- batas zona TNBG.

Setelah adanya delegasi warga yang melakukan dialog di ruang paripurna dan dilanjutkan musyawarah di ruangan Pimpinan disepakati dilakukan musyawarah mupakat untuk kebaikan bersama, sebab TNBG juga adalah milik Nasional yang telah diakui dan perlu kita jaga kelestariannya, ujar Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH.

Kami Membutuhkan Biaya Hidup

Sedangkan, ketika terjadinya dialog antara Perwakilan warga, Polres, Balai TNBG, Dishut, DPRD dan Asisten I serta Camat Hutabargot di ruang rapat Pimpinan DPRD, sekitar tiga puluh orang warga 13 Desa yang mendatangi DPRD mengaku tetap akan melanjutkan pengolahan lahan perkebunan mereka, sebab warga membutuhkan biaya hidup.
Kami juga manusia yang ingin hidup lebih baik, ingin menyekolahkan anak, ingin makan seperti layaknya warga lain, kenapa kami tidak diperbolehkan untuk mengolah lahan yang merupakan milik nenek moyang kami dan kami memang buta hukum tapi jangan di bodoh-bodohi, ujar Mhd. Hafis Nasution dari Hutabargot.

Harapan kami, ujar Mhd.Hafis.Nasution, sekalipun asfirasi kami ini tidak bisa di bawak dalam pertemuan dengan DPRD, tapi kami sangat berkeyakinan dengan sikap Wartawan di Madina yang selalu membela rakyat kecil dan kami harapkan Harian Berita Sore dan wartawan lainnya ikut memperjuangkan hak-hak rakyat yang miskin ini.(sof)

http://beritasore.com/2007/05/04/dilarang-kelola-tnbg-warga-hutabargot-berdemonstrasi/

Saturday, July 14, 2007

Gordang Sambilan Semakin Langka?


Gordang Sambilan Tersimpan di Maga, Mandailing Julu
Foto Abdur-Razzaq Lubis

"Gordang Sambilan" Semakin Langka

Batam, Kompas
Selasa, 3 Juli 2001

Perkembangan musik tradisional Tapanuli Selatan, "Gordang Sambilan" (gendang sembilan), dari waktu ke waktu semakin langka dipertunjukkan di tengah-tengah masyarakat. "Gordang Sambilan" hanya dipertunjukkan ketika ada acara-acara besar, seperti pesta perkawinan adat, kedatangan tamu-tamu pejabat, peresmian kantor-kantor pemerintahan, atau acara-acara pelantikan perkumpulan adat.

"Tapi, pertunjukan 'Gordang Sambilan' sudah langka sekali. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau mengadakannya," kata Hasyim Siregar (45), Pimpinan "Gordang Sambilan" Halongonan Napurpur, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, di Batam, Minggu (1/7). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini berkaitan dengan acara peresmian organisasi "Parsadaan Halongonan Napurpur" (Perkumpulan Persaudaraan-Red) Batam yang dipimpin Syafrizal Sitorus.

Pada acara itu antara lain hadir Asisten I Pemerintah Kota Batam Asyari Abbas. "Kami sengaja mengundang "Gordang Sambilan" untuk melestarikan kesenian tradisional Tapanuli Selatan sekaligus mengenang atau melepas rasa rindu akan kampung halaman," kata Sitorus.

Musik tradisional "Gordang Sambilan" adalah musik yang terdiri dari sembilan gendang, yang diiringi alat musik lain, seperti seruling, ogung (gong), dibantu gondang (gendang kecil). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini pada zaman Belanda dahulu sering dipertontonkan oleh raja-raja di Tapanuli Selatan dalam pesta adat, pesta perkawinan, atau pesta setelah rakyat memanen sawahnya.

Menurut Siregar, langkanya kesenian "Gordang Sambilan" ini bukan hanya karena sedikitnya orang-orang Tapanuli Selatan yang mau mencurahkan perhatiannya untuk melestarikannya. Tapi, orang-orang di Tapanuli Selatan sendiri pun sudah tidak banyak lagi yang mau menggunakannya untuk pesta-pesta adat atau acara-acara adat. "Itu bisa terjadi karena ongkos atau biaya pertunjukannya mahal. Kemahalannya bukan karena membayar orang-orang yang memainkannya, tapi membawa alat-alatnya dari Tapanuli Selatan memakan biaya yang tinggi," ujar Siregar yang sudah mendirikan "Gordang Sambilan" sejak tahun 1985. (smn)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0107/03/daerah/gord19.htm

Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya


Seorang Pelancung Inggeris Bergambar di hadapan Bagas Godang di Pakantan
Foto Abdur-Razzaq Lubis

Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya
WASPADA Online
09 Jan 07 16:37 WIB

Prof. P.J. Veth, sejarawan Belanda sangat gandrung kepada hal yang berhubungan dengan letak geografis Indonesia. Beberapa karyanya diakui sebagai tonggak penemuan masa lampau peradaban di Indonesia. Daerah penelitiannya mencakup kepulauan Sumatera sampai ke kepulauan Timor. Sosoknya dikenal sangat serius dan jarang tertawa.

Hobbynya membenamkan diri pada timbunan kertas tua. Dari situ ia membuat catatan ringkas dan kemudian mengolahnya dengan sumber lain untuk dijadikan sebuah buku. Salah satu kegemarannya yang lain, yang jarang diketahui orang, adalah membaca memoir (buku harian) para prajurit kompeni.

Sering kali para prajurit menuliskan keluh kesahnya selama melakukan dinas ke daerah pedalaman. Seorang prajurit yang bernama belakang Logemann, mengunjungi wilayah Mandailing (tahun 1800-an), menulis : Penduduk di wilayah Mandailing Godang dan Mandailing Julu dalam teks ia menuliskan Groot Mandheling en Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten , sangat memuliakan air, memuja air, sampai-sampai air yang saya minum enak sekali rasanya…

Walaupun ada beberapa buku yang ditulis oleh para ahli (T.Z. Willer dan Junghuhn) tentang Mandailing, tetap saja tulisan Veth merupakan rujukan penting tentang batas geografis Mandailing.

Awalnya tulisan-tulisan Veth sempat menjadi pembicaraan hangat di perkumpulan ' Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen' ( lembaga seni dan ilmu pengetahuan ) di Jakarta. Deskripsinya tentang kelompok etnis yang tersebar pada berbagai kepulauan Indonesia sangat mengagumkan. Akhirnya atas perintah gubernur jendral kumpulan karangan Veth disatukan menjadi satu buku yang berjudul ' Aardrijkskundig en Statistisch, Woorden Boek van Nederlandsch Indie', terbit tahun 1869. Karangan Veth tersebut sering kali menjadi sumber penting dalam melakukan penelitian tentang Indonesia. Corak pemikirannya tampak mempengaruhi tulisan Indonesianis G.F.E Gonggrijp dan W.F. Stuurheim.

Sedikit deskripsi Veth tentang Pakantan (1850-an) sebagai berikut : Sebuah distrik di kepulauan Sumatera, masuk ke dalam keresidenan Tapanuli, dialiri oleh sungai namanya ' Batang Gadis'. Urusan administrasi (perwakilan gubernemen) terletak di Kota Polak. Sedangkan wilayah yang mempunyai kepala kuria adalah Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Seorang Opziener (pengawas) ditempatkan di Pakantan Lombang. Di daerah Pakantan Dolok terdapat tambang emas, tetapi hasil bumi yang utama adalah pinang, kentang dan jeruk . Sedangkan di Pakantan Lombang, yang waktu itu hanya ada 200 rumah, hasil buminya juga pinang, kelapa, beras dan kopi.

Sejarah Pakantan

Pakantan adalah sebuah desa yang terletak di bawah lereng Gunung Kulabu. Jaraknya kurang lebih 12 km dari Muara Sipongi. Daerahnya sangat dekat berbatasan dengan Rao ( Sumatera Barat). Menurut Tarombo ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, yang pertama kali diakui sebagai nenek moyang bernama Datu Sang Maima Na Bolon.

Selanjutnya keturunan Datu tersebut bernama Namora Pande Bosi I. Diakui sebagai awal yang menurunkan Lubis Si Langkitang dan Si Baitang. Beberapa generasi kemudian lahirlah Sutan Mogol, keturunan langsung dari Mangaradja Ulu Balang.

Sekitar tahun 1540-an, Raja Mangalaon Tua (Raja Pakantan I), membuka perkampungan di Pakantan. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Huta Padang adalah anak Raja Mangalaon Tua yang pertama, Namora Tolang. Raja Gumanti Porang Dibata, anak yang kedua menjadi raja di Pakantan Dolok. Kemudian anak Raja Mangalaon Tua yang ketiga, Raja Sutan Barayun, menjadi raja di Pakantan Lombang.

Beralihnya paham Parbegu (belum beragama), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830). Para perwira kerajaan waktu itu banyak masuk ke wilayah Pakantan dan wilayah Mandailing lain untuk menyebarluaskan agama Islam.

Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot.

Kopi adalah jenis komoditi utama di Pakantan. Menurut tulisan Prof.A.P.Parlindungan gelar Sutan Makhudum (Waspada, 17 April 1997), Kopi Arabika di Pakantan, disebut juga Kopi Mandili, kadang ditambahkan 'Pakant', artinya dari Pakantan. Adanya ungkapan khas untuk mengajak makan "Mangopi Hita Jolo ", menandakan pengaruh kopi sangat mendalam terhadap sanubari orang di Pakantan.

Kopi Pakantan terkenal di Benua Eropa. Rasanya sangat enak dan harum baunya. Orang Belanda yang penciuman bisnisnya tajam, pernah membangun gudang besar ( Pakhuis ) di Pakantan. Seterusnya kopi Pakantan diangkut dengan Pedati ke Padang. Dari pelabuhan Teluk Bayur dikapalkan menuju Belanda. Selain kopi Pakantan, padi juga merupakan tanaman unggulan di Pakantan. Orang menyebutnya dengan nama ' Eme si Pahantan'. Selain dikenal wangi padi tersebut sangat enak rasanya bila dimakan.

Di Pakantan banyak terdapat bangunan bersejarah yang unik. Adanya Bagas Godang dan Sopo Godang yang berusia ratusan tahun membuktikan orang Pakantan itu mempunyai kehidupan budaya yang berarti. Bagas na Godang di Huta Dolok berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara relijius dan musyawarah adat. Bila diperlukan 'Gordang Sambilan' ditabuh untuk menambah sakralnya upacara tersebut. Di daerah Pakantan Lombang terdapat sebuah Bagas Godang yang unik. Garis yang tertera pada dinding (menurut tipologi unsur seni rupa), mencitrakan kultus keindahan yang penuh romantika.

Penulis bisa meyakini goresan seperti itu merupakan sebuah pengejawantahan panca indera yang bernuansa halus. Mungkin saja yang membuat bangunan Bagas Godang tersebut orang-orang yang memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap seni lukis dan ukir. Selain itu terdapat Bale dari Namora Nasution, Bale Ompu Boru Lubis Silogun dan Bale Ompu Boru Lubis Hadungdung yang berada di Hutatoras. Bale Ompu Sutan Borayun terdapat di Pakantan Lombang. Bale Sutan Mogol, leluhurnya marga Lubis. Bagas Gambar yang didirikan tahun 1821 oleh Soetan Singasoro. Jasalamat di Silogun . Kemudian Bagas Godang dan Sopo Godang Lintang di daerah Pakantan Dolok. Pendirinya adalah Ida Lidya Lintang.

Hari Pekan biasanya jatuh pada hari Selasa. Orang Pakantan menyebutnya dengan istilah 'marpoken'. Selama hari pekan itu penduduk berbelanja lauk pauk untuk persediaan selama satu minggu. Zaman sebelum Indonesia merdeka, hari pekan di Pakantan selalu dipenuhi oleh hilir mudiknya berbagai bangsa yang datang. Rombongan sirkus, Opera Bangsawan Deli, Sulap dari India dan Tiongkok, permainan bola tarik Jepang sampai pertunjukan bioskop bisu, merupakan ragam hiburan yang terdapat di Pakantan.

Oleh : Koko Hendri Lubis (wns)
http://www.waspada.co.id/seni_&_budaya/budaya/artikel.php?article_id=81997