Sunday, September 30, 2007

Pergulatan Desa-Desa di Taman Nasional Batang Gadis

Geliat Desa Kawasan Taman Batang Gadis

05 Desember 2005

(Media) - Udara dingin pegunungan langsung menyergap ketika memasuki Desa Sopotinjak, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara (Sumut), Kamis (1/12). Desa ini berada di lereng bukit terusan dari Tor Pangalot.
Rumah-rumah penduduk di desa itu dari struktur bangunan terlihat sama bentuknya. Bangunan rumah mereka persegi dengan jendela dan pintu yang lebar. Selain itu, tidak memiliki ruangan yang bersekat.

Desa yang berpenduduk 55 keluarga ini merupakan salah satu dari 35 desa di 10 kecamatan di sekitar kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yang sudah membentuk organisasi konservasi rakyat untuk pelestarian lingkungan di kawasan itu.

Program ini digagas oleh lembaga non-goverment Bitra Konsorsium. Konsorsium itu meliputi Bitra Indonesia, Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Sumut, Yayasan Pusaka Indonesia, dan Yayasan Samudera seta Conservation Internasional Indonesia (CII).
Menurut Safarudin Siregar dari Konsorsium Bitra, dalam waktu dekat 10 desa lainnya akan diikutsertakan dalam kegiatan pengembangan usaha ekonomi alternatif.

"Butuh dukungan dari pemerintah kabupaten karena kelangsungan TNBG berbasis pada masyarakat sekitar. Harus ada program terencana yang bisa dipahami dan diterima sesuai harapan masyarakat," kata Safarudin.

Menurutnya, investasi konservasi lainnya dapat berupa pengembangan ekonomi alternatif pada 71 desa yang berada di kawasan TNBG dan pengembangannya harus sejalan dengan potensi ekonomi dan kelembagaan setempat.

Sayangnya, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal sangat berharap kepada organisasi non-goverment ini dalam pengembangan desa di kawasan TNBG. "Minimnya anggaran dari pusat membuat kami tidak bisa berbuat terlalu banyak. Kami akan membantu dalam pembuatan jalan menuju desa-desa itu. Sedangkan untuk pengembangannya kami berharap kepada LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang konsen dengan TNBG," ujar Bupati Mandailing Natal Amruy Daulay di Panyabungan.

Disinggung mengenai kehidupan masyarakat di desa sekitar TNBG yang khawatir lahan mereka akan hilang karena belum adanya tapal batas TNBG, Amru menyatakan membutuhkan biaya yang besar untuk membuat tapal batas. "Tapal batas belum bisa dilakukan, tetapi titik koordinat sudah kita miliki. Tidak ada tawar-menawar lagi, 108 ribu hektare adalah lahan TNBG," tandasnya.

Gagal panen

Persoalan lain bagi warga Bukit Malintang yakni gagal panen ribuan hektare sawah dalam dua tahun belakangan. Hal itu diduga terjadi karena upaya perusahaan tambang emas milik PT Sorik Mas Mining (SMM) mulai eksplorasi di kawasan TNBG seluas 55 ribu ha dari 108 ribu ha kawasan hutan nasional pada 2003. "Produksi gabah kering kami tidak banyak jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,8 ton per ha," kata Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Humban I, Oslan Simangunsong.

Tidak hanya produksi gabah kering yang berkurang, hasil kemiri mereka pun berkurang hingga 50%. Jika sebelumnya mampu menurunkan kemiri dari bukit hingga 100 ton, kini cuma memanen kemiri 50 ton.

Sebenarnya di daerah itu terdapat irigasi Batang Gadis yang seharusnya bisa mengaliri areal persawahan mereka. Namun, sejak berdiri pada 1990, irigasi itu hanya berfungsi dalam dua tahun pertama. "Setelah itu rusak dan tidak lagi mengaliri sawah kami," ungkap Kepala Desa Tasumbing Ali Sadikin.

Menyiapi kondisi itu, Bupati Mandailing Natal Amruy Daulay menegaskan, tetap konsekuen tidak mengizinkan perusahaan itu melakukan kegiatan di dalam kawasan taman nasional. "Memang eksplorasi yang mereka lakukan tidak pernah berhenti. Masalah yang kami hadapi mereka mengantongi izin dari Departemen Sumber Daya Alam," tandasnya.

Yennizar Lubis/Kennorton Hutasoit/N-2

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005120423522913

Lubuk Larangan, Modal Social Masyarakat Mandailing



Lubuk Larangan, Modal Sosial Masyarakat Mandailing

BAGI masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, sungai adalah berkah alam sebagai modal untuk kepentingan sosial. Hal itu pulalah yang mendorong warga berlomba-lomba membuat lubuk larangan, hingga kini.

Setelah melalui kesepakatan bersama, sebagian aliran sungai yang melintasi di desa kemudian ditetapkan sebagai wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu. Biasanya 6-12 bulan. Setelah panen, panitia kemudian membuka lubuk larangan untuk umum dan hasil pengelolaannya digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa, menyantuni anak-anak yatim, dan mendanai berbagai kegiatan sosial yang lain.

Sistem pengelolaan lubuk larangan ini bisa kita temui di desa-desa yang dilalui aliran Sungai Batang Gadis, mulai dari bagian hulu di kawasan Pakantan, ke arah hilir hingga ke daerah Panyabungan; dan juga di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai di Kecamatan Batang Natal. Bahkan, sistem ini kini telah berkembang luas di seluruh Mandailing Natal, dan sebagian Tapanuli Selatan.

LUDDIN Hasibuan (43), Ketua Pengurus Lubuk Larangan Desa Aek Ngali, mengatakan, untuk membuat lubuk larangan harus dimulai dengan musyawarah desa untuk menentukan batas-batas lubuk larangan. Tanpa kesepakatan bersama, lubuk larangan tidak bisa dibuat. Kemudian warga iuran sebagai modal mendatangkan "orang pintar" (dukun) dan untuk membeli bibit ikan.

Setelah sang dukun membaca doa-doa, kemudian diumumkan kepada masyarakat desa dan desa-desa tetangga bahwa sungai itu telah menjadi lubuk larangan. "Biasanya tak ada yang berani menangkap ikan di lubuk larangan," katanya.

Bagi yang melanggar akan didenda Rp 500.000 per orang. Sanksi lain yang lebih ditakuti warga yaitu hukuman moral dan kutukan.

"Masyarakat sini masih percaya, orang yang berani mengambil ikan di lubuk larangan akan sakit, dan bisa mati jika tidak diobati dukun yang telah menjaga lubuk larangan tersebut," kata Luddin.

Secara tak langsung, pengelola lubuk larangan juga mengandung nilai-nilai konservasi, bisa menjaga kualitas air sungai karena warga desa akan menjaga sungai tidak tercemar agar panen ikan bisa melimpah. Sistem lubuk larangan adalah satu bukti sistem tradisional yang mampu menjaga alam secara lestari. (AHMAD ARIF)
Lubuk Larangan, Modal Sosial Masyarakat Mandailing

BAGI masyarakat Mandailing di Sumatera Utara, sungai adalah berkah alam sebagai modal untuk kepentingan sosial. Hal itu pulalah yang mendorong warga berlomba-lomba membuat lubuk larangan, hingga kini.

Setelah melalui kesepakatan bersama, sebagian aliran sungai yang melintasi di desa kemudian ditetapkan sebagai wilayah yang terlarang untuk diambil hasil ikannya selama jangka waktu tertentu. Biasanya 6-12 bulan. Setelah panen, panitia kemudian membuka lubuk larangan untuk umum dan hasil pengelolaannya digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan desa, menyantuni anak-anak yatim, dan mendanai berbagai kegiatan sosial yang lain.

Sistem pengelolaan lubuk larangan ini bisa kita temui di desa-desa yang dilalui aliran Sungai Batang Gadis, mulai dari bagian hulu di kawasan Pakantan, ke arah hilir hingga ke daerah Panyabungan; dan juga di sepanjang Sungai Batang Natal dan beberapa anak sungai di Kecamatan Batang Natal. Bahkan, sistem ini kini telah berkembang luas di seluruh Mandailing Natal, dan sebagian Tapanuli Selatan.

LUDDIN Hasibuan (43), Ketua Pengurus Lubuk Larangan Desa Aek Ngali, mengatakan, untuk membuat lubuk larangan harus dimulai dengan musyawarah desa untuk menentukan batas-batas lubuk larangan. Tanpa kesepakatan bersama, lubuk larangan tidak bisa dibuat. Kemudian warga iuran sebagai modal mendatangkan "orang pintar" (dukun) dan untuk membeli bibit ikan.

Setelah sang dukun membaca doa-doa, kemudian diumumkan kepada masyarakat desa dan desa-desa tetangga bahwa sungai itu telah menjadi lubuk larangan. "Biasanya tak ada yang berani menangkap ikan di lubuk larangan," katanya.

Bagi yang melanggar akan didenda Rp 500.000 per orang. Sanksi lain yang lebih ditakuti warga yaitu hukuman moral dan kutukan.

"Masyarakat sini masih percaya, orang yang berani mengambil ikan di lubuk larangan akan sakit, dan bisa mati jika tidak diobati dukun yang telah menjaga lubuk larangan tersebut," kata Luddin.

Secara tak langsung, pengelola lubuk larangan juga mengandung nilai-nilai konservasi, bisa menjaga kualitas air sungai karena warga desa akan menjaga sungai tidak tercemar agar panen ikan bisa melimpah. Sistem lubuk larangan adalah satu bukti sistem tradisional yang mampu menjaga alam secara lestari. (AHMAD ARIF)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/30/sumbagut/1780777.htm

Memberi Parang Pun Tak Cukup

Selasa, 17 Mei 2005

Membeli Parang Pun Tak Cukup

ASMARA Lubis telah bersabar menunggu selama 12 tahun, sebelum siang itu dia memutuskan untuk menebang pohon kayu manis diladangnya. Karena merasa hasilnya masih kurang banyak, lelaki itu menebang satu lagi pohon kayu manis yang telah berumur delapan tahun.

Asmara lalu menguliti dan menjemur kulit kayu manis hingga kering. Butuh empat hari kerja keras sebelum kulit kayu manis itu siap dijual.

Dan saat tiba hari pekan, minggu lalu, petani dari Desa Huta Godang, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, itu membawa kulit kayu manis kering miliknya ke pasar. Ia berharap hasil penjualannya bisa dibelikan parang, guna menggantikan parangnya yang rusak. Namun, alangkah kecewanya Asmara karena penjualan dari dua pohon kayu manis yang berumur 12 tahun dan delapan tahun itu hanya menghasilkan uang Rp 21.000. "Jangankan ada sisanya, untuk membeli parang saja tidak cukup. Harga parang Rp 31.000," katanya.

Kisah Asmara adalah potret nyata tentang petani-petani kita. Kerja keras mereka seakan memang tak berharga di dalam sistem perdagangan. Ini memang cerita lama. Tetapi, inilah realitas yang masih juga dialami petani hingga kini.

"Harga jual tanaman kami selalu anjlok, sementara harga-barang-barang seperti pupuk dan obat serta peralatan untuk bertani terus naik," kata Asmara.

Selain kayu manis, berbagai produk pertanian seperti kentang dan kopi, petani di lereng Sorik Merapi kini kian terpuruk. Saat panen, harga kentang hanya Rp 1.700 per kilogram, padahal saat musim tanam petani harus membeli bibit kentang dengan harga selangit. "Saat menanam kentang beberapa bulan lalu, kami harus membeli bibit seharga Rp 12.000 per kilogram. Saat panen, harganya anjlok serendah-rendahnya," ucap Asmara.

Sementara itu, komoditas yang harganya menjanjikan justru tak memberikan hasil produksi yang bagus karena terserang penyakit. "Bagaimana kami bisa menyekolahkan anak jika ekonomi kami terus dicekik seperti ini. Untuk makan saja sangat susah," kata Muhammad Nur Nasution (35), warga Desa Huta Baringin, Kecamatan Tambangan.
Petani kini juga harus menjadi penyangga utama pelestarian kawasan hutan di sekitarnya. Februari lalu, kawasan hutan Batang Gadis telah ditetapkan sebagai taman nasional.

Ucok Lubis, Ketua Organisasi Konservasi Rakyat (OKR) Desa Huta Godang, mengatakan, hancurnya berbagai komoditas pertanian akan mendorong warga desa di pinggiran hutan, di lereng Sorik Merapi, mencari penghasilan ke Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).

"Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, jika mereka kembali tergantung ke hutan untuk memenuhi kebutuhan. Kalau kelaparan, masyarakat akan kembali memburu hewan, mencari rotan ataupun kayu. Susah mengajak orang berpikir untuk melindungi hutan kalau mereka lapar," katanya.(Ahmad Arif)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/17/sumbagut/1757784.htm

Mining in National Parks Against National Interests

Mining in National Parks against national interests
Didy Wurjanto*

Environmentalists were likely stunned when Forestry Minister Malam Sabat Kaban confirmed recently he had given approval for a foreign owned gold mining company to operate inside Batang Gadis National Park in Mandailing Natal regency, North Sumatra.

The approval was given by a minister who always preaches about the dangers of deforestation which could lead to national tragedies such as what recently happened in Sinjai, southern Sulawesi. Kaban has frequently vowed to promote ethical principles of sustainable development.

But now he is bargaining with the lives of more than 300,000 Madina people who depend on the surrounding forest. Some forestry experts believe the minister faced strong pressure to give the approval.

Kaban agreed to dispatch a team to review the exploration plan of PT Sorikmas, an Australian-based gold mining company. The plan states the government will allow the company to explore on 55,000 hectares within the 108,000 hectare Batang Gadis National Park. This plan has undoubtedly caused concern among the local government and nearby communities that the tailings from the operation will poison and destroy their agricultural lands and fisheries. Besides this there are concerns of natural disasters such as floods and landslides.

The Bohorok tragedy in North Sumatra was a strong warning to people in the province when severe flooding killed more than 170 people in the Bukit Lawang area in November 2003. Bukit Lawang was originally a water catchment area that should have been protected.

In the wake of the Bohorok tragedy, the governor of North Sumatra, the Madina regent, religious leaders and local community members initiated the establishment of Batang Gadis National Park. The park protects a giant watershed and is home to orangutans, Sumatran tigers, rhinos, hornbills, Malayan tapirs and other key species. The park is an important toehold for conserving the remaining large track of Sumatran rain forests. The establishment of the park was particularly important because it was done at the initiative of local people who feel a strong sense of ownership in the process rather than being something imposed by the government in Jakarta.

Batang Gadis is very important as a life-support system for more than 300,000 people in the regency not only because of its rich biodiversity but also because it protects water catchment areas that maintain the water supply to 13 districts surrounding the park and provides environmental protection to agricultural activities carried out by 73 villages, only two of which are located inside the park. There are no logging concessions or large-scale plantations operating within the park.

It is worthwhile to repeat that the process to obtain protected status for Batang Gadis National Park was a bottom-up effort initiated by the local government and communities, the first such effort under the new decentralized legal framework in Indonesia.

This park is now under local management in collaboration with local and international NGOs and the private sector. This model creates less dependency on the central government as it is the local administration that provides the necessary financial and legislative support.

The dispute between the mining company and the people of Madina began when the company under its working contract signed in 1999 claimed Batang Gadis National Park was part of its mining concession. However it is understandable that the people of Madina have been enthusiastic about protecting their rich natural resources, taking advantage of the presence of the 2004 Forestry Law.

This law protects national parks in Indonesia from mining and any other potentially destructive activities.

Among other conservation methods in Indonesia the establishment of a national park is among the most democratic way of protecting forests because the process involves local aspirations and initiatives.

Allowing open-pit mining in the wilderness zone of a national park is against the law. We cannot imagine how devastating it would be in Batang Gadis National Park, because Batang Gadis River, the main river and a source of life for the people of Madina, runs close to the mining exploration sites.

Therefore the Madina government, residents, environmentalists, conservationists and others should work hand in hand to provide accurate information to the decision-makers on the impacts and consequences of a mining operation in a conservation area.

There are arguments that the sanctity of a mining contract should be honored. Some ministries have expressed concern regarding the possible threat by the mining company to seek international arbitration, if not granted exemptions to carry on its work inside the national park.

But this time the Indonesian government should be better prepared. We could use this case to prove to the world how seriously we take the issue of sustainable development.

All Indonesian mining contracts state that the company must obey Indonesian laws and regulations including environmental protection laws. These regulations and laws may change from time to time to adjust to the needs of the environment and social conditions in the country.

The international community will support the Indonesian government in this matter because the global community also benefits from the biodiversity and climate-regulating role of our tropical forests.

*)The writer works for Conservation International. He can be reached at dwurjanto@conservation.org

http://www.conservation.or.id/home.php?modul=news&catid=28&tcatid=340&page=g_news.detail

Murid SD Tabuyung Tidak Cukup Tempat Duduk

Sabtu, 17 Februari 2001

Murid SD Desa Tabuyung Duduk Berdesakan

Kompas/syamin pardede

Medan, Kompas
Sudah dua tahun murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 142707 Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batanggadis, Kabupaten Mandailing Natal, harus belajar berdesak-desakan di kelas karena terbatasnya jumlah bangku dan meja belajar. Akibatnya, proses belajar mengajar tidak terlaksana dengan baik hingga kualitas pengetahuan murid SD Negeri di pantai barat Sumatera Utara itu (sekitar 610 kilometer selatan Medan) di bawah standar.

Dalam kunjungan Kompas ke Desa Tabuyung pekan lalu, murid kelas II, III dan VI terbata-bata menjawab pertanyaan tentang pengetahuan umum, matematika, maupun sejarah, termasuk ketika diminta membaca judul berita surat kabar.

Begitu juga murid kelas II, tidak bisa segera menjawab tanggal dan tahun kemerdekaan Indonesia. Sedangkan murid kelas VI masih harus berpikir keras dan makan waktu hampir satu menit untuk menjawab hasil perkalian 25 kali 25.

Kepala SD Negeri 142707 Masbe Siregar, dan wakilnya Sahlan Effendy Siregar mengakui terus terang, kualitas pengetahuan murid masih di bawah standar. Hal itu bukan karena mereka tidak mampu mengajar dengan baik, tetapi lebih disebabkan situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Apalagi sebagian murid sering absen dengan berbagai alasan, di antaranya terpaksa harus membantu orangtua bekerja di ladang, atau ikut ke laut menangkap ikan. Sebagian besar dari 655 kepala keluarga penduduk Desa Tabuyung masih tergolong miskin.

"Dalam pelaksanaan evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas) kami terpaksa mengambil kebijakan dan memberi kelonggaran sehingga banyak juga murid yang lulus. Jika tidak, besar kemungkinan murid yang lain tak mau lagi sekolah," kata Sahlan Effendy Siregar.

Diresmikan menjadi SD Negeri tahun 1957 (sebelumnya SD swasta-Red), kondisi sekolah enam lokal tersebut sudah memprihatinkan. Dinding papan banyak berlubang, atap seng banyak yang bocor. Jumlah murid kelas I sampai kelas VI tercatat 442 orang, atau kalau seluruh murid hadir berarti tiap kelas rata-rata diisi 72 orang. Malah di kelas III beberapa murid terpaksa duduk di lantai. Sementara jumlah guru sudah memadai, 13 orang termasuk kepala sekolah.

Sampai bosan

Menurut Masbe Siregar, pihaknya sudah beberapa kali minta perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Mandailing Natal untuk segera membuat atau menambah meja dan bangku baru agar proses belajar dan mengajar di SD Desa Tabuyung terlaksana dengan baik. Juga soal perlunya beberapa lokal baru, mengingat jumlah murid dan anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah tiap tahun terus bertambah. Namun, permintaan itu sampai sekarang belum direalisasi.

"Sampai bosan kami membicarakan atau melayangkan surat permintaan itu ke atasan," keluh Masbe Siregar yang dibenarkan Kepala Desa Tabuyung Eka Irsyad Hasibuan.
Baik Kepala Dinas P dan K Kabupaten Mandailing Natal Abdul Rajab Pasaribu maupun Kepala Dinas P dan K Sumatera Utara Makmur Pasaribu, tidak berhasil dihubungi untuk konfirmasi. (sp)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0102/17/daerah/muri21.htm

Pakantan, Wisata Kebun Kopi Tua Mandailing

Kebun kopi Mandailing berusia ratusan tahun, berpotensi sebagai kawasan ekowisata.
Abdul Hamid Damanik, Affan Surya dan Erikson Sinaga

Pakantan, pernah dijuluki sebagai negeri Gunung Mas. Sebuah kejayaan yang pernah dialami daerah itu antara tahun 1835-1942. Ini terjadi bersamaan dengan penjajahan Belanda atas Mandailing waktu itu. Tetapi, julukan sebagai gunung mas kemudian berakhir seiring dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.

Kejayaan Pakantan yang mewakili Mandailing sehingga mendapat julukan sebagai negeri gunung mas tak lain karena hasil kopi arabica-nya yang melimpah. Kebun kopi yang ditanam di dua tempat, yakni di Pakantan Lombang dan Pakantan Dolok memberikan kemakmuran bagi masyarakat karena harganya juga sangat tinggi. Tak heran kalau waktu itu masyarakat Pakantan dapat dengan mudah mengirim anaknya sekolah sampai ke Jawa.

Banyak diantaranya kini menjadi orang-orang sukses di Jakarta. Beberapa orang terkenal di Jakarta asal Pakantan adalah Adnan Buyung Nasution dan Diana Nasution.

Pakantan terdiri dari dua bekas kerajaan kecil, yakni Kerajaan Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Kini, setelah berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bekas negeri gunung mas itu terpecah menjadi tujuh desa, yakni Desa Huta Lancat, Huta Gambir, Huta Julu, Pakantan Bukit, Huta Toras, Huta Padang dan Desa Huta Bargot. Secara adminisratif, ketujuh desa tersebut saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal.

Menurut salah seorang sesepuh masyarakat Pakantan Dolok, Sutan Baringin Lubis (70), harga kopi arabica sampai Tahun 1942 mencapai Rp 60-80 per 62,5 kilogram. Dalam satu bulan, tambah Sutan Baringin, dapat dihasilkan 25 kilogram kopi kering. Dari hasil kopi itu juga banyak masyarakat yang pergi menunaikan ibadah Haji. Pada waktu itu, Ongkos Naik Haji hanya Rp 600.

Akan tetapi setelah Jepang kemudian menguasai daerah ini harga kopi jatuh sampai 75 persen. Menurut Sutan Baringin Lubis, jatuhnya harga karena Jepang melarang ekspor kopi ke luar negeri. Hal ini membuat masyarakat kemudian enggan mengusahakan kebun kopi itu secara intensif. Kopi Pakantan tak lagi menjanjikan kemakmuran seperti semula.

Meskipun saat ini kebun kopi itu masih dikelola oleh beberapa pewarisnya namun hasilnya tetap tidak memadai. Produksi per hektar per tahun hanya 350 kilogram kopi kering dengan harga Rp 5000 per kilogram.

Menurut Sahli Lubis (35), salah seorang pewaris, hasil kopi mereka saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja. Tak heran, kalau kopi asal Pakantan tidak lagi dapat ditemukan di pasaran. Padahal, kata Sahli kualitas rasa kopi daerahnya itu sudah terkenal sampai ke Eropa.

Sisa-sisa kebun kopi arabica yang telah berumur ratusan tahun itu masih dapat dilihat di sekitar Gunung Aek Luane di wilayah bekas kerajaan Pakantan Dolok. Lokasi ini merupakan kawasan penyangga hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Hingga kini kebun kopi tua itu masih tersisa sekitar 5 hektar.

Objek Wisata

Bagi para pecandu kopi sejati yang ingin membuktikan nikmatnya cita rasa kopi Pakantan datang saja ke kampungnya Adnan Buyung Nasution itu. Kopi yang dapat menggetarkan lidah tersebut masih dapat dinikmati di beberapa warung. Bahkan kalau mau masih bisa membawa bubuknya sebagai oleh-oleh.

Bayangkan, bagaimana nikmatnya minum kopi di desa tradisional yang berhawa sejuk dan segar itu. Ditambah masyarakatnya yang ramah dan santun terhadap tamu dari luar membuat kita ingin datang berkali-kali.

Para pengunjung juga bisa melihat bekas istana Kerajaan Pakantan Dolok dan sopo godang tempat masyarakat melakukan pertemuan. Hal itu penulis rasakan ketika berkesempatan berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu.

Tidak saja bisa merasakan nikmatnya kopi Pakantan, kita pun masih bisa membuktikan kebun kopi tua yang berada di Gunung Aek Luane sana. Hanya 7 kilometer saja jaraknya dari Desa Huta Gambir ke lokasi kebun kopi tersebut. Melewati jalan setapak, jarak 7 kilometer itu dapat ditempuh dalam 3 jam berjalan kaki. Kondisi jalur yang landai menambah tantangan bagi para petualang. "Itu waktu yang sangat lama", kata Sahli Lubis yang biasa menempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam.

Menurut pengakuan seorang penggila minuman kopi asal Medan yang pernah dua kali berkunjung ke sana, melihat kebun kopi tua Pakantan sangatlah menarik. Sepanjang perjalanan dari desa ke kebun kopi banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Burung-burung yang beragam jenis, primata, kijang, rusa dan tumbuhan aneh kerap dapat dilihat selama perjalanan.

Apalagi dalam setengah perjalanan yakni di Bukit Tincuk, kita disuguhi pemandangan alam yang menawan berupa hamparan sawah dan perkampungan tradisonal Pakantan, kata penggila minuman kopi ini. Penulis sendiri membuktikan hal itu. Bahkan, ketika berada di tengah kebun kopi tersebut penulis seakan terhipnotis dan merasa berada di dunia lain.

Sebagai kawasan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), menurut para pemerhati industri pariwisata, Pakantan memang layak dijadikan sebagai daerah tujuan wisata.

Abu Hanifah Lubis, Field Coordinator Conservation International Indonesia (CII) untuk TNBG mendukung hal tersebut. Menurutnya, Pakantan memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah pengembangan tujuan wisata minat khusus. Pendapat Abu cukup beralasan, sebab kampungnya Diana Nasution itu memang memiliki prospektif bagus karena objek daya tariknya. ***

Tropika, Hidup Harmonis Dengan Alam
http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=43&tcatid=333&page=g_tropika.index

Natal Dibayangi Cemas

Minggu, 24 Desember 2006

Korban Gempa
Natal Dibayangi Harap-harap Cemas


Natal tinggal dua hari lagi. Namun, tak ada persiapan khusus yang dilakukan umat Kristen di Pakantan, Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

"Tak ada jamuan Natal tahun ini. Masuk gereja saja kami takut keruntuhan bangunan jika gempa terjadi," kata Tiroma boru Tupang (74), warga Dusun Huta Padang, Desa Pakantan.

Bangku-bangku gereja berjajar dalam tenda terpal biru di depan Gereja Kristen Protestan Angkola, Pakantan. Sudah sepekan terakhir puluhan warga tidur dalam tenda itu.

Gempa berkekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Muara Sipongi, Mandailing Natal, Senin lalu, membuat warga trauma. Hingga kini, lebih dari 6.000 warga Muara Sipongi mengungsi. Sementara 2.000 warga lainnya menumpang di rumah sanak famili.

Pada malam hari tak terhitung warga yang tinggal di tenda-tenda. Lebih dari 700 rumah rusak dan tak layak ditempati lagi. Meskipun frekuensinya menurun, gempa susulan masih terjadi, termasuk di Pakantan.

Pakantan terletak 12 kilometer dari pusat gempa. Baru hari Kamis lalu akses masuk ke Pakantan terbuka setelah jalan terkubur longsoran tebing. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Pakantan dikenal karena tradisi Kristen-nya yang sudah tua, sejak tahun 1834.

Hal itu bermula dari kedatangan seorang misionaris Belanda bernama Verhuven di daerah itu untuk mendirikan gereja. Verhuven datang dari Padang setelah berlangsung Perang Paderi tahun 1822.

Menurut sejarawan Mandailing, Pangaduan Lubis, misionaris Belanda itu kemudian bekerja di Angkola, daerah Padang Sidempuan, lalu ke Sipirok dan Tarutung. Di tengah masyarakat Mandailing Natal yang sebagian beragama Islam, terselip sedikit pemeluk Kristen di Pakantan. Kehidupan gereja di Pakantan berlangsung baik dengan komunitas yang mencakup 15 keluarga.

"Tahun 1940-an, jumlah jemaat mencapai 300-an orang. Tapi kini tinggal sedikit karena banyak yang pergi," kata Saut Nauli Nasution (43), warga Pakantan. Kerukunan dengan warga Muslim sangat guyub sebab mereka masih satu garis keturunan. "Kalau ada tetangga yang hajatan, semua membantu ramai-ramai," kata Saut.

Kebanyakan penduduk hidup sebagai petani. Jika mereka membutuhkan uang, barulah beras simpanan dijual. Makan bersama adalah sesuatu yang lumrah. Jika satu orang punya beras, yang lain punya lauk, mereka makan bersama-sama. Namun, Natal kali ini makan bersama belum direncanakan. Semua masih waswas adanya gempa susulan.

Meskipun rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu tak berubah saat diguncang gempa, warga masih takut masuk rumah, apalagi masuk gereja yang merupakan bangunan permanen. Kecemasan terutama menghantui para ibu dan anak- anak. Jika gempa datang saat acara kebaktian, kekhidmatan bisa buyar.

"Belum ada orang yang tengok kami," kata Tiroma. Menurut warga, baru Kepala Desa Pakantan yang memberi satu dus mi instan. Dalam sekejap, makanan itu habis meski sekitar 60 warga belum kebagian.

Tahun ini mereka merayakan Natal di bawah ancaman bahaya. (WSI/MHD)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/24/Natal/3196496.htm

Peranan Lembaga Adat di Madina

Peranan Lembaga Adat dalam Mengurangi Konflik Horizontal dan Vertikal di Mandailing Natal (Sebuah Wacana)

Oleh : Edi Nasution, STP

Hukum adat merukapan salah satu khasanah kekayaan hukum di Indonesia yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam masyarakat tradisional di Indonesia, meskipun belakangan ini seolah-olah terlupakan dan terabaikan ditelan oleh pemberlakuan hukum Positif. Pada masa sebelum lahirnya Negara Republik Indonesia yang berlaku ditengah-tengah masyarakat pada umumnya adalah hukum adat yang tunduk kepada norma-norma dan peraturan-peraturan yang tidak tertulis, tetapi sangat ketat penerapannya di dalam kehidupan masyarakat Tradisional pada waktu itu.

Meskipun hukum adat terabaikan di era mederen ini, kita masih merasakan adanya sedikit nyawa dari hukum adat itu sendiri, terutama di daerah-daerah tradisional dan pedesaan di pelosok wilayah Indonesia. Sadar atau tidak sadar harus kita akui hukum adat masih sangat kuat pengaruhnya ditengah-tengah masyarakat kita, semakin maju suatu daerah maka hukum adat akan semakin terkikis.

Lembaga adat sebagai salah satu kekuatan tradisional yang masih ada kiranya perlu diterapkan di Mandailing Natal untuk mengurangi terjadinya konflik horizontal dan vertical terutama yang berkaitan dengan hak-hak adat (Ulayat) misalnya konflik antara Masyarakat dengan Pemda Madina dalam pengelolaan tanah adat, atau konflik pengelolaan Sarang Burung Walet antara Pemda, Masyarakat, dan Pengusaha.

Pada era otonomi daerah seperti sekarang ini tidak tertutup kemungkinan dan sangat potensial terjadinya konflik horizontal maupun vertical di lingkungan Pemerintah Daerah Mandailing Natal sebagai akibat terjadinya tarik-menarik kepentingan dalam pengelolaan kekayaan daerah setempat. Hal ini dimungkinkan karena Pemda dengan semangat otonomi yang menggebu-gebu akan berusaha sekuat mungkin untuk mencari pemasukan bagi kelangsungan hidup pemerintahannya, tentunya dalam kondisi yang masih dalam peralihan seperti sekarang ini masih ada oknum pejabat yang berusaha untuk mencari celah untuk melakukan korupsi untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya, sehingga akan menjelma menjadi raja-raja kecil di Mandailing Natal, gejala-gejala seperti ini sudah mulai muncul sejak awal berdirinya Kabupaten Mandailing Natal.

Konflik horizontal dan vertikal di Mandailing Natal (Madina) tidak terlepas dari terabaikannya hukum adat dan hak-hak masyarakat adat atas tanah ulayat dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Sebagai contoh kasus adalah :

• Terjadi tarik menarik kepentingan antara Pemda-Masyarakat-Pengusaha dalam pengelolaan sarang burung walet di Natal.

• Penebangan liar terhadap Hutan Primer di wilayah Sorik Marapi sebelah Barat (Wilayah Natal dan Batang Natal) yang merupakan hutan lindung dan penyangga untuk wilayah Pantai Barat.

• Penebangan Liar terhadap Hutan di Lembah Sorik Marapi sebelah Timur dan Selatan dengan mengatasnamakan masyarakat adat setempat, terutama disekitar desa Hutanamale, Hutatinggi, Hutabaringi, Angin Barat, dan Pastap di Kecamatan Kotanopan yang merupakan resapan air dan salah satu hulu Aek Batang Gadis.

Dengan latar belakang diatas penulis mempunyai keyakinan bahwa lembaga adat perlu dibentuk untuk mencari solusi terbaik dalam memecahkan persoalan-persolan di Mandailing Natal.

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah apakah bisa diterapkan? dan bagaimana implementasinya?. Jawabannya adalah tergantung kepada semua komponen Masyarakat Madina terutama Ulama, Tokoh Masyarakat, Pemda, Pemuda dan LSM, kalau kita mempunyai kemauan kenapa tidak?. Bagaimana implementasinya di Masyarakat?, hal itu perlu dirumuskan bersama untuk membicarakannya dalam satu meja. Apakah hal itu dimulai dari lingkungat Rt, Rw, Kampung, Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Lembaga adat ini harus secara proaktif memberikan masukan-masukan kepada DPRD dan Pemda tentang permasalahan yang ada di lingkungan Masyarakat.

Tentang komponen lembaga adat itu sendiri terdiri dari :

1. Tingkat Desa ; Dipilih oleh Masyakat desa bersangkutan untuk mewakili pada tingkat Kecamatan.

2. Tingkat Kecamatan ; Merupakan wakil-wakil yang dipilih dari anggota dari tingkat Desa.

3. Tingkat Kabupaten ; Merupakan wakil-wakil yang dipilih dari anggota dari tingkat Kecamatan.

4. Dewan kehormatan dan Pengawas Lembaga Adat; Anggotanya dipilih dari orang-orang yang mempunyai Integritas yang tinggi, jujur dan benar-benar mau memperhatikan kepentingan Masyarakat di Mandailing Natal.

Dengan adanya lembaga adat Independen ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran-saran dan sekaligus dapat mengawasi jalannya Pemerintahan di Mandailing Natal sehingga terbentuk Pemerintahan yang bersih dari segala unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang pada gilirannya akan bermuara pada tercapainya Madina Yang Madani dan meningkatnya kesejahteraan Masyarakat di Mandailing Natal. Bukankah sama-sama kita tahu bahwa di Madina terdapat sumber daya Manusia yang cukup handal dan Sumber daya Alam yang melimpah mulai dari hasil hutan, pertanian, potensi kelautan, perikanan pariwisata, bahan tambang seperti Emas, Tembaga, Batubara, dan lain-lain. Jadi sangat aneh kalau masih ada rakyat di Madina yang hidup dibawah garis kemiskinan (hppmm'02).

Pertambangan Biji Besi, Ancaman Lingkungan di Madina


Pertambangan Biji Besi, Ancaman Lingkungan Berikutnya di Mandaling Natal

April 26, 2007

Medan - Menyusul pertambangan emas yang kini tengah berlangsung di kawasa Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), ancaman baru kini datang dari sebuah perusahaan pertambangan, PT Butir Mutiara Indah (BMI).

Rencananya PT BMI akan melakukan penambangan biji besi. perusahaan ini sudah mendapat konsesi atau lahan eksplorasi seluas 19.899 hektar pada 22 desa di Kecamatan Batang Natal dan Linggabayu, Madina.

“Eksplorasi ini dimaksudkan untuk melakukan penyelidikan dan memastikan keberadaan biji besi di bagian dalam (subsurface) dengan bantuan alat bor,” kata Kepala Cabang PT BMI Madina, R Ari Lumaksono di Panyabungan, ibukota Madina, Selasa (24/4/2007).

Menurutnya, PT BMI bergerak khsusus menangani proyek pertambangan berupa kegiatan eksplorasi serta pengembangan cadangan atau potensi mineral. Terutama di desa Tornaincat. Dengan demikian akan dapat dihitung cadangan secara benar, jika memang terdapat cadangan biji besinya.

Dikatakannya, BMI merupakan perusahaan penanaman modal dalam negeri, dan murni dimiliki warga Indonesia. Pengunaan tenaga kerja asing hanya sebatas sebagai konsultan bidang pertambanga. Sedangkan tenaga ahli, kontraktor lokal, tenaga kerja lokal dan suplai logistik, nantinya akan berasal dari warga negara
Indonesia, dan mempekerjakan tenaga kerja lokal.

Rencana penambangan ini, didasarkan kepada penelitian terdahulu pada tahun 1934 yang dilakukan Van Bemmelen. Hasil penelitian, di kawasan Muarasoma ditemukan indikasi adanya mineral biji besi. Kemudian data landsat atau data satelite tahun 2005 yang mengindikasikan perihal biji besi.

Ari Lumaksono mengatakan, rencana kegiatan eksplorasi berupa persiapan pembuatan camp drill, perbuatan titik benchmark, pekerjaan topografi, penelitian survey geology detail, penelitian geofisika, pembuatan test pit dan parit uji, serta pemboran.

Apabila hasil eksplorasi menunjukkan kandungan besi seperti yang diharapkan, akan dibangun base camp permanen ,pengeboran selanjutnya 10 ribu meter.

Jadi, warga setempat harap siap-siap dengan masalah lingkungan baru di Madina. (Rashya Al Fansyuri)

Petambang Liar di Bibir Taman Nasional Batang Gadis

Petambang Liar di Bibir Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan – ”Banyak dapat emasnya, dik?” tanya SH kepada lima bocah lelaki yang tengah asyik mencari emas di Sungai Batang Gadis, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina). ”Nggak, kok, Bang. Adapun cuma kecil sekali.”

”Lalu, mau diapakan emasnya?” ”Dijuallah, bang,” kata seorang dari lima anak tersebut sambil tersenyum. Kelima anak tersebut mengaku mencari emas hanya sampingan. Mereka melakukannya di saat libur sekolah.

Tak jauh dari lokasi mereka, enam pria dewasa tengah menambang emas di sebuah lubang sedalam 4 meter dengan diameter sampai 5 meter. Mereka menggunakan peralatan yang lebih modern, misalnya saja sudah menggunakan mesin penyedot air dari sungai ke lubang galian.

Lalu dari lubang galian, air dan batu-batuan kecil disedot dan dibuang ke atas sebuah penampang kayu yang dasarnya dialasi dengan karpet.

”Di karpet itulah emasnya tersangkut. Dan pada sore hari, barulah emas itu diambil,” ujar Dapat Nasution (54), pemilik pertambangan liar atau pertambangan emas tanpa izin (peti) tersebut saat SH di areal penambangan beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, tak seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Petambang liar yang banyak ditemukan di sungai Batang Gadis sama sekali tak menggunakan air raksa sebagai zat pemisah dan penyuci emas yang ditambang. Tak hanya itu, mereka juga menumpuk kembali batu-batu berukuran besar menjadi benteng-benteng penahan tanah di dalam lubang galian tersebut. Kemungkinan untuk runtuh kecil sekali terjadi.

Para penambang liar di Mandailing Natal, sesungguhnya hanya memanfaatkan sedikit kawasan di sepanjang bibir Sungai Batang Gadis yang masih termasuk daerah yang direncanakan sebagai kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).

Sayangnya, sebuah penambangan, sekalipun dalam kapasitas yang sangat kecil, tetap memberikan dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan mereka ini. Di sepanjang Sungai Batang Gadis banyak warisan bekas galian yang tak ditutupi kembali.

Di lubang yang sebelumnya misalnya, para pekerjanya menggali areal di bibir sungai hingga berdiameter 10 meter dengan kedalaman sampai 10 meter. Sekarang tetap masih menganga dengan ditutupi air sehingga menciptakan lubang dalam.

Menurut Ismayadi Samsoedin - Northern Sumatra Corridor Project Manager Conservation International (CI) Indonesia, kawasan yang direncanakan sebagai taman nasional termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis. Luasnya sekitar 386.455 hektar atau 58,8% dari luas Kabupaten Madina. Sedang luas kawasan taman nasional 108.000 hektar.

Sejauh ini, belum ada larangan terhadap warga untuk menghentikan pertambangan liar tersebut. Meski kawasan galian berada di sepanjang Sungai Batang Gadis yang masih termasuk daerah kawasan TNGB.

Menurut Dapat, mereka mendapatkan emas minimal sebanyak 8 gram setiap harinya. Tapi kadang-kadang bisa sampai 30 gram. ”Jadi kalau rezeki lagi baik, ya emas yang didapat cukup lumayan. Pernah sampai 30 gram.” Dengan begitu, jumlah uang yang diterima Dapat dan beberapa pekerjanya lumayan besar.

”Kalau lagi dapat banyak, kita bisa dapat Rp 100.000 per hari. Tapi kalau tidak, minimal Rp 30.000 seharinya,” timpal Lubis (25).

Petambang liar di kabupaten Mandailing Natal (Madina) sebenarnya telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Bahkan sejak zaman Belanda, di kawasan yang baru saja dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2000 lalu itu, sudah lama dikenal dengan emasnya. Tak heran pertambangan pun dilakukan. Baik dalam skala kecil maupun skala besar.

Dalam skala kecil, masyarakat menjadi pelakunya. Dan mereka melakukannya tanpa izin sama sekali. Petambang liar bisa ditemui di dua sungai, yakni sungai Batang Gadis dan sungai Muara Sipongi. Sungai Batang Gadis terdapat di di Kecamatan Batang Natal.

Penambangan liar serupa juga terjadi di Kecamatan Kota Nopan. Di kawasan ini saja setidaknya terdapat lahan seluas 100 hektare yang ditambang masyarakat.

Sejak tahun 1995, Petambang liar mulai marak dan dilakukan secara masal di berbagai desa dan kecamatan.

Itulah yang membuat Pemkab Madina kerepotan mengurus mereka. Pernah Pemkab Madina menyadarkan masyarakat agar mengurus izin penambangannya. Dan sial, sebagian besar pelaku Petambang liar yang terdapat sekitar 2 km dari rencana kawasan TNBG itu malah marah.

”Yang terjadi malah kita ikut menyulut potensi konflik. Ada perlawanan dari masyarakat,” kata Bupati Madina Amru Daulay. Akhirnya upaya membuat Petambang liar memiliki izin batal. Tak hanya itu, sebenarnya

Petambang liar juga berpotensi memicu konflik horizontal. Di mana antara penduduk desa akan saling cemburu untuk berebut wilayah penambangan. Akhirnya Pemkab tak bisa berbuat apa-apa. Peluang untuk menata penambangan secara liar satu-satunya hanyalah melalui pembentukan Taman Nasional Batang Gadis.

Meski tidak mengubah topografi sosial yang telah ada,tapi setidaknya aturan untuk pengelolaan kawasan hutan lindung, TNBG dan lain sebagainya akan lebih kuat secara hukum untuk melestarikan hutan di Madina. Kalau tidak, Pemkab Madina akan kesulitan menata kabupaten baru itu menjadi madani!

(SH/darma lubis/bayu dwi mardana) - Sinar Harapan, 21 Januari 2004

Potret Kehidupan Guru Transmigrasi di Singkuang

Wednesday, July 4, 2007
Potret Kehidupan Guru di lokasi transmigrasi Singkuang

Belum hilang rasa lelah Shoddiq setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari Singkuang ke Kecamatan Natal. Siang itu juga ia harus kembali ke rumahnya. Istrinya Sri Handayani bersama dua anaknya telah menanti sejak siang di depan rumah. Mereka menanti kepulangan Shoddiq dengan perasaan gembira. Suami dan ayah mereka bakal pulang membawa uang. Hari itu Shoddiq Nurjainuri terpaksa modar mandir Singkuang-Natal untuk mengambil honor guru bantu miliknya untuk tiga bulan terakhir di Bank BRI cabang Natal. Rutinitas ini biasa dilakukan Kepala Sekolah Dasar UPT Singkuang ini tiap tiga bulan sekali.

Meski honor guru bantu dibayarkan tiap bulan (jika tidak ada penundaan), namun ia baru mengambilnya tiga bulan sekali. Ini dilakukan untuk menghemat biaya perjalanan. Maklum, untuk sekali jalan dari Singkuang menuju Kecamatan Natal, Shoddiq harus merogoh kantong hingga Rp. 200.000. Tambahkan saja ongkos kembalinya. Sementara honor guru bantu hanya Rp.710.000 perbulan.

Kebetulan dari tempat Shoddiq mengajar, Natal adalah kota kecamatan terdekat yang terdapat Bank untuk melayani pembayaran honor guru bantu. Mau tak mau Shoddiq harus merelakan sebagian honornya dibagi kepada tukang Ojek atau dikenal masyarakat dengan istilah RBT (katanya singkatan dari rakyat banting tulang).

Tak hanya Shoddiq yang melakukan hal itu. Tiga rekannya sesama guru bantu khusus daerah transmigran yang mengajar di Sekolah Dasar Unit Pemukiman Transmigrasi Singkuang juga melakukan rutinitas yang sama setiap tiga bulan sekali.


****
Singkuang adalah nama sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal. Dulu , Singkuang sebenarnya masuk dalam wilayah kecamatan Natal, namun karena ada pemekaran, lantas Singkuang masuk dalam kecamatan Muara Batang Gadis. Di desa kecil ini, terdapat sebuah Unit Pemikiman Transmigrasi. Orang-orang di daerah itu menyebutnya UPT Singkuang.

Untuk bisa mencapai UPT Singkuang dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dari Natal. Meski masuk dalam wilayah kecamatan Muara Batang Gadis, namun Singkuang lebih dekat diakses dari Kecamatan Natal.

Untuk bisa sampai di UPT Singkuang bukan perkara mudah. Dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dari Natal ke Singkuang. Itupun hanya bisa menggunakan sepeda motor. Karena kondisi jalan yang rusak parah, meski lebar jalan cukup untuk dilalui kendaraan roda empat, namun masyarakat di daerah itu berpikir dua kali untuk melintas menggunakan mobil, kalau tidak mau terperangkap lumpur atau tersangkut akar pohon yang merintangi jalan. Belum lagi hutan lebat yang memagari jalan sepanjang kurang lebih 150 KM. Praktis UPT Singkuang nyaris terisolasi. Beberapa kendaraan roda empat memang ada juga yang nekat melintas. Itupun mobil dengan gardang dua.

UPT Singkuang didiami sekitar 170 KK. Mereka adalah transmigran asal pulau Jawa. Sebagian besar langsung datang dari Pulau Jawa lewat program transmigrasi tahun 2001-2003. Sebagian lagi ada juga transmigran asal pulau Jawa yang pindah dari lokasi transmigrasi di Nanggroe Aceh Darussalam. Mereka terpaksa keluar dari Aceh akibat konflik yang merebak setelah DOM berakhir. Pencaharian utama masyarakat UPT Singkuang adalah bertani. Dengan modal tanah yang diberikan pemerintah lewat program transmigrasi, masyarakat daerah ini umumnya menanam pohon keras seperti kelapa sawit.

****
Meski tinggal di daerah terpencil, masyarakat transmigran UPT Singkuang tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Namun yang menjadi masalah adalah sarana pendidikan. Sekolah terdekat yang masih dalam wilayah Desa Singkuang, jaraknya lumayan jauh. Satu jam perjalanan lah. Karena itu, masyarakat UPT kemudian berinisiatif mendirikan sebuah Sekolah Dasar di tempat mereka tinggal. Namanya SD UPT Singkuang. Sekolah ini masih menginduk pada SD Negeri Singkuang Kecamatan Muara Batang Gadis.

Sejak didirikan tahun 2003, perkembangan sekolah ini lumayan pesat. Saat ini terdapat sekitar 77 murid yang menuntut ilmu di SD UPT Singkuang. Mereka duduk di kelas I hingga kelas VI. Rata-rata yang bersekolah adalah anak-anak keluarga transmigran. Sisanya warga sekitar yang dekat dengan lokasi sekolah. Untuk bersekolah di sekolah tersebut, murid-murid tidak dikenai biaya. Biaya operasional sekolah dibantu oleh masyarakat dan pengelola UPT Singkuang.

Jangan membayangkan SD UPT Singkuang memiliki gedung atau ruang belajar yang memadai. Anak-anak murid SD ini hanya menumpang pada gedung balai desa yang terbuat dari papan dan beratapkan seng. Ruangan kelasnya hanya ada dua. Moubilernya juga sangat terbatas. Lihat saja meja tempat belajar murid. Hanya terbuat dari selembar papan kasar yang dibuat berbanjar. Mirip seperti meja yang dibuat masyarakat di pedalaman untuk menjamu tamu dalam sebuah pesta perkawinan. Ditambah bangku panjang yang sudah mulai reot, jadilah ruang kelas SD UPT Singkuang menjadi saksi semangat murid-murid menimba ilmu.

SD UPT Singkuang hanya memiliki empat orang guru. Mereka semua adalah warga transmigran. Latar belakang pendidikan mereka rata-rata lulusan SMA sederajat. Awalnya mereka menjadi guru sukarela yang dibayar oleh warga dengan jumlah honor yang tidak pasti. Namun belakangan mereka diangkat menjadi guru Bantu.

Menjalankan tugas sebagai pendidik di daerah terpencil itu tidaklah mudah. Mereka terlihat sangat kesulitan dalam mengembangkan metode belajar dengan fasilitas yang sangat terbatas. Di samping itu minimnya buku-buku bacaan dan tidak adanya sarana perpustakaan membuat para guru disini selalu tertinggal pengetahuannya. Apalagi di daerah ini belum ada fasilitas listrik. Praktis guru, yang mendidik murid-murid sama sekali tidak memiliki informasi aktual yang sebenarnya sangat penting untuk membuka keterisoliran masyarakat. Mereka juga mengeluhkan tidak adanya informasi dan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti diklat peningkatan kompetensi guru. Pengakuan mereka, hanya sekali mereka pernah dipanggil mengikuti diklat, yaitu diklat guru Bantu yang dilaksanakan oleh LPMP Sumut. Bahkan mereka masih asing mendengar istilah KTSP (Kurikurlum Tingkat Satuan Pendidikan) yang sedang popular di sekolah-sekolah di perkotaan.

Secara ekonomi, kehidupan guru-guru SD UPT Singkuang boleh dibilang sangat sederhana kalau tidak boleh dikatakan tertinggal. Meski selain mengajar mereka juga bercocok tanam, namun hasil tani mereka tidak cukup memadai. Hal ini karena sulitnya transportasi ke lokasi ini. Syukurlah sejak tahun 2005, pemerintah mengangkat mereka menjadi guru bantu khusus daerah transmigrasi Propinsi Sumatera Utara. Dengan honor Rp. 710.000 perbulan, saat ini guru-guru SD UPT Singkuang sedikit lebih terbantu kehidupannya. Begitupun mereka tetap berharap agar pemerintah terus memperhatikan nasib mereka. Membuka isolasi transportasi adalah salah satu impian yang paling mereka nantikan. Harapan lain, tentu saja dengan mengangkat mereka menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain itu, para pendidik ini memiliki impian untuk dapat meningkatkan kompetensi dan kualifikasi pendidikan mereka. Meski berada di daerah terpencil, mereka juga tetap guru. Pahlawan tanpa tanda jasa yang nasibnya harus terus diperhatikan.

****
Hari mulai senja. Ojek yang ditumpangi Shoddiq perlahan memasuki pekarangan rumahnya. Di depan rumah, Sri dan dua anaknya sudah menanti. Perjalanan melelahkan selama 4 jam tak sedikitpun membekas di wajah Shoddiq begitu melihat istri dan dua anaknya menyambut. Yang dipikirkannya, entah sampai kapan rutinitas ini harus ia jalani….(Rudianto, Dedi Iskandar)

http://rudianto77.blogspot.com/2007/07/potret-kehidupan-guru-di-lokasi.html

Wednesday, July 25, 2007

Can Forests Protect Us From Floods?


Foto Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara

February 9th, 2006 / Opinion / Can forests protect people from disaster?
Source: The Jakarta Post, Didy Wurjanto, Jakarta

Foresters and environment groups have frequently blamed deforestation, especially that due to logging operations, as the root cause of the recent floods and landslides on Java that have claimed hundreds of lives and incurred huge infrastructure losses. There is a widespread belief that forests can prevent floods by acting as giant sponges, slowing down the surface runoff and soaking up water during heavy rainfall.

However, certain scientists have presented new findings that claim there is no scientific evidence linking large scale flooding and landslides to deforestation (The Jakarta Post, Jan. 6, 2006 )

Although the causes of the tragedies are still under investigation, pro and contra have been debating on whether the disappearing forests have led to the natural disasters in Jember, East Jawa , that killed at 119 people, and Banjarnegara, Central Jawa , that recently took the lives of at least 149 people.

The proponents of the argument that deforestation leads to floods and landslides say that forests are necessary to regulate stream flows and reduce runoff. Reducing forests usually results in increased runoff. Further, they argue that degraded highland forested areas make a significant contribution to the creation of small natural dams as the soil has been compacted and loses its porosity to absorb water from rainfall.

A recent study conducted by FAO and CIFOR (2005), Forests and Floods: Drowning in Fiction or Thriving on Facts?, argued that existing knowledge of deforestation leading to floods and landslide disasters is frequently based more on perceived wisdom than on science. In the rush to identify the causes of the disasters, the study revealed that the assumptions were made simply based on observations from other regions, which often have quite different environmental characteristics, or by extrapolating from small to large scale.

According to this study, forests only have a limited influence on major downstream flooding, especially large-scale events. Forests indeed are capable of reducing runoff as the result of enhanced infiltration. But this is only true for small-scale rainfall events. During a heavy rainfall events, like those that resulted in massive flooding in Jember and Banjarnegara, especially after prolonged periods of preceding rainfall, the forest soil becomes saturated and water no longer infiltrates into the soil but instead runs off along the surface.

Hydrology experts say that within watershed systems, flooding is the natural way to discharge water arising from heavy rainfall. There was no problem with flooding until people decided to use natural flood plains for their own use. This situation forces us to face the fact that people have chosen to live and work in these flood plains.

The key to minimizing potential future disasters is not by abruptly relocating people already living within the watersheds. However, it is vital that fragile areas be identified, classified and protected from inappropriate use, whether this be forestry, agriculture or mining. Nonetheless, even the best plans will not be effective if it is not implemented or facilitated by supportive policies.

Effective watershed management is an iterative process of assessing, planning, restoring and organizing land and resource use within a watershed to provide desired goods and services while maintaining and supporting livelihoods. This process provides an opportunity for stakeholders to balance different goals and resource uses and to consider how the development may affect long-term sustainability of natural resources. Mining and physical infrastructure such as roads can affect local hydrology far more than agricultural practices.

In this autonomy era, several local governments have undertaken preventive measures to protect their people and their infrastructure from similar tragedies. They have launched the concept of Kabupaten Konservasi (conservation regency) by managing the nearby watersheds in the form of conservation area management. The idea is not only to care for the watersheds but also the forest cover.

Amru Daulay, the regent of Mandailing Natal, North Sumatra , led his people to establish the 108,000-hectare Batang Gadis National Park in 2004, which accounts for 26 percent of the forest areas in the regency. The natural park became the center of the surrounding six sub watersheds contributing to the total economic value of more than Rp 160 billion (US$17 million) per year through domestic water, agriculture, fisheries and other environmental services (Conservation International 2006).

The park is responsible for supplying clean water to 13 districts within the regency. Its dense forests are home to very important wildlife including Sumatran tigers, which are now very rare in other parts of North Sumatra . Embedded in the concept of national park management is the recognition of the harmonized interrelationship of many different activities, such as fisheries, urban development, agriculture, forestry, recreation, conservation and other human influences.

Working with other stakeholders the government is striving to find a break-through in creating incentives for those who have an interest in keeping the park functioning.

The writer is an employee of Conservation International Indonesia . He can be reached at dwurjanto@conservation.org.

Banjir di Mandailing Natal


Natal digenangi air
Foto Arbain Rambey

24/07/2007 16:14 WIB
Banjir di Mandailing Natal, 4,300 Jiwa Mengungsi

Medan – Banjir yang bersumber dari luapan air sungai melanda lima kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut). Tidak ada korban jiw sejauh ini, namun tak kurang dari 4,300 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ketiga sungai yang meluap itu, masing-masing Aek Bangko, Aek Batang Natal, dan Aek Batahan. Akibatnya rumah penduduk yang berada di lima kecamatan yang dilintasi sungai tersebut ikut terendam air. Masing-masing di Kecamatan Muara Batang Gadis, Natal, Kecamatan Sinunukan, Batahan dan Ranto Baek. Pada beberapa titik, ketinggian air mencapai dua meter.

Penduduk yang mengungsi berjumlah sekitar 4,300 jiwa dari 888 keluarga. Saat ini mereka bertahan di Pasar Sinunukan, Bukit Godang, Kecamatan Batahan di kabupaten yang sama.

“Kami sudah mengistruksikan camat untuk segera melakukan penagangan. Agar masyarakat segera mendapatkan bantuan sembako maupun kesehatan,” kata Bupati Mandailing Natal Amru Helmy Daulay kepada wartawan, Selasa (24/7/2007) di Mandailing Natal, sekitar 480 kilometer dari Medan.

Luapan air sungai juga menyebabkan sejumlah jembatan penghubung di kabupaten itu rusak dan hanyut. Di Kecamatan Sinunukan dan Batahan masing-masing satu jembatan. Sementara jembatan Pasar Natal di Kecamatan Natal yang baru dibangun juga ikut hanyut.

Di beberapa titik jalan lainnya juga terdapat longsoran tanah dari perbukitan. Akibatnya, jalur transportasi Kecamatan Natal menuju Panyabungan, ibukota Mandailing Natal, terputus total. Kendala transportasi ini juga menghambat efektivitas pendistribusian bantuan kepada warga. (rul/asy)

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/24/time/161412/idnews/808853/idkanal/10


Ribuan Warga Mandailing Natal Mengungsi Karena Banjir
Selasa, 24 Juli 2007 | 19:35 WIB

TEMPO Interaktif, Medan: Ribuan masyarakat dari Kecamatan Batu Sondet, Bapahan,Patiluban Ilir, Luban Mudik, Natal, Muara Batang Gadis, dan Sinunukan di Kabupaten Mandailing Natal mengungsi karena banjir pada Selasa (24/7).

Banjir yang menggenangi perumahan warga disebabkan meluapnya sungai Aek Batang Natal, Aek Bangko dan Aek Bantahan. Sebagian besar warga mengungsi ke Pasar Sinunukan, Bukit Godang dan Bantahan.

Khairul, seorang warga Panyabungan mengatakan, banjir yang mengenai sejumlah wilayah ini karena hujan turun terus menerus selama dua hari. "Hujan turun selama dua hari terus menerus," katanya.

Namun, banjir di kawasan Batu Sondet diduga karena penebangan hutan untuk perluasan perkebunan milik perusahaan perkebunan milik negara. Menurut Khairul, setiap hari kayu yang ditebang dari wilayah ini. Hambali Batubara
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/07/24/brk,20070724-104299,id.html

Kerugian Bencana Mandailing Natal dan Langkat Rp 108 Miliar
Selasa, 16 Januari 2007 | 11:37 WIB

TEMPO Interaktif, Medan:Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menghitung kerugian bencana gempa dan longsor di Kabupaten Mandailing Natal dan banjir di Kabupeten Langkat mencapai Rp 108 miliar.

Kerugian materi itu akibat rusaknya sejumlah nfrastruktur jalan sepanjang dua kilometer, jalan negara empat kilometer serta jembatan. Adapun rumah yang rusak berat sebanyak 554 unit dan rusak ringan 467 unit.

Adapun bangunan sekolah rusak berat tujuh unit dan 11 lainnya rusak ringan. Korban tewas akibat gempa disusul longsor di Mandailing Natal 33 orang dan 2.988 jiwa hingga saat masih mengungsi.

Sedangkan banjir di Langkat kerugiannya mencapai Rp 70 miliar. Banjir bandang itu merusak lahan persawahan seluas 14.379 hektare, 5.149 unit rumah rusak parah, empat jembatan ambruk serta 1.110 hektare tanaman hortikultura rusak. Banjir yang melanda 15 kecamatan, akhir tahun lalu itu menelan korban jiwa 17 orang.

"Pemerintah Sumatera Utara menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi kedua kebupaten itu selesai dalam tiga bulan," juru bicara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Maringan Lumban Tobing kepada Tempo hari ini.

Sahat Simatupang
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/sumatera/2007/01/16/brk,20070116-91346,id.html

Saturday, July 21, 2007

Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman


The old police station where Teluk Mak Intan was founded.
Pic by Khoo Salma Nasution

Teluk Intan, A Perak Town Named After A Mandailing Woman
By Abdur-Razzaq Lubis

Teluk Intan is a moderate sized town in the state of Perak, Malaysia. With an estimated population of around 110,000, Teluk Itan is the largest town in the district of Lower Perak and third largest in the state of Perak.

The town was founded on the bank of the Perak River. The river forms an omega-shaped oxbow, and the town is built in the loop of the oxbow. During high-tide, some parts of the town tends to flood even though there are watergates and protective banks.

Historically, it was known as Teluk Mak Intan (Mak Intan’s Bay) or Pekan Mak Intan (Mak Intan’s Town), taking its name from a noble and wealthy Mandailing woman, in which case, she would have been a family member of the Namora-Natoras (The Noble [and] The Elders), the Mandailing elite.

In view of her social and financial standing, it is plausible that she would have been the patron of the traders at Teluk Mak Intan. The existence of Teluk Mak Intan has been recorded since the late 19th century. Oral tradition has it that Teluk Mak Intan was established after Batak Rabit and Durian Sebatang. The original site of Teluk Mak Intan is the old police station (Balai Polis) and its vicinity.

As for the origin of the name Teluk Mak Intan, oral history narrates an incident in which Mak Intan was swimming and frolicking with her friends and attendants at a bay on the lower reaches of the Perak River, when her diamond studded hair pin, a gift from her parents, which held her bun together, fell into the river and was never recovered. Over time, when recalling the incident, people referred to the place where she dropped her hair pin as Teluk Mak Intan.

Compared to Durian Sebatang or Batak Rabit on the banks of the Perak river, Teluk Mak Intan was then free of floods, its bank secure and the bay deep, making it a suitable river port and commercial centre. On top of that, its hinterland was fertile for tubers, corn, bananas and the likes.

Therefore it comes as no surprise that it was also known as Pekan Mak Intan as it was a staging point for sojourners and traders from the Indonesian archipelago and other parts of the globe, who wanted to trade with the interior of Perak.

Traders from Kampar brought black cloth, shrimp paste (belacan), white silk, batik (kain rawa), tobacco, palm thatch (attap nipah) and salted or pickled fish (ikan peda,ikan pekasam) for sale. On their return journey they carried tin.

Sumatran sojourners and traders from Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang ethnic groups as well as Bugis seamen from the island of Sulawesi (Celebes), would go upstream to Batu Gajah in the Kinta Valley, in the interior of Perak state, through the port of Teluk Mak Intan.

“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju terus ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”

(They came in sampan or sekoci, perahu or lading through the estuary of the Perak river, heading straight to the Kinta river carrying with them the provisions for miners and villagers. The journey from Teluk Intan to Batu Gajah usually takes between four to five days.”

During British colonial rule, the third British Resident to Perak, Hugh Low, proposed,

“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Customs house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore as soon as I can…”

The superior geographical location of Teluk Mak Intan compared to other locations in Lower Perak made it a suitable candidate for a new administrative centre in the district. Hugh Low's proposal was enthusiastically received by the acting Governor of the Straits Settlements (at the time the Federated Malay States has yet to be instituted), Col. Archibald Anson (1879-1880), the latter even drew the first plans for the town.

Accordingly, in a State Council meeting of 15 March 1882, Hugh Low recommended that,

“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”

The recommendation was unanimously accepted by the Council, which officially changed the name of Telok Mak Intan to Telok Anson (literally, Anson’s Bay), or in Chinese 安顺 (Pinyin: Ānshùn).

During its centenary celebrations in 1982, the Sultan of Perak partially reverted the name of the town to Teluk Intan, dropping the feminine Mak. Teluk Intan served as the major administrative and business settlement for smaller neighbouring towns such as Tapah, Bidor, Bagan Datoh and Hutan Melintang. The town has a number of colonial buildings and Chinese shophouses together with modern buildings and a few shopping complexes and educational institutions. Being the major town in Hilir Perak and nearby smaller townships, Teluk Intan attracts shoppers from the surrounding area. Shopping and food brings many people to Teluk Intan during the weekends.

The main economic activities in Lower Perak around Teluk Intan today are oil palm cultivation and palm oil production. Some of the big corporations owning plantations around Teluk Intan, are United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby and Kumpulan Guthrie Berhad.

Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing


Menara Condong atau Jam Tinggi yang dibina pada tahun 1885 merupakan mercu tanda dan simbol Teluk Intan. Pembangunan menara itu diilhamkan oleh bangunan pagoda dari negeri Cina, telah didirikan oleh seorang pemborong bernama Choong Cheong @ Ah Cheong. Asalnya ia adalah sebuah tangki air sebagai persiapan untuk menghadapi musim kemarau dan buat bomba/setoker memadam api kebakaran.

Teluk Intan, Perak Memperolehi Namanya Dari Seorang Wanita Mandailing.
Oleh Abdur-Razzaq Lubis

Teluk Intan adalah sebuah kota/bandar sederhana yang terletak di negeri Perak, Malaysia. Dengan penduduk yang dianggarkan kira-kira 110,000 orang, ia merupakan kota yang terbesar di daerah Hilir Perak, dan yang ketiga besarnya di negeri Perak.

Kota Teluk Intan dibangunkan di tebing Sungai Perak. Sungai itu membentuk semacam galang kuk (oxbow) atau tasik ladam, dan kota itu didirikan pada gelung atau cecincin galang itu. Apabila air pasang, sebahagian kota itu banjir meskipun ada pintu air dan pembetongan.

Dari segi sejarah, Teluk Intan dikenali dengan nama Teluk Mak Intan atau Pekan Mak Intan, mengambil namanya dari seorang wanita bangsawan dan hartawan Mandailing. Ini bererti Mak Intan adalah anggota keluarga (Namora-Natoras, Yang Dimuliakan [dan] Yang Dituakan). Oleh yang demikian, boleh diterima akal bahawa Mak Intan menjadi penaung kelompok pedagang di Teluk Intan.

Keberadaan Teluk Mak Intan telah tercatat pada penghujung abad ke-19. Cerita lisan menuturkan bahawa Teluk Mak Intan menyusuli keberadaan Batak Rabit dan Durian Sebatang. Lokasi Teluk Mak Intan adalah di mana bangunan Balai Polis lama sekarang dan kawasan di sekitarnya.

Mengenai asal-usul nama Teluk Mak Intan, cerita lisan mengungkapkan bahawa pada suatu hari Mak Intan dengan beberapa kawan-kawannya sedang mandi-manda dan bersukaria di teluk Sungai Perak, dengan tidak semena-mena pacak intan pemberian orang tuanya, yang dipakai disanggulnya, terjatuh dan hilang di dalam sungai itu. Oleh kerana peristiwa itu disebut-sebut orang belakangan hari bahagian teluk di mana Mak Intan kehilangan pacak intanya sebagai Teluk Mak Intan.

Berbanding dengan Durian Sebatang atau Batak Rabit di tebing Sungai Perak, kedudukan Teluk Mak Intan, yang bebas dari ancaman banjir sementara tebing sungainya yang kuat dan air teluknya dalam, menjadikan Teluk Mak Intan sesuai dijadikan pengkalan sungai dan pusat perdagangan. Tambahan pula kawasan pendalamannya subur untuk tanaman ubi, jagung, pisang dan sebagainya.

Makanya tidak hairanlah mengapa ia juga dikenali sebagai Pekan Mak Intan kerana di sinilah tertumpunya perantau dan pedagang baik dari Nusantara mahupun dari tempat-tempat lain di dunia, yang mahu masuk ke pedalaman negeri Perak untuk memperolehi bijih timah khasnya.

Perantau dan pedagang Sumatra dari etnik Batak, Batu Bara, Kampar, Kerinci, Mandailing dan Selayang serta Bugis dari pulau Sulawesi, masuk ke mudik ke Batu Gajah di Lembah Kinta, di pendalaman Perak, melalui Teluk Mak Intan.

“Mereka datang menaiki sampan atau sekoci, perahu dan lading melalui muara Sungai Perak menuju teras ke sungai Kinta membawa barangan keperluan pelombong [penambang] dan penduduk kampung. Perjalanan dari Teluk Anson (Teluk Intan) ke Batu Gajah [pemukiman di Lembah Kinta] biasanya memakan masa empat hingga lima hari.”

Pada zaman pemerintahan kerajaan negeri Perak di bawah tajaan British, Residen British yang ketiga di negeri itu, Hugh Low, telah mengarahkan supaya

“a plan of such a town as might be built in Teluk Malunting. [Teluk Mak Intan]. I [Hugh Low] would then propose that all the Chinese who have built on the point at During Sebatang should be bound to remove to the more favourable place… I would insist on this. The Cusoms house, the court house, landing jetty and chief police station should be put there at once. I will send the plan and write on the subject to Singapore [di mana pejabat/kantor Gabenur British] as soon as I can…”

Jelaslah kelebihan geografi Teluk Mak Intan berbanding dengan lokasi lain di Hilir Perak untuk didirikan sebuah pusat pentadbiran/administratif baru di jajahan itu. Saranan Hugh Low itu bukan sahaja diterima baik oleh pemangku Gabenor Negeri-Negeri Selat (pada masa itu belum diwujudkan lagi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu), Col. Archibald Anson (1879-1880), malah Gabenor itu telah melukis pelan untuk pusat pentadbiran tersebut.

Maka pada mesyuarat/rapat Majlis Negeri pada 15 Mac/Maret 1882, Hugh Low mengusulkan supaya

“…the new Settlement at Telok Ma’ Hitam [Teluk Mak Intan]… be known as ‘Telok Anson’, in compliment to General Anson, who drew the first plan of the town and took great interest in its removal from Durian Sebatang. The name Telok Ma’ Hitam has also been found inconveniently long.”

Dengan penerimaan usul itu oleh Majlis Mesyuarat Negeri Perak, nama Telok Mak Intan bertukar menjadi Telok Anson (Cina: 安顺; Pinyin: Ānshùn).

Seratus tahun kemudian pada perayaan ulang tahun keseratus kota Telok Intan pada 1982, Sultan Perak telah menukar kembali nama Telok Anson menjadi Telok Intan. Hari ini, Teluk Intan merupakan pusat administratif dan bisnes yang utama untuk pekan-pekan [pokan] kecil seperti Tapah, Bidor, Bagan Datoh dan Hutan Melintang. Pusat pentadbiran daerah Hilir Perak itu mempunyai beberapa buah bangunan kolonial dan rumah kedai/ruko Cina dengan bangunan modern and kompleks membeli-belah/daerah pertokoan/pusat berbelanja and institusi pendidikan. Kerana ia merupakan kota tersohor di Hilir Perak, Teluk Intan menarik pengunjung dan pembeli-belah dari kawasan seputarnya. Berbelanja dan menjamu selera mendatangkan banyak orang ke Teluk Intan pada hujung minggu.

Aktiviti ekonomi utama sekeliling Teluk Intan di Hilir Perak hari ini ialah perkebunan kelapa sawit dan pengeluaran minyak kelapa sawit. Perbadanan yang memiliki perkebunan-perkebunan besar di kawasan sekitar Teluk Intan termasuklah United Plantations (UP), Golden Hope Plantations, Sime Darby dan Kumpulan Guthrie Berhad.

Sunday, July 15, 2007

Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi


Perkebunan Rakyat
Foto Abdur-Razzaq Lubis

Dilarang Kelola TNBG Warga Hutabargot Berdemonstrasi
Mei 4th, 2007

PANYABUNGAN ( Berita ) : Sebanyak 50 orang perwakilan warga 13 Desa Kecamatan Hutabargot Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (03/05) sekitar pukul 10.00 Wib mendatangi Gedung DPRD untuk mengadukan nasib mereka yang kehidupannya mulai terancam dan nyaris tidak mempunyai mata pencaharian disebabkan pihak pengelola Taman Nasional Batang Gadis ( TNBG ) mengadukan masyarakat ke Polisi agar tidak mengolah dan memanfaatkan tanah perkebunan daerah itu.

Selain itu, akibat terjadinya Kebakaran Hutan di wilayah itu sekitar 23 Maret 2007 lalu telah membuat masyarakat 13 Desa yang selama ini mengolah lahan perkebunan Trauma dan bahkan ada yang telah meninggalkan rumah dan keluarganya disebabkan sudah di panggilnya 20 orang warga yang di duga telah terlibat dalam pembakaran hutan di daerah itu.

Delegasi warga yang jumlah 50 orang masing-masing di Pimpin Kepala Desa dan didampingi Camat Hutabargot Adek Damanik .AP diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH, Ketua Komisi A Binsar Nasution.A.Md, Ketua Komisi B H.Saripada Hasan Lubis, dan beberapa anggota Dewan lainnya serta turut hadir dalam pertemuan/dialog itu Asisten I M.Gozali Pulungan.SH.MM, Kabag Bina Mitra AKP.Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.

Juru bicara warga Desa Bangun Sejati M.Yusri dalam penjelasannya mengaku masalah keberadaan TNBG sangat di dukung oleh masyarakat, tetapi hendaknya pihak TNBG membuat penjelasan yang jelas apakah wilayah yang telah di kelola oleh masyarakat termasuk wilayah TNBG, sebab sejak zaman dulu wilayah perkebunan yang di kelola oleh warga merupakan hak turun temurun dari keluarga masyarakat.

Sebab ujar M.Yusri dihadapan anggota DPRD, dari Balai TNBG, Dishut serta Polres Madina, selama ini tidak ada sosialisasi maupun penjelasan dari pihak TNBG sekalipun telah dikatakan ada sosialisasi, karena sampai sekarang batas wilayah TNBG yang jumlahnya 108.000 Ha tersebut baik patok maupun pengumuman atau apa saja tidak ada dan kenapa masyarakat diadukan ke polisi ketika membuka lahan untuk mata pencaharian warga.

Coba anda bayangkan, ujar m.Yusri, jika warga tidak bisa mengolah lahan perkebunan itu maka kehidupan warga terancam, sebab sejak beberapa tahun terahir ini tanaman padi tidak baik, makanya warga mencoba membuka usaha lain dengan membuka perkebunan untuk menambah mata pencaharian warga dan sekarang diadukan ke polisi dan sudah tentu masyarakat merasa takut dan trauma jadinya.

Kami sangat senang adanya TNBG dan masalah batas-batas wilayah kami tidak tau karena kami orang desa yang tidak pernah memahami hukum seperti penjelasan pihak Balai TNBG dan tolong kami diberikan tempat mencari nafkah, apakah kami di targetkan untuk hidup susah atau sengaja pemerintah membuat kami miskin, ujar M.Yusri,
Kepala Desa Mondan.

Yasri Nasution dalam pengaduannya ke DPRD, mengaku bahwa tanah perkebunan yang ada di wilayah Sidua-dua adalah merupakan Tanah Ulayat warga Hutabargot sekitarnya yang dijadikan perkebunan rakyat dan surat persutujuan bersama telah dibuat 6 Kepala Desa di saksikan oleh Camat Panyabungan Utara dan jika sekarang dibuat wilayah TNBG sebagai zona terlarang untuk masyarakat tentu kami tidak setuju.

Kenapa tanah kami sendiri yang kami oleh kami diadukan, makanya kami keberatan dan lagi pula kami buta hukum, jangan kehidupan kami di kekang dan kemana lagi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami, ujar Kades Mondan Yasri Nasution.

Sementara itu Ketua Komisi A Binsar Nasution dan Samun Tanjung.SH dari Komisi B dalam keterangannya, menilai pihak Balai TNBG dan Dishut Madina maupun BPH telah melakukan kesalahan dalam masalah TNBG yang biayanya mencapai Rp 9 milyar beberapa waktu lalu, sebab buktinya sekarang ini masyarakat wilayah Hutabargot belum mengetahui tapal batas dari wilayah TNBG dan sudah tentu warga mengolah dan memanfaatkan tanah mereka sendiri yang sekarang di persoalkan oleh pihak TNBG.

Saya menduga ada permainan dalam pembuatan batas wilayah, Tapal Batas, patoknya yang dibuat BPH apa, apakah semen, batu atau kue, jangan-jangan dokumennya juga tidak ada hanya sebatas laporan saja dan kami harap pihak TNBG segera menyerahkan butki-bukti dari sosialisasi yang dibuat selama ini, ujar Binsar Nasution.A.Md dari Fraksi PBR dan yang Ketua DPC.PBR Madina itu.

Ungakapan yang sama juga disampaikan oleh anggota DPRD dari Fraksi Bersatu Drs.Razman Arif, Samun Tanjung, bahwa kejadian terhadap warga Hutabargot adalah merupakan kesalahan dari Dishut dan TNBG yang dinilai telah salah dalam melakukan pendataan batas- batas wilayah TNBG.

Kita sangat sepakat sekali kejadian yang telah membuat warga di panggil polisi segera dicari solusinya dengan melakukan pemberhentian pemeriksaan kepada warga, sebab sudah banyak warga yang Trauma dan pihak TNBG segera membuat Tim khusus untuk membuat batas maupun zona yang betul, ujar Drs.Razman Arif Nasution.

Sedangkan, pihak Balai TNBG Madina Sahgwan Siregar dan dari BPH Selamat Sembiring dan mewakili Dishut Madina Sardi dalam keterangannya, mengaku telah berkali-kali melakukan sosialisasi baik di wilayah Desa sekitar TNBG maupun di Madina Sejahtera dan juga dengan Pemuda/OKR yang telah dibentuk telah dilakukan sosialisasi.

Batas-batas wilayah sepanjang 80 KM Taman Nasional Batang Gadis telah dibuat beberapa wilayah dengan membuat batas yang melibatkan Kades, ulama dan tokoh masyarakat dan tentu pihak kita telah bekerja maksimal serta sebelumnya dibuat sosialisasi di desa, ujar BPH TNBG Selamat Sembiring dan Sardi dari Dishut Madina.
Mewakili Polres Madina Kabag Bina Mitra AKP Darwin Rangkuty dan Kapolsek Panyabungan A.Daulay, mengaku melakukan pemanggilan kepada warga adalah berdasarkan Pengaduan pihak TNBG atas terjadinya pembakaran hutan di wilayah Hutabargot sekitar 23 Maret 2007 yang lalu.

Kami memanggil dan memintai keterangan sekitar 20 orang warga dan belum ada yang ditahan sebab masih pemeriksaan atas pengaduan, kalau ada kesepakatan di DPRD untuk pemberhentian pemanggilan kami akan segera laporkan ke pimpinan kami dan juga sepakat untuk dilakukan musyawarah di DPRD, ujar Kapolsek Panyabungan AKP.A.Daulay.
Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH dalam penjelasannya kepada wartawan di Kantornya, masalah antara warga Hutabargot sekitarnya dengan pihak TNBG serta Polisi telah di sepakati untuk sementara warga jangan dulu mengolah lahan perkebunan yang di ributkan dan pemanggilan warga juga di hentikan serta pihak TNG maupun Pemerintah segera membuat batas- batas zona TNBG.

Setelah adanya delegasi warga yang melakukan dialog di ruang paripurna dan dilanjutkan musyawarah di ruangan Pimpinan disepakati dilakukan musyawarah mupakat untuk kebaikan bersama, sebab TNBG juga adalah milik Nasional yang telah diakui dan perlu kita jaga kelestariannya, ujar Wakil Ketua DPRD Madina AS.Imran Khaitamy Daulay.SH.

Kami Membutuhkan Biaya Hidup

Sedangkan, ketika terjadinya dialog antara Perwakilan warga, Polres, Balai TNBG, Dishut, DPRD dan Asisten I serta Camat Hutabargot di ruang rapat Pimpinan DPRD, sekitar tiga puluh orang warga 13 Desa yang mendatangi DPRD mengaku tetap akan melanjutkan pengolahan lahan perkebunan mereka, sebab warga membutuhkan biaya hidup.
Kami juga manusia yang ingin hidup lebih baik, ingin menyekolahkan anak, ingin makan seperti layaknya warga lain, kenapa kami tidak diperbolehkan untuk mengolah lahan yang merupakan milik nenek moyang kami dan kami memang buta hukum tapi jangan di bodoh-bodohi, ujar Mhd. Hafis Nasution dari Hutabargot.

Harapan kami, ujar Mhd.Hafis.Nasution, sekalipun asfirasi kami ini tidak bisa di bawak dalam pertemuan dengan DPRD, tapi kami sangat berkeyakinan dengan sikap Wartawan di Madina yang selalu membela rakyat kecil dan kami harapkan Harian Berita Sore dan wartawan lainnya ikut memperjuangkan hak-hak rakyat yang miskin ini.(sof)

http://beritasore.com/2007/05/04/dilarang-kelola-tnbg-warga-hutabargot-berdemonstrasi/

Saturday, July 14, 2007

Gordang Sambilan Semakin Langka?


Gordang Sambilan Tersimpan di Maga, Mandailing Julu
Foto Abdur-Razzaq Lubis

"Gordang Sambilan" Semakin Langka

Batam, Kompas
Selasa, 3 Juli 2001

Perkembangan musik tradisional Tapanuli Selatan, "Gordang Sambilan" (gendang sembilan), dari waktu ke waktu semakin langka dipertunjukkan di tengah-tengah masyarakat. "Gordang Sambilan" hanya dipertunjukkan ketika ada acara-acara besar, seperti pesta perkawinan adat, kedatangan tamu-tamu pejabat, peresmian kantor-kantor pemerintahan, atau acara-acara pelantikan perkumpulan adat.

"Tapi, pertunjukan 'Gordang Sambilan' sudah langka sekali. Hanya orang-orang tertentu saja yang mau mengadakannya," kata Hasyim Siregar (45), Pimpinan "Gordang Sambilan" Halongonan Napurpur, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, di Batam, Minggu (1/7). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini berkaitan dengan acara peresmian organisasi "Parsadaan Halongonan Napurpur" (Perkumpulan Persaudaraan-Red) Batam yang dipimpin Syafrizal Sitorus.

Pada acara itu antara lain hadir Asisten I Pemerintah Kota Batam Asyari Abbas. "Kami sengaja mengundang "Gordang Sambilan" untuk melestarikan kesenian tradisional Tapanuli Selatan sekaligus mengenang atau melepas rasa rindu akan kampung halaman," kata Sitorus.

Musik tradisional "Gordang Sambilan" adalah musik yang terdiri dari sembilan gendang, yang diiringi alat musik lain, seperti seruling, ogung (gong), dibantu gondang (gendang kecil). Pertunjukan "Gordang Sambilan" ini pada zaman Belanda dahulu sering dipertontonkan oleh raja-raja di Tapanuli Selatan dalam pesta adat, pesta perkawinan, atau pesta setelah rakyat memanen sawahnya.

Menurut Siregar, langkanya kesenian "Gordang Sambilan" ini bukan hanya karena sedikitnya orang-orang Tapanuli Selatan yang mau mencurahkan perhatiannya untuk melestarikannya. Tapi, orang-orang di Tapanuli Selatan sendiri pun sudah tidak banyak lagi yang mau menggunakannya untuk pesta-pesta adat atau acara-acara adat. "Itu bisa terjadi karena ongkos atau biaya pertunjukannya mahal. Kemahalannya bukan karena membayar orang-orang yang memainkannya, tapi membawa alat-alatnya dari Tapanuli Selatan memakan biaya yang tinggi," ujar Siregar yang sudah mendirikan "Gordang Sambilan" sejak tahun 1985. (smn)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0107/03/daerah/gord19.htm

Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya


Seorang Pelancung Inggeris Bergambar di hadapan Bagas Godang di Pakantan
Foto Abdur-Razzaq Lubis

Pakantan Sebagai Cakrawala Kebangkitan Budaya
WASPADA Online
09 Jan 07 16:37 WIB

Prof. P.J. Veth, sejarawan Belanda sangat gandrung kepada hal yang berhubungan dengan letak geografis Indonesia. Beberapa karyanya diakui sebagai tonggak penemuan masa lampau peradaban di Indonesia. Daerah penelitiannya mencakup kepulauan Sumatera sampai ke kepulauan Timor. Sosoknya dikenal sangat serius dan jarang tertawa.

Hobbynya membenamkan diri pada timbunan kertas tua. Dari situ ia membuat catatan ringkas dan kemudian mengolahnya dengan sumber lain untuk dijadikan sebuah buku. Salah satu kegemarannya yang lain, yang jarang diketahui orang, adalah membaca memoir (buku harian) para prajurit kompeni.

Sering kali para prajurit menuliskan keluh kesahnya selama melakukan dinas ke daerah pedalaman. Seorang prajurit yang bernama belakang Logemann, mengunjungi wilayah Mandailing (tahun 1800-an), menulis : Penduduk di wilayah Mandailing Godang dan Mandailing Julu dalam teks ia menuliskan Groot Mandheling en Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten , sangat memuliakan air, memuja air, sampai-sampai air yang saya minum enak sekali rasanya…

Walaupun ada beberapa buku yang ditulis oleh para ahli (T.Z. Willer dan Junghuhn) tentang Mandailing, tetap saja tulisan Veth merupakan rujukan penting tentang batas geografis Mandailing.

Awalnya tulisan-tulisan Veth sempat menjadi pembicaraan hangat di perkumpulan ' Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen' ( lembaga seni dan ilmu pengetahuan ) di Jakarta. Deskripsinya tentang kelompok etnis yang tersebar pada berbagai kepulauan Indonesia sangat mengagumkan. Akhirnya atas perintah gubernur jendral kumpulan karangan Veth disatukan menjadi satu buku yang berjudul ' Aardrijkskundig en Statistisch, Woorden Boek van Nederlandsch Indie', terbit tahun 1869. Karangan Veth tersebut sering kali menjadi sumber penting dalam melakukan penelitian tentang Indonesia. Corak pemikirannya tampak mempengaruhi tulisan Indonesianis G.F.E Gonggrijp dan W.F. Stuurheim.

Sedikit deskripsi Veth tentang Pakantan (1850-an) sebagai berikut : Sebuah distrik di kepulauan Sumatera, masuk ke dalam keresidenan Tapanuli, dialiri oleh sungai namanya ' Batang Gadis'. Urusan administrasi (perwakilan gubernemen) terletak di Kota Polak. Sedangkan wilayah yang mempunyai kepala kuria adalah Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Seorang Opziener (pengawas) ditempatkan di Pakantan Lombang. Di daerah Pakantan Dolok terdapat tambang emas, tetapi hasil bumi yang utama adalah pinang, kentang dan jeruk . Sedangkan di Pakantan Lombang, yang waktu itu hanya ada 200 rumah, hasil buminya juga pinang, kelapa, beras dan kopi.

Sejarah Pakantan

Pakantan adalah sebuah desa yang terletak di bawah lereng Gunung Kulabu. Jaraknya kurang lebih 12 km dari Muara Sipongi. Daerahnya sangat dekat berbatasan dengan Rao ( Sumatera Barat). Menurut Tarombo ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, yang pertama kali diakui sebagai nenek moyang bernama Datu Sang Maima Na Bolon.

Selanjutnya keturunan Datu tersebut bernama Namora Pande Bosi I. Diakui sebagai awal yang menurunkan Lubis Si Langkitang dan Si Baitang. Beberapa generasi kemudian lahirlah Sutan Mogol, keturunan langsung dari Mangaradja Ulu Balang.

Sekitar tahun 1540-an, Raja Mangalaon Tua (Raja Pakantan I), membuka perkampungan di Pakantan. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Huta Padang adalah anak Raja Mangalaon Tua yang pertama, Namora Tolang. Raja Gumanti Porang Dibata, anak yang kedua menjadi raja di Pakantan Dolok. Kemudian anak Raja Mangalaon Tua yang ketiga, Raja Sutan Barayun, menjadi raja di Pakantan Lombang.

Beralihnya paham Parbegu (belum beragama), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830). Para perwira kerajaan waktu itu banyak masuk ke wilayah Pakantan dan wilayah Mandailing lain untuk menyebarluaskan agama Islam.

Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot.

Kopi adalah jenis komoditi utama di Pakantan. Menurut tulisan Prof.A.P.Parlindungan gelar Sutan Makhudum (Waspada, 17 April 1997), Kopi Arabika di Pakantan, disebut juga Kopi Mandili, kadang ditambahkan 'Pakant', artinya dari Pakantan. Adanya ungkapan khas untuk mengajak makan "Mangopi Hita Jolo ", menandakan pengaruh kopi sangat mendalam terhadap sanubari orang di Pakantan.

Kopi Pakantan terkenal di Benua Eropa. Rasanya sangat enak dan harum baunya. Orang Belanda yang penciuman bisnisnya tajam, pernah membangun gudang besar ( Pakhuis ) di Pakantan. Seterusnya kopi Pakantan diangkut dengan Pedati ke Padang. Dari pelabuhan Teluk Bayur dikapalkan menuju Belanda. Selain kopi Pakantan, padi juga merupakan tanaman unggulan di Pakantan. Orang menyebutnya dengan nama ' Eme si Pahantan'. Selain dikenal wangi padi tersebut sangat enak rasanya bila dimakan.

Di Pakantan banyak terdapat bangunan bersejarah yang unik. Adanya Bagas Godang dan Sopo Godang yang berusia ratusan tahun membuktikan orang Pakantan itu mempunyai kehidupan budaya yang berarti. Bagas na Godang di Huta Dolok berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara relijius dan musyawarah adat. Bila diperlukan 'Gordang Sambilan' ditabuh untuk menambah sakralnya upacara tersebut. Di daerah Pakantan Lombang terdapat sebuah Bagas Godang yang unik. Garis yang tertera pada dinding (menurut tipologi unsur seni rupa), mencitrakan kultus keindahan yang penuh romantika.

Penulis bisa meyakini goresan seperti itu merupakan sebuah pengejawantahan panca indera yang bernuansa halus. Mungkin saja yang membuat bangunan Bagas Godang tersebut orang-orang yang memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap seni lukis dan ukir. Selain itu terdapat Bale dari Namora Nasution, Bale Ompu Boru Lubis Silogun dan Bale Ompu Boru Lubis Hadungdung yang berada di Hutatoras. Bale Ompu Sutan Borayun terdapat di Pakantan Lombang. Bale Sutan Mogol, leluhurnya marga Lubis. Bagas Gambar yang didirikan tahun 1821 oleh Soetan Singasoro. Jasalamat di Silogun . Kemudian Bagas Godang dan Sopo Godang Lintang di daerah Pakantan Dolok. Pendirinya adalah Ida Lidya Lintang.

Hari Pekan biasanya jatuh pada hari Selasa. Orang Pakantan menyebutnya dengan istilah 'marpoken'. Selama hari pekan itu penduduk berbelanja lauk pauk untuk persediaan selama satu minggu. Zaman sebelum Indonesia merdeka, hari pekan di Pakantan selalu dipenuhi oleh hilir mudiknya berbagai bangsa yang datang. Rombongan sirkus, Opera Bangsawan Deli, Sulap dari India dan Tiongkok, permainan bola tarik Jepang sampai pertunjukan bioskop bisu, merupakan ragam hiburan yang terdapat di Pakantan.

Oleh : Koko Hendri Lubis (wns)
http://www.waspada.co.id/seni_&_budaya/budaya/artikel.php?article_id=81997

Gordang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman Yang Terancam Punah


Gondang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman yang Terancam Punah

Pasaman, Senin

Gondang Sambilan, suatu seni pertunjukan musik tradisi di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kini terancam kelestariannya seiring semakin langkanya para pewaris kesenian tersebut.

Anwar Lubis (50), salah seorang pewaris kesenian itu, di Rao, sekitar 250 kilometer dari Kota Padang, Senin, menyebutkan, saat ini cuma tinggal beberapa sanggar yang tersisa dan itu pun sudah tidak lagi eksis.

Menurutnya, Gondang Sambilan merupakan jenis pertunjukan musik tradisi khas yang terdiri dari sembilan gondang (gendang) yang dipukul sebanyak sembilan personil dengan irama tertentu.

"Sekitar tahun 80-an ada belasan grup Gondang Sambilan yang rutin menggelar pertunjukan sekali sebulan. Bahkan saat musim panen juga diadakan pertunjukan, namun kini jumlah itu terus menyusut tajam," katanya.

Menurut Anwar, sulitnya pengkaderan dan keengganan generasi muda untuk belajar kesenian menjadi kendala utama melestarikan kesenian ini.

"Hanya tiga sampai lima orang remaja di daerah saya yang bisa memainkan musik ini, sudah saatnya ada gerakan melestarikan kesenian tersebut," jelasnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Bupati Pasaman H. Yusuf Lubis menjelaskan, pihaknya berupaya melestarikan kesenian khas daerah tersebut.

"Pasaman sebagai wilayah multietnis, ada Batak, Jawa, Minang, Tapanuli semuanya memiliki kesenian khas, termasuk Gondang Sambilan, kesenian yang tidak dijumpai di daerah lain, namun keberadaannya sudah semakin mengkhawatirkan," jelasnya.

Untuk itu pemda setempat akan memberikan pembinaan sekaligus menghidupkan sangar-sangar kesenian tradisi untuk melestarikannya.

"Gondang Sambilan akan kita angkat dalam setiap iven tingkat kabupaten, selain itu setiap sekolah juga akan dibina dengan kesenian tradisi setempat. Kami akan mendukung upaya ke arah itu," ujar Yusuf Lubis.

http://www.kompas.com/gayahidup/news/0601/02/190555.htm

Friday, July 13, 2007

Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan


Panggetek di Batang Gadis
Foto Arbain Rambey

Madina dan Hidup yang Dicukup-cukupkan
Wajah Gusnan (43) terlihat lusuh. Sekujur badannya berkeringat. Siang itu ia memang cukup sibuk bercengkrama dengan Sungai Batang Gadis yang mengalir deras. Ia lalu mengusap keringatnya yang mengalir ke pipinya. Sambil mengepulkan asap rokok dari bibirnya, ia pun bercerita tentang kegelisahannya bersama penarik getek lainnya di sungai yang membelah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) itu.

“Hari ini biasa saja,” katanya. Memang menjadi penarik getek itu susah, katanya lagi. Tapi setidaknya dapat menopang sedikit keperluan keluarga. Ada tiga penarik getek siang itu yang bertugas setiap harinya. Dari situ mereka bisa mengantongi uang untuk dibawa pulang. “Kadang-kadang banyak, lebih sering sedikit. Kalau dirata-ratakan sehari bisa dapat Rp 50.000-an. Itu pun tidak semuanya untuk kami. Sebab setiap bulan sebagian uang akan disetor ke kas desa untuk pemabanguan mesjid,” katanya.

Ia dan 15 panggetek lainnya bertugas bergantian. Setelah setahun genap “menjabat”, mereka pun harus siap digantikan oleh calon panggetek-panggetek lainnya yang telah ditentukan oleh kepala desa. “Hingga akhirnya nanti semua warga desa dapat giliran, baik anak muda maupun orang tua, saling bergantian sepanjang tahun,” jelasnya.

Tidak sepenuhnya mereka bergantung dari getek itu. Gusnan sendiri, selain menjadi “panggetek”, ia juga bertani. Lahannya sedikit, hanya 4 “bumbun”. Sedang 4 orang anaknya masih bersekolah. Ia lalu memaparkan alasannya mengapa ia menjadi penarik getek. “Tahun lalu, semua lahan saya amblas di serang tikus, rugi jadinya. Tapi, mudah-mudahan tahun ini tidak terulang lagi,” katanya. Tapi inilah yang kini membuatnya cemas. “ Sebab sebagian petani sudah mulai mengeluhkan sawahnya yang rusak diserang tikus lagi.,” katanya.

Beda pula dengan Ali Amin Pulungan (37). Selain menjadi panggetek, segala pekerjaan pun ia lakukan termasuk sebagai kuli bangunan. ”Sebab sebenarnya saya tidak bisa berharap sepenuhnya dari penghasilan getek ini,” katanya. Anak Ali dua orang, sedang istrinya bertani di sawah.

“Akhir-akhir ini memang lagi susah. Dari sawah rugi dari getek pun penghasilannya hanya sedikit. Bayangkan, sepertinya tikus-tikus di desa kami (Desa Pasar Huta Bargot Kecamatan Panyabungan Utara) kian merajalela. Hampir semua ladang diserang. Bahkan, ladang Pak Kepala Desa pun juga ikut dilibas,” katanya.

Di seberang dipan bambu yang sedikit tergenang air sungai itu, tampak bangunan setengah jadi yaitu pondasi jembatan (Jembatan Aek Godang) yang nantinya diharapkan menjadi sarana penghubung antara Desa Hadian Jior menuju Desa Pasar Huta Bargot menggantikan transportasi getek yang sudah puluhan tahun dipergunakan.

Pembangunannya sudah dimulai awal 2003. Meski belum diketahui kapan jembatan itu akan mulai dioperasikan, namun rupa-rupanya penarik getek itu sudah tampak cemas.
“Kami hanya belum siap mencari alternatif lain untuk mengisi pekerjaan sampingan kami nanti jika jemabatan sudah selesai dibangun,”ujar Gusnan. Jadi bagaimana? “Paling-paling kembali bertani. Saya sendiri menggarap lahan sawah milik orang lain. Hasilnya menunggu panen. Jika jembatan itu nanti sudah selesai dibangun dan jadwal menarik getek ditiadakan, terpaksa menganggur sambil nunggu objekan lain,” katanya cemas. Demikian halnya dengan Suaib Pulungan (33). Laki-laki beranak tiga ini tak banyak berkomentar. Ia mengakui pernyataan kedua rekannya piketnya hari itu.

Untuk tarif getek penumpang getek sebenarnya tidak terlalu mahal. “Sepeda motor, becak dan penumpang umum tarifnya Rp 1.000. Sedangkan anak sekolah tidak diberi tarif wajib. Biasanya gratis,” ujar Suaib. Sehari bisa dapat Rp 200 ribu pada hari pekan atau hari raya. “Tapi kalau buntung, ya enggak untung alias tidak bergaji,” kata mereka tertawa. Lalu bagaimana membiayai hidup sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anak, makanan sehari-hari dan keperluan lainnya? Mereka pun menjawab dengan enteng: ”Ya, dicukup-cukupkan.”

Berkah dari balik bukit
Pukul 08.00 pagi Hasairin Lubis (48) sudah bergumul dengan air Sungai Batang Gadis yang alirannya sampai ke Desa Sabah Pasir Kecamatan Kota Nopan di mana ia akan menghabiskan harinya bekerja. Bermodalkan jerigen dan sekop, laki-laki beranak tujuh ini pun mulai mengais rezeki di sungai yang tepat di alas kaki Bukit Barisan itu.
“Letih,” ucapnya menyapa kami ketika kami menjumpainya di sela-sela istirahatnya. Hari itu, menjelang sore, ia hanya berhasil mengangakat pasir 1 m3 lebih sedikit dan kerikil 0,5 m3. Maklum, akhir-akhir ini memang sering hujan sehingga debit air naik dan menghalangi penggalian, katanya.

Pasir dan kerikil hasil galiannya sore itu lalu ia kumpulkan dengan hasil galiannya beberapa hari sebelumnya yang sudah menumpuk di bantaran. Sambil mengisap rokoknya ia pun duduk santai di sebuah gubuk kecil menghadap sungai, menunggu pembeli datang dan uangnya bisa dibawa pulang untuk keluarga nanti. Tapi, biasanya pasir dan kerikil dijual melalui perantara. Perantaranya adalah pemilik kedai kopi yang tak jauh dari sungai. Pemilik kedai lalu memberi tahu bila mana ada pemborong yang membutuhkan pasir dan kerikil dalam jumlah besar. “Maka kami pun mengumpulkannya bersama penggali-penggali lainnya,” kata Hasairin.

Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.

“Hari ini pasir saya hanya terjual 1 m3 dan kerikil ¼ m3. Uangnya Rp 20 ribu untuk dibawa pulang,” katanya. Meski demikian, Hasairin tetap tersenyum. “Besok bisa saja lebih, sebab pasir dan kerikil saya ada sisa. Mungkin saja besok terjual semua,” cetusnya tersenyum. Ia tidak sendirian. Bersama istrinya yang bekerja sebagai petani, mereka pun mencukup-cukupkan uangnya untuk membiayai 3 lagi anaknya yang masih sekolah.

Sore itu di seberang sungai yang mengalir deras, terlihat 3 perempuan sedang asyik dengan sebidang tampi kecil di tangannya. Tak salah lagi, mereka adalah penambang emas. Sayangnya, kami tidak sempat berbicara dengan mereka akibat suara debur air. Untungnya, beberapa penambang pasir di sekitar sungai tahu persis dengan kisah mereka. “Mereka adalah penambang emas yang tinggal di desa seberang. Setiap hari ke sini,” kata Soptu (35) seorang dari mereka.

Menurut cerita orang-orang setempat, emas itu dijual setiap minggunya ke pekan 1/3 dari harga standar pasar. “Misalnya, jika harga emas 24 karat/gram Rp 25 ribu, maka meraka akan mendapatkan harga 1/3-nya dalam setiap gram,” ujar Hasairin.
Inilah kisah mereka. Barangkali kehidupan yang sederhana sekali pun bukan berarti akhir dari segala-galanya. Tapi sesungguhnya, merekalah pejuang hidup yang sebenarnya.

Tonggo Simangunsong
http://tonggo.wordpress.com/2007/03/07/madina-dan-hidup-yang-dicukup-cukupkan/