Friday, July 13, 2007

Kabupaten Mandailing Natal (Madina)

Rabu, 30 Juli 2003

Kabupaten Mandailing Natal
SEBUTAN Madina untuk Kabupaten Mandailing Natal terdengar sejak wilayah itu memisahkan diri dari kabupaten induknya, Tapanuli Selatan, tahun 1999. Di daerah perbukitan Kecamatan Panyabungan Timur yang potensial untuk perkebunan, diketahui terdapat tanaman ganja. Aparat keamanan memperkirakan, ada sekitar 11-14 hektar ladang ganja. Baru 9 ha yang ditemukan dan disita polisi.

MENGETAHUI di wilayahnya terdapat ladang ganja, pemerintah kabupaten, aparat keamanan bersama masyarakat, sepakat membasmi ganja dan senjata api. Tanggapan positif warga tercermin dari penyerahan 548,8 kilogram ganja dan 68 senjata api rakitan pertengahan Juli 2003 kepada Pemerintah Kabupaten Madina yang diteruskan ke polisi.

Pembasmian ladang ganja masih berlangsung, namun tugas berat sudah di depan mata, yaitu penanganan petani untuk alih usaha. Alternatif yang ditawarkan adalah penanaman karet dan kulit manis. Selain karena daerah perbukitan yang subur, sebagian masyarakat di sana hidup dari kulit manis. Sekitar 17 persen penduduk Madina hidup dari perkebunan dan 62 persen dari pertanian tanaman pangan. Tahun 2002, kontribusi sektor pertanian 55,7 persen dari total nilai kegiatan ekonomi yang Rp 1,68 triliun.

Tanaman pangan dengan komoditas utama padi di bagian timur menjadi andalan kabupaten. Setiap tahun produksinya rata-rata surplus 53.000 ton beras. Untuk perkebunan, tanaman karet dan kulit manis menjadi komoditas paling banyak digeluti penduduk yang 80 persen etnis Mandailing. Produksi karet Madina yang tersebar di wilayah selatan menempati urutan ketiga setelah Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan dengan produksi sekitar 26.000 ton pada tahun 2001. Produksi kulit manis yang ditanam di hampir semua kecamatan belum mampu berbicara banyak di tingkat provinsi.

Dua komoditas perkebunan yaitu karet dan kulit manis masih berpotensi besar dikembangkan. Kecamatan Kota Nopan, Batang Natal, Kecamatan Panyabungan, Panyabungan Barat, Selatan, Timur, dan Utara masih memiliki lahan 30.948 hektar. Sementara, untuk kulit manis masih tersedia 574,35 hektar.

Keberadaan Madina yang berbatasan dengan Samudera Hindia memberikan keberuntungan tersendiri. Pantai sepanjang 170 kilometer menyimpan potensi besar yang belum digarap serius. Peluang usaha perikanan laut masih terbuka. Di pantai barat untuk menyebut Kecamatan Batahan, Natal, dan Muara Batang Gadis juga terdapat usaha sarang burung walet. Keberadaannya memberi kontribusi cukup besar. Tahun 2002 kontribusi sarang walet Rp 1,750 miliar atau sekitar 27 persen dari PAD.

Produksi pertanian seperti karet, kulit manis, padi, dan kopi menjadi komoditas utama perdagangan. Petani menjual hasil pertanian kepada pedagang yang mayoritas terpusat di ibu kota kabupaten. Pedagang lokal mengumpulkan komoditas dan menjual ke pedagang besar di Medan yang membutuhkan waktu tempuh 10-12 jam. Melalui pedagang besar luar daerah itulah komoditas pertanian diekspor ke negara tetangga seperti Malaysia.

Aktivitas perdagangan dengan komoditas hasil pertanian memberikan kontribusi terbesar kedua setelah pertanian. Tahun 2002, sektor perdagangan, hotel, dan restoran membukukan nilai Rp 335 miliar. Pemkab mengakui, keberhasilan perdagangan menggairahkan perputaran ekonomi daerah, tidak lepas dari peran pengusaha luar daerah yang mengekspor komoditas pertanian.

Perdagangan yang menyerap 11.594 tenaga kerja ini tidak langsung terpengaruh iklim masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang bernaluri tinggi untuk berdagang. Yang menjadi keprihatinan pemkab, tingginya aktivitas perdagangan yang terbatas pada komoditas pertanian ini berdampak pada lambatnya perkembangan industri pengolahan.
Usaha industri di Madina masih didominasi industri kecil dan menengah, seperti industri makanan dan kerajinan. Perkembangan industri yang dimaksudkan memberi nilai tambah pada komoditas pertanian yang belum mampu berbicara banyak. Apalagi dalam APBD 2003, sektor industri hanya dialokasikan dana 0,3 persen dari nilai belanja pembangunan yang Rp 112, 9 miliar. Lain halnya sektor perdagangan yang tahun 2003 dialokasikan dana pembangunan Rp 10,6 miliar.

Pemkab menyadari, untuk mengembangkan Madina dibutuhkan peran serta investor. Untuk menggaet penanam modal diperlukan kesiapan sarana dan prasarana memadai, misalnya perhubungan. Beberapa ruas jalan, khususnya di ibu kota kabupaten tampak lebar dan halus. Namun pemkab mencatat, tidak kurang 64 persen dari panjang jalan kabupaten rusak dan rusak berat. Mau tidak mau pemkab harus mengeluarkan dana untuk membenahi jalan. Sektor transportasi dialokasikan dana terbesar kedua setelah sektor aparatur negara dan pengawasan yaitu Rp 14,4 miliar atau 13 persen dari anggaran pembangunan 2003.

Kabupaten yang menyebut Tapanuli Selatan sebagai parameter kemajuan pembangunan dalam mengembangkan daerah masih harus berhadapan dengan kendala mendasar. Letak Panyabungan kurang menguntungkan, jauh dari pusat perdagangan. Dalam hal telekomunikasi, Madina hanya diberi alokasi 2.692 SST dan terpakai 52 persen. Itu pun terpusat di Panyabungan dan Kota Nopan. Investor yang ingin menggarap potensi daerah menunggu kesiapan sarana dan prasarana.

(Aritasius Sugiya/Litbang Kompas)